Senin, 20 Mei 2013

Part 2 - Sahabatku



            “Vivi!” seruan Dian terdengar ke telingaku. Ia memanggilku untuk datang ke samping aula. Ya! Tempat dia berada.
            “Halo! Eh, si Claudine udah datang?” tanyaku pada Dian dan Siska.
            “Ya belum dong. Tau ‘kan si Caludine... Si TELAT” canda Dian.
            Kami tertawa. Tapi 10 detik kemudian setelah kami tertawa, tiba-tiba
            “DOR!!!” seru someone yang suaranya tidak asing lagi di telinga. Dan serentak, kami bertiga kaget.
            “HUWAAA!!!”

            “Kamu ini bikin kaget aja, Dine!” omel Dian. Claudine tertawa.
            “Tapi tadi kita baru aja ngomongin kamu” Siska memberi tahu.
            “Oh,ya? Pantas tadi aku bersin-bersin di jalan” canda Claudine. Kami tertawa lagi.
            Yah...benar. Selama aku di sekolah, aku sama sekali nggak tahu “SEDIH” itu seperti apa. Yang kutahu cuma gembira, senang, tawa, canda, dan keceriaan. Kalau di rumah sih kadang-kadang kebalikannya. Terkadang kalau aku sedang marah di rumah, aku ngelampiasin kemarahanku di kamar dan menangis. Guling, bantal, selimut, bonekaku (Kitty, Vito, Vindy, Vian, Viola, Olivia), dan semua benda mati di kamarku, menjadi saksi bisu tangisanku. Tapi itu jarang banget terjadi. Karena aku selalu disayang oleh keluargaku.
By the way about keluargaku, papaku seorang manager di perusahaan ternama. Sedangkan mamaku, seorang karyawan di Bank. Adikku murid SD Teladan 001 kelas 6 SD dan 1 tahun lagi ia akan se-sekolah denganku!!!
            “Eh, Vivi! Bengong aja! Yuk ke atas!” ajak Claudine membuyarkan lamunanku.
            “Eh? Oh, iya-iya. Ayo” ucapku.
Di kelas, kami bercanda...
            “Eh, eh, tau nggak? Kemarin aku jalan ke mall, terus ketemu sama kak Ardian lho!” goda Dian.
            “Yang bener??” tanyaku cepat.
            “Langsung!!!” canda Dian dan Claudine.
            “A-ah! Kalian!!!” dengusku.
            “KRIIING!!! KRIIING!!! KRIIIING!!!” bel berbunyi dan mengakhiri canda kami. Tapi nggak! Karena gurunya masih penataran di luar kota. So, kita masih FREE!!! Kami ber-3 (Aku, Claudine, Dian) masuk di kelas 8-5. Sedangkan Siska masuk kelas 8-4. Kami berempat mempunyai musuh (Cieee) di kelas 8-4, tapi bukan Siska. Melainkan Lisa. Kenapa kami membenci Lisa??? Pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan. Kami punya 6 alasan Yaitu :
1. Karena dia selalu ngikutin  kami kemana-mana (termasuk WC)
2. Karena dia ke-GR-an waktu kami manggil Siska, dia yang noleh
3. Karena dia jalannya kayak top model. Tapi menurutku kayak bebek.
4. Karena dia super sok tahu. Waktu kita bicarain something, dia always sok tahu! Begitu ditanya, eh... jangan harap dapat yang positif. Nol besar dech!
5. Karena dia suka marah-marah tanpa sebab
6. Karena dia manja banget! Kalo udah manja, bibir bisa maju!!!
            Sebel nggak sih sama orang kayak gitu selama setahun????????????
SESAAT SEBELUM PULANG SEKOLAH, , , , , ,
            “Sampai besok anak-anak.  Dan jangan lupa...” ucap bu Risa terputus because...
            “BRAAAAK!!!!!” terdengar suara seperti... orang berkelahi. Bu guru dan seluruh siswa yang berada di dekat situ jadi penasaran dan melihat keluar. Ternyata Kak Ryo dan Defri yang berkelahi.
“MAKANYA, JADI ORANG JANGAN BANYAK GAYA!!!” bentak Kak Ryo. Sedangkan Defri menahan sakit karena pipinya ditampar. Satu pukulan lagi di daratkan Kak Ryo ke pipi Defri hingga beberapa cairan merah keluar dari hidung dan bibir Defri. Waduuuh... Pasti...
            “Sakit,ya?” celetukku.
            “Ya iyalah, Vi! Namanya juga keluar darah!” ucap Dian.
            “Tapi ada kok yang ngeluarin darah tapi sama sekali nggak sakit” bantahku.
            “Apa?” tanya Claudine.
            “Itu... strawberry moon”. Strawberry moon adalah julukanku untuk haid. Kesannya biar agak sopan gitu. Padahal sama sekali nggak nyambung! Kami tertawa! Aneh. Padahal ada orang kelahi. Kok malah ketawa? Setelah itu, ada seorang guru melerai dan akhirnya selesai. Pelaku dan korban (Cie..ni cerita atau berita??) dibawa oleh guru ke ruang BK. Iiiih... bakalan kena hukuman loe!!! Sapa suruh kelahi! Ada guru lagi! Kami pun disuruh pulang.
            “Iiiih... serem banget,ya??? Masa’ dipukul sampe’ segitunya?” Siska berkomentar.
            “Yah. Sebenernya orang yang ngajak kelahi yang bodoh. Tahu juga sekolah. Masih aja dibuat arena tinju!! Apa nggak mikir bisa dimasukkan ke ruang BK??? ‘Kan parah tuh sampe’ dimasukkan ruang BK.” komentar Claudine.
            “Yah... Itulah namanya manusia. Ada yang punya otak dipake dan ada yang punya otak tapi sama sekali nggak mau dibuat kerja. Orang mabuk-mabukkan itu juga nggak dipake’ kerja ‘kan otaknya. Cuma minum-minuman keras aja tiap hari,” komentarku.
            Setelah itu aku menelepon pak Andri untuk menjemputku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar