“Anna, kau punya anak perempuan yang
manis. Aku yakin jika dia bekerja seperti kau nanti, pasti akan dapat uang
lebih banyak,” ucap seorang cowok setengah mabuk yang mampir ke rumah. Orang
itu teman ibu. Ucapan itu kudengar saat aku masih kecil. Entah umur berapa, aku
tidak mengingatnya lagi. Sekarang umurku 18 tahun dan sampai detik ini pun aku
tidak mengetahui sedikitpun dimana ibuku bekerja. Selama ini yang aku tahu, ibu
selalu tidur pagi hari setelah membuatkanku sarapan. Saat aku pulang sekolah,
ibu menonton tivi. Ia selalu menemaniku saat mengerjakan pr. Ibuku adalah
lulusan sarjana―mungkin itulah yang membuatku yakin ibuku mendapatkan pekerjaan
yang layak sesuai dengan jurusannya.
Hari ini aku dan teman-temanku
janjian untuk pergi nonton bioskop lalu belajar kelompok di salah satu rumah
teman. Ibu membolehkan aku pergi. Ia menambahkan jika aku bisa menginap di
rumah teman jika aku pulang larut malam.
Aku sangat senang. Ibuku mengerti apa yang aku inginkan bersama teman. Ia tak hanya seorang ibu di mataku, tetapi juga sahabat. Aku sering bercerita kepadanya tentang apa saja.
Aku sangat senang. Ibuku mengerti apa yang aku inginkan bersama teman. Ia tak hanya seorang ibu di mataku, tetapi juga sahabat. Aku sering bercerita kepadanya tentang apa saja.
“Hey Jenny, kau punya ibu yang
sangat baik, ya? Aku ingin memiliki ibu seperti ibumu juga,” puji Lisa, salah
satu temanku. Aku tersenyum menanggapi pernyataannya. Iya, jika dipikir-pikir
betapa beruntungnya aku mempunyai ibu seperti ibuku, Anna. Ia sangat perhatian,
mungkin karena aku adalah anak semata wayangnya.
Ayahku, George, menceraikan ibuku
saat aku kecil dan belum sekolah. Aku tidak mengerti kenapa ayah tega
menceraikan ibu. Yang aku tahu, setelah setahun bercerai, ayah menikah lagi.
Dan aku menarik kesimpulan bahwa ayah telah berkhianat dari ibu. Buktinya saja
ia langsung menikah dengan perempuan lain begitu resmi bercerai. Aku membenci
sosoknya sampai sekarang. Ibu melarangku untuk membencinya. Ia mengatakan bahwa
ayahku memang tidak salah. Mereka bercerai karena perbedaan pendapat―hanya itu
yang aku tahu.
Beberapa kali aku bertanya pada ibu,
apakah ayah sudah tidak menganggapku lagi sebagai anak, karena ayah memang
tidak pernah lagi mengunjungiku ataupun menghubungi kami. Ibu hanya menjawab
jika ayah sibuk. Selalu sibuk. Berita terakhir yang aku dengar, istri keduanya,
Bella, adalah single parent sebelum ayah menikahinya. Ia punya anak laki-laki
dari pernikahan pertamanya. Dan sekarang, ia melahirkan anak perempuan. Mungkin
usianya terpaut 6 tahun di bawahku. Aku pernah meminta izin ibu untuk pergi
bertemu ayah, namun ibu melarangku. Ia berkata, mungkin saja aku akan
diusirnya. Aku tidak pernah membayangkan akan diusir oleh ayah―ayah kandungku
sendiri. Entah akan bagaimana jadinya.
Sesungguhnya, aku rindu sekali sosok
ayah di hidupku. Sosok yang keras namun perhatian. Sosok yang kasar namun
tulus. Sosok yang over protective namun penyayang. Aku ingin seperti temanku
yang lain. Mempunyai ayah, yang jika ia ingin pergi malam hari atau bersama
pacar dilarang atau mendapat ceramah singkat. Sosok yang melarang keras
penggunaan obat-obatan terlarang. Sosok yang selalu mengecek keberadaan kita
dan hal apa saja yang kita lakukan. Atau bentuk over protective yang lain. Aku
tidak mengerti mengapa ibu tidak menikah lagi. Apakah ibu trauma dengan
pernikahan yang lalu? Apa ibu tidak kesepian saat tidak ada lagi yang
menemaninya jika aku tidak berada di dekatnya? Apa ibu tidak merasa ketakutan
saat tidak ada lagi sosok seorang pria yang akan melindunginya? Berbagai macam
pertanyaan muncul di benakku.
“Jen, jangan terlalu banyak
merenung!” Rosalie menyenggolku pelan. Aku tersadar dari lamunanku. Film yang
kami tonton sudah usai dan aku tidak sedikit pun konsentrasiku mengarah ke film
yang aku tonton. Huaaah, rugi sekali!
Aku dan teman-temanku segera pergi
menuju tempat Ryan untuk belajar kelompok. Awalnya, kami mengerjakan soal
matematika. Setelah satu jam dan beberapa soal terjawab, acara malam ini kami
isi dengan percakapan. Kadang ada juga yang melemparkan candaan. Rumah Ryan
terdengar ramai dengan kedatangan kami. Katanya, seluruh keluarganya sedang
pergi ke luar negeri untu urusan bisnis. Ryan tidak punya saudara, maka rumah
besarnya ini hanya dihuni olehnya dan beberapa pembantu.
Well, aku memang memendam sedikit
rasa padanya. Aku menyukai sosoknya yang tegas dan pemberani. Makanya, aku yang
biasanya enggan untuk pergi belajar kelompok pun kali ini berusaha untuk datang.
Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Sudah terlalu larut, temanku yang lain
pamit pulang.
“Rose, aku bisa menginap di rumahmu?
Ibu bilang aku bisa menginap di rumah temanku jika sudah larut malam,” pintaku
pada Rosalie.
“Maaf, Jen. Aku bukannya tidak mau,
tapi kau tahu kan
ayahku seperti apa? Ia tak suka jika ada tamu menginap. Maaf, ya?”
Aku menatap Lisa, berharap jika ia
membolehkan aku menginap. Namun jawabannya tak berbeda jauh dengan Rosalie.
Rumah Lisa sederhana dihuni kedua orang tuanya, ia, dan 5 saudaranya. Pasti
jika ditambah dengan aku akan menjadi makin sempit. Bagaimana ini? Kalaupun
pulang, rumah pasti sudah terkunci dan aku tidak membawa kuncinya. What on
earth shall I do?
“Kau menginap di sini saja, Jen,”
tawar Ryan.
Aku menoleh, “Hah? A-apa? Menginap
di sini?”
“Iya, kau menginap di sini saja
untuk malam ini. Kau bisa tidur di kamar tamu. Aku akan menyuruh pembantuku
menyiapkannya,” ucap Ryan.
“Ah, tapi…”
“Sudahlah. Tak apa. Daripada kau
tidur di depan rumah kan?”
tambahnya lagi. Akhirnya aku menurut. Aku memasuki kamar tamu di rumah Ryan.
Wah, kamarnya rapi sekali. Nyaman rasanya berada di sini.
“Jen, bagaimana kalau kita
jalan-jalan sebentar?” tawar Ryan di depan pintu.
“Mau jalan kemana?” tanyaku. Ryan
mengatakan hanya jalan-jalan. Akhirnya kami berjalan melewati beberapa toko
yang sudah mulai tutup. Langkah Ryan membuatku tercekat. Ia berhenti tepat di
depan sebuah klab malam.
“Bagaimana jika ke sana?”
“Apa? Ryan, itu kan klab malam. Tak seharusnya kita ke sana,” sanggahku.
“Ayolah, dari dulu aku penasaran apa
saja yang ada di dalamnya,” jawab Ryan menarik tanganku. Aku mengikuti
langkahnya. Sebenarnya aku merasa enggan dan sedikit takut, serta rasa aneh
yang lain. Aku merasa ada hal yang tak baik akan ku temui. Jantungku berdebar
keras. Selalu begitu jika aku merasakan firasat buruk.
Terlihat beberapa penari di atas
panggung dengan pakaian minimnya. Seorang bartender sedang meracik wine yang
akan disuguhkan. Banyak pasangan yang berciuman di sudut-sudut ruangan dan… yeeekh,
aku jijik melihatnya. Mereka penuh nafsu dari cara mereka berciuman. Tak ada
rasa cinta sedikitpun, itu yang aku rasa. Seorang pelayan membawa nampan berisi
2 buah gelas wine dan sebuah botol berpita kuning menuju ke sebuah meja yang
diduduki oleh seorang pria dan wanita.
Aku mengikuti Ryan berjalan. Namun,
mataku seolah penasaran dengan pria dan wanita yang didatangi oleh pelayan
tadi. Mereka mau apa? Apa membicarakan hal bisnis atau hanya seperti
pasangan-pasangan yang aku lihat tadi? Aku mencuri pandang sebentar ke sana.
Aku melihat pria tadi menuangkan
minuman ke dalam gelas mereka dengan senyuman nakal. Aku mencari wajah si
wanita itu. Aku heran, wanita mana yang mau duduk berdua dengan pria yang
terlihat brengsek itu? Yang jelas, wanita itu pasti buta atau paling tidak,
bodoh, karena ia mau-mau saja untuk duduk berdua dengan pria itu.
Sedikit lagi aku berhasil melihat
wajah wanita itu, Ryan sesaat menarik lenganku dan menawariku minum. Aku
menolaknya. Ia terlihat kesal lalu memesan satu gelas cocktail untuknya. Aku
duduk di sebelahnya dan mataku berusaha mencari wajah wanita yang tadi hampir
berhasil aku lihat. Namun, sekarang meja itu kosong. Seorang pelayan
membersihkan meja itu dan berlalu. Ah, sial. Padahal aku pikir aku bisa
melihatnya. Entah kenapa, aku jadi merasa sepenasaran ini.
Akhirnya aku mengajak Ryan pulang.
Setelah keluar klab, aku melihat pria tadi bersandar di sebuah mobil mewah yang
menurut perkiraanku adalah mobilnya. Ia terlihat seperti sedang menunggu
seseorang, karena sedari tadi ia melihat jam tangannya yang terlihat berkilau
dari tempatku berdiri. Aku mengatakan pada Ryan bila aku ingin sebentar lagi di
sini. Ryan tidak keberatan. Ia kembali masuk ke dalam klab. Sedang aku tidak.
Aku memilih menunggu di luar. Aku masih ingin melihat siapa yang ditunggu.
Seorang wanita bermantel putih
keluar dari klab dengan membawa sebuah tas kecil. Ia memakai kacamata hitam.
Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Ia mendatangi pria itu dan mengecup
leher si pria. Aku meleletkan lidah, jijik. Pria itu lantas membuka kacamata
wanita itu dan barulah aku tahu siapa wanita itu.
Mataku panas melihatnya. Aku shock,
terpaku, terdiam, terpana. Wanita itu terasa sangat familiar. Sangat familiar.
Aku langsung berlari menuju hadapan wanita itu. Dengan perasaan yang tak
keruan. Wanita itu pun kaget melihatku di sini. Di tempat kerjanya.
“IBU!” seruku.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar