Huh! Lama banget sih
Claudine datang! Ni ‘kan udah hampir jam setengah 8! Aku ‘kan juga capek nunggu
di gerbang sekolah! Kok hari ini dia bener-bener terlambat sih? Dia itu
sebenernya kenapa,sih? Bikin capek aja!!!
“KRIIIING!!!KRIIING!!!KRIIING!!!” tuh kan! Bel udah
bunyi!!!
Aku segera ke kelas. Di tengah pelajaran Bahasa Inggris,
bu Rizma memberitahukan something.
“Anak-anak, hari ini ada berita buruk. Claudine sakit
panas karena 3 hari yang lalu dia kehujanan. Cuma dipaksain ke sekolah. Jadi
hari ini di nggak masuk sekolah. Sekretaris, catat,ya?” bu Rizma
memperingatkan. Rena mengangguk. Setelah itu bu Rizma pergi.
“Dian! Kita jenguk Claudine yuk?” ajakku. Dian setuju.
Kami bertiga (aku, Dian, + Siska) segera pergi ke mall buat beli beberapa buah
seger untuk Claudine. Kami membeli apel washington, jeruk sunkist, sama melon,
kesukaan Claudine. Kami langsung ngacir ke rumah Claudine. Dan jelas! Pak Andri
yang ngantar!
“Assalamu alaikum” kami memberi salam.
“Wa alaikum salam” ucap sesosok wanita separuh baya.
Sepertinya mamanya Claudine.
“Claudinenya ada tante?” tanya Siska.
“Oh, ada. Ayo, sini masuk. Claudinenya ada di kamar” ucap
wanita itu. Dia berjalan ke suatu tempat (sepertinya ke kamar Claudine) dan
ingin kami mengikutinya. Di sebuah kamar, ada sesosok ranjang dan seseorang
terbaring di sana. Claudine. Mukanya kelihatan pucat. Dahinya dikompres sama
saputangan basah. Ya Allah! Aku sudah su’udzan. Aku ini bodoh! Aku tau kenapa
waktu itu Claudine kelihatan nyuekin aku! Dia lagi nggak enak badan karena
kehujanan. Bodoh! Coba aku sadar dari awal! Kejadian kayak gini nggak bakalan
terjadi!
“Halo! Sorry,ya
gals! Aku nggak bisa nemenin kalian
di sekolah tadi. Ada pr nggak?” rintihnya.
“Nggak papa kok. Tadi nggak ada pr” ucap Dian.
“Claudine” panggilku. Claudine memandangku.
“Ng... sorry,ya?”
ucapku. Claudine memandangku heran.
“Sorry, aku
udah salah kira sama kamu. Ku kira kamu marah sama aku. Aku mikir, hubungan kita
udah nggak kayak kelas 7 dulu. Kupikir kamu udah bosen temenan sama aku.
Jadi... sorry,ya?” aku memohon.
Claudine tersenyum, “Ya, nggak papa kok. Aku juga nggak
bisa nyalahin kamu. Soalnya ‘kan itu memang salahku” balasnya.
“Tapi itu ‘kan wajar. Kamu lagi sakit” sergahku.
“Udah, udah. Yang penting kalian temenan lagi gih! Jangan
gini terus” Dian melerai. Kami akhirnya saling bersalaman. Selang beberapa
waktu, hpku berbunyi. Kak Ardian. U-UH! Napa lagi sih ni anak? Lama-lama aku
sebel!
“Halo”
“Cha, kamu di mana? Kok sekolah udah sepi?”
“Lagi di tempet temen. Jenguk. Kenapa sih?” tanyaku.
“Nggak papa. Udah,ya?”
Telepon diputus.
“Vi, kok kelihatannya kamu sama kak Ardian kayak lagi
marahan gitu sih?” tanya Claudine ringkih.
“Nggak kok. Kamu istirahat aja. Biar cepet-cepet masuk
sekolah. Jadi kita bisa curhat-curhatan lagi” ucapku.
Claudine tersenyum. Nggak lama, Dian dapet telepon yang
mengatakan dia harus cepet pulang. Akhirnya kami berpamitan sama Claudine dk (dan
keluarga). Habis itu aku ngantarin Siska sama Dian pulang.
{ { {
“Assalamu alaikum” sapaku.
“Wa alalaikum salam, non ditunggu sama mas Ardian di
taman belakang” ucap bi Mila.
DEG! Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini? Ada
apaan,ya? Aku segera ke taman belakang.
“Kenapa kak?” tanyaku sedikit takut. >.<!!!
“Baru pulang?” tanyanya dingin. Iiih! Aku nggak suka
sikapnya cold kayak gini lagi! Jadi
sebel tau nggak sich???
“Iya” ucapku tak kalah cold! Melihat sikapku gitu, kak Ardian mencengkram bahuku kuat.
“Kamu kok jawabnya gitu?” tanya kak Ardian. Aku menepis
tangannya dengan dingin.
“Kakak ke sini cuma mau bicara itu?” tanyaku. Kak Ardian
heran melihat sikapku.
“Sejak kapan kamu berubah jadi kayak gini? Oooh, aku
tahu! Pasti karena cowok yang sering mau ngantar kamu pulang itu ‘kan?” tebak
kak Ardian.
“Andi nggak ada hubungannya sama semua ini! Kakak emang nggak pernah mikir
yang baik tentang orang lain! Nyesel aku mau tunangan sama orang kayak kakak!”
ketusku.
“Ya udah! Kalo’ gitu nggak usah tunangan aja!” bentak kak
Ardian. Untung mama sama papa belum pulang.
“Ok! Kita nggak usah tunangan. Nanti aku bilang sama mama
dan papa” ancamku.
“Ok! Itu terserahmu. Aku pulang!” dengus kak Ardian. Aku
memalingkan muka sambil melipat tanganku di atas dada. Setelah kak Ardian
pergi, aku segera berlari ke kamar. Dadaku sakit! Mataku panas dan mulai
berkaca-kaca! Tak lama air mataku jatuh. Kitty, Olivia, Vindy, Vian, apa ini
rasanya orang pacaran bertengkar? Sakiit!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar