“Selamat pagi!” sapaku
ketika memasuki kelas X-8.
“Pagi! Udah tau kabar hari
ini, non?” tanya... Ran?!
“Ran?! Kamu pindah ke
Surabaya juga?” tanyaku.
Ran mengangguk, “Iya dong.
Masa’ sepasang sahabat terpisah?”. Aku segera memeluk sahabatku yang satu itu.
“Terus? Kabar hari ini
apa?” tanyaku.
“Ada 2! Yang pertama, ada
cewek super manis yang menjadi murid baru di sekolah ini, yaitu aku! Dan yang
kedua, cewek itu nggak sendiri. Tapi sama pacarnya, yaitu Dhani” Ran
memberitahu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabatku itu.
“Kamu ini nggak berubah,
ya, mulai 2 tahun yang lalu” kritikku.
“Ya dong. Kamu yang banyak
berubah”. Aku tersenyum lagi. Di menit lain, bel masuk berbunyi. Serentak
murid-murid memasuki kelasnya masing-masing. Begitu pula denganku. Di dunia
SMU, banyak yang berubah. Mulai dari pelajarannya yang makin susah, sampai
teman sebangkuku. Sekarang, Ran duduk sama Dhani. Mereaka mesra deh. Bikin iri
aja. Sedangkan aku duduk sama Ryan, seorang cowok yang lumayan pintar dan
keren. Tapi... ada sesuatu yang bikin aku nggak suka sama dia. Yaitu ‘matre’.
Iiih, cape deh duduk sama orang yang kayak gitu. Pernah suatu kali, aku minta
ngambilin bukuku yang ada di meja guru, dia malah minta bayaran Rp 5000,-!
Masa’ cuma ngambilin buku gitu aja bayarannya 5000? Kemahalan kaleee!!! Apa aku
bisa tahan duduk dengannya selam SMU? Aaaaargghh! Tapi ada 1 hal yang nggak
berubah. Perasaanku terhadap Radit. Sudah 2 tahun... nggak kerasa. Perasaan
baru kemarin Radit sama-sama aku...
X X X
“Rin? Mau pulang bareng?”
tanya Ran yang tengah duduk di dalam mobil Corolla berwarna biru kepunyaan
Dhani.
Aku menggeleng, “Nggak
usah. Aku nggak mau ganggu. Lagian aku udah ada yang jemput kok”
“TIN!”. Sebuah mobil Honda
Jazz berwarna hitam menghampiriku. Lho? Kok bukan mobil Xenianya kakak? Kaca
mobilnya diturunkan.
“Kak Rama?! Kakak mana?”
tanyaku.
“Sibuk. Yuk, masuk”
ajaknya. Aku mengangguk.
“Siapa, Rin?” tanya Ran
cengar-cengir.
“Temennya kakakku. Daah”
ucapku seraya memasuki mobil kak Rama. Kulihat sekilas Dhani dan Ran melongo
melihatku bersama kak Rama. Tapi hari ini kak Rama kelihatan keren deh. Ia
memakai hem berwarna putih dilengkapi celana jean’s serta sepatu kets berwarna
hitam putih yang tak luput dari pandanganku.
“Bajunya bagus, ya?”
pujiku.
“Memuji barang milik
sendiri itu nggak boleh lho” ujar kak Rama.
“Barang milik sendiri?
Maksud kakak?” tanyaku heran.
“Yang beli baju ini ‘kan
kamu. Masa’ memuji baju yang dibeli sendiri?” protes kak Rama. Yang beli baju
itu aku? Kapan? Aku berpikir sesaat.
“Ha?! Jadi ini baju yang 2
tahun lalu itu? Masih muat?” tanyaku.
“Ya... gitu lah...
Kayaknya aku nggak ada perubahan fisik, ya?” kak Rama lesu.
“Ada kok” simpleku.
“Apa?” tanyanya.
“Kakak makin keren”
sahutku asal. Ia tersenyum.
“Makasih, ya?” ucapny
sambil mencubit pipiku. Tapi nggak keras.
Sesampainya di rumah kakak
yang baru di Surabaya, kami langsung pergi ke dapur. Minum! Haus banget sih.
Aku buru-buru mengambil gelas yang ada di rak.
“Pelan-pelan. Nanti
gelasnya pecah” kak Rama memperingatkan. Di detik lain... PRAAANG!!! Gelasnya
jatuh dan otomatis pecah!
“Uups... sorry. Ternyata
kakak ada bakat jadi peramal, ya?” ucapku tengah memunguti pecahan gelas itu.
“Eh, biar aku aja yang
beresin. Nanti tanganmu...”
“Akh!” seruku. Tanganku
berdarah. Sakit!
“Tuh ‘kan bener. Baru
dibilangin! Sini” ucapnya seraya mengisap darahku. Aku ingat, dulu Radit juga
pernah menghisap darahku waktu tanganku tersayat pisau. Waktu itu Radit
kelihatan khawatir banget. Aku kembali terisak.
“Sakit, ya?” tanya kak
Rama.
“Lumayan. Tapi ada alasan
lain. Kenangan buruk” jawabku mencoba tersenyum.
“Tentang mantanmu?” tanya
kak Rama.
“Dari mana kakak tau?
Pasti dari kak Yoga” dengusku. Kak Rama hanya diam dengan senyuman yang
misterius. Lalu ia mengelus rambutku.
“Jangan dikenang terus.
Nanti kamu jadi jelek lho. Bisa kelihatan 10 tahun lebih tua” kak Rama
menakuti. Aku tersenyum sekilas.
“Kan sayang kalo’ orang
cantik kayak kamu jadi jelek. Apalagi banyak yang sayang dan bisa kasih masukan
sama kamu” ucap kak Rama.
“Nggak kok. Cuma teringat
sekilas aja. Paling besok udah lupa lagi. So, kakak tenang aja. Nggak usah
khawatir. And, one again. Thank’s udah bilang aku cantik. Tau aja kakak ini
kalo’ aku cantik” jawabku sambil mengelus pipiku seperti cewek centil. Kak Rama
tertawa.
Sudah 2 tahun berlalu
tanpa Radit. Tapi biar gini, aku masih sering ke makamnya Radit lho! Habis,
Radit nggak pernah bisa aku lupain sih. Tapi juga nggak aku ingat
terus-menerus, seperti apa yang pernah dikatakan mas Dio. Dan seperti amanat
Radit, aku harus selalu ceria. NYEESSHH! Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku.
“Kyaaa!” seruku seraya
memegang pipiku.
“Ha...ha... Kaget, ya?”
Maaf, deh. Habis kamu ngelamun terus sih. Nih, kak Yoga yang paliiiing baik
sedunia ini bawain es krim coklat, strawberry, sama vanilla untuk Cherry
kesayanganku!” ucap kak Yoga yang tengah membawa tas plastik yang berisi 3 buah
es krim favoritku.
“Makasih, ya?” jawabku
nggak bersemangat. Kak Yoga terlihat kaget. Entah karena jawabanku ataupun
reaksiku. Ia langsung merangkul pundakku.
“Cherry sayang, kok gitu?
Semangat dong!” bujuk kak Yoga.
“Aku ‘kan habis pulang
sekolah. Capek dong. Kalo’ dipijat baru bisa semangat” jawabku asal.
“Ya udah, deh. Ntar mau
dimassage? Sauna? Spa? Atau apa?” promosi kak Yoga.
Aku tersenyum, “Kalo’ bisa
sih semuanya”. Kak Yoga mengusap... tepatnya mengacak rambutku.
“Aduh, rambutku jadi
berantakan lagi! Padahal tadi malam udah dicreambath, disisir rapi-rapi, dan
segalanya agar supaya rambut lembut, halus, dan berkilau. Ini malah
diberantakin lagi” gerutuku seperti cewek kecentilan. Kak Yoga tertawa. Diikuti
seluruh teman kak Yoga, temenku juga sih...
“Makan malam bikin apa
nih?” tanya kak Dito.
“Huuu!!! Makanan terus!!!”
seru semuanya.
“Ke teras, yuk?” ajak kak
Rama. Aku mengangguk. Setelah berada di teras, kami duduk di kursi(ya iyalah).
Ada apaan, ya, kok tiba-tiba kak Rama ngajak aku ke teras?
“Rin” panggilnya. Aku
menoleh. “Di sekolahmu ada cowok yang menarik perhatianmu nggak?”
Aku menggeleng, “Nggak.
Satu-satunya cowok yang menarik perhatianku dulu cuma Radit. Dan sekarang belum
ada”
“Oh” sahutnya singkat.
“Ng... kamu mau
jalan-jalan?” ajaknya. Aku mengangguk, “Kapan?”
“Hari Minggu jam... 10.
Ok?” tawarnya sambil menjulurkan kelingkingnya.
Aku membalasnya, “Ok”
X X X
“Minum, siap. Makanan,
siap. Snack perjalanan, siap. Baju ganti, siap. Kamera digital, siap. Apa lagi,
ya?” aku menggaruk-garuk kepalaku.
“Hand body? Sisir? Bedak?
Peralatan kosmetik?” tanya kak Reza.
“Emangnya kita mau buka
salon?” tanyaku. Kami semua tertawa.
“Hand phone? Dompet?”
tanya kak Rama.
“Nah! Itu dia! Makasih”
ucapku seraya berlari ke kamar untuk mengambil hand phone dan dompet. Selesai
itu, kami segera pergi. Pertama kami pergi ke pantai Parang Tritis. Wuah,
keren! Di sana, kami bermain air dan berphoto bersama. Ke dua, kami pergi ke
Candi Prambanan. Aku memasuki candi utamanya. Di dalam sana memang gelap, tapi
aku bisa melihat patung Roro Jonggrang. Sejarahnya lumayang bagus sih
menurutku. Lalu, di sana aku juga menaiki bus mini yang mengitari wilayah
sekitar Candi Prambanan. Di dekat Candi Prambanan, ada Candi Sewu juga lho! Apa
iya, candinya ada seribu? Hi...hi...
“NYESSHHH!” serasa ada
sesuatu yang dingin menyentuh pipiku mulai kemarin.
“Kyaaa!” seruku.
“Nih” ucap kak Rama yang
tengah membawakan es krim Wall’s yang pelangi padaku.
“Iih, udah ngagetin orang
kok nggak minta ,maaf?” aku protes.
“Oh, jadi aku harus minta
maaf?” tanya kak Rama.
“Nggak perlu. Udah
berkali-kali kena. Kalo’ aku maafin, pasti seterusnya aku bakalan dikenain
lagi” aku sewot. Kak Rama tertawa geli mendengarnya.
“Habis ini mau ke mana?”
tanyanya.
“Candi Borobudur”
singkatku tersenyum pasti.
“Yuk?”. Aku segera menaiki
mobil APV milik kak Dito. Sesampainya di Candi Borobudur, kami berenam berlomba
siapa yang lebih cepat menuju ke puncak Candi. Aku sekilas melihat kak Dito
yang mati-matian agar bisa sampai ke puncak Candi. Kasihan. 10 menit saat
menunggu kak Dito sampai ke puncak Candi. Kami berphoto bersama lagi. Kak Reza
meminta seorang bapak... maksudnya turis untuk memotret kami. Selesai itu, kami
turun ke bawah untuk makan di depan mobil beralas tikar. Hari ini aku membawa
nasi (jelas dong!), ayam goreng, lalapan, telur goreng, nugget, sosis, dan yang
pasti minum! Untuk pencuci mulutnya, aku cuma membawa jeruk dan apel.
“Habis ini ke mana?” tanya
kak Ardi.
“Ke Sarangan!” seruku.
“Boleh. Kalian gimana? Mau
nggak?” tanya kak Yoga.
“Ok. Abis makan, ya?” ucap
kak Dito yang mulutnya dipenuhi ayam dan lalapan. Kami tertawa, again...
Sesampainya di Sarangan,
kami berebut untuk berkuda. Aku memilih kuda berwarna putih, karena itu warna
kesukaanku. Setelah puas berkuda, kami menaiki dokar, umumnya dibilang delman
kali, yah? Setelah capek, kami beristirahat di sebuah taman bermain anak-anak.
“Ada yang mau aku
bicarain. Ikut, yuk?” ajak kak Rama. Aku menurut. Kami pergi ke tempat ayunan.
“Mau ngomong apa?”
tanyaku.
“Gini, aku mau nanya...
ng...” kak Rama seakan bingung apa yang ingin ia katakan. Perasaan ini... kayak
waktu aku mau ditembak sama Radit. Tapi, nggak mungkin ah~! Aku ini GR banget
sih!
“Kamu mau jadi pacarku?”
tanya kak Rama. Aku kaget. Tuh ‘kan bener! Aku ditembak! Mati deh... he...
he... Waduh, aku bingung nih mau jawab apa.
“Ya... aku tau, kamu masih
belum bisa ngelupain Radit. Aku cuma mau ngasih tau aja kok ke kamu”
“Kalo’ aku terima kakak,
emang kakak bisa apa?” tanyaku menantang.
“Ya... aku memang nggak
bisa ngasih kamu banyak. Tapi aku bakalan berusaha untuk memenuhi apapun yang
kamu mau” jawabnya.
“Cie.... kata-katanya...
Kayak di sinetron aja” godaku. Kak Rama menggenggam tanganku.
“Rin, kali ini aku serius.
Super serius” kak Rama berusaha meyakinkan.
“Ya... kalo’ gitu... maaf
deh...” ucapku menggantung.
“Nggak papa kok. Aku juga
bisa terima” kata kak Rama.
“Maaf, ya? Aku nggak bisa
nerima kakak. Perasaanku masih banyak tertumpah sama Radit. Aku belum
bener-bener bisa ngelupain Radit. Mungkin suatu hati nanti, aku bisa nerima
kakak. Tapi nggak tau kapan, dan aku juga nggak tau apa kakak bisa nerima aku
lagi atau nggak. Sekali lagi sorry, ya?” jelasku.
“Iya, nggak papa lagi. Oh,
ya? Biarpun begini... kita masih temenan ‘kan?” tanya kak Rama.
“Of cours” sahutku. Kami
segera kembali berkumpul bersama dengan yang lainnya. Tepat jam 7 sore, kami
sampai di rumah. Ngh... capeeeek banget! Dan hari-hariku akan lebih disibukkan
lagi oleh sesuatu yang akan datang esok hari. Yang penting, jalanin aja dengan
hati yang sabar dan tabah. Aku yakin, masalah tersebut, insya Allah bisa
dilewati. Ok?
Dear Radit di sana,
Apa
aku bisa ketemu cowok yang kayak kamu lagi, Dit? Kapan, ya aku bisa sama-sama
kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar