Kamis, 03 Mei 2012

Post Semangat #1


Tetap semangat walau kadang terhimpit dan dihempas oleh badai kendala dan hambatan hidup
Tetap ceria walau kadang keinginan tak sesuai harapan
Tetap senyum walau kadang hati terasa sesak
Tetap sabar walau ujian datang bertingkat-tingkat
Tetap ikhlas menjalani fenomena hidup ini karena tak satupun manusia yang hidupnya selalu dipenuhi oleh keindahan dan kemulusan
Tetap berdoa memohon keringanan dari semuanya dan tak lupa ikhtiar untuk belajar dari apapun karena Allah tak pernah lupa mencatat dan mengawasi semua kebajikan yang kita lakukan
:)

Semangkuk Bakso-Renungan


Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.
"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.
"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.
"Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."
"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."
Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."
"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

Rabu, 02 Mei 2012

Lonely Girl


    Sepi.
    Hari ini hari ke 3 musim dingin. Meskipun tidak terlalu dingin cuaca di luar, namun hatiku telah membeku. Hari ini tepat 3 bulan sudah aku di rumah sendiri. Papa dan Mama sedang ada tugas di luar negeri. Dan sayangnya, aku adalah anak tunggal. Jadi harus benar-benar sendiri saat ini. Papa dan Mama memang hanya berniat mempunyai satu anak, dan itu aku, Elisabeth Handrique. Di rumah memang telah tersedia semua barang yang ku perlukan. Rumahku memang bisa dibilang sangat besar. Setidaknya termewah di blok perumahan kami yang memang terkenal elit. Mulai dari plate washer, swimming pool, home theatre, sampai fitness room semua tersedia.
    Rumahku yang memiliki 2 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah memang dipandang orang benar-benar megah. Bahkan ada yang mengira kami adalah salah satu jajaran orang terkaya di Eropa. Pfuh! Bullshit. Kalaupun iya, rasanya aku lebih memilih menjadi keluarga biasa-biasa saja dengan orang tua yang selalu ada di sampingku. Aku selalu iri dengan teman-temanku di sekolah.
    Saat liburan, mereka banyak menghabiskan waktu dengan orang tua mereka. Pergi ke  Hawaii atau pantai tropis lainnya atau hanya sekedar membakar barbeque di halaman belakang rumah. Dulu, duluu sekali, saat Papa dan Mama belum mendapat tawaran bekerja seperti saat ini, kami sering bermain di belakang rumah. Tentunya rumah kami yang lama di pinggir kota. Kami membeli sebuah kolam karet dan berendam bertiga saat hari panas dan memasukkan beberapa potong es batu ke dalamnya. Mama membawakan lemon juice yang segar dari rumah dan langsung melompat hingga air dalam kolam buatan itu habis setengah volumenya. Yah, mama dulu memang mempunyai tubuh yang berisi. Dengan tingginya yang 170 cm itu, ia mempunyai berat 80 kg dan Papa yang 180 cm dengan berat 75.
    Mereka saling mencintai dan memutuskan menikah muda saat itu. Papa berusia 24 dan Mama 19. Mereka selalu bersama. Papa adalah pengacara biasa dan Mama yang lulusan sarjana menjadi ibu rumah tangga. Keadaan mulai berubah saat Papa ditawari seorang untuk menjadi salah satu pengacara pribadi pengusaha besar di Eropa Timur, dan Mama ditawari menjadi penasehat keuangan bank Negara. Mama pun sibuk berdiet hingga pipinya menjadi terlihat tirus. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai rapat di luar negeri. Dan aku, Izzy, hanya diam di rumah untuk liburan musim dinginku.
    Aku selalu menyibukkan diri dengan berbagai les musik dan olah raga. Semata hanya untuk menghilangkan rasa kesepian yang perlahan menyelimuti seluruh hatiku. Terkadang, aku menulis cerpen dan ku kirimkan ke beberapa majalah teenagers. Mereka menyukai tulisanku dan menerbitkannya. Tentunya aku mendapatkan royalty. Saat itu aku bahagia, karena aku merasa dihargai. Uang royalty itupun aku tabung di rekening sendiri. Sengaja ku sisihkan karena aku tidak mau hasil kerjaku dicampur dengan rekeningku dengan semua uang berlimpah pemberian orang tuaku.
    Dan saat mengambil royalty itu ke majalan Teeneasy, aku bertemu dengan seorang cowok, Jack. Ia menjadi pemenang kedua dalam mengarang cerpen, setelahku. Ia menjulurkan tangannya dan mengucapkan selamat padaku.
    “Izzy, ya? Congrats the winner!” ia tersenyum padaku dan menyalamiku.
    Aku membalasnya.
    Kami pun bertukar email dan sering jalan bareng. Setelah melalui tahap pendekatan denganku, kami berpacaran. Saat itu aku merasa kesepian di hatiku telah sirna. Jack sangat baik, perhatian padaku, dan sering menghiburku saat aku sedang sedih. Kami banyak menghabiskan waktu berdua di rumahku. Kadang kami berenang bersama saat hari panas atau menonton film romantis. Kami juga saling bertukar kado saat Valentine Day. Aku memberinya jam tangan G-Shock limited edition yang ku pesan di internet. Mahal sih, tapi tak seberapa dibanding dengan perhatiannya padaku selama ini.
Dan dia memberiku sebuah boneka beruang mengenakan mantel berwarna abu-abu membawa hati di depan dadanya bertuliskan ‘only you’.
    Saat musim gugur, aku pergi ke rumahnya. Orang tuanya menyambutku dengan hangat dan memberiku segelas hot chocolate, favoritku. Orang tua Jack menceritakan masa kecil Jack yang selalu mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya. Pernah, Jack sakit gara-gara mengamati sebuah kepompong saat hari hujan. Ia sangat penasaran, mengapa ulat bisa menjadi sebuah benda berbulu halus dan meggantung di dahan pohon. Juga saat Jack melintasi pinggir sungai untuk mencari di mana ujung dan pangkal sungai tersebut. Orang tua Jack sangat kewalahan mencarinya saat itu.
    Jack mempunyai seorang adik perempuan yang manis, Magdalena. Lena berambut ikal berwarna coklat terang panjang sepinggang. Ia sangat lucu dan menggemaskan. Kadang ia bertingkah konyol dengan mengenakan terusan ibunya dan membuatnya tampak seperti pengantin lalu menari hula-hula di depan kami.
    Malam tahun baru, aku dan Jack janjian untuk bertemu di depan kafe Allosia. Kami berniat menghabiskan akhir tahun bersama. Jam 8 kurang 15 menit aku sampai di tempat yang telah dijanjikan. Lebih cepat 15 menit, pikirku. Sambil menunggu Jack, aku membeli segelas Vanilla Latte. Berjaga-jaga bila saja mataku terserang kantuk. Aku memakai pakaian terbaikku. Topi baret rajut, terusan berwarna biru dan berbahan kain hangat dan tebal kulapisi dengan mantel merah dan scraft dengan warna serupa. Ku pakai sepatu boot hitam dengan hak yang lumayan tinggi, siapa tahu salju turun. Dengan parfum buatan Itali dengan wangi lembut—Jack bilang, ia suka baunya—yang menyelimuti tubuhku.
    Sudah lewat hampir setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Namun Jack belum terlihat juga batang hidungnya. Aku menatap ke toko sebelah, toko elektronik. Banyak televisi yang dipajang di etalasenya. TV itu menyala dengan acara berita langsung.
    Reporter di dalamnya terlihat manis dengan pakaian kerjanya. Blus panjang berwarna abu-abu. Yeah, grey is warm. Ia melaporkan berita di depan sebuah toko kue di dekat Park Avenue. Kecelakaan. Katanya, seorang mahasiswa tertabrak mobil yang dikendarai oleh pengemudi yang mabuk. Ia tewas di tempat. Saat keluar dari toko kue dan mendekati tempat penyebrangan, tiba-tiba mobil off road melaju dan hilang kendali saat berbelok dan menyerang beberapa pejalan kaki. Diduga pengemudi sedang mabuk. Mahasiswa tadi langsung diangkut dengan trolley rumah sakit dan… oh God!
    “That’s Jack!” pekikku langsung.
    Aku segera berlari ke tempat kejadian perkara dan mendapati Jack terlelap di tidur panjangnya dengan bersimbah darah. Air mataku terjatuh. Seorang wanita paruh baya menepuk pelan pundakku dan memberikan sebuah kotak kue.
    “I think this is for you,” ujarnya.
    Aku membukanya. Sebuah cake mini dengan bertuliskan selai bluberry ‘Happy New Year My Dear’. Aku menangis sejadi-jadinya. Menatap Jack terakhir kalinya sebelum wajah hangatnya ditutup oleh kain putih. Jackku. Jack yang aku sayang. Jack yang aku cinta. Jack yang selalu menemani hariku, menghangatkan hatiku saat aku kesepian. Jack yang selalu menghiburku saat aku sedih. Jack yang wajahnya selalu dihiasi senyum hangatnya. Jack yang menyayangiku… telah tiada. Aku terduduk lemas. Dengan tangis yang tak henti.
    2 bulan setelah Jack pergi, pergi selamanya. Aku menjalani hariku dengan tatapan kosong. Kali ini aku merasa sepi lagi. Kesepian ini sepertinya akan selalu menghatuiku. Kadang aku mengingat masa-masa Jack di sampingku. Ia mengatakan, “Kau harus selalu tersenyum!” Aku tersenyum tipis saat mengingat itu. Namun setelahnya, aku menangis. Aku takkan bisa tersenyum tanpa Jack. Ialah yang selama ini membuatku tersenyum. Membuatku mengenal arti kata bahagia. Aku takkan bisa tersenyum tanpanya lagi.
    Mungkin takdirku adalah menjadi seorang yang kesepian, tanpa Jack.

Love Between Debt

     Selamat pagi dunia! Hari cerah ini harus diawali dengan senyuman.
    Hai, aku Arabella Wilhelm. Call me Ara. Aku berusia 16 tahun. Saat ini sekolah di Senior High grade kedua. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepedaku, hadiah dari ayah saat ulang tahun ke 15ku. Bukan karena ayahku tidak mampu membelikanku sepeda motor ataupun mobil, tapi lebih karena mengendarai sepeda lebih sehat dan jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Lagipula ayah yakin aku tidak akan pergi terlalu jauh dengan sepeda. Yah, terdegar seperti dipingit sih, tapi aku yakin ayah melakukan itu karena ia sayang padaku.
    “Pagi, Ara,” sapa ibuku dari dapur saat melihatku menuruni anak tangga.
    Aku membalas sapaannya dengan senyuman. Hmm, aroma teh daun dari dapur membuatku bersemangat. Aku menoleh ke dapur. Waah, ibu memanggang daging untuk sarapan. Slrp!
    “Untuk yang melepas masa sendirinya,” goda ibu padaku. Aku menunduk. Wajahku pasti merah.
    Yeah, ibu tahu hubunganku dengan Erick, Frederick Miquelon. Aku jadian dengannya kemarin malam. Aku memang suka padanya, tapi aku baru tahu kalau dia juga memendam perasaan yang sama. Maka, jadilah kemarin malam ia menyatakan cinta padaku, di hadapan orang tuaku! Hal teromantis yang pernah ku dapat.
    Sebelumnya, aku memang mengenal Erick. Dulu aku sering bermain ke rumahnya, menemani ayah yang mempunyai sebuah bisnis dengan ayah Erick. Namun, setelah hampir satu tahun, ayah tidak pernah mengajakku lagi ke rumah Erick. Namun kami tetap tidak putus kontak. Favorit kami sama, bersepeda keliling komplek. Aku dan Erick biasanya mengelilingi komplek perumahannya. Aku menggunakan sepeda adik laki-lakinya yang satu tahun di atasku. Namun, sejak kami tidak pernah bertemu, kami bersepeda di komplek masing-masing.
    Usiaku dan Erick memang sedikit terpaut jauh. Aku berumur 16 tahun dan Erick 23 tahun. Namun perbedaan itu bukan penghalang bagi kami untuk tetap berteman. Makin lama kami bersama, aku merasakan hal yang beda di hatiku. Perlahan aku mulai mengagumi sosok Erick yang kelihatan gentle di mataku. Entah kenapa, perasaan kagum itu berubah menjadi rasa suka padanya. Aku mulai salah tingkah bila ia menatap wajahku. Menundukkan kepala, berpura-pura mencari sesuatu, and so on… Kadang Erick malah tertawa melihat tingkah konyolku itu. Aku merasa senang melihatnya tertawa dan hatiku berbunga-bunga bila menatap mata coklatnya itu. Matanya tajam tapi penuh kasih sayang.
    Dan bagaimana aku bisa jadian dengannya?
    Sore itu aku janjian untuk bersepeda dengannya di komplekku. Ia dengan senang hati menyanggupi. Pukul 3 sore ia datang dan segera mengeluarkan sepedanya dari mobil. Kami 3 kali mengelilingi komplek dan berhenti di taman untuk istirahat. Sesaat kami mengeluarkan candaan. Erick menatap mataku, lagi. Aku mengalihkan pandangan ke air mancur di tengah taman. Erick tertawa ringan dan mengacak rambutku. Ia bertanya apakah aku punya kekasih. Saat itu aku kaget dan langsung berpikir Erick akan memintaku jadi kekasihnya saat itu juga. Namun melihat ekspresi kagetku, ia malah tertawa da berkata, “Aku lupa. Ara kan selalu sama aku. Mana mungkin ada waktu untuk pria lain.”
    Aku tertawa melihat kesombongannya itu. Lelucon sombong. Hihihi…
    Jam 6 kurang aku sampai di rumah dan segera mandi. Erick sudah meminta izin untuk pulang sebelumnya. Rasanya kakiku lumayan pegal. Tapi hari itu bersama Erick sepegal apapun tidak akan berarti untukku. Malamnya, sebelum kami makan malam, pintu rumah diketuk. Ayah segera membukanya dan mempersilakan orang itu untuk masuk ke ruang tamu. Aku mengintip sekilas. Erick! Mau apa dia ke sini, pikirku.
    Detik selanjutnya, ayah memanggilku dan ibu untuk bergabung di ruang tamu. Dan di situlah Erick menyatakan perasaannya padaku. Aku senang sekali. Sekilas, aku menatap wajah ayah dan ibu. Mereka tampaknya menyerahkan sepenuhnya jawaban ke padaku. Dan aku menjawab dengan yakin, “Yeah, I will.”
    Hari ini aku berniat pergi ke rumah Erick. Ia mengatakan akan menunjukkan something amazing padaku. Dengan mengendarai sepedaku, aku pergi ke rumahnya. Sebenarnya ayah menawarkan akan mengantarku, tapi aku menolaknya. Ayah kan sedang sibuk di kantor, apa iya aku akan memintanya pulang hanya untuk mengantarkan aku ke rumah Erick yang berlawanan arah itu.
    Begitu sampai di rumahnya aku disambut ramah oleh ibu Erick, tante Alena. Ia menyuruhku untuk langsung naik ke lantai 2, kamar Erick. Erick berpesan jika aku datang, aku langsung ke kamarnya saja. Aku mengetuk pintuk kamar dan membukanya. Erick tersenyum di meja kerjanya.
    Kamar Erick sama besarnya dengan kamarku. Hanya saja, kamar Erick ini digabung dengan ruang kerjanya. Single bed terletak di tepi kamar dan disampingnya lemari pakaian. Di sisi yang berlawanan ada sebuah rak besar yang diisi oleh buku-buku mekanik dan beberapa peralatannya. Di sebelah rak, terdapat meja kerja Erick. Terdapat printer dan sebuah laptop terbuka di sana. Dan di sebelahnya lagi sebuah meja berukuran sedikit lebih besar dari sebelumnya. Di atasnya terdapat berbagai macam peralatan besi. Entah itu baut, sekrup putar, atau obeng, dan sebuah kotak besi yang berisi alat-alat elekronik yang aku tidak mengerti untuk apa.
    Aku memandang sekitar. Kamarnya lumayan berantakan dengan barang-barang yang berserakan di lantai. Tapi nuansa kamar ini cerah dengan cat dinding berwarna putih gading. Awalnya Erick ingin mengecat kamarnya dengan warna kuning agar lebih atraktif, tapi karena ayahnya, om Julio melarang, diurungkanlah niatnya itu.
    “Untuk apa kau menyuruhku kemari?” tanyaku seraya menuju single bed miliknya dan mendudukinya, berhubung kursi yang ada di ruangan ini didudukinya. Erick berputar menghadapku dan menghampiriku, duduk di atas single bed.
    Ia memegang tanganku, “Aku mencintaimu.”
    Serentak aku tertunduk malu. Selalu, Erick selalu membuatku tersipu malu. Tangannya menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya. Aku menyadari wajahya terlalu dekat dengan wajahku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mataku terpejam dan… CUP! Seperti menekan stempel. Bibirku dan bibirnya menempel. Yeah, aku merasakan detak jantungku berhenti saat itu juga. Ciuman pertamaku, dengan Erick, kekasih sekaligus satu-satunya orang yang aku sayang.
    Tak lama aku merasakan kebahagiaan itu, pintu kamar Erick dibuka dengan tiba-tiba. Aku langsung menjauh dari Erick yang entah bagaimana aku tidak merasakan bahwa tangannya telah memelukku tadi. Ayah Erick muncul di pintu. Aku makin salah tingkah dan memilih ke toilet yang ada di lantai bawah. Bodohnya aku, mau apa aku di toilet? Aku sama sekali tidak ingin buang air.
    Jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar Erick setelah mengambil napas panjang. Sesaat sebelum aku masuk, aku mendengar om Julio berkata pada Erick. Awalnya aku tidak mengerti yang dibicarakan, tapi akhirnya aku mengambil kesimpulan setelah om Julio mengakhiri pembicaraannya. Erick memintaku untuk menjadi kekasihnya tak lain adalah untuk melunasi hutang ayahnya kepada ayahku. Katanya jika Erick membuatku bahagia, ayahku mungkin akan meringankan beban hutang.
    Aku merasa seperti tertimpa batu besar. Aku sangat terpukul. Ternyata Erick memintaku jadi kekasihnya agar hutang ayahnya diringankan oleh ayahku! Tega sekali. Om Julio keluar dari kamar Erick dan kaget mendapatiku di sana. Aku tetap bersikap wajar seolah aku baru saja berada di sana. Om Julio tersenyum ramah padaku. Aku masuk ke kamar Erick dengan tatapan datar dan kosong. Erick bertanya padaku apa yang telah terjadi. Dan harusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku menepis tangannya dengan kasar. Ia terlihat sangat kaget.
    Aku langsung berlari meninggalkan kamarnya. Setelah meminta izin sekilas dengan tante Alena, aku menggapai sepedaku dan mengayunnya cepat. Aku menangis di jalan. Erick berusaha mengejarku di belakang. Aku tidak peduli. Entah bagaimana, hujan turun. Aku bersyukur, karena dengan begitu air mataku tak akan terlihat jelas oleh orang-orang.
    Kelopak mataku penuh dengan air mata, menghalangiku untuk melihat jalanan yang benar. Aku tak melihat ada sebuah batu dan WUSH! Aku limbung dan jatuh. Lutut dan siku tanganku perih tergores aspal. Aku meringis kesakitan. Dari belakang, Erick membantuku berdiri. Ia memelukku, aku mengelak namun Erick semakin memperkuat pelukannya. Aku memukul dada Erick dengan kedua genggaman tanganku. Erick pasrah menerimanya. Aku mengatakan apa yang aku dengar tadi.
    Erick sempat terdiam. Namun ia berusaha menenangkanku. Ia berusaha menjelaskan semuanya. Yeah, memang benar ia selama ini mendekatiku dan ingin menjadikanku sebagai kekasih agar hutang ayahnya bisa diringankan. Namun itu semua hanya pada awalnya. Setelah ia bersamaku, ia merasa benar-benar tulus menyayangiku. Terlepas dari semua urusan ayah kami atau apapun juga. Ia menerangkan, hanya aku yang ada di dalam hatinya.
    Saat di kamar tadi, ayahnya membentak karena ia mengatakan menyayangiku dengan tulus. Ia terdiam dan hanya mendengarkan ocehan ayahnya sampai habis. Dan bagian itulah yang ku dengar. Aku berhenti memukul dan mengadahkan wajahku ke wajahnya. Aku menatap matanya, tidak ada kebohongan di sana.
    “Trust me. You are the one and only in my heart. Never change by money or anything else,” katanya. Aku menyerah. Aku balik memeluknya.
    Keesokan harinya, aku flu. Pasti karena kemarin berhujan-hujan ria. Erick datang ke rumah dan menyuapiku sup. Ia yang menjagaku hari ini. Seharian penuh. Mulai pagi tadi sampai saat ini ia selalu setia di sampingku. Ia meminta izin kepada kantornya untuk cuti hari ini.
    “Apa kamu tidak merasa malu mempunyai kekasih yang umurnya jauh di bawahmu?” tanyaku
    “Aku belum pernah bilang, ya? Cinta tidak akan pernah terhalang apapun, entah umur, latar belakang, RAS, ataupun…”
    Omongan Erick menggantung. Ia seakan bingung mencari kata.
    “Hutang,” sambungku.
    Ia tertawa dan mengacak rambutku.
    Tangannya memegang daguku dan siap untuk melancarkan ‘serangan’ kedua. Wajah kami semakin mendekat dan…
    “HATSYIII!” aku bersin, di wajahnya!!!
    “Maaf!”

Guru Ngajiku Ganteng


    “Besok jalan yuk?” ajak Rio, pacarku.
    “Kemana?” tanyaku.
    “Ketemu sama temenku di Pool Station,” jawab Rio. Pool Station?
    “Itu bukannya tempat main billiard ya?”
    Rio mengangguk. Aku terdiam, berpikir. Aku belum pernah ke tempat yang seperti itu. Yang aku tahu, tempat seperti itu kan tempat ngumpulnya anak nakal. Aduh, gimana ya?
    “Nggak ikut deh. Aku di rumah aja, ada yang harus aku kerjakan,” aku beralasan.
    Rio kelihatan kecewa, “Ya udah, nggak apa. Aku juga nggak bisa maksa kamu kok. Kita cari makan yuk sekarang?”
    Aku mengikutinya. Kami menuju rumah makan di dekat sekolahku. Setelah memesan makanan, kami bercerita kecil.
    “Gimana sekolah hari ini?” tanyanya.
    “Lumayan asyik. Oh iya, tadi ada kejadian lucu. Mira kepeleset di kelas waktu mau keluar kelas, padahal nggak ada apa-apa, tahu-tahu kepeleset gitu. Hihi... Kamu sendiri? Gimana kuliahnya hari ini?”
    “Gitu-gitu aja. Cuma waktu mata kuliah kedua aku nggak masuk. Diajak temenku ngurus beasiswanya.”
    Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Apa sudah kebiasaannya bolos kuliah gini ya? Rasanya, walau hanya sedikit, aku ilfeel deh. Aku maunya kan dia rajin kuliah, biar cepet-cepet lulus, cari kerja, terus ngelamar aku. Waduh, apa kejauhan ya mimpiku?
    Setelah makanan datang dan kami segera melahapnya, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah ngobrol sebentar di rumah, Rio segera pulang karena ada jadwal basket di kampusnya. Aku kembali ke kamarku dan merebahkan diri di tempat tidurku.
    Rio. Sudah 2 minggu ini aku jadian sama dia. Rasanya senaaaang sekali. Walau ada beberapa sifat dan sikapnya yang aku nggak suka gitu, yah contohnya ya soal dia bolos tadi. Tapi nggak apalah, kan buat nolongin temennya juga.
    Malam ini aku hanya berdiam diri di kamar sampai Papa memanggilku. Aku menuju asal suara tersebut dan mendapati beliau di depan tv. Dari perkataannya yang bertele-tele itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa besok akan ada guru ngaji khusus untukku.
    “Apa? Guru ngaji? Buat apa? Aku kan nggak ngadat-ngadat juga kalo ngaji. Lancar aja tuh,” tolakku.
    Tapi yang namanya Papa itu sifatnya keras. Jadi seperti apapun caraku untuk menolaknya, beliau akan tetap mencarikanku guru ngaji. Euhm, ralat, bukan mencarikanku guru ngaji, beliau sudah mendapatkannya. Mimpi apa aku semalam. Well, aku memang belum khatam Al-Quran tetapi harus juga kah menggunakan jasa guru ngaji? Adikku saja tidak. Oh, dan Papa bilang, guru ngajinya adalah Mas Bintang. Yeah, Mas Bintang!!!
    Mas Bintang adalah teman kerja Papa di kantor. Umurnya hanya terpaut 4 tahun dariku, dan orangnya juga ganteng. Dulu aku sempat menyukainya, tapi hanya sebatas melihat luarnya. Tapi kenapa harus dia yang jadi guru ngajiku? Kenapa Papa nggak carikan aja sekalian seorang ustadz atau kiai gitu? Kan sekalian lebih afdol. Papa memang susah ditebak! Well, dan aku akan memulai ngaji ekslusifku besok. Eww, malam minggu???
    Aku ngerasa ini akan jadi masalah hubunganku dengan Rio. Maksudku, hellooo, malam minggu gitu kan, malamnya pasangan untuk pergi berjalan-jalan sekadar menghabiskan waktu bersama dan Papa menjawab dengan alas an, “Daripada menghabiskan malam minggu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik belajar mengaji, kegiatan itu bermanfaat serta berpahala.”
    Seharian ini aku hanya berdiam di kamar. Uring-uringan. Pasalnya nanti malam kegiatan “bermanfaat serta berpahala” itu sudah berjalan. Kenapa juga sih mas Bintang mau aja nerima tawaran Papa? Emangnya dia dibayar berapa sama Papa sampai-sampai mau saja mengajariku mengaji? Aku nggak habis pikir deh.
    “… Kok gitu sih? Padahal aku mau ngajak kamu jalan nonton malam ini.”
    Tuh kan, Rio pasti protes deh. Mau nggak mau aku harus memberikan jawaban seadanya. Rio pasti kecewa deh, tapi aku lebih dari itu! Masih mending kalau malam ini tidak bermalam mingguan dengan Rio, aku masih bisa menonton televisi atau chatting di jejaring sosial. Kalau sekarang? Boro-boro chatting, televisi saja dijauhkan dari jangkauanku. Yap! Aku akan belajar mengaji di kamarku. Kamarku! Apa yang Papa pikirkan hingga mengizinkan mas Bintang masuk kamarku? Apa Papa nggak khawatir kalo tiba-tiba mas Bintang malah macam-macam sama aku?
    Setelah berbasa-basi sebentar dengan Papa, kami memulai ritual kami. Huh!
    “Apa kabar?” sapa mas Bintang.
    Mau tak mau aku harus tersenyum, padahal nggak ikhlas banget, “Baik.”
    “Mas kok mau aja sih disuruh Papa buat ngajarin aku ngaji? Malam minggu pula,” tanyaku langsung.
    Mas bintang tersenyum menanggapinya. Wuah, bahkan kalau dilihat dari dekat begini lebih ganteng. Hush!
    “Kenapa harus nggak mau?” tanya mas Bintang balik.
    “Ng… yah kan mas jadi nggak bisa malam mingguan,” jawabku.
    “Semua malam sama aja kok, De. Lagian, kalau saya bisa menyebarkan ilmu yang saya miliki kan termasuk pahala,” jawabnya.
    “Tapi memangnya pacarnya mas nggak ngambek kalau mas nggak ngapel atau ngajak jalan?” tanyaku. Duh, kok aku jadi blak-blakan gini sih? Kesannya kayak aku mau nanya dia udah punya pacar atau belum. Jangan sampe deh dia ngira kalo aku memohon gitu buat jadi pacarnya.
    “Saya nggak pacaran, De. Hehe… Udah yuk, sholat isya dulu. Sudah adzan,” ajaknya.
    Aku menurut. Setelah mengambil air wudhu kami segera sholat isya berjamaah. Papa dan Mama juga ikut. Mas Bintang yang jadi imamnya. Awalnya ia segan, namun karena Papa memintanya akhirnya ia menurut juga. Suara mas Bintang saat menjadi imam rasanya merdu sekali. Hatiku rasanya nyaman sekali mendengar suaranya.
    Setelah sholat isya, kami memulai pengajian pertama. Dan aku disuruh mengulang dari juz 1! Padahal kan aku sudah juz 18! Aku memprotesnya, namun ia berkata bahwa akan lebih baik jika mengulang dari awal. Karena ia belum tahu bagaimana caraku mengaji dari awal. Ih, kok lama-lama jadi nyebelin ya. Padahal aku mengira belajar ngaji sama mas Bintang bakalan lebih asyik, abisnya dia ganteng gitu.
    Aku mengaji  3 lembar setiap pertemuan. Mas Bintang kelihatannya enjoy aja tuh ya dengerin orang ngaji selama aku. Walaupun matanya tertutup, seakan ia menikmati lantunan bacaan Al-Qur’an, tetap saja ia menegurku bila aku salah mengucap bacaan. Jangan-jangan ia sudah menghapal luar dalam nih. Wow, keren!
    Sudah jam 9. Mas Bintang pamit kepada Papa dan Mama. Hoaahm, aku udah nggak ada tenaga lagi buat telponan apalagi sms-an sama Rio. Jadi aku mengiriminya sms yang mengatakan bahwa aku terlalu lelah hari ini dan ingin segera tidur.
***
    “…stop stop baby I don’t wanna come between your love, you and her…” ringtone handphoneku berbunyi tepat pada saat Pak Suryo menerangkan statistika di depan kelas. Seluruh mata di kelas tertuju pada tasku. Gimana bisa aku lupa mengganti profilku? Ya ampun! Pak Suryo memandangku tajam dengan satu kalimat perintah, terusirlah aku dari ruang kelas. Aku mengemas barangku dan membawa tasku keluar kelas. Pak Suryo yang killer itu mana mungkin mendengarkan penjelasanku.
    Siapa sih yang nelpon di tengah-tengah pelajaran gini? Aku membuka list miss call handphoneku. Pacarku. Rio ngapain nelpon aku jam segini? Dia kan tahu kalo aku lagi sekolah.
    Nggak lama, hapeku berdering lagi menandakan sms masuk. Dari Rio.
    “Pulang sekolah aku tunggu di kampusku ya. Pulang jam 2 kan, Sayang?”
    Ya ampun, cuma mau sms gini aja kan bisa, nggak perlu nelpon segala. Entah kenapa rasanya aku kesal deh sama Rio. Entah? Nggak. Aku bener-bener kesal sama Rio. Dia udah bikin aku dikeluarkan dari ruang kelas dan bertepatan dengan pelajaran Pak Suryo! Aku mau ngambek ah. Aku nanti nggak akan datang ke kampusnya.
    Aku membalas smsnya yang mengatakan bahwa aku tidak bisa datang. Terkirim. Tapi kalau aku nggak datang, bisa-bisa hubunganku dengan Rio berantakan. Aku nggak mau itu terjadi.
    Aku menghela napas panjang. Baiklah, aku akan kesana. Biar aja sms tadi. Aku akan datang diam-diam. Memberi kejutan untuknya. Hihi…
    Sepulang sekolah, aku menstarter motor maticku ke kampus Rio. Untungnya aku selalu bawa celana jeans dan jaket di dalam tasku, jadi bisa jalan sepulang sekolah. Berat sih, tapi daripada pulang dulu dan minta izin yang susah lebih baik seperti ini kan.
    Aku mencari-carinya di kantin. Biasanya dia selalu di sini jika tak ada dosen. Setelah celingukan mencarinya akhirnya aku menemukan sosoknya. Ia sedang bercerita dengan teman-temannya sambil merangkul gadis lain! Perasaanku tiba-tiba sakit. Siapa gadis itu? Adiknya? Nggak mungkin, adiknya itu cowok semua. Teman? Tapi kenapa sampai rangkulan segala, tertawa lepas sepeti itu pula? Aku kemudian beranjak menuju tempatnya berada.
    Rio kelihatan kaget akan kehadiranku dan melepaskan rangkulannya ke cewek itu.
    “Kok kamu disini?” tanyanya.
    “Aku kesini mau bikin kejutan buat kamu, tapi ternyata malah aku yang kaget, ya. Hehe…” ucapku dengan mata sudah berkaca-kaca.
    “Kamu salah sangka, ini nggak seperti yang kamu lihat. Dia ini cuma temenku, Sayang,” belanya.
    “Maaf, aku mengganggu kamu. Kita putus aja,” kataku lirih. Aku segera bergegas meninggalkan tempat itu. Rio menarik lenganku dan memohon aku untuk mendengarkan penjelasannya. Tapi aku terlalu sakit. Aku menghapus air mata yang perlahan turun di pipiku. Aku cemburuan, dia sudah tahu itu. Tapi kenapa dia tetap saja seperti itu. Kejadian seperti ini sudah terulang berapa kali? Rasanya sering dan aku selalu memaafkannya. Kali ini aku tidak bisa mentolerirnya lagi. Aku dan Rio berpisah hari ini.
***
    Seharian ini aku uring-uringan. Rasanya malas sekali mengerjakan sesuatu. Aku masih mengingat kejadian tadi siang. Sakit sekali rasanya hatiku. Selama ini aku berusaha untuk sabar dengan kelakuannya yang seperti itu, namun rasanya aku sudah nggak sanggup lagi.
    Malam ini jadwalku mengaji bersama mas Bintang, tapi rasanya aku malas sekali. Sholat isyaku malam ini saja tidak bisa khusyuk. Aku terus saja memikirkan Rio. Mas Bintang menyadari perubahanku. Ia bertanya kenapa namun aku sedang malas menjawab. Papa dan Mama sedang tidak berada di rumah karena ada acara makan malam dengan rekan bisnisnya. Andai saja aku nggak harus mengaji pasti aku sudah pergi ke mall atau ke tempat yang bisa menbuat perasaanku lebih baik.
    Mas Bintang mengambil Al-Qur’an dari tanganku dan membacanya. Subhanallah, merdu sekali. Ia membacakanya dengan sangat fasih. Pengucapannya sangat jelas. Aku memperhatikannya membaca. Rasanya ada sesuatu di dalam diri mas Bintang yang bisa menenangkan hatiku hanya dengan membaca Al-Qur’an. Membuat perasaanku kembali adem ayem. Membuat masalahku terasa lebih ringan.
    Tanpa terasa air mataku jatuh. Aku menangis tanpa suara. Mas Bintang menghentikan ngajinya.
    “Kok nangis, De?” tanyanya.
    Aku kemudian menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Mulai dari aku dikeluarkan dari mata pelajaran Pak Suryo sampai putusnya hubunganku dengan Rio. Entah kenapa rasanya aku nggak sungkan untuk menceritakan masalahku dengan Mas Bintang. Aku merasa ia bisa dipercaya dan nggak akan mengecewakanku.
    “Perasaan sakit hati itu wajar karena rasa cinta juga wajar. Yang penting bagaimana kita menyikapinya dengan cara yang wajar juga. Jangan sampai sakit hati lantas merugikan diri sendiri dan orang lain. Boleh saja mencintai seseorang namun jangan berlebihan. Karena hal-hal yang berlebihan itu tidak disukai oleh Allah. Dan apabila seseorang yang kamu cintai itu pergi, cobalah relakan. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang benar-benar milik kita. Semua itu cepat atau lambat pasti akan pergi,” jelas Mas Bintang.
    “Kalaupun memang dia berselingkuh dengan cewek lain dan akhirnya kalian berdua memutuskan untuk mengakhiri hubungan, ambillah hikmah dari semua ini. Siapa tahu bukan dia orang yang terbaik untuk kamu. Siapa tahu Allah masih berbaik hati untuk menyediakan lelaki yang lebih baik dari dia,” tambahnya.
    Aku mencermati kata-kata Mas Bintang dengan perasaan bimbang. Perkataan Mas Bintang ada benarnya tapi di satu sisi aku masih nggak bisa menerima kalau akhirnya hubunganku dengan Rio jadi putus dan menganggap Mas Bintang terlalu ikut campur dan terlalu dewasa.
    “Udah, jangan nangis lagi. Untuk siapa kamu nangis? Orang yang kamu tangisin emangnya tahu kalo kamu nangis gara-gara dia? Simpan air matamu untuk sesuatu yang berguna,” ucapnya lembut. Aah, Mas Bintang. Rasanya nyaman sekali berada di dekatnya.
***
    Selama 3 bulan ini aku mengaji dengan rutin. Bacaanku makin lancar dan fasih. Finalnya, hari ini aku mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah karena telah selesai menamatkan baca Al-Qur’an. Yang diundang tetangga dekat dan keluargaku, juga mas Bintang sebagai guru ngajiku.
    Syukurannya berjalan dengan lancar. Aku senang sekali akhirnya bisa tamat baca Al-Qur’an. Walau kadang terbersit perasaan malu karena sudah SMA dan sama sekali belum menamatkan Al-Qur’an. Tapi Mas Bintang selalu di sampingku, memberikan motivasi untukku agar merasa bangga dengan apa yang telah aku peroleh sekarang.
    Soal Rio, dia sempat mengirimiku pesan yang intinya dia minta maaf. Tapi tak mengajakku kembali menjalin hubungan. Aku kecewa. Walau sedikit, rasanya ingin sekali aku mengulang kisahku dengan Rio. Tapi kalau mengingat kejadian yang lalu, aku masih sakit.
    Setelah acara syukuran selesai, para tamu segera pulang. Aku mengantarnya dengan senyuman. Sebenarnya aku selalu senyum hari ini. Mungkin karena motivasi Mas Bintang, aku merasa bangga. Hatiku terasa berbunga-bunga, seakan melambung tinggi.
    “De, bisa ngomong sebentar?” tanya Mas Bintang.
    Aku mengangguk dan mengikutinya. Mas Bintang mengajakku ke teras. Mas Bintang mengucapkan selamat kepadaku. Ia memberiku boneka penguin yang memegang Al-Qur’an. Waah, bagus sekali!
    Mas Bintang mengatakan setelah ini aku masih harus terus membaca Al-Qur’an. Walaupun sudah khatam, jika dibaca lagi akan lebih bagus, apalagi jika membaca artinya dan mengamalkannya. Aku menyetujuinya. Setelah ini aku juga akan membaca Al-Qur’an kok. Karena saat membaca Al-Qur’an aku merasa tenang. Hidupku jauh lebih ringan. Dan masalah yang aku hadapi juga dapat aku selesaikan dengan baik.
    Kemudian kami berdiam diri untuk sesaat. Perasaanku saja atau Mas Bintang sedang gugup? Habisnya dari tadi aku perhatikan, tangan Mas Bintang bergerak nggak jelas gitu. Ngomongnya juga jadi gagu. Apa memang sudah nggak ada yang ingin dibicarakan lagi, ya? Aku merasa grogi juga jika kami sedang tidak mengaji. Aku merasa ada sebuah perasaan yang aneh. Mungkin lebih baik aku masuk ke dalam.
    “Aku masuk dulu, Mas,” pamitku. Namun Mas Bintang meraih tanganku lembut.
    “Aku mau ngenalin kamu sama orang tuaku, De,” ucapnya mantap.
    Aku menoleh, “Maksudnya?”
    Kenalan sama orang tuanya Mas Bintang?
    “Selama aku ngajarin kamu ngaji, aku ngerasa ada sesuatu yang aneh sama perasaanku dan sekarang aku yakin aku menemukan pilihan yang tepat. Insyaallah aku akan menjadikanmu pendamping hidupku kelak, saat kamu sudah siap. Aku cinta sama kamu… karena Allah,” tegasnya.
    Aku terdiam beberapa saat dan memandang wajah Mas Bintang. Sorot matanya menandakan ketegasan dan kejujuran. Aku tak menemukan kebohongan di sana. Apakah Mas Bintang adalah pasangan hidupku kelak? Ya Allah, aku minta petunjukMu.
    Aku memejamkan mata sesaat dan memandang lagi wajah Mas Bintang. Sorot matanya masih sama. Dan aku tiba-tiba merasa yakin padanya.
    Aku mengangguk. Alhamdulillah, semoga Mas Bintang dapat menjadi imamku, panutan hidupku. Selamanya.

Perkembangan Fisik Peserta Didik

Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh maka memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan keterampilan fisiknya dan ekplorasi terhadap lingkungannya dengan tanpa bantuan dari orang tuanya.
•    Perkembangan Fisik Peserta Didik Usia Taman Kanak-kanak
Pertumbuhan otaknya pada usia lima tahun sudah mencapai 75% dari ukuran orang dewasa, dan 90% pada usia enam tahun. Pada usia ini juga terjadinya pertumbuhan ”myelinization” (lapisan urat syaraf dalam otak yang terdiri dari bahan penyekat berwarna putih, yaitu myelin) secara sempurna. Lapisan urat syaraf ini membantu transmisi impul-impul syaraf secara cepat, yang memungkinkan pengontrolan terhadap kegiatan-kegiatan motorik lebih seksama dan efisien. Di samping itu pada usia ini banya juga perubahan fisiologis lainnya, seperti pernapasan menjadi lebih lambat dan mendalam dan denyut jantung lebih lambat dan menetap.
Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi yang cukup. Kekurangan gizi (malnutrisi) dapat mengakibatkan kecatatan tubuh dan kelemahan mental. Mereka kurang memiliki kemampuan atau kesiapan mental dan fisik. Perkembangan fisik akan ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut.
Bimbingan guru taman kanak-kanak itu berkaitan dengan pengembangan aspek-aspek berikut:
1.    Pengenalan/pengetahuan akan namanya dan bagian-bagian tubuhnya.
2.    Kemampuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi tubuh.
3.    Pemahaman bahwa walaupun setiap individu berbeda dalam penampilannya, seperti perbedaan dalam warna rambut, kulit dan mata, atau tingginya tetapi, semua orang memiliki kesamaan karakteristik fisik yang sama.
4.    Menerima bahwa semua orang memiliki keterbatasan dalam kemampuannya.
5.    Kemampuan untuk memahami bahwa tubuh itu berubah secara konstan, dan pertumbuhan fisik berawal dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.
6.    Pemahaman akan pentingnya tidur dan juga sebagai dua siklus kehidupan yang penting bagi kehidupan.
7.    Mengetahui kesadaran sensori (merasa, melihat, mendengar, mencium, dan menyentuh/meraba).
8.    Memahami keterbatasan fisik seperti lelah, sakit dan melemah.
•    Perkembangan Fisik Perserta Didik Usia Sekolah Dasar
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka perkembangan motorik anak sudah terkoordinasi dengan baik.
Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan :
1.    Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar
2.    Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga
3.    Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dsb.
4.    Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban dan kedisiplinan.

a. Tinggi dan Berat Badan
Pertumbuhan fisik pada usia SD cenderung lebih lambat dan relatif konsisten. Laju perkembangan seperti ini berlangsung sampai terjadinya perubahan-perubahan besar pada awal masa pubertas. Kaki anak lazimnya menjadi lebih panjang dan tubuhnya menjadi lebih kurus. Massa dan kekuatan otot anak secara bertahap terus meningkat di saat semakin menurunnya kadar ‘lemak bayi’. Selama usia SD ini, kekuatan fisik anak lazimnya meningkat dua kali lipat. Gerakan-gerakan lepas pada masa sebelumnya sangat menbantu pertumbuhan otot ini.
b. Proporsi dan Bentuk Tubuh
Anak SD kelas awal umumnya masih memiliki proporsi tubuh yang kurang seimbang. Kekurangseimbangan ini sedikit demi sedikit berkurang sampai terlihat perbedaannya ketika anak mencapai kelas 5 atau 6. Pada kelas-kelas akhir SD, lazimnya proporsi tubuh anak sudah mendekati keseimbangan. Berdasarkan tipologi Sheldon ada tiga kemungkinan bentuk primer tubuh anak SD. Tiga bentuk primer tubuh tersebut adalah :
1) Endomorph, yakni yang tampak dari luar berbentuk gemuk dan berbadan besar
2) Mesomorph, yakni yang kelihatannya kokoh, kuat, dan lebih kekar
3) Ectomorph, yakni yang tampak jangkung, dada pipih, lemah, dan seperti tak berotot
•    Perkembangan Fisik Peserta Didik Usia Remaja
Remaja sering disebut dengan istilah puberteit danadolescentia. Puberteit (Belanda), puberty (Ingris), pubertas (Latin) yang artinya tumbuh rambut di daerah ”pusic” daerah kemaluan. Adolescentia dari bahasa latin adalah masa muda.
Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Masa pertama yang terjadi pada fase pranatal dan bayi. Bagian-bagian tubuh tertentu pada tahun-tahun permulaan kehidupan secara proporsional terlalu kecil, namun pada masa remaja proporsionalnya menjadi terlalu besar, karena terlebih dahulu mengalami kematangan daripada bagian-bagian yang lain. Pada masa remaja akhir, proporsi tubuh individu mencapai proporsi tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya. Dalam perkembangan seksualitas remaja ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Ciri-ciri seks primer:
(1) Remaja pria
Ditandai dengan sangat cepatnya pertumbuhan statis pada tahun pertama dan kedua, kemudian pada tahun berikutnya tumbuh lebih lambat dan akan mencapai ukuran pada usia 20– 21 tahun. Matangnya organ– organ seks yang memungkinkan remaja pria yang berusia sekitar 14– 15 tahun mengalami mimpi basah.
(2) Remaja wanita
Ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina dan ovarium (indung telur). Ovarium menghasilkan ovum dan mengeluarkan hormon- hormon yang diperlukan untuk kehamilan, menstruasi dan perkembangan seks sekunder. Pada usia 11– 15 tahun, menstruasi pertama sering ditandai dengan sakit kepala, sakit pinggang, kadang kejang, lelah, depresi dan mudah tersinggung.


•    Perkembangan Fisik Peserta Didik Usia Dewasa
Secara psikologis kedewasaan diwarnai dengan aktualisasi diri yaitu menunjukkan semua kemampua yang dimiliki dalam rangka mandiri, bisa mencari nafkah sendiri, dapat menentukan kehidupan sendiri, ingin merdeka.
Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas telah selesai atau setidak-tidaknya sudah mendekati selesai dan apabila organ kelamin anak telah mencapai kematangan serta mampu bereproduksi.
Pada umumnya psikolog menetapkan seseorang dikatakn telah dewasa sekitar usia 20 tahun sebagai awal masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40-45 dan pertengahan masa dewasa berlangsung dari sekitar 40-45 sampai sekitar 65 tahun, serta masa dewasa lanjut atau masa tua berlangsung dari sekitar 65 tahun sampai meninggal.
Dilihat dari aspek perkembangan fisik, pada awal masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya dan sekaligus mengalami penurunan selama periode ini.
1.    Kesehatan Badan
Awal masa dewasa ditandai dengan memuncaknya kemampuan dan kesehatan fisik. Mulai dari sekitar usia 18 hingga 25 tahun, individu memiliki kekuatan yang terbesar, gerak-gerak reflek mereka sangat cepat. Meskipun pada awal masa dewasa kondisi kesehatan fisik mencapai puncaknya, namun selama periode ini penuruna keadaa fisik juga terjadi. Sejak usia sekitar 25 tahun, perubahan-perubahan fisik mulai terlihat. Perubahan ini sebagian besar lebih bersifat kuantitatif daripada kualitatif.
2.    Perkembangan Sensori
Pada awal masa dewasa penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran belum begitu kelihatan. Akan tetapi, pada masa dewasa tengah perubahan dalam penglihatan dan pendengaran merupakan dua perubahan fisik yang paling menonjol. Pada usia antara 40 dan 59 tahun, daya akomodasi mata mengalami penurunan paling tajam. Karena itu, banyak orang pada usia setengah baya mengalami kesulitan dalam melihat objek-objek yang dekat.
3.    Perkembangan Otak
Mulai masa dewasa awal, sel-sel otak juga berangsur-angsur berkurang. Tetapi, perkembangbiakan koneksi neural (neural connection), khususnya bagi orang-orang tetap aktif, membantu mengganti sel-sel yang hilang. Hal ini membantu menjelaskan pendapat umum bahwa orang dewasa tetap aktif, baik secara fisik, seksual, maupun secara mental, menyimpan lebih banyak kapasitas mereka untuk melakukan aktivitas demikian pada tahun selanjutnya.
4.    Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa. Akan tetapi, bagaimanapun tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa tersebut mengarah pada peningkatan potensi. Kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi terutama pada masa dewasa akhir dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.
5.    Perkembangan Memori
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah suatu yang sudah pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan stereotip budaya.
Kemerosotan dalam memori episodik, sering menimbulkan perubaha-perubahan dalam kehidupan orang tua. Untuk dapat mencegah kemunduran memori jangka panjang sekaligus memungkinkan dapat meningkatkan kekuatan memori mereka maka dapat dilakukan latihan menggunakan bermacam-macam strategi mnemonic (strategi penghafalan) bagi orang tua.
6.    Perkembangan Intelegensi
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa dewasa terjadi kemunduran dalam intelegensi umum. David Wechsler menyimpulkan bahwa kemunduran bahwa kemunduran kemampuan mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme secara umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia antara 18-25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran.

7.    Perkembangan Psikososial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selam periode ini orang melibatkan diri secara khusus dala karir, pernikahan dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif dan integritas.