“Assalamu alaikum” ucap kami memberi salam.
“Wa alaikum salam” jawab orang tua kami.
“Udah beli bajunya?” tanya tante Fira. Kami mengangguk.
“Mana, coba lihat?” ucap mamaku.
Aku membuka kotak gaun. Kak Ardian juga begitu.
“Bagus. Pilihan yang tepat. Serasi lagi” komentar papa.
“Kalo namanya udah jodoh, ya serasi dong” ucap om Rifky.
Kami semua tertawa. ^_^
{ { {
“DIAN!!!” seruku saat tiba di kelas.
“Apa, Vi?” tanya Dian.
“Nih. Surat undangannya yang bagus yang mana?” tanyaku
seraya menyerahkan 7 lembar kertas. 1 berwarna pink biru, 1 berwarna pink
putih, 1 berwarna putih biru, 1 berwarna biru, 1 berwarna pink, 1 berwarna
putih, dan 1 lagi berwarna pink, putih dan biru.
“Astaga! Banyak betul, Vi!” komentar Dian.
“Ya makanya aku mau kamu milih 2 undangan yang bagus”
jelasku. Dian berpikir sambil memandangi surat undangan tersebut.
“Hai! Lagi ngapain? Apaan nih?” tanya Claudine yang
menyambar surat undanganku yang berwarna biru. Akhir-akhir ini aku dan Claudine
rada-rada sensitif. Hubungan kami nggak sebaik dulu. Padahal, waktu kelas 7
kami dekeeet banget!!! Apa-apa berdua! Sekarang... yah... gitu deh(tapi nggak
se-sensitif yang kalian sangka!). Maaf, ya Claudine?
“Vi, mending kamu pilih warna putih sama biru aja!” usul
Claudine.
“Putih biru? Kamu gimana, Yan?” tanyaku.
“Kayaknya yang warna putih pink deh” jawab Dian.
Aku tersenyum, “Makasih. Ntar aku bilang sama kak Ardian
deh! Pink putih sama biru putih,ya?”. Mereka mengangguk. Sekarang tinggal
ngitung banyak temen yang mau diundang! Di lain hati, aku bener-bener nggak
sabar pengen tunangan!!! Tapi, malu juga sih.. juga canggung. Bayangin coba!
Anak SMP yang belum pantes dibilang dewasa sudah mau TUNANGAN!!! Sedangkan orang
yang pacaran dari kecil sampe umur 20 tahun aja mau nikah pikir-pikir dulu!
Masih nunda-nunda! Ini, anak SMP!!! Udah mau Te-U-eN-A-eN-Ge-A-eN!!!
Ck...ck...ck... Dunia lama-lama makin gila aja,ya?
{ { {
“Siffa!” panggil Andi.
Aku menoleh, “Apa, An?”.
“Mau kuantar? Eh! Nggak udah ada cowok,ya?” ucapnya
merasa bersalah. Sebelum aku menjawab pertanyaan Andi, hpku berbunyi.
“Sebentar,ya An? Jangan kemana-mana!” ucapku. Ternyata
kak Ardian. Setelah kuangkat, kak Ardian berbicara. Yang intinya nggak bisa
jemput karena ada rapat OSIS. Maklum.. karena OSIS, jatah berduaan bisa
keganggu. Setelah menutup telepon, aku memasang muka lesu lalu mengahadap Andi
dengan muka ceria. (Heh???)
“Yuk, An! Hari ini “DIA” nggak bisa jemput. Rapat OSIS”
ucapku. Andi tersenyum. Kami segera ke tempat parkir.... Dan Pulang! Of cours!
Sesampainya di rumah...
“Makasih,ya, udah mau ngantarin? Kalo’ nggak ada kamu,
mungkin aku bakalan nunggu pak Andri lama” ucapku.
Andi tersenyum, “Ya. Salam buat keluargamu sama...”
ucapnya menggantung. “Cowokmu” sambungnya.
“Ya”.
“Aku pulang,ya?”
Aku mengangguk, “Hati-hati di jalan,yaa?” ucapku
memperingatkan. Andi tersenyum dan mengangguk. Aku membalasnya. Lalu dia pergi.
Aku menghela napas. Setelah itu aku masuk ke rumah(kandangku! He1000X).
Aku memencet bel. Tak lama, bi Mila membukakan pintu.
“Eh, non udah pulang” ucapnya.
Aku tersenyum, “Assalamu alaikum”.
“Wa alaikum salam”.
“Mama mana bi?” tanyaku.
“Ibu masih kerja, belum pulang. Kalo’ tuan juga sama.
Belum pulang dari kantor” jelas bi Mila lengkap.
Aku segera pergi ke kamarku. Hpku tiba-tiba berdering.
Suara bebek. Tandanya kalo’ ada pesan! Aku segera membacanya.
“Maaf,ya aku nggak
bisa antar kamu. Sekarang dimana?”
Kak Ardian.
Aku segera membalasnya.
“Nggak papa.
Lagian aku dah diantar pulang kok. Dah sampe rumah”
Setelah itu aku ganti baju. Baju tank top warna putih berkerah sama rok jean’s warna biru gelap. Tak lama, ada telepon. Kak Ardian... lagi.
“Halo, assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam. Icha? Sapa yang ngantar kamu?”
“Andi” sahutku pendek.
“...... Oh. Ya udah,ya?”.
Telepon langsung kututup. Aneh. Dulu waktu aku lagi suka
sama Kak Ardian, waktu dia telepon aku ngerasa gembiraaa banget. Bunga-bunga
dalam hatiku rasanya bermekaran trus berkembang biak buaanyaak banget!!!
Tapi... kok sekarang bunga-bunga itu pada layu? Bahkan tanahnya juga gersang!
Apa perasaanku ke kak Ardian sudah mulai habis? Apa aku mulai suka sama Andi?
Soalnya, kalo sama Andi aku ngerasa terlindungi. Yah... walaupun dia
seumuranku. Tapi... masa’ sih aku suka Andi? Apa ini memang harus aku pikirkan
lagi??? Lebih baik aku mikirin hubunganku sama Claudine yang udah hampir retak!
Masalahnya hari ini aku sama sekali nggak ada ngomong sama dia (kecuali tadi
pagi). Untuk mengetahui lebih lanjut, aku telepon Melo. Melo pun langsung
datang ke rumahku(secepat kilat).
“Kamunya aja kali yang nganggap kalian itu rada-rada
sensi!” tuduh Melo. (Ukh!).
“Nggak! Aku nggak tau dia itu kenapa. Yang jelas dia itu
rada-rada gimana...gitu sama aku” sangkalku.
“Mungkin mood-nya
lagi jelek kali. Kamu jangan su’udzan dulu sama orang. Apalagi itu temenmu
sendiri!” Melo menasihatiku. Aku tertegun. Apa bener yang Melo omongin?
Kayaknya sih iya.
“Oks deh.
Makasih,ya?” aku tersenyum. Setelah itu Melo buru-buru pulang karena di
rumahnya ada Kak Rizky. Yah.. apa boleh buat? Aku yang salah. Mungkin memang
bener-bener bener apa yang Melo omongin. Aku aja yang nggak nyadar. Mungkin
Claudine lagi bad mood atau lagi ada
masalah atau lagi ‘strawberry moon’.
Makanya dia jadi lesu. Harusnya aku sebagai temennya ngasih support, ngasih
nasihat, ngasih masukan, atau ngasih apa aja deh, kayak Melo tadi. Ini! Malah
su’udzan! Astaghfirullah! Su’udzan itu ‘kan dilarang! Kenapa aku malah gitu?
Kayaknya aku haru minta maaf sama Claudine besok! Yap! Aku harus minta maaf!!!
Aku nggak mau persahabatan kami retak cuma gara-gara kesalah pahaman!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar