“Vivi!” seruan Dian terdengar ke telingaku. Ia
memanggilku untuk datang ke samping aula. Ya! Tempat dia berada.
“Halo! Eh, si Claudine udah datang?” tanyaku pada Dian
dan Siska.
“Ya belum dong. Tau ‘kan si Caludine... Si TELAT” canda
Dian.
Kami tertawa. Tapi 10 detik kemudian setelah kami
tertawa, tiba-tiba
“DOR!!!” seru someone yang suaranya tidak asing lagi di telinga. Dan serentak, kami bertiga kaget.
“DOR!!!” seru someone yang suaranya tidak asing lagi di telinga. Dan serentak, kami bertiga kaget.
“HUWAAA!!!”
“Kamu ini bikin kaget aja, Dine!” omel Dian. Claudine
tertawa.
“Tapi tadi kita baru aja ngomongin kamu” Siska memberi
tahu.
“Oh,ya? Pantas tadi aku bersin-bersin di jalan” canda
Claudine. Kami tertawa lagi.
Yah...benar. Selama aku di sekolah, aku sama sekali nggak
tahu “SEDIH” itu seperti apa. Yang kutahu cuma gembira, senang, tawa, canda,
dan keceriaan. Kalau di rumah sih kadang-kadang kebalikannya. Terkadang kalau
aku sedang marah di rumah, aku ngelampiasin kemarahanku di kamar dan menangis.
Guling, bantal, selimut, bonekaku (Kitty, Vito, Vindy, Vian, Viola, Olivia),
dan semua benda mati di kamarku, menjadi saksi bisu tangisanku. Tapi itu jarang
banget terjadi. Karena aku selalu disayang oleh keluargaku.
By the
way about keluargaku, papaku seorang manager di perusahaan ternama. Sedangkan
mamaku, seorang karyawan di Bank. Adikku murid SD Teladan 001 kelas 6 SD dan 1
tahun lagi ia akan se-sekolah denganku!!!
“Eh, Vivi! Bengong aja! Yuk ke atas!” ajak Claudine
membuyarkan lamunanku.
“Eh? Oh, iya-iya. Ayo” ucapku.
Di kelas, kami bercanda...
“Eh, eh, tau nggak? Kemarin aku jalan ke mall, terus
ketemu sama kak Ardian lho!” goda Dian.
“Yang bener??” tanyaku cepat.
“Langsung!!!” canda Dian dan Claudine.
“A-ah! Kalian!!!” dengusku.
“KRIIING!!! KRIIING!!! KRIIIING!!!” bel berbunyi dan
mengakhiri canda kami. Tapi nggak! Karena gurunya masih penataran di luar kota.
So, kita masih FREE!!! Kami ber-3 (Aku, Claudine, Dian) masuk di kelas 8-5.
Sedangkan Siska masuk kelas 8-4. Kami berempat mempunyai musuh (Cieee) di kelas
8-4, tapi bukan Siska. Melainkan Lisa. Kenapa kami membenci Lisa??? Pertanyaan
yang bagus untuk ditanyakan. Kami punya 6 alasan Yaitu :
1. Karena dia selalu ngikutin kami kemana-mana (termasuk WC)
1. Karena dia selalu ngikutin kami kemana-mana (termasuk WC)
2. Karena dia ke-GR-an waktu kami manggil Siska, dia yang
noleh
3. Karena dia jalannya kayak top model. Tapi menurutku
kayak bebek.
4. Karena dia super sok
tahu. Waktu kita bicarain something, dia
always sok tahu! Begitu ditanya, eh... jangan harap dapat yang positif. Nol
besar dech!
5. Karena dia suka
marah-marah tanpa sebab
6. Karena dia manja banget! Kalo udah manja, bibir bisa
maju!!!
Sebel nggak sih sama orang kayak gitu selama
setahun????????????
SESAAT SEBELUM PULANG SEKOLAH, , , , ,
,
“Sampai besok anak-anak.
Dan jangan lupa...” ucap bu Risa terputus because...
“BRAAAAK!!!!!” terdengar suara seperti... orang
berkelahi. Bu guru dan seluruh siswa yang berada di dekat situ jadi penasaran
dan melihat keluar. Ternyata Kak Ryo dan Defri yang berkelahi.
“MAKANYA,
JADI ORANG JANGAN BANYAK GAYA!!!” bentak Kak Ryo. Sedangkan Defri menahan sakit
karena pipinya ditampar. Satu pukulan lagi di daratkan Kak Ryo ke pipi Defri
hingga beberapa cairan merah keluar dari hidung dan bibir Defri. Waduuuh...
Pasti...
“Sakit,ya?” celetukku.
“Ya iyalah, Vi! Namanya juga keluar darah!” ucap Dian.
“Tapi ada kok yang ngeluarin darah tapi sama sekali nggak
sakit” bantahku.
“Apa?” tanya Claudine.
“Itu... strawberry
moon”. Strawberry moon adalah julukanku untuk haid. Kesannya biar agak
sopan gitu. Padahal sama sekali nggak nyambung! Kami tertawa! Aneh. Padahal ada
orang kelahi. Kok malah ketawa? Setelah itu, ada seorang guru melerai dan
akhirnya selesai. Pelaku dan korban (Cie..ni cerita atau berita??) dibawa oleh
guru ke ruang BK. Iiiih... bakalan kena hukuman loe!!! Sapa suruh kelahi! Ada
guru lagi! Kami pun disuruh pulang.
“Iiiih... serem banget,ya??? Masa’ dipukul sampe’
segitunya?” Siska berkomentar.
“Yah. Sebenernya orang yang ngajak kelahi yang bodoh.
Tahu juga sekolah. Masih aja dibuat arena tinju!! Apa nggak mikir bisa
dimasukkan ke ruang BK??? ‘Kan parah tuh sampe’ dimasukkan ruang BK.” komentar
Claudine.
“Yah... Itulah namanya manusia. Ada yang punya otak
dipake dan ada yang punya otak tapi sama sekali nggak mau dibuat kerja. Orang
mabuk-mabukkan itu juga nggak dipake’ kerja ‘kan otaknya. Cuma minum-minuman
keras aja tiap hari,” komentarku.
Setelah itu aku menelepon pak Andri untuk menjemputku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar