”Aku benci ibu!” seruku.
Aku berlari menerjang kerumunan
orang yang mengitari kami. Aku sakit hati! Menerima kenyataan pahit. Kenyataan
bahwa ibuku adalah seorang wanita panggilan! Selama ini aku mengira ibuku
adalah orang baik-baik. Ia bekerja untuk menghidupiku, membiayai semua
keperluanku, dengan hasil yang halal! Tapi ternyata, semua uang yang selama ini
telah menghidupiku hanya uang yang diperoleh dari pekerjaan rendahan yang kotor
dan hina.
Ibu tak pernah mengatakan sama
sekali kepadaku tentang pekerjaannya. Dan saat aku tahu, aku… ugh! Kenapa sih
malah jadi seperti ini? Aku kesal! Marah! Ryan mencoba mengejarku. Menangkap
tanganku. Air mataku tidak bisa berhenti. Ryan menuntunku ke rumahnya. Aku
sesenggukan di dalam dekapannya.
“Maaf, tak seharusnya aku mengajakmu
ke sana,” ujarnya. Aku tak menjawab. Aku terus menangis.
Malam ini aku tidur di rumah Ryan.
Kamar yang manis. Dinding dengan cat warna coklat muda terasa nyaman di mataku.
Sebuah lemari berisi gaun tidur dan beberapa tumpukan baju milik Rheina, kakak
Ryan yang kabur 3 tahun lalu―kalau aku jadi
dia, aku tak akan kabur. Rumah nyaman seperti ini gitu loh! Ryan bilang aku
bisa memakainya. Wow! Pilihan kakak Ryan top banget.
Aku mengambil gaun tidur berwarna
kuning dan segera menuju tempat tidur. Huuft. Aku mencoba memejamkan mataku
tapi tetap tak bisa tertidur. Masih terbayang di mataku sosok ibuku yang
mencium pria hidung belang itu! Aku salah membanggakannya. Sebuah kesalahan
besar telah membanggakannya. Aku benci, sangat membencinya. Aku kembali
mengubah posisi tidurku. Air mataku tak tertahan lagi. Aku sesenggukan.
Ryan mengetuk pintu kamar dan masuk.
Ia duduk di samping tempat tidur. Aku beranjak duduk dan menghapus air mataku.
Ryan kembali memelukku. Aku tidak menangis lagi.
“Maaf aku mengajakmu ke sana,”
ucapnya.
“Tak apa, Ryan. Aku beruntung karena
sudah tahu yang sesungguhnya.”
“Jen, sebenarnya aku sudah tahu
sejak lama.”
Aku menoleh, “Hah? Maksudmu?”
Ryan menarik napas panjang. Bingung
mencari kalimat yang tepat.
“Pertama kali, euhm, sekitar hampir
setahun yang lalu, aku diajak oleh salah satu temanku ke klab itu. Aku melihat
ibumu di sana. Awalnya aku memang tak yakin akan penglihatanku. Namun setelah
aku melihatnya lagi, aku yakin kalau itu memang ibumu. Aku, semalam mengajakmu
ke sana karena aku mau menunjukkan hal ini. Aku yakin kamu belum mengetahuinya.
Tapi sebenarnya, aku sama sekali tidak ada maksud untuk menyakiti perasaanmu
jika kau mengetahuinya. Aku…”
“Enough, Ryan. Aku tak apa. Hanya
sedikit kaget. Aku… I’m okay. I just need some rest.”
Ryan tersenyum, “Ok. Good night.”
Aku kembali menelungkupkan diri di
kasur dan menutupi diriku dengan selimut hangat. Kali ini aku mencoba
memejamkan mata. Berharap aku bisa beristirahat sejenak malam ini. Aku melihat jam
dinding. 2 dini hari. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.
Relax, Jen.
***
Kakiku telah sampai di depan sebuah
rumah mungil. Ragu aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalamnya. Semoga saja
ibu tidak ada di rumah hari ini. Aku takut jika bertemu dengannya. Aku belum
siap bertatap muka dengannya. Entahlah, aku juga tidak mengerti akan
perasaanku. Aku merasa malu dengan teman-temanku. Teman-temanku yang membela
dan memuji ibuku. Mereka salah menilai. Aku merasa hina di hadapan mereka.
Aku mengendap bagai maling untuk
memasuki kamarku. Perlahan aku buka pintunya. Masih sama seperti terakhir aku
meninggalkannya. Boneka-boneka masih terpajang rapi di atas lemari mini dan
beberapa lagi di tempat tidurku.
Aku mengambil koper miniku yang dulu
aku gunakan untuk ke luar kota bersama ibu. Aku memasukkan beberapa baju dan
buku pelajaran. Hampir semua peralatanku yang memang tidak terlalu banyak aku
masukkan di koper. Kalau boneka, mungkin aku tinggal saja.
PLUK! Sebuah album poto mini
terjatuh saat aku mengambil sebuah tas kecilku di atas lemari. Aku memungutnya.
Ku buka lembar demi lembar. Di sana terdapat seorang gadis kecil bergaun merah
dan seorang wanita sedang mencium pipi kanannya. Aku dan ibu. Lembar
selanjutnya, aku berumur 6 tahun pergi ke taman bermain dengan ibu. Juga saat
aku menangis karena jatuh. Aku ingat masa itu, ibu menggendongku dan mengobati
luka di lututku. Ia berkata, “Tidak ada sesuatu ataupun seseorang yang
membuatmu menangis. Tidak akan pernah ada. Ibu akan selalu ada di sampingmu.
Karena kau adalah permata ibu.” Saat itu aku langsung memeluknya dan meminta
arumanis.
Dari situ juga aku bertekad yang
sama. Aku tidak mau melihat ibu menangis. Aku akan selalu menjaganya. Selalu di
sampingnya. Menjadikannya berlian di hatiku. Di manapun dan kapanpun butuh
bantuan, ibu selalu ada di sampingku, begitu juga sebaliknya. Kami selalu
mengerjakan segala sesuatunya bersama. Membersihkan rumah, shopping, memasak,
dan masih banyak lagi. Sikap ibu selalu bisa mengimbangiku. Seakan dia masih
muda. Aku sangat menyayanginya.
Tanpa terasa air mataku jatuh. Aku
masih ingin bersama ibu. Masih ingin memeluknya, melihatnya tersenyum, dan
masih banyak lagi. Tapi, satu sisi hatiku membencinya. Aku tidak menyukai
pekerjaannya. BRUUK! Aku mendengar sesuatu terjatuh. Dari kamar ibu. Aku pergi
ke kamarnya dan mencoba mengintipnya. Ibu tergeletak di lantai! Aku langsung
menelepon rumah sakit.
***
Ia terbaring tak terdaya. Mukanya
pucat. Selang-selang infus mengitari tubuhnya. Menurut analisis sementara, ibu
kelelahan dan maagnya kambuh. Lambungnya juga terdapat luka. Aku menatapnya.
Ibu masih cantik walaupun sudah terdapat kerutan-kerutan kecil di wajahnya.
Terlihat rapuh dan tak berdaya. Aku mengelus pipinya pelan. Tak seharusnya aku
meninggalkannya. Pasti ia merasa sangat kehilangan. Bodohnya aku. Aku harusnya
bisa lebih mengerti. Ia bekerja seperti itu demi aku. Demi pendidikan dan
hidupku. Yang aku kecewakan adalah, ia tak memberitahu keadaan yang sebenarnya.
Jika memang kesulitan ekonomi, aku bisa kerja part time seperti teman-temanku
yang lain.
Kemarin aku berpikir, pantas saja
ayah pergi meninggalkan ibu. Pekerjaan ibu memang tidak baik. Tapi saat ini,
yang aku butuhkan adalah kesembuhan ibu. Yang aku butuhkan saat ini adalah
senyuman tulus ibu. Terlepas dari semua yang terjadi malam itu. Aku mengecup
pelan dahi ibu.
“Ngh… Jen…” ibu mendesah.
Aku menggenggam tangannya. Tak lama,
ibu sadar. Ia menangis. Ia menyesal telah menyembunyikan pekerjaannya selama
ini. Ia takut aku akan meninggalkannya jika aku tahu pekerjaannya. Air mata pun
tak dapat terbendung. Aku memeluknya dan berjanji tidak akan pernah lagi
meninggalkannya. Dan kami membuat kesepakatan, ibu harus berhenti dari
pekerjaannya dan membolehkanku bekerja part time.
Beberapa hari kemudian, ibu keluar
dari rumah sakit. Aku sudah melamar di sebuah restoran kecil di pertigaan
jalan. Restoran ini dekat dengan sekolahku. Setiap pulang sekolah, aku langsung
bekerja hingga jam 8 malam. Sedangkan ibu, ia membuat beberapa kerajinan tangan
dan dijual di pasar.
“Antar makanan ini ke meja lima,”
perintah Dylan, atasanku. Aku menurut dan membawanya ke meja 5. Aku melirik
sedikit ke arah Dylan. Dylan adalah cowok tegas. Aku dengar, ia juga kerja part
time. Dylan sangat perfeksionis, walaupun kadang ia sendiri sebal dengan
sifatnya itu. Entah kenapa, sepertinya ia ingin menghilangkan sifat itu, namun
susah.
“Langsung pulang, Jen?” tanya Dylan
saat briefing. Aku mengangguk. Ia menawarkan mengantarku. Aku setuju. Malam
seperti ini kalau berjalan kaki kan bahaya. Setelah mengambil motornya, kami
segera melaju sampai ke rumahku.
Sudah satu minggu aku bekerja dan 6
kali Dylan mengantarku pulang. Ibu juga sudah berkenalan dengan Dylan.
“Dylan orang yang baik, Jen,”
komentar ibu saat kami memasak bersama di dapur. Aku tersenyum.
“Kenapa tidak pacaran?”
“Hah? P-pacaran? Ibu, aku belum
berpikir ke arah sana.”
“Tapi sayang jika cowok seperti
Dylan itu disia-siakan,” goda ibu. Aku hanya diam tertunduk dengan wajah
memerah. Entahlah.
Aku melirik jam dinding. Sudah jam 3
sore? Gawat, aku harus bekerja. Aku langsung berpamitan pada ibu dan segera
berangkat.
“Baru datang, Jen?” Dylan berdiri di
sebelahku saat briefing hampir dimulai. Aku tersenyum kecut dan mengangguk.
Sepertinya, Dylan juga baru berangkat. Setelah pembagian tugas, kami segera
melaksanakannya. Huuft, ternyata hari Minggu ini banyak sekali pelanggannya.
Yah, kebanyakan sih pasangan gitu. Saat
senggang, aku memperhatikan beberapa pasangan di ruangan ini. Aura mereka penuh
cinta, yah walaupun ada juga sih yang aku lihat hanya main-main, di sudut
ruangan malah ada yang sedang bertengkar. Semoga saja mereka tidak menumpahkan
minumannya ke kepala orang seperti yang ada di sinetron. Kalau iya, wah Chika,
sang cleaning service pasti berat kerjanya.
Pulang kerja, Dylan mengajakku jalan
sebentar. Aku menyanggupi setelah pamit kepada ibuku. Dylan mengatakan ia harus
pulang dulu sebelum jalan, karena ia ingin menaruh tasnya yang memang terlihat
amat besar dan penuh muatan itu. Rumah Dylan besar saat aku memandangnya setelah
sampai di depan rumahnya. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen
naturalis. Setelah menaruh tas, ia mengajakku ke taman bermain yang berada
beberapa blok dari rumahnya. Ia mengajakku duduk di ayunan.
Saat itulah, ia menyatakan cinta.
Awalnya aku memang kaget. Setelah ia mengatakan beberapah patah kalimat yang
meyakinkanku, aku menerimanya. Kami jadian. Ia juga sempat menyalakan lampu
taman, yah seperti yang pernah terlihat di televisi. Menurutku itu romantis.
Setelah berapa lama di taman, aku merasa ngantuk dan pergi ke rumah Dylan untuk
mengambil tasku dan pulang.
Di ruang tamu, ada ayah Dylan sedang
duduk menghadap ke arah lukisan keluarga. Entah apa yang dilihatnya. Aku
berjalan tanpa melihat ke arahnya. Setelah mengambil tas, aku menuju ke luar
dan bertemu dengan ayah Dylan.
And you know what? Dengan jelas aku
menatap wajah ayah Dylan. Aku merasa sangat familiar. Yeah, begitupun ayah
Dylan. Ia kaget melihatku di sini.
“Ayah, kenalkan, ini Jenny,
pacarku,” ucap Dylan pada ayahnya. Aku maupun ayah Dylan tetap berdiri
mematung, menatap satu sama lain.
“J-Jen…” ucap Ayah Dylan terbata.
“Ayah…”
“Jen? Kamu sudah kenal ayahku?”
tanya Dylan. Aku tak menjawab. Ayah Dylan adalah orang yang sama….. dengan
Ayahku! Maksudnya apa?! Ayah berjalan selangkah ke depanku. Tangannya mencoba
menyentuh pipiku. Teringatlah semua yang telah terjadi beberapa tahun silam.
Teringatlah semua kenangan pahit yang aku dan ibuku lalui. Semua kenangan buruk
saat ayah meninggalkan kami. Aku menepisnya dengan kasar. Dylan maupun ayah
kaget dengan sikapku, namun cara mereka melihat berbeda.
“Terima kasih atas semua penderitaan
yang sudah kau buat!” makiku pada ayah dan segera pergi. Dylan berusaha
mengejar namun hanya sampai di ambang pintu. Aku berlari menembus malam. Dadaku
sesak, aku ingin menangis.
Ibu, aku bertemu ayah!
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar