Menelpon Claudine untuk datang ke sini. Setelah Claudine
datang, aku menceritakan semuanya.
“Lebih baik, kamu putusin aja kak Ardian sekarang.
Daripada kamu bohongin perasaanmu sendiri” usul Claudine.
“Iya. Tapi kamu ngomongnya baik-baik. Jangan langsung
minta putus” Dian menambahkan. Aku merenung sesaat. Hpku berbunyi.
“Halo, assalamu alaikum”.
“Wa alaikum salam. Cha, kamu cepetan pulang gih. Ada yang
mau papa mama bicarain”.
“Pertunanganmu sama Ardian bakalan ditunda. Makanya,
pulang gih”.
Aku tersenyum,”Iya ma. Icha bakalan cepet kok. Assalamu
alaikum”.
“Wa alaikum salam”. Telepon kututup.
“Mama bilang, pertunanganku sama Kak Ardian ditunda! Aku
duluan,ya?” pamitku. Mereka mengangguk senang. Aku pun pulang dengan perasaan
yang senang pula! Yes! Pertunanganku ditunda sampe’ kapan,ya? Selamanya?
Waah!!! Bagus!!! Tapi kayaknya nggak mungkin lah! Masa’ ditunda selamanya? Yang
bener aja! Hi...hi... Pak Andri yang mengantarku diam-diam menatapku heran.
“Non kok gembira? Ada kejadian apa sih?” tanya pak Andri.
“Nggak ada apa-apa kok pak. Cuma pengen ketawa aja”
candaku. Sesampainya di rumah, aku segera masuk.
“Assalamu alaikum”.
“Wa alaikum salam, Cha...” semuanya menatapku, termasuk
kak Ardian. Ada apaan sih? Kenapa semuanya ngeliat ke aku? Ada yang aneh dari performance-ku? Dandananku norak? Mau
ilang? Atau...
“Icha duduk dulu gih di sini” ucap tante Fira.
Aku mengangguk, “Ada apaan sih? Kok diem?”.
“Pertunanganmu sama Ardian ditunda sebentar nggak papa
kan?” tanya tante Fira.
“Kenapa ditunda?” tanyaku.
“Sebenernya... Ardian....” ucap tante Fira terputus. Ada
apaan sih ni? Bikin bingung!
“Cha, ikut aku bicara sebentar di belakang” ajak kak
Ardian. Aku menurut. Sesampainya di taman belakang, kak Ardian memulai
pembicaraan.
“Kamu suka sama Andi ‘kan?” tanyanya. DEG!!! Darimana kak
Ardian tau? Ok... dia tau kalo’ waktu itu Dika mau ngantar aku. Tapi, itu nggak
menunjukkan kalo’ aku suka dia ‘kan?
“Dari mana kakak punya firasat kayak gitu?” tanyaku.
“Aku tau. Soalnya kamu selalu aja bawa-bawa namanya kalo’
kita lagi berduaan. Aku sadar, aku ini cuma pengganggu aja bagi kalian. Makanya
aku minta pertunangan kita dibatalkan. Tapi mama nggak mau. Jadi... cuma
ditunda. Kamu suka ‘kan sama Andi?” tanya kak Ardian.
“...Ng...” waduuhh... aku harus jawab apa? Masa aku harus
jawab ‘nggak’? Kata Claudine aku nggak boleh bohongin perasaanku sendiri.
Tapi... kalo’ keadaannya kayak gini... Aku bisa apa? GREB! Eh? Kak Ardian?
Kenapa..?
“Aku nggak bakal ganggu kamu lagi. Kita bakalan omongin
ini baik-baik sama orang tua kita. Ya? Aku nggak mau kamu tersiksa sama pertunangan
kita ini. Jadi daripada nanggung dosa, mendingan kita jujur aja” usul kak
Ardian.
“Kakak bicara kayak gini... ada cewek yang kakak
sukai,ya?” tanyaku.
Kak Ardian kaget mendengar pertanyaanku. Dengan segera
kak Ardian melepaskan pelukannya. Lalu, dengan mudah ia jawab, “Sama sekali
nggak ada yang aku sukai. Satu-satunya yang aku sukai cuma...”. Aku memandang
kak Ardian.
“Kamu” lanjutnya. Ssrrsshhhh.... Serasa ada air terjun
mengalir di jantungku. Jantungku rasanya mau copot! Kata-katanya bener-bener bener
masuk ke hatiku. Bodoh, kenapa aku mau mutuskan dia?
“Iya, aku ngaku. Aku suka Andi. Maaf,ya?” ucapku.
“Kenapa minta maaf? Cinta ‘kan datangnya dari hati, bukan
dari lidah, bibir, ataupun pikiran. Jangan terlalu masukkan ke hati. Ya?”
ucapnya. Aku menunduk. Menyesal. Kenapa aku mau mutusin dia? Padahal ucapannya
lembut. Ugh! Rasanya mau nangis di sini!
“Sekarang, kita bilang yuk ke orang tua kita. Kita nggak
bisa tunangan” ajaknya. Aku menurut. Kami segera ke ruang keluarga. Lalu, kak
Ardian membicarakan semuanya.
“Kenapa kalian nggak mau tunangan? Padahal bajunya udah
dibeli ‘kan?” tanya tante Fira.
“Padahal mama berharap banyak sama kamu, Cha” ucap mama
lesu. Ukh! Rasanya bener-bener mau nangis! ..>,<..
“Kami mungkin anak mama sama papa. Tapi mama sama papa
nggak bisa maksakan yang jadi kehendak Allah ‘kan? Kami mau mencari jalan hidup
dan jodoh kami masing-masing. Bukan dengan cara ditunangkan. Icha juga berpikir
gitu. Jadi... maaf, ya ma? Pa?” jelas kak Ardian. Ouugh... Kak Ardian memang
bener-bener berpikir secara ‘dewasa’! Aku jadi ngerasa bersalah mau mutusin
dia!
“Icha, kamu sendiri gimana? Mau putus sama kak Ardian
atau masih mau tunangan?” tanya tante Fira. Semuanya melihat padaku.
“Aku... aku... ng...” aduuh, aku bingung harus jawab apa!!!
“Icha...” panggil mama.
“Aku... mau cari jodohku sendiri juga. Maaf,ya ma, pa,
om, tante, sama... kakak...” jawabku. Semuanya tampak lega mendengar jawabanku.
“Berarti kalian sudah berpikir dewasa. Sudah bisa
mengambil keputusan sendiri. Kami salut sama kalian” ucap om Rifki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar