Rabu, 30 Januari 2013

Surat Terakhir Nayla



            Dimas memandang sebuah nisan bertuliskan nama perempuan yang dicintainya, hingga saat ia harus pergi meninggalkannya. “Nayla  Widjaya”, begitu yang tertera di papan nisan. Bulir demi bulir air mata Dimas perlahan jatuh dari balik kacamata hitamnya. Namun segera ia hapus dengan tisu yang diberikan Siska, sepupunya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah amplop manis berwarna abu-abu, warna kesukaan yang ia ingat disukai oleh Nayla. Amplop itu terlihat agak basah oleh keringat karena sedari tadi Dimas menahan rasa sedihnya, rasa pilunya, rasa marahnya, juga rasa sayangnya terhadap Nayla.
            Setelah pemakaman, Dimas langsung terkapar di tempat tidur dan terlelap. Ia berharap, semua kejadian hari ini adalah mimpi. Dan saat ia bangun, ia masih bisa melihat wajah Nayla, senyum Nayla.

Worst Memories



                “Maaf, aku tak bisa,” ucap Karin saat menolak kesekian cowok yang menyatakan perasaan padanya. Dan kali ini yang ditolaknya adalah Edd, kakak kelasnya yang cukup populer. Sejak putus dengan Harry empat bulan lalu, Karin belum bisa menerima seorang cowok lagi untuk dijadikannya kekasih. Karin dan Harry sempat menjalin hubungan selama hampir satu tahun―yang menurut Karin baginya itu adalah masa pacaran terlama. Namun karena ketidaksetiaan Harry, Karin mengambil keputusan untuk berpisah dengan Harry. Awal mereka berpisah, Karin kelimpungan sendiri. Pasalnya, ia masih sangat mencintai Harry. Tapi ia juga tidak bisa menutupi bahwa ada sedikit rasa benci dan amarah yang tertanam di hatinya.
            Harry, adalah sosok humoris, sifat itulah yang membuat Karin jatuh hati. Mereka bertemu dua tahun yang lalu. Saat itu Karin―yang punya hobi nelpon―salah pencet nomor telepon temannya yang hampir mirip dengan Harry. Dan berawal dari ketidaksengajaan itulah, mereka saling berkenalan dan janjian bertemu karena mereka tidak satu sekolah. Setelah lama dekat, akhirnya mereka jadian. Tepat di

He Cheats She Cheats



            “Tanganmu kurang naik! Geser payungnya ke kiri sedikit! Kaki lebih rapat!” Mrs. Hanna mengatur gayaku agar benar. Sudah berkali-kali aku diteriaki seperti ini, namun satu foto pun tidak jadi. Apa yang kurang sih?
            Mrs. Hanna kembali membenarkan tanganku dan memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki—mencari sesuatu yang tidak pantas.
            “Wardrobe! Ganti gaun!” pekiknya. Seorang wanita datang dan menuntunku ke ruang ganti.
            “Susah, ya jadi model?” tanya Lila, salah satu asisten wardrobe, sekaligus temanku.
            “Lumayan sih… Hehehe,” tawaku pelan.
            Lila membenarkan make up-ku yang hampir luntur karena berkeringat. Maklum lah, dari tadi aku hanya berganti gaya dan tidak satu pun fotoku yang sukses. Lila orang yang sabar. Aku kenal dengannya bahkan sebelum aku menjadi model seperti saat ini. Saat itu aku mengunjungi sebuah kafe dan kulihat semua meja terisi penuh. Seseorang menepuk pundakku dan menawarkanku tempat duduk—Lila. Ia berkata bosan kalau hanya sendiri. Aku pun menerimanya dan saat itulah kami berteman. Hingga pada suatu hari,

My Indonesia Open


W
ah, serius?” ucap Aya tak percaya dengan apa yang diberitahukan oleh Novi, teman kelasnya.
“Beneran! Rumahku kan deket dari situ. Terus, temennya kakakku kan juga suka bulu tangkis. Jadi dia tahu kalo ada Indonesia Open di GOR,” jawab Novi.
                “Aku mau nontoooon,” ucap Aya memelas, “tapi tiket masuknya berapa?”
                “Nah, kalo masalah itu, nanti aku tanyain lagi deh.”
                “Oke, tanyain secepatnya, ya? Kalo sudah tau, langsung kasih kabar. Oke?” Aya sangat antusias mendengar penyelenggaraan pertandingan bulu tangkis kelas dunia diadakan di kotanya, Samarinda. Memang, sudah tahun 2007 yang lalu GOR utama Kalimantan Timur itu berdiri. Tempatnya juga sudah digunakan untuk penyelenggaraan PON XVII. Tapi berhubung