Rabu, 02 Oktober 2013

Cerbung: When The Story Ends (Part 3-Lanjutan Sebuah Kenyataan)



                “Hiks hiks…” aku menangis dalam dekapan ibu. Setelah bertemu dengan ayah kemarin malam, aku masih merasa sakit. Entahlah sebenarnya kenapa. Aku merasa bertemu dengan orang yang telah membuat hidupku dan ibu berantakan. Semenjak kepergian ayah, ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari―dengan cara yang tidak halal! Karena ayah meninggalkan kami, ibu harus bekerja menjadi wanita panggilan. Aku benci ayah. Dan bertemu dengannya akan menjadi sebuah penyesalan mendalam.

Cerbung: Run Away (Part 2-Lanjutan Sebuah Kenyataan)



”Aku benci ibu!” seruku.
            Aku berlari menerjang kerumunan orang yang mengitari kami. Aku sakit hati! Menerima kenyataan pahit. Kenyataan bahwa ibuku adalah seorang wanita panggilan! Selama ini aku mengira ibuku adalah orang baik-baik. Ia bekerja untuk menghidupiku, membiayai semua keperluanku, dengan hasil yang halal! Tapi ternyata, semua uang yang selama ini telah menghidupiku hanya uang yang diperoleh dari pekerjaan rendahan yang kotor dan hina.

Cerbung: Sebuah Kenyataan (part 1)



            “Anna, kau punya anak perempuan yang manis. Aku yakin jika dia bekerja seperti kau nanti, pasti akan dapat uang lebih banyak,” ucap seorang cowok setengah mabuk yang mampir ke rumah. Orang itu teman ibu. Ucapan itu kudengar saat aku masih kecil. Entah umur berapa, aku tidak mengingatnya lagi. Sekarang umurku 18 tahun dan sampai detik ini pun aku tidak mengetahui sedikitpun dimana ibuku bekerja. Selama ini yang aku tahu, ibu selalu tidur pagi hari setelah membuatkanku sarapan. Saat aku pulang sekolah, ibu menonton tivi. Ia selalu menemaniku saat mengerjakan pr. Ibuku adalah lulusan sarjana―mungkin itulah yang membuatku yakin ibuku mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan jurusannya.
            Hari ini aku dan teman-temanku janjian untuk pergi nonton bioskop lalu belajar kelompok di salah satu rumah teman. Ibu membolehkan aku pergi. Ia menambahkan jika aku bisa menginap di rumah teman jika aku pulang larut malam.

Change of Me



                “Hai, Itik Buruk Rupa. Rupanya kau masih di sini?” Nabila, salah seorang teman sekelasku menyapaku saat aku masih di dalam kelas padahal bel pulang sudah setengah jam lalu berdering.
            Aku tersenyum, “Ya. Masih ada soal yang belum bisa aku kerjakan. Duluan saja.”
            “Siapa juga yang mau menunggumu?” ucapnya sinis dan berlalu pergi.
            Aku menarik napas dalam.
            Itik Buruk Rupa. Panggilanku saat ini. Aku tidak masalah dengan panggilan ini. Aku mengerti mengapa orang-orang memanggilku seperti itu. Simple. Fisikku jelek. Dengan kacamata tebal, rambut keriting kusut, wajah berminyak dan penuh nodaentah jerawat atau noda yang lain, juga karena warna kulitku coklat lusuh.
            Tak hanya itu, kata teman-temanku, pakaianku nggak up to date. Saat yang lain mengenakan pakaian sekolah junkies, aku tetap memakai seragamku dengan ukuran sedikit lebih besar dari badanku. Rok mereka yang biasanya di atas lutut, aku mengenakannya 5 cm di bawah lutut, juga kaos kaki yang biasanya mereka kenakan pas dengan mata kaki, aku mengenakannya hampir menyentuh lutut. Sepatu pantofel mereka berbanding terbalik dengan sepatuku yang hanya sepatu bertali biasa. Well, sepertinya tidak ada hal yang bisa diibanggakan dariku.
           

Jumat, 31 Mei 2013

Review Novelku


Apakah itu cinta?
Saat kita menyukai seseorang selama lebih dari satu tahun tanpa ada kejelasan perasaan darinya...
Lalu kenapa rasa itu hilang saat ada orang yang lebih peduli pada kita...
Membuat kita percaya dan menyerahkan hati kita padanya...
Dan sebelum bahagia itu diraih, kita kehilangannya...
Akankah dia kembali?

Delvina, seorang cewek yang menyukai Dimas dalam diam selama 1 tahun lebih...
Saat Delvina mulai lelah menyukai Dimas, muncullah Alvin...
Seorang cowok yang memberinya semangat baru...
Membuatnya menyerahkan hatinya pada Alvin...
Namun, kecelakaan terjadi.
Delvina amnesia dan tidak mengingat Alvin...
Bagaimana mereka bisa bersatu?

Selengkapnya hanya di novel terbaru saya!

Senin, 20 Mei 2013

Part 17 - Akhir dari Sebuah Cerita



            “Assalamu alaikum!” seruku setiba di kelas.
            “Kum salam” jawab Claudine.
            “Lho? Claudine? Tumben datangnya pagi. Bener-bener berubah deh” kritikku.
            “Ya iyalah. Masa’ nggak ada perubahan? ABCDE gitu.. Aduh Bo, Capek Deh Eke” lagak Claudine.
            “Oh, ya! Maafin aku, ya kalau ada salah” ucapku.
            Same same gitu” ucapnya.
            “Vivi!” panggil Siska.
            “Hai! Minal aidzin, ya?”.
            “Yoi!” ucapnya. Kedatangan Siska disusul oleh Dian dan...Dika.
            “Aduh-aduh. Pagi-pagi gini udah be-gosip. Baru juga lebaran!” ucap Dika.
           

Part 16 - Hikmah Lebaran



            “DUK!!! DUK!!! DUK!!! Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... La ilaha ilallah...” suara bedug dan takbir mulai dikumandangkan dari seluruh masjid. Dan tepat saja! Sekarang lagi lebaran!!! Aku segera mengirim SMS sama Claudine, Dian, ma Siska!!! Isinya :

Part 15 - Putus sama Dika



            “Kakak mau beli baju yang kayak apa?” tanyaku.
            “Ng... kayak apa, ya?” tanya kak Ardian pada dirinya sendiri. “Kamu sendiri?” sambungnya.
            “Aku sih mau cari baju warna putih lengan panjang sama celana atau rok putih panjang sama serudung putih sama sepatu atau sandal warna putih” jawabku lengkap.
            “Hati-hati” ucapnya.
            “Eh? Hati-hati kenapa?” tanyaku.
            “Ntar dikira pocong lagi putih-putih” canda kak Ardian.
            “Iiih.. jahat deh..” aku merajuk.
Kak Ardian tersenyum, “Ya udah. Sekarang kita cari bajumu dulu aja yuk?”.
           

Part 14 - Dika Selingkuh?



            HUWAAAAA!!!! Aku kangeen berat sama Dika!!! Udah 8 hari nggak ketemu sieych... Kayak apa,ya cara ketemunya? Aku telepon Claudine sama Dian ah~~~!!!
            “Halo, assalamu alaikum” sapaku.
            “Wa alaikum salam. Cari siapa,ya?”.
            “Claudine-nya ada?”.
            “Ya saya sendiri. Ni sapa?”.
            “Ni Vivi. Dine, kamu hari ini bisa keluar nggak?”.
            “Bisa aja. Memang mau ke mana?”.
            “Maunya sih ke mall. Kalo’ bisa, ajak Dian juga,ya?”.
            “Iya. Kebetulan Diannya ada di sini. Kita kumpul di mana?”.
           

Part 13 - Jadian sama Dika



            “Pagi Dian! Pagi Claudine! Pagi SiskaTumben hari ini Claudine berangkatnya pagi?” godaku.
            “Ya dong. Harus ada perubahan di dalam diri seorang Claudine” Claudine mandramatisir.
            “Eh, Vi! Gimana tunangannya? Jadi?” tanya Siska. Aku tersenyum.
            “Pagi, Ika!” sapa Dika.
            “Pagi, Dika!” balasku.
            Setelah Dika menempati kursinya, Claudine, Siska dan Dian keheranan.
            “Ika?” tanya Claudine.
           

Part 12 - Batal Tunangan



            Menelpon Claudine untuk datang ke sini. Setelah Claudine datang, aku menceritakan semuanya.
            “Lebih baik, kamu putusin aja kak Ardian sekarang. Daripada kamu bohongin perasaanmu sendiri” usul Claudine.
            “Iya. Tapi kamu ngomongnya baik-baik. Jangan langsung minta putus” Dian menambahkan. Aku merenung sesaat. Hpku berbunyi.
            “Halo, assalamu alaikum”.
            “Wa alaikum salam. Cha, kamu cepetan pulang gih. Ada yang mau papa mama bicarain”.
           

Part 11 - Lebih Suka Andi?



            TOK...TOK...TOK... Pintu diketuk. Aku segera mengusap air mataku. Bi Mila segera masuk. Sekaligus kaget melihatku dengan mata sembab.
            “Non kenapa? Gara-gara mas Ardian,ya?” tanya Bi Mila khawatir.
            Aku mengangguk, “Tapi bibi jangan bilang ke mama sama papa,ya?”.
            Bi Mila mengangguk, “Sekarang non makan,ya? Bibi masakkan makanan? Non mau makan apa?”.
           

Part 10 - Claudine Sakit



        Huh! Lama banget sih Claudine datang! Ni ‘kan udah hampir jam setengah 8! Aku ‘kan juga capek nunggu di gerbang sekolah! Kok hari ini dia bener-bener terlambat sih? Dia itu sebenernya kenapa,sih? Bikin capek aja!!!
            “KRIIIING!!!KRIIING!!!KRIIING!!!” tuh kan! Bel udah bunyi!!!
            Aku segera ke kelas. Di tengah pelajaran Bahasa Inggris, bu Rizma memberitahukan something.
            “Anak-anak, hari ini ada berita buruk. Claudine sakit panas karena 3 hari yang lalu dia kehujanan. Cuma dipaksain ke sekolah. Jadi hari ini di nggak masuk sekolah. Sekretaris, catat,ya?” bu Rizma memperingatkan. Rena mengangguk. Setelah itu bu Rizma pergi.

Part 9 - Perasaan yang Hampir Hilang



            “Assalamu alaikum” ucap kami memberi salam.
            “Wa alaikum salam” jawab orang tua kami.
            “Udah beli bajunya?” tanya tante Fira. Kami mengangguk.
            “Mana, coba lihat?” ucap mamaku.
            Aku membuka kotak gaun. Kak Ardian juga begitu.
            “Bagus. Pilihan yang tepat. Serasi lagi” komentar papa.
            “Kalo namanya udah jodoh, ya serasi dong” ucap om Rifky.
            Kami semua tertawa. ^_^

Part 8 - Kepikiran Andi?



            “Pagi, Siffa” sapa Andi.
            “Pagi!” jawabku riang.
            “Hari ini kok kamu kelihatannya semangat banget?” tanyanya.
            “Ini hari Sabtu ‘kan?” tanyaku. Andi mengangguk.
            “Ya udah”.
            “Ya udah kenapa?” tanya Andi bener-bener nggak ngerti.
            “Masalahnya aku nanti malam insya Allah ke mall” jawabku.
            Just it?”.
            “Yap. Cuma tujuannya dan orang yang dibawa itu yang bikin... gimana.. gitu” ucapku mendramatisir. Andi ketawa. Hpku tiba-tiba bergetar. Aku segera mengangkatnya.
           

Part 7 - Mulai Dekat



            “Assalamu alaikum” aku memberi salam.
            “Wa alaikum salam”.
            “Eh, Siffa udah datang. Sini duduk” ajak tante Fira, mamanya kak Ardian.
            “Makasih tante”.
            Setelah aku duduk, orang tuaku dan orang tuanya kak Ardian segera membicarakan masalah pertunangan kami. Fiuuuh...membosankan! 1 jam berlalu dan... KRUYUUUK!!! Perutku berbunyi. Aku memegangi perutku. Kak Ardian yang ada di situ menyadari hal itu.
            “Icha, laper,ya?” tanyanya.

Part 6 - Ditembak!



            “Dian!!!” seruku saat tiba di kelas. Temen-temen yang lain memperhatikan aku. Waduuh! Sepertinya aku salah si-kon.
            “Kenapa, Vi?” tanya Dian.
            “Aku.. kemarin.. mau... mau... ditunangkan!” ucapku terbata-bata karena kecapekan lari hanya untuk mengabarkan ini kepada Dian.
            “Hah?!? Tunangan?!? Sama siapa?” tanya Dian kaget.
            “Sama kak Ardian!!!” seruku.
            “Hah?!? Beneran?!?” tanya Dian nggak percaya. Aku mengangguk untuk meyakinkan.
           

Part 5 - Tunangan?



            “Pagi, Andi!” sapaku riang.
            Andi tersenyum, “Pagi”.
            “KRIIING!!!KRIIING!!!KRIIING!!!”
            Bel berbunyi pertanda pelajaran akan dimulai. Aku segera mengeluarkan buku yang akan dipelajari. Pelajaran pertama yaitu Conversation.

Part 4 - Jealous?



            “... jadi hari ini lari ngitari rute jalan santai!...” ucap pak Roy, guru olah raga.
            Setelah kami berada di tempat start yang tepat, kami segera lari. Aduuuuh!!! Kayaknya bakalan capeek banget deh!!!
            “Vi, yok lari!” ajak Dian.
            “Aku mengangguk. Kami segera lari.
            “Claudine mana, Yan?” tanyaku.
            “Tuh, di depan” ucap Dian sambil menunjuk ke depan, ke arah Claudine.
           

Part 3 - Orang Ketiga



            “...kalau belajar jangan melamun...” ucap bu Julia, guru bahasa Inggris.
            Dan benar saja, aku sedang di kelas, belajar bahasa Inggris. Setelah bahasa Inggris, pelajaran berganti dengan bahasa Indonesia. Gurunya adalah pak Suharji. Awalnya sih lucu... tapi akhir-akhirnya... pelajarannya susaaah banget!!! Oh, ya sekolahku bersebelahan dengan sekolah kak Ardian. Jadi hampir setiap nggak ada guru di kelas, aku selalu menoleh ke belakang. Tapi aku setiap aku noleh ke belakang, anak yang duduk deket jendela tanpa sengaja juga terlihat. Namanya Andi.