Senin, 20 Mei 2013

Part 8 - Selamat Tinggal Radit



            “Aku kangen banget sama kamu!” ucap Radit seraya memelukku dengan erat di bandara.
            “Iya, aku juga”. Aku sudah berpikir tentang Radit. Pada saat-saat terkhirnya aku harus membahagiakan dia. Walaupun berat, aku harus terima kenyataan, bukannya dihindari. Seperti kata kakak, ‘bilang selamat tinggal memang butuh sedikit keberanian, tapi nggak menakutkan’.
            “Aku antar kamu pulang, ya?” tawar Radit. Aku mengangguk. Kami segera keluar dari bandara.
            “Dit, aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?” tanyaku.
            “Boleh dong. Emang kamu mau tanya apa?”
            “Impianmu yang paling akhir apa?” tanyaku. Radit terlihat bingung dengan kalimat tanyaku.
            “Maksudnya?” tanyanya.

            “Ya... misalnya dunia ini mau kiamat, kamu mau apa saat itu?” tanyaku lagi.
            “Ng... Aku mau kamu ada di sampingku”jawabnya.
            “Gitu?” tanyaku. Radit mengangguk, “Kamu sendiri apa?”.
            “Sama aja deh” ucapku. Aku memandang ke arah langit, “Langitnya bersih, ya, Dit?”.
            “BRUUK!!!”. Tiba-tiba Radit jatuh... pingsan! Aku segera kalang kabut meminta tolong kepada orang yang berada di sekitar situ untuk membawa Radit ke rumah sakit. Dalam perasaan kacau, aku berlari mengikuti Radit yang dibawa oleh suster-suster sampai ke depan pintu ruang ICU.
            “Maaf, dik. Adik tidak diperkenankan masuk. Jadi harap tunggu di sini saja” ucap suster itu. Aku menurut dan menangis tersedu-sedu di depan pintu ruang ICU. Perasaanku benar-benar kacau sekarang. Kenapa aku baru pulang sekarang? Kenapa nggak kemarin-kemarin? Padahal kemarin juga aku belanja di mall dengan hati yang gembira tanpa beban pikiran. Aku nggak peduli saat itu Radit sedang apa. Ini semua salahku! Kalo’ ngomong sama kakak ‘kan bisa lewat telepon! Kenapa harus ke Surabaya? Aku memang manja! Aku nggak bisa menyelesaikan masalahku dengan kepala dingin! Apapun yang terjadi pada Radit nanti, itu semua adalah salahku! 10 menit... 20 menit... 1 jam... 4jam... aku menunggu hingga seseorang keluar dari ruangan itu. Dan selama itu pula aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi pada Radit saat ini.
            “GREK!” pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter dan beberapa orang suster terlihat. Aku segera menghampiri mereka.
            “Dokter, gimana keadaan Radit?” tanyaku penasaran.
            “Dia tidak apa-apa. Tapi...” dokter itu seakan ragu untuk berbicara lebih lanjut.
            “Tapi apa?” tanyaku.
            “Kankernya sudah menyebar ke seluruh jaringan otaknya. Mungkin umurnya sisa... beberapa hari lagi. Jadi, sebaiknya turuti saja apa yang dia mau. Permisi” ucap dokter itu seraya pergi. Ucapan dokter itu seakan seperti  petir yang amat sangat dahsyat menggelegar di telingaku. Hatiku sakiit sekali! Mataku panas dan tak terasa air mataku jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin. Aku memasuki kamar di mana Radit terbaring dengan lemah. Ia tertidur. Perlahan, matanya terbuka. Menatapku dengan tatapan yang sayu.
            “Kamu jangan nangis untuk aku” ringkihnya. Air mataku tertumpah lebih deras. Wajah Radit nggak secerah dulu. Bibirnya pucat, nggak tersenyum selepas dulu. Tangannya nggak kuat main tenis lagi bersamaku. Matanya nggak memancarkan kebahagiaan lagi. Semua yang ada sama Radit udah hilang, kecuali perasaannya. Radit yang di depanku sekarang bukan Radit yang dulu.
            “Maaf, ya? Aku nggak ngasih tau tentang penyakitku ke kamu? Aku... nggak mau kenangan yang buruk yang pernah aku alami di SMP terjadi lagi” jelasnya. Aku masih menangis. Nggak tau apa yang harus aku katakan padanya.
            “Waktu SMP, aku pernah pacaran sama cewek, namanya Charelia. Dia biasa dipanggil Charel. Aku sempet pacaran sama dia 2 Minggu. Soalnya... tepat di hari keempat belas itu, aku bilang kalo’ aku mengidap penyakit ini. Dia tiba-tiba nangis dan langsung mutusin aku. Yah... mungkin kamu mikir kalo’ aku ini egois karena nggak ngasih tau kamu tentang penyakitku ini. Tapi itu aku lakukan karena aku nggak mau orang yang aku cinta mutusin aku untuk kedua kalinya. Cukup Charel aja. Tapi kalo’ kamu mau mutusin aku sekarang, aku ikhlas kok. Tapi ada satu hal yang aku mau kasih tau kamu...” ucapnya. Perlahan tangannya digerakkan ke wajahku dan mengusap air mataku. Tangannya nggak sehangat dulu lagi.
            “Aku cinta banget sama kamu”
            “Aku nggak bakalan mutusin kamu kok, karena aku juga cinta sama kamu” ucapku dengan suara serak.
            “Bukan karena kasihan?” tanyanya.
            Aku menggeleng, “Buat apa aku pacaran kalo’ cuma dengan perasaan kasihan? ‘Kan sayang predikatnya” aku mencoba untuk tersenyum. Radit mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya.
            “Kamu jangan bangun dulu! Badanmu masih...”
            “Nggak papa kok. Aku ‘kan kuat” ucapnya.
            “Dasar! Masih sakit gini bercanda aja” aku sebal.
            “He...he... Kamu lucu deh kalo’ lagi ngambek gitu” ucapnya tengah mencubit pipiku. Aku tersenyum dan jatuh dalam dekapan Radit.
X                     X                     X
            “Dhani udah keluar dari rumah sakit?” tanyaku. Ran menggeleng.
            “Ke rumah sakit, yuk?” ajakku. Ran mengangguk dengan semangat.
            “Tapi kita beli buah dulu di swalayan” pinta Ran. Aku mengangguk. Sebenernya alasan kenapa aku mau pergi ke rumah sakit―tempat yang paling kubenci― adalah mau ketemu sama Radit. Orang yang sangat aku sayangi. Orang yang paling baik yang pernah kutemui selama ini. Orang yang telah memberi warna dalam setiap hari-hariku. Dan orang yang akan meninggalkanku untuk selamanya.
            “Kenapa, Rin? Kok melamun?” tanya Ran.
            “Ah, nggak kok. Nggak papa” ucapku berusaha menghindar. Mata Ran mulai menyelidik. Seakan ia tahu apa yang sedang terjadi padaku.
            “Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku” tuduhnya.
            “Nyembunyiin apa?” tanyaku berusaha mengelak.
            “Rin, kita ini sahabat. Jadi kalo’ aku punya masalah, aku pasti cerita sama kamu. Begitu juga sebaliknya. Ayo dong...” pinta Ran dengan wajah memelas. Aduh, gini deh susahnya. Nggak ada yang bisa lepas dari tatapan melas Ran.
            “Ng... sebenernya...” aku mulai menceritakan masaalahku pada Ran.
            “Jadi alasanmu pergi ke Surabaya itu bukan karena ada urusan keluarga? Tapi kamu mau curhat sama kakakmu?”tanya Ran. Aku mengangguk.
            “Ya udah. Aku bisa ngerti kok. Nanti kita ke rumah sakit, aku ke ruangannya Dhani, terus kamu ke ruangannya Radit?” tanyanya.
            “Iya” simpleku.
X                     X                     X
            “Kamu mau beli apa aja?” tanyaku.
            “Ng... apel Washington aja. Dhani suka kalo’ dibawain itu” jawab Ran. Akupun memilih apel yang sama. Terdengar di sebelahku suara seorang kakak-kakak SMU.
            “Itu nah, ada cowok cakep. Kayaknya nggak penyakitan kayak mantanmu” ujarnya. Hih! Ucapannya kok kenanya di hatiku? Pacarku ‘kan lagi sakit!
            “Iya, sih. Tapi aku masih nggak bisa ngelupain Radit” jawab salah satunya. Hah? Radit? Yang dimaksud Raditku?
            “Ya ampun, Charel! Kamu ini selalu Radiiit terus! Lama-lama kamu bisa gila gara-gara mikirin dia!” ucap temannya. Charel? Jangan-jangan...
            “Ran, nih titip, ya? Pinjam uangmu dulu. Ntar di taxi aku ganti. Aku ada urusan sebentar. Ya? Please me” pintaku. Ran mengangguk. Aku segera mendatangi 2 orang kakak tersebut.
            “Permisi, kak. Kakak yang namanya kak Charelia?” tanyaku. Orang itu mengangguk. Ya ampun! Ni cewek manis banget! Pantes aja Radit suka. Tapi... kenapa dia mau sama aku yang biasa-biasa aja, ya?
            “Tadi saya sedikit denger kakak nyebut nama Radit. Yang kakak maksud itu Raditya Putra Pratama?” tanyaku.
            “Iya, kamu tau dari mana?” tanyanya balik.
            “Saya mau ngomong empat mata sama kakak. Gimana kalo’ kita ngomongnya di kafe aja?” tawarku. Kak Charel segera menyetujuinya. Kami segera pergi ke kafe dan duduk di kursi meja nomor 2, angka favoritku dan Radit.
            “Radit dulu suka angka 2” ucap kak Charel.
            “Sampe’ sekarang dia masih suka kok” sahutku.
            “Oh, ya. Dari mana kamu tau tentang Radit?” tanyanya.
            “Karena aku sekarang pacarnya” jawabku.
            “Sekarang? Maksudnya Radit masih hidup?” tanyanya.
            “Kenapa kakak mutusin dia? Apa karena dia mengidap penyakit kanker?” tanyaku. Kak Charel mengangguk.
            “Kayaknya jangan manggil aku kak. Kurang sreg kalo’ ngomong tentang Radit” ucapnya.
            “Ok, Charel. Kamu sebenernya cinta nggak sih sama Radit? Sampai-sampai kamu buka acara mutusin dia segala?” ketusku.
            “Aku sayang banget sama dia...”
            “Terus kenapa kamu mutusin dia? Kamu tau nggak sih, yang namanya cinta itu selalu bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kalo’ cuma terhalang sama penyakit aja, semua orang ‘kan wajar kalo punya penyakit” serangku.
            “Iya, aku tau. Sebenernya alasanku mutusin dia bukan karena dia punya penyakit kanker. Kamu bener, kalo’ cinta itu bisa menerima segala kekurangan masing-masing. Tapi apa dia bisa nerima kalo aku sudah nggak suci?” tanyanya.
            “Hah? Nggak suci? Maksudnya?” tanyaku nggak ngerti.
            “Waktu aku kelas 2 SMP, pada hari ke 13 kami pacaran, aku diantar pulang sama Radit. Radit mau ngantar aku sampe depan rumah, karena di gang yang aku lewati banyak premannya. Radit takut kalo’ aku diapa-apain. Tapi aku nolak untuk diantar sampe’ depan rumah. Karena waktu itu aku nyombongin diriku yang baru belajar ilmu bela diri. Setelah sedikit berdebat, akhirnya Radit mengalah. Terus aku jalan melewati gang itu...” Charel menarik napas untuk melanjutkan pembicaraannya.
            “Karena aku tau biasanya preman di situ nggak lebih dari 2 orang. Jadi aku jalan dengan tenang aja. Tapi ternyata, mereka bawa temen-temen mereka, jumlahnya... banyak. Awalnya aku hanya disiulin. Tapi aku nggak menggubrisnya. Ada salah satu dari mereka yang nekad menghadangku. Aku masih bisa menghajarnya. Tapi mereka semua langsung mengitariku. Sampe aku kalah dan...” jelasnya mulai terisak.
            “Diperkosa?” tebakku. Charel mengagguk.
            “Ya ampun! Jadi karena itu kamu mutusin Radit?” tanyaku. Ia mengangguk lagi.
            “Hari ke 14nya aku langsung mutusin dia. Karena kebetulan dia juga udah ngomong kalo dia kena penyakit itu. Jadi aku nggak perlu ngomong yang sebenernya”jawabnya.
            “Terus... kamu... nggak.... itu...” tanyaku sambil menggerakkan tanganku membentuk bola di depan perut. Maksudnya sih... hamil.
            “Ya, tapi papaku maksa untuk menggugurkan kandunganku yang masih 2 hari. Sejak itu, aku selalu malu bertemu sama Radit. Aku ngerasa udah nyakiti perasaannya. Aku juga ngerasa jadi cewek paling kotor dan paling menjijikkan untuk ketemu Radit” jelasnya.
            “Tapi Radit pasti masih mau nerima kamu” jawabku.
            “Nggak mungkin. Radit nggak bakalan nerima aku. Aku udah kotor” jawabnya.
            “Charel, Radit itu orangnya baik. Dia selalu bisa nerima kekurangan orang lain. Jadi, kalaupun dia nggak bisa nerima kamu, dia pasti menolak secara baik-baik. Jangan takut ketemu dia. Dia nggak gigit kok” ucapku berusaha menenangkannya.
            “Bener?” tanya Charel sangsi. Aku mengangguk.
            “Aku bisa ketemu dia sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk.
            “Yuk?” ajakku. Kami segera pergi ke rumah sakit. Uangnya Ran juga udah aku ganti tentunya! Sesampainya di rumah sakit, kami berjalan di koridor menuju ke kamar perawatan nomor 279. Terlihat Radit sedang menonton TV.
            “Charel tunggu sebentar di sini, ya? Aku bujuk dia dulu” pintaku. Charel menurut.
            “Radit” sapaku. “Gimana keadaan kamu?” tanyaku.
            “Baik. Aku rasa udah lebih baik dari kemarin” jawabnya
            “Syukur deh kalo’ gitu”
            “Biar gini, tetep aja nanti aku nggak bakalan ada di dunia ini” jawabnya.
            “Kok putus asa gitu. Aku ‘kan jadi sedih. Katanya kamu nggak mau ngelihat aku sedih?” aku merajuk.
            “Iya. Sorry, ya?” ucapnya. Aku mengangguk.
            “Oh, iya. Radit, kamu mau nggak ketemu sama Charel lagi?” tanyaku.
            “Buat apa?” tanya Radit.
            “Ya... dia mau ngejelasin semuanya. Termasuk alasan dia mutusin kamu” jawabku.
            “Kan karena aku kena penyakit ini” jawabnya.
            “Ah~ Radit sok tau. Dia punya alasan yang lebih jelas. Radit mau, ya dengerin dia?” pintaku.
            “Iya deh. Tapi ini demi kamu” jawabnya. Aku tersenyum.
           “Charel, masuk aja sekarang” aku mempersilahkan. Ia tampak takut untuk mengangkat wajahnya.
            “Kok Charel kayak takut gitu? ‘Kan tadi aku udah bilang kalo’ Radit nggak gigit? Udah gih, sana jelasin semuanya” perintahku. Aku segera keluar dari ruangan. Duduk di depan kamar perawatannya Radit. Hm... kira-kira Radit bakalan mau nerima Charel lagi nggak, ya? Tapi kalo’ Radit nerima Charel lagi berarti aku sama Radit jadi putus dong? Nggak mau ah~! Radit boleh aja dengerin Charel, tapi jangan nerima dia jadi pacarnya lagi! Cukup jadi teman aja! Titik!
            “Rin?” sapa seseorang. Aku menoleh.
            “Mas Dio? Ngapain di sini?” tanyaku.
            “Mau jenguk Radit. Aku masuk, ya?” ucap mas Dio seraya hampir memasuki ruangannya Radit. Aku segera menarik lengannya.
            “Jangan! Radit masih bicara sama mantannya” cegahku.
            “Oh, ya udah. Aku nunggu di sini sama kamu aja” jawabnya. Aku mengangguk. 15 menit... ngomong apa aja sih mereka? Lama banget. Aku mengintipnya melalui kaca yang terdapat di pintu. DEG! Mereka... berpelukan? Apa Radit menerima Charel kembali? Ya... memang sih itu hak mereka. Dan itu juga karena aku mempertemukan mereka. Sekarang aku harus terima akibatnya. Aku berlari meninggalkan rumah sakit.
            “BRUUK!” aku menabrak seseorang di pintu masuk rumah sakit.
            “Maaf” simpleku. Orang itu menghentikanku saat aku ingin berlari lagi.
            “Kamu Rin, ‘kan?” tebaknya. Aku melihat orang tersebut.
            “Kak Rama? Ngapain kakak di sini?” tanyaku.
            “Tadi sih sebenernya aku mau ketemu sama kamu di rumah. Tapi ada orang yang tinggal di rumahmu bilang, kalo’ kamu ke rumah sakit. Jadi aku nyusul kamu” jelas kak Rama. “Kenapa? Kok lari tanpa lihat-lihat?”.
            “Nggak. Nggak papa” jawabku. “Oh, ya? Kak Yoga juga ke sini?”. Kak Rama menggeleng.
            “Rin, makasih, ya kamu udah mempertemuin aku sama Radit? Aku seneng banget. Kamu bener. Kalaupun Radit nolak aku, dia nolak secara baik-baik. Sekarang, dia mau ketemu sama kamu” ucap Charel.
            “Oh, ya, aku ke sana sekarang” jawabku. “Kak Rama, kakak ke rumah aja dulu. Kalo’ urusanku udah selesai, pasti aku pulang. Ya?”.
“Aku langsung pulang aja. Tadi aku cuma disuruh Yoga ke sini untuk ngelihat keadaan kamu aja. Ya udah, kamu sana gih”. Aku segera menuju ke kamar perawatan Radit.
            “Kamu nolak.... Charel?” tanyaku.
            “Iya” sahutnya.
            “Kenapa?” tanyaku.
           “Karena aku nggak mau nyakitin perasaan orang yang kali ini bener-bener aku cinta” jawab Radit.
            ‘Tapi tadi aku lihat kamu pelukan sama dia” jawabku mulai ngambek.
            “Dia mau aku peluk untuk terakhir kalinya. Yah... sebagai tanda persahabatan kembali juga” jawab Radit.
            “Oh, aku kira kamu sama dia mau balikan lagi” jawabku.
            “Nggak dong” ucap Radit seraya menarikku untuk jatuh ke dalam dekapannya. 5 menit kami berpelukan, tiba-tiba Radit mengaduh. Aku segera kalang kabut memanggil dokter. Ia masuk ruang ICU... lagi. Radit nggak boleh ninggalin aku sekarang! Dia harus selamat. Harus! Masih banyak yang mau aku lewatkan bersama-sama dia! Aku belum puas jika dia masih terbaring di rumah sakit. Ya Allah, jangan renggut nyawanya sekarang! Karena aku masih membutuhkan dia!
            “Rin? Kenapa kamu di depan ruang ICU?” tanya Ran.
            “...dit... Radit, Ran” ucapku.
            “Hah?! Radit?! Radit kenapa?!” tanya Ran.
            “Dia sekarang lagi kritis” jawab Charel.
            “Astanghfirullah. Ng... maaf, kamu siapa, ya?” tanya Ran.
            “Dia mantannya Radit” jawabku.
            “Oh... Ya udah, kamu yang sabar dan tabah, ya? Doain aja biar operasinya berjalan lancar” saran Ran. Aku mengangguk. Setelah 5 jam aku menunggu operasi Radit, dokter keluar dengan membawa muka lesu.
            “Dokter, gimana keadaan Radit? Dia nggak papa ‘kan? Operasinya lancar ‘kan? Dan yang pasti, Radit selamat ‘kan, dok?” tanyaku penuh harap.
            “Adik keluarganya?” tanya dokter itu.
            Aku menggeleng, “Bukan. Tapi keluarganya sebentar lagi bakalan datang. Tadi saya sudah hubungi. Tapi gimana Radit, dok?”
            “Maaf, karena kankernya sudah menyebar, jadi dia... tidak bisa diselamatkan lagi. Kami sudah berusaha tapi... tidak berhasil. Sekali lagi saya minta maaf” jelas dokter itu seraya pergi meninggalkan aku. Air mataku mengalir deras.
            “Nggak mungkin... ini nggak mungkin! Dokter itu pasti salah! Radit nggak mungkin meninggal! Dia nggak bakalan ninggalin aku!!!” seruku.
            “Rin, yang sabar, ya? Semua ini sudah diatur sama yang di atas. Yang penting, kita harus tabah dan sabar untuk menghadapinya. Ya?” Ran mencoba menenangkanku.
            “Iya, Rin. Radit pasti juga bakalan ngelakuin yang sama kalo’ kamu sedih gini. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan. Kita berbicara seperti ini, tapi kalau Tuhan berbicara lain, kita hanya bisa menerimanya dengan pasrah” kali ini giliran Charel yang ikut menenangkanku. Aku tetap menangis. Mereka terus dan terus saja mencoba menenangkanku.
            “Rin, gimana keadaan Radit?” tanya seorang tante, sepertinya mamanya Radit, wajahnya hampir mirip sih.
            “Radit... dia... sudah...” aku nggak sanggup untuk melanjutkan kata-kataku. Aku nggak bisa bilang kalo’ Radit sudah meninggal. Rasanya berat bibirku untuk mengatakannya. Mama Radit malah sama sekali nggak terkejut mendengar jawabanku. Seakan-akan beliau sudah tau apa yang akan terjadi pada Radit.
            “Mbak Rin, ini ada titipan buat mbak Rin” ujar Riri padaku seraya memberikan sebuah kotak yang kira-kira berukuran 15 x 10.
            “Dari... Radit?” tanyaku.
            Riri mengangguk, “Iya, itu dibungkus waktu ,mbak Rin masih di Surabaya”
            “Makasih, ya?” jawabku tengah berjongkok agar sepadan dengan tinggi badan Riri. Ia mengusap air mataku seperti apa yang dilakukan Radit kemarin.
            “Mbak Rin jangan nangis. Ntar arwahnya mas Radit nggak bisa pergi dengan tenang kalo’ mbak Rin sedih. Kami sekeluarga aja nggak nangis” ujar Riri membanggakan diri. Aku hanya tersenyum. Mamanya Radit memegang pundakku.
            “Iya, Rin jangan sedih, ya? Sebenernya dulu Radit mau cerita tentang penyakitnya sama kamu, tapi karena dia takut setelah kamu tau, kamu bakalan ninggalin dia, makanya dia nggak jadi cerita. Selama ini, dia jarang sekali menceritakan kesehariannya. Tapi semenjak dia pacaran sama kamu, dia selalu cerita sama kami sekeluarga. Waktu makan malam, nonton TV, ataupun kalo’ kami lagi sama-sama. Dia kayaknya sayang banget sama kamu, Rin” jelas mamanya Radit.
            “Saya juga sayang sama dia, tante. Walaupun dia mengidap penyakit apapun saya masih sayang. Tapi kenapa dia malah pergi secepat ini?” protesku.
            “Ya... kita hanya bisa merencanakan. Tapi Allah jugalah yang menentukan. Kita hanya bisa menerimanya dengan sabar. Kalaupun jodohmu bukan Radit, pasti ada yang lebih baik untuk gadis secantik kamu” tante memberi nasihat.
            “Iya, kamu jangan sedih lagi, ya?” ucap om Diki, papanya Radit.
            Aku mengangguk, “Iya om, tante, Riri”
X                     X                     X
            1 Minggu berlalu tanpa Radit. Hampa. Nggak ada kerjaan yang bisa dilakukan sama Radit. Pangeran tenisku udah tenang di atas sana. Sekarang apa yang harus kulakukan? Mas Dio yang dari tadi menyuruhku makan pun jadi kewalahan.
            “Rin, ayo makan. Kamu pikir Radit bakalan seneng kalo’ kamu nggak makan?” tanya mas Dio. Radit?
            “Memangnya mas Dio tau apa tentang Radit?” ketusku.
            “Mas Dio tau kalo’ Radit bakalan meninggal. Waktu kamu sama Ran di atas, mas Dio diajak ngobrol sebentar sama Radit” jelas mas Dio.
            “Dia bilang apa?” tanyaku.
            “Dia bilang, mungkin dia udah nggak bakalan lama lagi di dunia ini. Jadi dia minta mas Dio untuk jagain kamu. Jangan sampe’ kamu sakit. Katanya, kamu harus selalu ceria, sehat, dan selalu senang. Tapi kalo’ kamu tetep nggak mau makan, ya udah. Mas Dio cuma mau ngejalanin amanatnya Radit aja” ucap mas Dio.
            “Radit bilang gitu?” tanyaku sangsi.
            “Iya, tapi kamu nggak percaya ‘kan? Ya udah” ucap mas Dio beranjak pergi.
            “Aku.... percaya. Aku bakalan makan” jawabku. Mas Dio tersenyum.
            “Assalamu alaikkum” seseorang memberi salam di depan rumahku. Mas Dio segera membukakan pintu. Seorang wanita separuh baya dengan seorang laki-laki yang sepertinya suaminya datang menghadapku.
            “Cherry, sayang” panggil wanita itu.
            “Mama?!” aku kaget dan segera memeluk wanita itu. Ya, benar. Itu mamaku. Mama yang selama ini aku rindukan. Mama biasa memanggilku Cherry. Katanya nama itu lucu. Sedangkan kakakku, kak Yoga dipanggil Bluberry. Hi...hi... aneh, ya? Dan pria yang bersamanya itu, nggak lain dan nggak bukan adalah papaku. Sosok yang keras namun baik hati. Aku segera memeluk keduanya.
            “Kami sangat kangen sama kamu, sayang” ucap mama.
            “Aku juga, ma. Nenek gimana?” tanyaku.
            “Nenek sudah agak sehat. Bluberry bilang, kamu ke sana beberap hari. Bener itu?” tanya mama.
            Aku mengangguk, “Iya, ma”
            “Kok nggak mampir ke rumah nenek?” tanya papa.
            “Habis... aku cuma iseng aja kok. Mau nemuin kakak. Kangen sih, udah 3 tahun nggak ketemu” jawabku beralasan.
            “Ya udah. Mama sama papa mau ke kamar dulu. Dio, makasih, ya, udah mau jagain Cherry yang nakal ini?” mama berterima kasih.
            Mas Dio mengangguk, “Sama-sama tante. Lagian Rin nggak nakal-nakal banget kok”. Setelah berbasa-basi sedikit lagi, mama dan papa pergi ke kamarnya.
            “Tugasku berakhir deh” keluh mas Dio.
            “Ha? Tugas apaan?” tanyaku heran.
            “Aku di sini ‘kan disuruh jagain kamu. Sekarang orang tuamu udah pulang. Jadinya, mau nggak mau aku harus pulang ke rumahku sendiri dong” jelasnya.
            “Oh... ya udah. Tapi mas Dio pulangnya abis makan malam aja, ya?” pintaku. Mas Dio mengangguk. Di waktu yang lain, aku teringat akan kotak yang diberikan Riri kepadaku di rumah sakit kemarin. Aku segera membukanya. Isinya... foto Radit dan aku yang selesai bermain tenis dihias dengan bingkai foto berbentuk hati berwarna pink. Cantik. Dan lagi... Radit masih sehat dan kelihatan ceria. Di pergelangan tangannya terdapat ban tangan yang aku berikan waktu tangannya keseleo. Aku memajangnya di meja belajarku. Biar kalo’ aku lagi belajar, aku selalu ingat sama Radit. Nggak tau kenapa, setiap aku lagi ngerjain soal yang susah, setiap ingat Radit, aku langsung bisa ngerjain soal itu. Aku juga menemukan sebuah... surat? Ku buka kertas surat berwarna biru muda itu. Isinya..


            Dear Rin tercinta,
            Waktu kamu baca surat ini, aku tau sekarang aku sudah ada di dalam tanah. Pertama, aku mau minta maaf karena aku nggak ngasih tau penyakitku sama kamu. Aku nggak mau kamu sedih karena tau penyakitku. Sebenernya sih, waktu kamu di Surabaya, aku mau ngasih tau ini. Tapi mulutku kayak ada yang ngganjal. Maaf, ya? Walaupun aku tau, seribu maaf pun percuma kalo’ aku nggak ngomongin ini langsung ke kamu. Tapi mau apa lagi? Kalo’ aku memang sudah nggak bisa ada di dekat kamu.
            Kedua, aku mau bilang makasih, karena kamu udah mau jadi pacarku. Kamu yang bikin aku semangat untuk olah raga. Sebenernya waktu pertama kali kita ketemu, aku malas lho, main tenis. Tapi setelah ada kamu, rasanya aku mau main tenis terus. Aku seakan-akan yakin kalo’ kamu itu peri cantik yang setiap malam ada di mimpiku. He...he... aku sok puitis, ya? Apa setelah aku nggak ada, kamu masih mau main tenis? Nggak papa juga sih, kalo’ kamu nggak mau main tenis lagi. Biar kamu nggak teralu ingat sama aku. Biar kamu nggak usah sedih kalo’ ngingat aku.
            Jodohmu mungkin bukan aku. Aku cuma bisa nemenin kamu sampe’ saat ini aja. Kamu jangan terlalu sedih. Kalo’ kamu sedih, aku di akhirat nanti nggak bakalan tenang. Kamu nggak mau ‘kan aku nggak tenang di sana? Foto yang aku kasih ini, waktu hari ke- 13 kita main tenis. Terserah mau kamu apain. Kalo’ nggak mau dipajang, dibuang aja. Yang jelas, kamu harus jadi Rin yang seperti biasanya. Jadilah Rin yang ceria dan selalu senang.
I’ll always love you,

Raditya 
           
‘Jadilah Rin yang ceria dan selalu senang’. Kata itu terngiang di telingaku terus menerus. Sampai pada saat makan malam. Mama yang memperhatikan kelakuanku itu akhirnya angkat suara.
“Cherry, kok makanannya lesu gitu? Kamu nggak suka sama makanannya?” tanya mama.
            “Ha? Nggak kok, ma. Lagi... mikirin Rad... eh, PR! Susaaah banget ma” aku berbohong.
            “Ya udah. Nanti tanya aja sama Dio. Dio mau ‘kan bantu Cherry?” tanya mama.
            “Oh, iya, tante. Insya Allah saya bisa” jawab mas Dio. Fiuh, untung nggak ketahuan! Setelah makan malam, aku dan mas Dio duduk di teras depan rumah.
            “Katanya ada PR? Kok nggak dikerjain?” tanya mas Dio.
            “PRku... nggak ada...” jawabku menggantung.
            “Tadi katamu...”
            “Cuma ngelak aja. Aku nggak mau mama tau kalo’ aku nggak nafsu makan gara-gara Radit meninggal” jawabku.
            “Terserah kamu deh” ucap mas Dio.
            “Kira-kira... apa aku bakalan bisa ngelupain Radit, ya?” tanyaku.
            “Jangan dilupakan, tapi juga jangan diingat terus-menerus. Ntar kamu depresi” saran mas Dio.
            Aku tersenyum, “Iya, sih. Makasih, ya, udah nemenin aku selama mama dan papa nggak ada?”. Mas Dio mengangguk. Di menit lain, mas Dio pamit kepada keluargaku. Aku mengantarnya sampai depan rumah.
            “Hati-hati, ya?” aku memperingatkan. Mas Dio tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalasnya. Langit malam ini sangat gelap. Nggak ada bulan. Nggak ada bintang. Nggak ada awan. Nggak ada Radit... Tapi aku nggak boleh ingat Radit terus menerus! Ntar depresi. Radit, semoga kamu tenang di sana.
Selamat tinggal Radit...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar