Senin, 20 Mei 2013

Part 9 - Hidup Baru

2 tahun kemudian...



            “Selamat pagi!” sapaku ketika memasuki kelas X-8.
            “Pagi! Udah tau kabar hari ini, non?” tanya... Ran?!
            “Ran?! Kamu pindah ke Surabaya juga?” tanyaku.
            Ran mengangguk, “Iya dong. Masa’ sepasang sahabat terpisah?”. Aku segera memeluk sahabatku yang satu itu.
            “Terus? Kabar hari ini apa?” tanyaku.

           “Ada 2! Yang pertama, ada cewek super manis yang menjadi murid baru di sekolah ini, yaitu aku! Dan yang kedua, cewek itu nggak sendiri. Tapi sama pacarnya, yaitu Dhani” Ran memberitahu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabatku itu.
            “Kamu ini nggak berubah, ya, mulai 2 tahun yang lalu” kritikku.
            “Ya dong. Kamu yang banyak berubah”. Aku tersenyum lagi. Di menit lain, bel masuk berbunyi. Serentak murid-murid memasuki kelasnya masing-masing. Begitu pula denganku. Di dunia SMU, banyak yang berubah. Mulai dari pelajarannya yang makin susah, sampai teman sebangkuku. Sekarang, Ran duduk sama Dhani. Mereaka mesra deh. Bikin iri aja. Sedangkan aku duduk sama Ryan, seorang cowok yang lumayan pintar dan keren. Tapi... ada sesuatu yang bikin aku nggak suka sama dia. Yaitu ‘matre’. Iiih, cape deh duduk sama orang yang kayak gitu. Pernah suatu kali, aku minta ngambilin bukuku yang ada di meja guru, dia malah minta bayaran Rp 5000,-! Masa’ cuma ngambilin buku gitu aja bayarannya 5000? Kemahalan kaleee!!! Apa aku bisa tahan duduk dengannya selam SMU? Aaaaargghh! Tapi ada 1 hal yang nggak berubah. Perasaanku terhadap Radit. Sudah 2 tahun... nggak kerasa. Perasaan baru kemarin Radit sama-sama aku...
X                     X                     X
            “Rin? Mau pulang bareng?” tanya Ran yang tengah duduk di dalam mobil Corolla berwarna biru kepunyaan Dhani.
            Aku menggeleng, “Nggak usah. Aku nggak mau ganggu. Lagian aku udah ada yang jemput kok”
            “TIN!”. Sebuah mobil Honda Jazz berwarna hitam menghampiriku. Lho? Kok bukan mobil Xenianya kakak? Kaca mobilnya diturunkan.
            “Kak Rama?! Kakak mana?” tanyaku.
            “Sibuk. Yuk, masuk” ajaknya. Aku mengangguk.
            “Siapa, Rin?” tanya Ran cengar-cengir.
            “Temennya kakakku. Daah” ucapku seraya memasuki mobil kak Rama. Kulihat sekilas Dhani dan Ran melongo melihatku bersama kak Rama. Tapi hari ini kak Rama kelihatan keren deh. Ia memakai hem berwarna putih dilengkapi celana jean’s serta sepatu kets berwarna hitam putih yang tak luput dari pandanganku.
            “Bajunya bagus, ya?” pujiku.
            “Memuji barang milik sendiri itu nggak boleh lho” ujar kak Rama.
            “Barang milik sendiri? Maksud kakak?” tanyaku heran.
            “Yang beli baju ini ‘kan kamu. Masa’ memuji baju yang dibeli sendiri?” protes kak Rama. Yang beli baju itu aku? Kapan? Aku berpikir sesaat.
            “Ha?! Jadi ini baju yang 2 tahun lalu itu? Masih muat?” tanyaku.
            “Ya... gitu lah... Kayaknya aku nggak ada perubahan fisik, ya?” kak Rama lesu.
            “Ada kok” simpleku.
            “Apa?” tanyanya.
            “Kakak makin keren” sahutku asal. Ia tersenyum.
            “Makasih, ya?” ucapny sambil mencubit pipiku. Tapi nggak keras.
            Sesampainya di rumah kakak yang baru di Surabaya, kami langsung pergi ke dapur. Minum! Haus banget sih. Aku buru-buru mengambil gelas yang ada di rak.
            “Pelan-pelan. Nanti gelasnya pecah” kak Rama memperingatkan. Di detik lain... PRAAANG!!! Gelasnya jatuh dan otomatis pecah!
            “Uups... sorry. Ternyata kakak ada bakat jadi peramal, ya?” ucapku tengah memunguti pecahan gelas itu.
            “Eh, biar aku aja yang beresin. Nanti tanganmu...”
            “Akh!” seruku. Tanganku berdarah. Sakit!
            “Tuh ‘kan bener. Baru dibilangin! Sini” ucapnya seraya mengisap darahku. Aku ingat, dulu Radit juga pernah menghisap darahku waktu tanganku tersayat pisau. Waktu itu Radit kelihatan khawatir banget. Aku kembali terisak.
            “Sakit, ya?” tanya kak Rama.
            “Lumayan. Tapi ada alasan lain. Kenangan buruk” jawabku mencoba tersenyum.
            “Tentang mantanmu?” tanya kak Rama.
            “Dari mana kakak tau? Pasti dari kak Yoga” dengusku. Kak Rama hanya diam dengan senyuman yang misterius. Lalu ia mengelus rambutku.
            “Jangan dikenang terus. Nanti kamu jadi jelek lho. Bisa kelihatan 10 tahun lebih tua” kak Rama menakuti. Aku tersenyum sekilas.
            “Kan sayang kalo’ orang cantik kayak kamu jadi jelek. Apalagi banyak yang sayang dan bisa kasih masukan sama kamu” ucap kak Rama.
            “Nggak kok. Cuma teringat sekilas aja. Paling besok udah lupa lagi. So, kakak tenang aja. Nggak usah khawatir. And, one again. Thank’s udah bilang aku cantik. Tau aja kakak ini kalo’ aku cantik” jawabku sambil mengelus pipiku seperti cewek centil. Kak Rama tertawa.
            Sudah 2 tahun berlalu tanpa Radit. Tapi biar gini, aku masih sering ke makamnya Radit lho! Habis, Radit nggak pernah bisa aku lupain sih. Tapi juga nggak aku ingat terus-menerus, seperti apa yang pernah dikatakan mas Dio. Dan seperti amanat Radit, aku harus selalu ceria. NYEESSHH! Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku.
            “Kyaaa!” seruku seraya memegang pipiku.
            “Ha...ha... Kaget, ya?” Maaf, deh. Habis kamu ngelamun terus sih. Nih, kak Yoga yang paliiiing baik sedunia ini bawain es krim coklat, strawberry, sama vanilla untuk Cherry kesayanganku!” ucap kak Yoga yang tengah membawa tas plastik yang berisi 3 buah es krim favoritku.
            “Makasih, ya?” jawabku nggak bersemangat. Kak Yoga terlihat kaget. Entah karena jawabanku ataupun reaksiku. Ia langsung merangkul pundakku.
            “Cherry sayang, kok gitu? Semangat dong!” bujuk kak Yoga.
            “Aku ‘kan habis pulang sekolah. Capek dong. Kalo’ dipijat baru bisa semangat” jawabku asal.
            “Ya udah, deh. Ntar mau dimassage? Sauna? Spa? Atau apa?” promosi kak Yoga.
            Aku tersenyum, “Kalo’ bisa sih semuanya”. Kak Yoga mengusap... tepatnya mengacak rambutku.
            “Aduh, rambutku jadi berantakan lagi! Padahal tadi malam udah dicreambath, disisir rapi-rapi, dan segalanya agar supaya rambut lembut, halus, dan berkilau. Ini malah diberantakin lagi” gerutuku seperti cewek kecentilan. Kak Yoga tertawa. Diikuti seluruh teman kak Yoga, temenku juga sih...
            “Makan malam bikin apa nih?” tanya kak Dito.
            “Huuu!!! Makanan terus!!!” seru semuanya.
            “Ke teras, yuk?” ajak kak Rama. Aku mengangguk. Setelah berada di teras, kami duduk di kursi(ya iyalah). Ada apaan, ya, kok tiba-tiba kak Rama ngajak aku ke teras?
            “Rin” panggilnya. Aku menoleh. “Di sekolahmu ada cowok yang menarik perhatianmu nggak?”
            Aku menggeleng, “Nggak. Satu-satunya cowok yang menarik perhatianku dulu cuma Radit. Dan sekarang belum ada”
            “Oh” sahutnya singkat.
            “Ng... kamu mau jalan-jalan?” ajaknya. Aku mengangguk, “Kapan?”
            “Hari Minggu jam... 10. Ok?” tawarnya sambil menjulurkan kelingkingnya.
            Aku membalasnya, “Ok”
X                     X                     X
            “Minum, siap. Makanan, siap. Snack perjalanan, siap. Baju ganti, siap. Kamera digital, siap. Apa lagi, ya?” aku menggaruk-garuk kepalaku.
            “Hand body? Sisir? Bedak? Peralatan kosmetik?” tanya kak Reza.
            “Emangnya kita mau buka salon?” tanyaku. Kami semua tertawa.
            “Hand phone? Dompet?” tanya kak Rama.
            “Nah! Itu dia! Makasih” ucapku seraya berlari ke kamar untuk mengambil hand phone dan dompet. Selesai itu, kami segera pergi. Pertama kami pergi ke pantai Parang Tritis. Wuah, keren! Di sana, kami bermain air dan berphoto bersama. Ke dua, kami pergi ke Candi Prambanan. Aku memasuki candi utamanya. Di dalam sana memang gelap, tapi aku bisa melihat patung Roro Jonggrang. Sejarahnya lumayang bagus sih menurutku. Lalu, di sana aku juga menaiki bus mini yang mengitari wilayah sekitar Candi Prambanan. Di dekat Candi Prambanan, ada Candi Sewu juga lho! Apa iya, candinya ada seribu? Hi...hi...
            “NYESSHHH!” serasa ada sesuatu yang dingin menyentuh pipiku mulai kemarin.
            “Kyaaa!” seruku.
            “Nih” ucap kak Rama yang tengah membawakan es krim Wall’s yang pelangi padaku.
            “Iih, udah ngagetin orang kok nggak minta ,maaf?” aku protes.
            “Oh, jadi aku harus minta maaf?” tanya kak Rama.
            “Nggak perlu. Udah berkali-kali kena. Kalo’ aku maafin, pasti seterusnya aku bakalan dikenain lagi” aku sewot. Kak Rama tertawa geli mendengarnya.
            “Habis ini mau ke mana?” tanyanya.
            “Candi Borobudur” singkatku tersenyum pasti.
            “Yuk?”. Aku segera menaiki mobil APV milik kak Dito. Sesampainya di Candi Borobudur, kami berenam berlomba siapa yang lebih cepat menuju ke puncak Candi. Aku sekilas melihat kak Dito yang mati-matian agar bisa sampai ke puncak Candi. Kasihan. 10 menit saat menunggu kak Dito sampai ke puncak Candi. Kami berphoto bersama lagi. Kak Reza meminta seorang bapak... maksudnya turis untuk memotret kami. Selesai itu, kami turun ke bawah untuk makan di depan mobil beralas tikar. Hari ini aku membawa nasi (jelas dong!), ayam goreng, lalapan, telur goreng, nugget, sosis, dan yang pasti minum! Untuk pencuci mulutnya, aku cuma membawa jeruk dan apel.
            “Habis ini ke mana?” tanya kak Ardi.
            “Ke Sarangan!” seruku.
            “Boleh. Kalian gimana? Mau nggak?” tanya kak Yoga.
            “Ok. Abis makan, ya?” ucap kak Dito yang mulutnya dipenuhi ayam dan lalapan. Kami tertawa, again...
            Sesampainya di Sarangan, kami berebut untuk berkuda. Aku memilih kuda berwarna putih, karena itu warna kesukaanku. Setelah puas berkuda, kami menaiki dokar, umumnya dibilang delman kali, yah? Setelah capek, kami beristirahat di sebuah taman bermain anak-anak.
            “Ada yang mau aku bicarain. Ikut, yuk?” ajak kak Rama. Aku menurut. Kami pergi ke tempat ayunan.
            “Mau ngomong apa?” tanyaku.
            “Gini, aku mau nanya... ng...” kak Rama seakan bingung apa yang ingin ia katakan. Perasaan ini... kayak waktu aku mau ditembak sama Radit. Tapi, nggak mungkin ah~! Aku ini GR banget sih!
            “Kamu mau jadi pacarku?” tanya kak Rama. Aku kaget. Tuh ‘kan bener! Aku ditembak! Mati deh... he... he... Waduh, aku bingung nih mau jawab apa.
            “Ya... aku tau, kamu masih belum bisa ngelupain Radit. Aku cuma mau ngasih tau aja kok ke kamu”
            “Kalo’ aku terima kakak, emang kakak bisa apa?” tanyaku menantang.
            “Ya... aku memang nggak bisa ngasih kamu banyak. Tapi aku bakalan berusaha untuk memenuhi apapun yang kamu mau” jawabnya.
            “Cie.... kata-katanya... Kayak di sinetron aja” godaku. Kak Rama menggenggam tanganku.
            “Rin, kali ini aku serius. Super serius” kak Rama berusaha meyakinkan.
            “Ya... kalo’ gitu... maaf deh...” ucapku menggantung.
            “Nggak papa kok. Aku juga bisa terima” kata kak Rama.
            “Maaf, ya? Aku nggak bisa nerima kakak. Perasaanku masih banyak tertumpah sama Radit. Aku belum bener-bener bisa ngelupain Radit. Mungkin suatu hati nanti, aku bisa nerima kakak. Tapi nggak tau kapan, dan aku juga nggak tau apa kakak bisa nerima aku lagi atau nggak. Sekali lagi sorry, ya?” jelasku.
            “Iya, nggak papa lagi. Oh, ya? Biarpun begini... kita masih temenan ‘kan?” tanya kak Rama.
            “Of cours” sahutku. Kami segera kembali berkumpul bersama dengan yang lainnya. Tepat jam 7 sore, kami sampai di rumah. Ngh... capeeeek banget! Dan hari-hariku akan lebih disibukkan lagi oleh sesuatu yang akan datang esok hari. Yang penting, jalanin aja dengan hati yang sabar dan tabah. Aku yakin, masalah tersebut, insya Allah bisa dilewati. Ok?

            Dear Radit di sana,
Apa aku bisa ketemu cowok yang kayak kamu lagi, Dit? Kapan, ya aku bisa sama-sama kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar