Dimas memandang sebuah nisan
bertuliskan nama perempuan yang dicintainya, hingga saat ia harus pergi
meninggalkannya. “Nayla Widjaya”, begitu
yang tertera di papan nisan. Bulir demi bulir air mata Dimas perlahan jatuh
dari balik kacamata hitamnya. Namun segera ia hapus dengan tisu yang diberikan
Siska, sepupunya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah amplop manis berwarna
abu-abu, warna kesukaan yang ia ingat disukai oleh Nayla. Amplop itu terlihat
agak basah oleh keringat karena sedari tadi Dimas menahan rasa sedihnya, rasa
pilunya, rasa marahnya, juga rasa sayangnya terhadap Nayla.
Setelah pemakaman, Dimas langsung
terkapar di tempat tidur dan terlelap. Ia berharap, semua kejadian hari ini
adalah mimpi. Dan saat ia bangun, ia masih bisa melihat wajah Nayla, senyum
Nayla.