“Assalamu alaikum!” seruku setiba di kelas.
“Kum salam” jawab Claudine.
“Lho? Claudine? Tumben datangnya pagi. Bener-bener
berubah deh” kritikku.
“Ya iyalah. Masa’ nggak ada perubahan? ABCDE gitu.. Aduh Bo, Capek Deh Eke”
lagak Claudine.
“Oh, ya! Maafin aku, ya kalau ada salah” ucapku.
“Same same
gitu” ucapnya.
“Vivi!” panggil Siska.
“Hai! Minal aidzin, ya?”.
“Yoi!” ucapnya. Kedatangan Siska disusul oleh Dian
dan...Dika.
“Aduh-aduh. Pagi-pagi gini udah be-gosip. Baru juga
lebaran!” ucap Dika.
“Eiits.. iya-iya. Gue ‘kan cuma becanda aja bro... He...he...” ucapnya. Akhirnya
kami pun bersalam-salaman.
“Oh, ya. Dika, gimana keadaan your girl?” tanyaku.
“Baik-baik aja. Gimana juga keadaan kak... Ardian, ya
namanya?” tanyanya.
“Iya, namanya Ardian. Aku juga baik-baik aja sama dia.
Malah... kita makin dekeeeeet aja tuh” ucapku dengan nada setengah bercanda.
“Waduuh... aku jadi jealous...
tapi bohong...” ucap Dika sambil mencubit pipiku.
“Aduuuh... lepasin! Sakit tau!” ucapku sambil memegangi
pipiku. Dika tersenyum nakal.
“Claudine” panggil seseorang. Serentak kami berempat
menoleh. Ternyata dia itu Rendra, anak kelas 8-6. Claudine segera
mendatanginya, meninggalkan kami bertiga.
“Dasar Claudine! Kalo udah ketemu Rendra, lupa deh sama
kita” ucap Dian.
“Maksudmu?” tanyaku.
“Iya. Waktu lebaran, Rendra datang ke rumah Claudine sama
orang tuanya. Mereka itu kelihatan akrab banget! Liburan penutup lebaran,
Claudine jalan sama Rendra ke mall. Kebetulan ketemu aku sama Dian. Tapi... dia
nggak ngeranin kita. Malah waktu kita tegur dia bilang, “Waduuh.. ada kalian
toh.. Sorry ya aye nggak ngeliat”
gitu” jelas Siska panjang lebar.
“Tapi mereka cocok, ya?” ucapku.
“Ng... iya siiih...” ucap Dian dan Siska.
Setelah Rendra pergi, Claudine mendatangi kami.
“Eh,eh, tau gak? Aku ditembak sama RENDRA!!!” seru
Claudine.
“HAAAH?!? SUMPEH LU?!?” seru kami bertiga. Dan jelas
saja, karena bertiga, suara kami sangat keras.
“Woi! Ribut banget sih! Bisa diem gak?!?” seru Nano,
ketua kelas. Kami hanya tertawa kecil.
“Iya, iya. Dasar Nano-Nano”. Itu olokan kami untuk dia.
Hi..hi.. Nano itu paling anti sama yang namanya ‘CEWEK’! Jadi sebuah kejaiban
kalo Nano itu pacaran! Padahal Nano itu cakep lho! Apa dia hombreng? Hush!
Aneh-aneh aja aku ini!
“KRIIING!!! KRIIING!!! KRIIING!!!” nggak terasa bel
istirahat berbunyi.
“Vi, ke bawah yuk?” ajak Claudine.
“Nggak mojok sama Rendra?” godaku.
“A-ah.. udah deh. Kalo’ nggak mau ya udah” Caludine
merajuk.
“Eh, iya iya. Yuk?” ucapku.
“Diaaaan!!! Ke bawah yuk?” ajakku.
“Iya. Siska, yuk?” ajak Dian. Waduuh, waduuh... kami
berempat ini memang tidak bisa terpisahkan! He..he..he.. Apa saat SMU nanti
kami masih bisa seperti ini?
“Oh, iya! Gimana? Kamu terima nggak si Rendra?” tanyaku
saat sudah berada di kelas.
“Belum ku jawab. Nanti waktu pulangan” jawab Claudine.
“Eh, apa ini?” tanya Dian memegang surat di tangannya.
“Ehem...ehem...” godaku. Kami bertiga langsung mendekat
pada Dian. Isinya:
|
Dear : Amelia Chynthya Dian Nur Rahmawati
Ada yang mau aku bicarain berdua
sama kamu. Pulangan ini, aku tunggu di lapangan basket. Jangan kasih tau sama
teman-temanmu. Oke?
(XXX) for U
|
“CIEEEEE...” seru kami bertiga. Dian menjadi malu,
mukanya merah tuh... Hi...hi...
“Waduuh, temen kita yang satu ini mau jadian nih...”
godaku.
“Eh, eh gini aja. Gimana kalo’ kita bikin rencana?”
ucapku.
“Apa?” tanya mereka bertiga serentak.
“Sini,sini...” ucapku. Kami membentuk lingkaran dan
saling menunduk seperti orang mau main baseball. Setelah kujelaskan, mereka
semua setuju.
PULANGAN...
Dian segera bergegas menuju tengah lapangan basket. Waah, sepertinya Dian
gugup deh. Kelihatan deh.. Hi..hi..hi... 1 menit telah berjalan, akhirnya orang
yang ditunggu-tunggu sudah datang. Dia... HAH?!? Aku nggak salah lihat ‘kan?
“Eh, itu si Nano-nano bukan?” tanyaku berusaha untuk
meyakinkan penglihatanku.
“Iya. Itu si Nano-nano!” bisik Claudine.
“Waduuh, nggak nyangka, ya. Nano, ketua kelas kita yang
begitu ketat dan paling alergi sama yang namanya cewek bisa luluh juga sama
Dian. Auranya Dian kuat banget sampe bisa ngeruntuhin benteng hatinya Nano” kritikku
panjang lebar. Tiba-tiba Hpku bergetar. Waduh, kak Ardian telpon lagi.
“Halo, assalamu alaikum”.
“Wa alaikum salam. Icha sekarang di mana? Udah pulang
beum?” tanya kak Ardian.
“Belum pulang, masih di sekolah. Masih nemenin temen”.
“Nemenin temen?”.
“Iya, dia lagi ditembak sama temenku. Aku disuruh nemenin
dia, tapi di belakang layar. Ntar deh aku telpon kalo’ aku udah selesai. Ya?”.
“Ya udah deh. Jangan kelamaan, ya?”
“Iya. Makasih, ya?”.
“Ya, assalamu alaikum”.
“Wa alaikum salam”. Telepon pun kuputus.
“Gimana, Dine?” tanyaku.
“Ntar, Diannya masih pikir-pikir tuh kayaknya”.
“Oh, ya. Jawabanmu sama Rendra gimana?” tanyaku.
“Udah kuterima. Rendra sih mau ngantar aku hari ini. Tapi
karena aku bawa motor, ya... ilang deh kesempatanku. Tapi tahun baru nanti dia
ngajak aku jalan!” ujar Claudine. Setelah 3 menit Claudine berkata begitu, Dian
mendatangi kami.
“Iiih, aku ditembak sama Nano!” ucap Dian.
“Trus?” kami bertiga penasaran.
“Ya aku terima. Sebenernya aku juga suka sama dia dari
dulu” jelas Dian.
“Ciee... tinggal Siska nih yang belum” godaku.
“Nggak kok. Sebenernya aku juga udah punya, cuma aku malu
ngomong sama kalian” tutur Siska.
“Siapa?” tanya kami bertiga.
“Kak Jo” ucap Siska.
“Kak Jo? Kak Jono?” tanyaku. Siska mengangguk. Waah,
gangster kami udah bukan The Spurious
Love lagi. Tapi udah TRUE LOVE!!!
“Kalo gitu, nama gangster kita bukan TSL lagi dong!”
seruku.
“Iya, tapi BJL” ucap Claudine.
“Apa itu?” tanya kami bertiga.
“Bukan
Jomblo Lagi”. Kami berempat tertawa. Indahnya persahabatan! Lebih indah lagi
nanti malam. HAPPY NEW YEAR!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar