Aku menangis tersedu di kamar. Di atas sebuah bantal berbentuk hati berwarna pink lembut pemberian Jonathan, pacar.. eum… mantan pacarku. Ia memberinya saat ulang tahunku yang ke 15. Dan sekarang aku menangis karenanya. Yeah, aku menangis karena seorang cowok yang sudah 2 tahun ini menjadi kekasihku.
Aku
putus dengannya. Sebenarnya terpaksa sekali aku ingin berpisah darinya,
karena aku masih sangat mencintainya. Jonathan, atau simplenya Jo,
adalah seorang artis muda yang namanya sedang naik daun. Ia banyak
mendapat tawaran iklan dan film layar lebar, bahkan ku dengar saat ini
ia ditawari untuk bermain dalam sinetron stripping.
Aku
merasa ia berubah. Well, bukan sepenuhnya salahnya. Aku memutuskannya
karena para fans fanatiknya itu. Aku tidak sanggup lagi jika harus
mendapat telepon misterius, atau kejadian janggal lagi, bahkan surat
botol berantai yang berisi ancaman dan hinaan untukku. Sudah cukup.
Tiga
tahun yang lalu, aku kenal dengan Jo di perpustakaan kota. Saat itu aku
sedang menekuni novel remaja ketika Jo menghampiriku dan bertanya letak
buku sains yang memang terletak berlawanan arah dengan tempatku berada.
Buku sains ada di lantai dua, sedangkan lantai tiga ini hanya berisi
buku-buku fiksi. Saat itu dia polos sekali sambil menggaruk-garuk
kepalanya. Ia kemudian beralih menuju lantai dua dan kembali ke lantai
tiga sambil membawa beberapa buku sains. Jo meletakkan buku-buku itu ke
mejaku dan tersenyum. Aku memandang heran wajahnya dengan tatapan
maksudnya-apa-ini-?.
Jo menjulurkan tangannya, “Hai, aku Jo. Namamu siapa?”
Aku
membalas uluran tangannya dan memperkenalkan namaku. Ia meminta aku
mempersilakannya untuk duduk di sampingku. Aku mengangguk. Setelah
selesai membaca novel, aku menuruni tangga dan bersiap pergi. Jo
menawariku untuk mengantarku pulang. Sesaat aku ragu apakah harus
menerimanya, karena aku dan dia baru saja berkenalan. Dia berkata cepat dan berjanji tidak akan berbuat macam-macam kepadaku.
Aku
tersenyum mendengar penuturannya itu. Aku mengikutinya. Ia menwarkan
untuk pergi ke kafe dekat perpustakaan dan aku membolehkannya. Kami
duduk di dekat jendela. Jo orang yang menyenangkan. Ia pandai membuat
orang merasa nyaman ketika berada di sampingnya. Kami pun saling
bertukar cerita. Di penghujung waktu, aku harus pamit karena harus
mengikuti les bahasa asing. Sebelumnya kami bertukar nomor telepon dan
email.
Setelah
pertemuan pertama kami itu, kami sering janjian bertemu di perpustakaan
atau di kafe biasa. Hampir satu tahun kami kenal, Jo mengajakku pergi
ke sebuah restoran. Aku bertanya mengapa ia mengajakku ke restoran,
bukan kafe tempat biasa. Jujur, saat itu aku sangat kaget dan senang
sekali. Yeah, aku memang mulai menyukai sosok Jo. Dan syukurlah,
perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Di restoran itu dia menyatakan
cintanya padaku. Dengan sebuket bunga dan sebuah boneka beruang mini,
ia benar-benar mencuri hatiku. Sejak saat itu kami jadian.
Selang
satu setengah tahun, ia memberitahuku akan mengikuti sebuah casting
yang mencari bintang iklan laki-laki. Aku membolehkannya. Saat ia
diterima casting, Jo langsung mengajakku untuk pergi ke Disneyland. Aku
senang sekali. Kami mencoa beberapa permainan dan membeli gula-gula di
sana.
Sebulan
berikutnya, ia ditawari untuk bermain film layar lebar sebagai peran
pembantu. Aku pun membolehkannya. Aku juga datang ke studio untuk
memberinya kue dan segelas teh, untuk menyemangatinya. Rupanya di sana
telah berkumpul fans Jo yang ternyata sudah banyak dan… uhm.. kebanyakan
dari mereka perempuan. Ada yang memintanya berpoto bersama, minta tanda
tangan, dan … WHAT! Mencubit dan mengecup pipi Jo dengan gampangnya.
Aku melotot meliha hal itu.
Aku
langsung pamit ingin pulang, padahal Jo baru saja ingin memintaku untuk
melihat aksinya. Aku minta maaf padanya dan mengatakan aku sedang tidak
enak badan. Jo panik namun aku meyakinkannya jika aku akan selamat
sampai rumah. Di luar, aku bertemu dengan seorang gadis cantik, langsing
dan tinggi. Sepertinya salah satu pemeran film juga. Dari wajahnya, ia
terlihat jutek. Ia bertanya padaku ada hubungan apa aku dengan Jo. Dan
dengan lancarnya aku bilang aku adalah kekasih Jo. Ia tertawa, mengejek.
Ia malah mengataiku kalau aku tidak pantas sama sekali untuk Jo.
Seorang kutu buku mempunyai kekasih seorang bintang yang tampan. Aku
kesal. Aku langsung berlari pulang.
Malamnya,
Jo tidak sekaipun menghubungiku. Tidak menelepon ataupun mengirim SMS.
Aku makin kesal. Esoknya ia berada di depan rumahku. Hari itu hujan dan
Jo terlihat benar-benar basah. Aku mempersilakannya masuk dan memberinya
pakaian hangat milik Edward, kakakku. Ia meminta maaf karena kemarin
tidak mengantarku pulang, juga tidak memberi kabar sama sekali malamnya.
Sangat sibuk, katanya. Aku memakluminya.
Aku
mengajaknya pergi ke perpustakaan besok, namun ia harus menyelesaikan
filmnya. Aku kecewa, namun ia mengatakan aku boleh melihatnya. Aku juga
bercerita bagaimana kesal dan cemburunya aku melihatnya dengan para
fansnya. Ia tertawa kecil dan meminta maaf. Jo mengatakan jika para fans
memang kadang terlalu over. Selama belum ada yang mencium bibir, tidak
masalah kan, ucapnya. Aku tertunduk. Jo mulau berubah, pikirku.
Melihat
gelagatku yang aneh, ia mengecup pipiku dan memelukku. Ia mengatakan
kalau ia tidak akan pernah berpaling ke gadis manapun. Hatinya telah
terpaut padaku. Wajahku bersemu. Detik selanjutnya, aku merasakan
bibirnya menempel di bibirku. Tidak lama, karena setelahnya telepon
genggamnya berdering dan mengatakan ia harus segera tiba ke lokasi
syuting. Aku melepasnya. Ia berganti pakaian dan langsung pergi setelah
pamit denganku.
Malamnya,
aku mendapat telepon misterius. Suaranya serak sehingga aku tidak
mengenal suara milik perempuan atau laki-laki. Yang jelas, ia berkata
bahwa aku harus menjauhi Jo. Jika tidak, maka aku akan menyesal karena
Jo mempunyai rahasia yang pasti akan membuatku menderita. Aku langsung
membanting gagang telepon itu.
Esoknya
aku pergi ke studio untuk melihat peran akting Jo. Ia tak mengetahui
aku akan datang. Rencananya aku akan memberinya surprise. Tapi ternyata,
dialah yang sebenarnya memberiku surprise lewat adegannya di film.
Tampak jelas di mataku, bibir Jo menempel di bibir seorang gadis―yang
kutemui kemarin! Jo tampak sangat menikmatinya. Aku shock. Tak lama,
sang sutradara berseru”CUT!”. Ia sepertinya senang dengan adegan tadi.
Aku berdiri mematung di balik kamera di sudut ruangan. Tasku jatuh dan
menimbulkan suara yang lumayan berisik. Seluruh ruangan menatapku,
include Jo. Dari air mukanya terlihat ia sangat kaget. Ia mendatangiku
dan berusaha memberikan penjelasan, namun ku tepis dengan kasar.
Aku
memakinya dan pergi meninggalkannya. Ia berteriak ke arahku, aku
mengabaikannya. Aku sakit, sakit hati. Sesampainya di rumah, aku
mendapati sebuah botol minuman kosong. Di dalamnya terdapat sepucuk
surat. Aku mengeluarkannya. Tercekat aku membacanya.
"KAU SAMA SEKALI BUKAN ORANG YANG PANTAS MENDAMPINGI JO!"
Keesokan
harinya, beberapa perempuan berada di depan pagar rumahku saat aku baru
saja keluar dari rumah dan ingin pergi ke perpustakaan kota. Beberapa
dari mereka membicarakan sesuatu, ada yang menatapku sinis. Sekilas aku
dengar mereka membicarakan Jo. Kemudian salah satu dari mereka
menghampiriku. Ia mengatakan bahwa aku sama sekali tidak serasi dengan
Jo. Jo sangat sempurna tidak mungkin mau denganku yang hanya kutu buku.
Aku
bergegas pergi ke perpustakaan. Tidak tahan dengan semua hinaan mereka.
Aku sedih. Di perpustakaan aku memilih duduk di pojok ruangan dan
menghadap dinding. Aku menangis di sana. Bacaan yang aku pegang juga tak
satu kata pun masuk di otakku. Aku kembali membuka surat botol yang
memang ku bawa di dalam tasku. Semuanya karena Jo. Aku tidak sangup lagi
bila aku harus menghadapi semua cobaan ini. Mungkin yang mereka
katakana benar. Aku―Regina
Athalya, tidak pantas mendapat seorang kekasih seperti Jonathan. Ia
terlalu sempurna. Seorang artis tidak akan pernah cocok dengan seorang
kutu buku.
Seseorang dari belakang mengambil kertas yang aku pegang. Jo.
“Rupanya
kamu di sini? Aku tadi mencarimu di rumah. Katanya kau pergi ke
perpustakaan,” ucapnya. Ia membaca surat itu. Raut wajahnya tegang. Aku
mengambilnya kembali. Dan mengatakan pada Jo, ku akhiri hubungan kami
dengan alasan yang cukup kuat. Setelah itu aku berlari meninggalkan Jo
yang berdiri mematung.
Seharian
ini aku menangis di kamar. Mengingat semua kenangan bersama Jo. Sarapan
yang berada di hadapanku puntak kuhabiskan, padahal itu adalah makanan
favoritku. Aku beranjak menuju layar televisi dan menyetel sebuah acara
reality show. Mataku terpaut pada seseorang di sana. Jonathan Earst.
“…
Aku bukan orang yang sempurna. Karena tanpa kehadiranmu, jiwaku tak
akan pernah utuh. Maaf kalau selama ini aku membuatmu sedih dan sakit
hati. Aku pikir, dengan aku menjadi seperti aku yang sekarang ini, kau
akan selalu melihatku saat aku tak bisa menemanimu. Semuanya sudah aku
ketahui dan aku sudah memberitahu mereka bahwa kau akan tetap selalu
menjadi kekasihku. Aku tidak peduli apakah kau seorang kutu buku sekali
pun. Bagiku, kau tetap menjadi Regina Athalya, Regina yang aku cintai
sampai kapan pun. Kalau kau mendengar dan melihat tayangan ini, aku
ingin kamu keluar dari rumahmu dan sambutlah aku di luar…”
Jo
menyatakan cintanya di televisi!!! Dan.. hei! Latar belakang itu
seperti aku kenal. That’s my home! Aku segera membuka pintu dan ku
dapati Jo berada di saa memegang sebuah mikropon sedang disorot oleh
beberapa kamera. Aku tercengang. Ku lirik lagi di tivi, siaran langsung!
Jadi rumahku sedang ditonton oleh khalayak ramai?
“Regina Athalya, aku tidak sanggup berpisah terlalu lama darimu. Aku tidak mau kehilangan
dirimu lagi. Jadi untuk detik ini juga, maukah kau kembali ke dalam
pelukanku? Aku janji aku akan selalu membahagiakanmu,” tutup Jo.
Aku
terharu. Kemudian berlari menuju ke tempat Jo berada. Memeluknya seerat
mungkin. Seorang narator kemudian bercuap-cuap di mikropon untuk
menutup acara. Samar ku dengar ia menyebutkan ‘happy ending’. Aku
bahagia sekali. Jo memang sempurna di mataku. Ia sangat romantis.
Aku
menyadari sesuatu. Cinta akan selalu ada. Sebanyak apapun rintangan,
jika kita mau berusaha untuk menghadapinya maka ia akan berakhir dengan
indah. Selanjutnya, jo semakin terkenal dengan tayangan realty show ini.
Namun ia sangat meminta maaf karena ia harus meninggalkan perannya―seluruh perannya di dunia akting dan menjadi Jo yang biasa saja. Aku menangis saat itu. Ia melakukannya untukku?
Satu
bulan kemudian, Jo kembali menjalani rutinitasnya yang lama. Ia
melanjutkan studinya di universitas. Fans fanatik Jo memang masih ada,
walaupun ia bukan sebagai artis lagi. Aku tidak keberatan jika mereka
belum rela sosok Jo hilang dari layar kaca. Karena nanti pasti ada
saatnya semua itu berakhir. Dan tebak! Setiap hari, kami menghabiskan
waku di perpustakaan dan kafe biasa. Aku senang, Jo sekarang kembali
menjadi Jo-ku yang dulu. Karena ia akan selalu ada untukku.
I love you, Jo…
