“Assalamu alaikum” aku memberi salam.
“Wa alaikum salam”.
“Eh, Siffa udah datang. Sini duduk” ajak tante Fira,
mamanya kak Ardian.
“Makasih tante”.
Setelah aku duduk, orang tuaku dan orang tuanya kak
Ardian segera membicarakan masalah pertunangan kami. Fiuuuh...membosankan! 1
jam berlalu dan... KRUYUUUK!!! Perutku berbunyi. Aku memegangi perutku. Kak
Ardian yang ada di situ menyadari hal itu.
“Icha, laper,ya?” tanyanya.
“He..he.. Nggak kok kak” ucapku berpura-pura.
“Ma, aku sama Icha pergi ke luar sebentar,ya? Cari angin”
ucap kak Ardian. Aku yang mendengarnya kaget.
“Ya udah. Hati-hati,ya? Ni” tante Fira memberi uang
kepada kak Ardian.
Aku dan kak Ardian segera pergi ke luar. Kami menaiki
mobil om Rifki, papanya kak Ardian.
“Mau ke mana sih kak?” tanyaku.
“Ke restoran. Kamu laper ‘kan?” tanyanya balik.
“Iya sih... kok kakak tau?” tanyaku. Kak Ardian tersenyum
tanpa menjawab pertanyaanku. Akhirnya kami sampai di sebuah restoran. Namanya
“Rumah Steak GREEN EMERALD”. Restoran di sini
sangat bersih. Kenyamanannya kelas atas! Keindahannya Te O Pe banget! Karena di
sini ada lukisan air terjun yang kayak nyata! Kak Ardian memang pintar cari
tempat makan. Kami segera duduk.
“Ini daftar menunya” ucap pelayan sambil memberi daftar
menunya.
“Mau makan apa, Cha?” tanya kak Ardian.
“Ng.. Steak daging isi keju sama jus jeruk aja deh”
ucapku.
“Ya udah. Steak dagingnya isi kejunya 2, orange juicenya
1, sama air mineralnya 1”.
Pelayannya mencatat dan segera pergi.
“Apa? Kakak cuma minum air mineral?” protesku.
“Memang kenapa? ‘Kan lebih ada vitaminnya”.
Aku terdiam. Bener juga sih kata kak Ardian. Setelah kami
makan, kami segera pulang. Enak deh makan sama kak Ardian, makanannya enak,
sama cowok cakep lagi! Kami makan dengan tenang...eh! bukan!!! Hening!!! Sama
sekali nggak ada ngomong. Setelah selesai, kami segera membayar bon.
“Semuanya berapa?” tanyaku.
“Semuanya 85.000” ucap kasir. Aku mengeluarkan uang dari
dompetku.
“Ini” ucap kak Ardian. Eh? Kak Ardian yang bayar?
Setelah itu kami keluar dari Green Emerald.
“Makasih,ya
kak. Udah bayarin” ucapku. Kak Ardian tersenyum. Kami segera pulang. Di
sepanjang jalan pulang, kami saling mengobrol dan sesekali tertawa. Aneh. Kami
nggak pernah kayak gini sebelumnya. Yah...baguslah.
ESOKNYA...
“Pagi, Dian!” sapaku.
“Pagi. Eh, gimana? Jadi tunangannya?” tanya Dian.
Aku mengangguk.
“Oh,ya? Tanggal berapa?” tanya Dian cepat.
“26 Desember” jawabku pendek.
“Abis natalan,ya? Bajunya udah beli?” tanya Dian lagi.
Belum sempat aku jawab, Claudine datang.
“Vi! Kamu jadi tunangan sama kak Ardian?” tanyanya. Aku
mengiyakan.
“Aku belum sempet jalan kemarin. Mungkin malam Minggu
nanti” ucapku memberitahu.
“Pake’ kue tart?” tanya Claudine.
“Nggak tau. Itu urusannya kak Ardian. Paling nanti yang
diundang...” ucapku menggantung. Aku melihat sekelas. Kalo’ aku tunangan... mau
nggak mau aku harus ngundang temen sekelas. Berarti itu juga ngundang... Andi?
“Siffa” panggil someone.
Oh..Andi.
“Yap?”
“Ng... nggak. Nggak jadi” ucapnya lalu pergi. Aku
keheranan.
“Siffa” panggil Aan.
“Kenapa, An?” tanyaku.
“Si Andi tu suka kamu. Cuma dia malu ngomongnya” jawabnya
“Apa? Bohong ah! Nggak mungkin lagi!” sangkalku.
“Beneran! Kalo’ nggak percaya tanya aja sama Andinya
sendiri!”
“Ye... mana mau ngaku!”
“KRIIING!!!!KRIIIING!!!KRIIIING!!!!” bel berbunyi tanda
masukan. Pelajaran pertama adalah PENJAS. Kami segera turun ke bawah, tentu
saja dengan memakai pakaian olahraga! Setelah pemanasan, kami segera berkumpul
menunggu guru.
“Assalamu alaikum” ucap pak Roy. Setelah dijelaskan
beberapa hal, kami langsung keluar sekolah. Hari ini tugasnya adalah lari
mengelilingi rute jalan santai lagi! Waduuh! Bisa kaku lagi ni kaki gue! Kali
ini aku lari agak cepat! Tapi di tengah jalan, telapak kakiku sakit. Yah...
akhirnya gitu deh. Waktu lariku meningkat 2 menit. Yaitu 20 menit 53 detik.
Setelah itu kami langsung ke kantin.
PULANGAN...
“Aduuh! Pulsaku abis! Beli dulu ah! Dian, Claudine, Siska
aku beli pulsa sama bu Mardiancis dulu. Kalian duluan aja” ucapku. Mereka
mengangguk. Aku segera mengisi pulsaku dengan bu Mardiancis. Bu Mardiancis
adalah guru komputer. Segi fisiknya pake serudung, agak tinggi, pake kacamata,
orangnya agak tua-tua dikit. Setelah itu baru aku pulang. Aku menungu sejenak
di lapangan. Oh,ya aku punya sebutan untuk lapangan ini. Namanya LoFi.
Maksudnya Love Field. Karena aku menemukan kak Ardian di lapangan ini waktu dia
ngajak aku pulang bareng! Nggak nyambung,ya?
“Pulang yuk, Cha?” ajak kak Ardian dari belakang.
Aku mengangguk,”Yuk”.
Kak Ardian segera mengambil motornya di sekolah. Setelah
itu baru kita jalan.
“Tadi kamu sengaja nunggu aku?” tanya kak Ardian.
“Ng...Iya. Kenapa? Nggak boleh,ya?” tanyaku ragu.
“Nggak papa sih. Aku seneng. Tapi...kamu nunggunya nggak
kelamaan?” tanyanya.
“Nggak. Tadi aku juga baru aja keluar” jawabku.
“Lain kali kalo’ mau pulang bareng bikin janji dulu,ya?
Jadi aku keluarnya bisa agak lebih cepet” usul kak Ardian.
“Iya. Lama juga nggak papa kok” celetukku. Kak Ardian
tersenyum. Setelah itu kami terdiam beberapa saat.
“Ng... kakak kalo’ di sekolah banyak yang suka,ya?”
tanyaku ragu.
“Kenapa nanyanya kayak gitu? Takut aku selingkuh,ya?”
tebak kak Ardian.
“Ng... bukannya gitu sih. Cuma.. kak Ardian ‘kan cakep,
tinggi lagi. Pasti banyak yang suka”.
“Ya...emang agak banyak sih. Tapi percaya deh. Mulai dari
kecil, waktu umurku 7 tahun sampe’ sekarang, perasaanku sama kamu nggak pernah
berubah. Bahkan bertambah banyak lagi!” Kak Ardian berusaha meyakinkan aku.
“Aku juga. Mulai pertama kali kita ketemu... perasaanku
waktu kita pandangan... Gimana....gitu!” ucapku.
Akhirnya kami sampai di rumah.
“Kak, mampir dulu,ya?” pintaku.
Kak Ardian mengangguk. Kami segera ke taman. Tapi aku
belum sempet ganti baju lho!
“Kak, mungkin nggak, kita ini CLBK?” tanyaku.
“Apaan tu?”.
“Cinta Lama Bersemi Kembali” jawabku.
“Yah... mungkin aja” kak Ardian tersenyum.
“Dulu aku nggak bakalan nyangka kalo’ kita bener-bener
pacaran. Kukira itu cuma mimpi” ucapku.
“Yah... sekarang sudah jadi kenyataan ‘kan? Kamu nggak
perlu tidur lagi untuk bikin mimpi itu” rayu kak Ardian.
Kami berdua berpandangan lalu tersenyum.
Waah...senengnya!!! Jadi gini,ya orang pacaran itu? Kayak coklat! Manis...
kalo’ kita makan...rasanya jadi senang! Rasanya aku mau coklat seumur
hidupku!!!
“Kakak tadi bilang, katanya dari umur 7 tahun nggak
bakalan pernah berubah. Kok waktu aku masih kelas 1 kakak dingin banget sama
aku? Aku ‘kan jadi il-feel!”
protesku.
“Sorry,ya?
Waktu itu aku agak dingin ke kamu. Ku kira kamu itu nggak suka sama aku. Jadi
aku mau ngilangin rasa sukaku ke kamu. Tapi...eh, malah bikin kesan yang buruk!
Sorry,ya?” jelas kak Ardian sambil
mengelus rambutku.
“Nggak papa kok. Aku juga yang salah kira”.
“Malam Minggu nanti keluar yuk? Cari baju tunangannya”
ajak Kak Ardian.
Aku mengangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar