“Aku kangen banget sama
kamu!” ucap Radit seraya memelukku dengan erat di bandara.
“Iya, aku juga”. Aku sudah
berpikir tentang Radit. Pada saat-saat terkhirnya aku harus membahagiakan dia.
Walaupun berat, aku harus terima kenyataan, bukannya dihindari. Seperti kata
kakak, ‘bilang selamat tinggal memang butuh sedikit keberanian, tapi nggak
menakutkan’.
“Aku antar kamu pulang,
ya?” tawar Radit. Aku mengangguk. Kami segera keluar dari bandara.
“Dit, aku boleh nanya
sesuatu nggak sama kamu?” tanyaku.
“Boleh dong. Emang kamu
mau tanya apa?”
“Impianmu yang paling
akhir apa?” tanyaku. Radit terlihat bingung dengan kalimat tanyaku.
“Maksudnya?” tanyanya.