“Aku kangen banget sama
kamu!” ucap Radit seraya memelukku dengan erat di bandara.
“Iya, aku juga”. Aku sudah
berpikir tentang Radit. Pada saat-saat terkhirnya aku harus membahagiakan dia.
Walaupun berat, aku harus terima kenyataan, bukannya dihindari. Seperti kata
kakak, ‘bilang selamat tinggal memang butuh sedikit keberanian, tapi nggak
menakutkan’.
“Aku antar kamu pulang,
ya?” tawar Radit. Aku mengangguk. Kami segera keluar dari bandara.
“Dit, aku boleh nanya
sesuatu nggak sama kamu?” tanyaku.
“Boleh dong. Emang kamu
mau tanya apa?”
“Impianmu yang paling
akhir apa?” tanyaku. Radit terlihat bingung dengan kalimat tanyaku.
“Maksudnya?” tanyanya.
“Ya... misalnya dunia ini
mau kiamat, kamu mau apa saat itu?” tanyaku lagi.
“Ng... Aku mau kamu ada di
sampingku”jawabnya.
“Gitu?” tanyaku. Radit
mengangguk, “Kamu sendiri apa?”.
“Sama aja deh” ucapku. Aku
memandang ke arah langit, “Langitnya bersih, ya, Dit?”.
“BRUUK!!!”. Tiba-tiba
Radit jatuh... pingsan! Aku segera kalang kabut meminta tolong kepada orang
yang berada di sekitar situ untuk membawa Radit ke rumah sakit. Dalam perasaan
kacau, aku berlari mengikuti Radit yang dibawa oleh suster-suster sampai ke
depan pintu ruang ICU.
“Maaf, dik. Adik tidak
diperkenankan masuk. Jadi harap tunggu di sini saja” ucap suster itu. Aku
menurut dan menangis tersedu-sedu di depan pintu ruang ICU. Perasaanku
benar-benar kacau sekarang. Kenapa aku baru pulang sekarang? Kenapa nggak
kemarin-kemarin? Padahal kemarin juga aku belanja di mall dengan hati yang
gembira tanpa beban pikiran. Aku nggak peduli saat itu Radit sedang apa. Ini
semua salahku! Kalo’ ngomong sama kakak ‘kan bisa lewat telepon! Kenapa harus
ke Surabaya? Aku memang manja! Aku nggak bisa menyelesaikan masalahku dengan
kepala dingin! Apapun yang terjadi pada Radit nanti, itu semua adalah salahku!
10 menit... 20 menit... 1 jam... 4jam... aku menunggu hingga seseorang keluar
dari ruangan itu. Dan selama itu pula aku menyalahkan diriku sendiri atas apa
yang terjadi pada Radit saat ini.
“GREK!” pintu ruang ICU
terbuka. Seorang dokter dan beberapa orang suster terlihat. Aku segera
menghampiri mereka.
“Dokter, gimana keadaan
Radit?” tanyaku penasaran.
“Dia tidak apa-apa.
Tapi...” dokter itu seakan ragu untuk berbicara lebih lanjut.
“Tapi apa?” tanyaku.
“Kankernya sudah menyebar
ke seluruh jaringan otaknya. Mungkin umurnya sisa... beberapa hari lagi. Jadi,
sebaiknya turuti saja apa yang dia mau. Permisi” ucap dokter itu seraya pergi.
Ucapan dokter itu seakan seperti petir
yang amat sangat dahsyat menggelegar di telingaku. Hatiku sakiit sekali! Mataku
panas dan tak terasa air mataku jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin. Aku
memasuki kamar di mana Radit terbaring dengan lemah. Ia tertidur. Perlahan,
matanya terbuka. Menatapku dengan tatapan yang sayu.
“Kamu jangan nangis untuk
aku” ringkihnya. Air mataku tertumpah lebih deras. Wajah Radit nggak secerah
dulu. Bibirnya pucat, nggak tersenyum selepas dulu. Tangannya nggak kuat main
tenis lagi bersamaku. Matanya nggak memancarkan kebahagiaan lagi. Semua yang
ada sama Radit udah hilang, kecuali perasaannya. Radit yang di depanku sekarang
bukan Radit yang dulu.
“Maaf, ya? Aku nggak
ngasih tau tentang penyakitku ke kamu? Aku... nggak mau kenangan yang buruk
yang pernah aku alami di SMP terjadi lagi” jelasnya. Aku masih menangis. Nggak
tau apa yang harus aku katakan padanya.
“Waktu SMP, aku pernah
pacaran sama cewek, namanya Charelia. Dia biasa dipanggil Charel. Aku sempet
pacaran sama dia 2 Minggu. Soalnya... tepat di hari keempat belas itu, aku
bilang kalo’ aku mengidap penyakit ini. Dia tiba-tiba nangis dan langsung
mutusin aku. Yah... mungkin kamu mikir kalo’ aku ini egois karena nggak ngasih
tau kamu tentang penyakitku ini. Tapi itu aku lakukan karena aku nggak mau
orang yang aku cinta mutusin aku untuk kedua kalinya. Cukup Charel aja. Tapi
kalo’ kamu mau mutusin aku sekarang, aku ikhlas kok. Tapi ada satu hal yang aku
mau kasih tau kamu...” ucapnya. Perlahan tangannya digerakkan ke wajahku dan
mengusap air mataku. Tangannya nggak sehangat dulu lagi.
“Aku cinta banget sama
kamu”
“Aku nggak bakalan mutusin
kamu kok, karena aku juga cinta sama kamu” ucapku dengan suara serak.
“Bukan karena kasihan?”
tanyanya.
Aku menggeleng, “Buat apa
aku pacaran kalo’ cuma dengan perasaan kasihan? ‘Kan sayang predikatnya” aku
mencoba untuk tersenyum. Radit mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya.
“Kamu jangan bangun dulu!
Badanmu masih...”
“Nggak papa kok. Aku ‘kan
kuat” ucapnya.
“Dasar! Masih sakit gini
bercanda aja” aku sebal.
“He...he... Kamu lucu deh
kalo’ lagi ngambek gitu” ucapnya tengah mencubit pipiku. Aku tersenyum dan
jatuh dalam dekapan Radit.
X X X
“Dhani udah keluar dari
rumah sakit?” tanyaku. Ran menggeleng.
“Ke rumah sakit, yuk?”
ajakku. Ran mengangguk dengan semangat.
“Tapi kita beli buah dulu
di swalayan” pinta Ran. Aku mengangguk. Sebenernya alasan kenapa aku mau pergi
ke rumah sakit―tempat yang paling kubenci― adalah mau ketemu sama Radit. Orang
yang sangat aku sayangi. Orang yang paling baik yang pernah kutemui selama ini.
Orang yang telah memberi warna dalam setiap hari-hariku. Dan orang yang akan
meninggalkanku untuk selamanya.
“Kenapa, Rin? Kok
melamun?” tanya Ran.
“Ah, nggak kok. Nggak
papa” ucapku berusaha menghindar. Mata Ran mulai menyelidik. Seakan ia tahu apa
yang sedang terjadi padaku.
“Kamu nyembunyiin sesuatu
dari aku” tuduhnya.
“Nyembunyiin apa?” tanyaku
berusaha mengelak.
“Rin, kita ini sahabat.
Jadi kalo’ aku punya masalah, aku pasti cerita sama kamu. Begitu juga
sebaliknya. Ayo dong...” pinta Ran dengan wajah memelas. Aduh, gini deh
susahnya. Nggak ada yang bisa lepas dari tatapan melas Ran.
“Ng... sebenernya...” aku
mulai menceritakan masaalahku pada Ran.
“Jadi alasanmu pergi ke
Surabaya itu bukan karena ada urusan keluarga? Tapi kamu mau curhat sama
kakakmu?”tanya Ran. Aku mengangguk.
“Ya udah. Aku bisa ngerti
kok. Nanti kita ke rumah sakit, aku ke ruangannya Dhani, terus kamu ke
ruangannya Radit?” tanyanya.
“Iya” simpleku.
X X X
“Kamu mau beli apa aja?”
tanyaku.
“Ng... apel Washington
aja. Dhani suka kalo’ dibawain itu” jawab Ran. Akupun memilih apel yang sama.
Terdengar di sebelahku suara seorang kakak-kakak SMU.
“Itu nah, ada cowok cakep.
Kayaknya nggak penyakitan kayak mantanmu” ujarnya. Hih! Ucapannya kok kenanya
di hatiku? Pacarku ‘kan lagi sakit!
“Iya, sih. Tapi aku masih
nggak bisa ngelupain Radit” jawab salah satunya. Hah? Radit? Yang dimaksud Raditku?
“Ya ampun, Charel! Kamu
ini selalu Radiiit terus! Lama-lama kamu bisa gila gara-gara mikirin dia!” ucap
temannya. Charel? Jangan-jangan...
“Ran, nih titip, ya?
Pinjam uangmu dulu. Ntar di taxi aku ganti. Aku ada urusan sebentar. Ya? Please
me” pintaku. Ran mengangguk. Aku segera mendatangi 2 orang kakak tersebut.
“Permisi, kak. Kakak yang
namanya kak Charelia?” tanyaku. Orang itu mengangguk. Ya ampun! Ni cewek manis
banget! Pantes aja Radit suka. Tapi... kenapa dia mau sama aku yang biasa-biasa
aja, ya?
“Tadi saya sedikit denger
kakak nyebut nama Radit. Yang kakak maksud itu Raditya Putra Pratama?” tanyaku.
“Iya, kamu tau dari mana?”
tanyanya balik.
“Saya mau ngomong empat
mata sama kakak. Gimana kalo’ kita ngomongnya di kafe aja?” tawarku. Kak Charel
segera menyetujuinya. Kami segera pergi ke kafe dan duduk di kursi meja nomor
2, angka favoritku dan Radit.
“Radit dulu suka angka 2”
ucap kak Charel.
“Sampe’ sekarang dia masih
suka kok” sahutku.
“Oh, ya. Dari mana kamu
tau tentang Radit?” tanyanya.
“Karena aku sekarang
pacarnya” jawabku.
“Sekarang? Maksudnya Radit
masih hidup?” tanyanya.
“Kenapa kakak mutusin dia?
Apa karena dia mengidap penyakit kanker?” tanyaku. Kak Charel mengangguk.
“Kayaknya jangan manggil
aku kak. Kurang sreg kalo’ ngomong tentang Radit” ucapnya.
“Ok, Charel. Kamu
sebenernya cinta nggak sih sama Radit? Sampai-sampai kamu buka acara mutusin
dia segala?” ketusku.
“Aku sayang banget sama
dia...”
“Terus kenapa kamu mutusin
dia? Kamu tau nggak sih, yang namanya cinta itu selalu bisa menerima kekurangan
dan kelebihan masing-masing. Kalo’ cuma terhalang sama penyakit aja, semua
orang ‘kan wajar kalo punya penyakit” serangku.
“Iya, aku tau. Sebenernya
alasanku mutusin dia bukan karena dia punya penyakit kanker. Kamu bener, kalo’
cinta itu bisa menerima segala kekurangan masing-masing. Tapi apa dia bisa
nerima kalo aku sudah nggak suci?” tanyanya.
“Hah? Nggak suci?
Maksudnya?” tanyaku nggak ngerti.
“Waktu aku kelas 2 SMP,
pada hari ke 13 kami pacaran, aku diantar pulang sama Radit. Radit mau ngantar
aku sampe depan rumah, karena di gang yang aku lewati banyak premannya. Radit
takut kalo’ aku diapa-apain. Tapi aku nolak untuk diantar sampe’ depan rumah.
Karena waktu itu aku nyombongin diriku yang baru belajar ilmu bela diri. Setelah
sedikit berdebat, akhirnya Radit mengalah. Terus aku jalan melewati gang
itu...” Charel menarik napas untuk melanjutkan pembicaraannya.
“Karena aku tau biasanya
preman di situ nggak lebih dari 2 orang. Jadi aku jalan dengan tenang aja. Tapi
ternyata, mereka bawa temen-temen mereka, jumlahnya... banyak. Awalnya aku
hanya disiulin. Tapi aku nggak menggubrisnya. Ada salah satu dari mereka yang
nekad menghadangku. Aku masih bisa menghajarnya. Tapi mereka semua langsung
mengitariku. Sampe aku kalah dan...” jelasnya mulai terisak.
“Diperkosa?” tebakku.
Charel mengagguk.
“Ya ampun! Jadi karena itu
kamu mutusin Radit?” tanyaku. Ia mengangguk lagi.
“Hari ke 14nya aku
langsung mutusin dia. Karena kebetulan dia juga udah ngomong kalo dia kena
penyakit itu. Jadi aku nggak perlu ngomong yang sebenernya”jawabnya.
“Terus... kamu...
nggak.... itu...” tanyaku sambil menggerakkan tanganku membentuk bola di depan
perut. Maksudnya sih... hamil.
“Ya, tapi papaku maksa
untuk menggugurkan kandunganku yang masih 2 hari. Sejak itu, aku selalu malu
bertemu sama Radit. Aku ngerasa udah nyakiti perasaannya. Aku juga ngerasa jadi
cewek paling kotor dan paling menjijikkan untuk ketemu Radit” jelasnya.
“Tapi Radit pasti masih
mau nerima kamu” jawabku.
“Nggak mungkin. Radit nggak
bakalan nerima aku. Aku udah kotor” jawabnya.
“Charel, Radit itu
orangnya baik. Dia selalu bisa nerima kekurangan orang lain. Jadi, kalaupun dia
nggak bisa nerima kamu, dia pasti menolak secara baik-baik. Jangan takut ketemu
dia. Dia nggak gigit kok” ucapku berusaha menenangkannya.
“Bener?” tanya Charel
sangsi. Aku mengangguk.
“Aku bisa ketemu dia
sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Yuk?” ajakku. Kami segera
pergi ke rumah sakit. Uangnya Ran juga udah aku ganti tentunya! Sesampainya di
rumah sakit, kami berjalan di koridor menuju ke kamar perawatan nomor 279.
Terlihat Radit sedang menonton TV.
“Charel tunggu sebentar di
sini, ya? Aku bujuk dia dulu” pintaku. Charel menurut.
“Radit” sapaku. “Gimana
keadaan kamu?” tanyaku.
“Baik. Aku rasa udah lebih
baik dari kemarin” jawabnya
“Syukur deh kalo’ gitu”
“Biar gini, tetep aja
nanti aku nggak bakalan ada di dunia ini” jawabnya.
“Kok putus asa gitu. Aku
‘kan jadi sedih. Katanya kamu nggak mau ngelihat aku sedih?” aku merajuk.
“Iya. Sorry, ya?” ucapnya.
Aku mengangguk.
“Oh, iya. Radit, kamu mau
nggak ketemu sama Charel lagi?” tanyaku.
“Buat apa?” tanya Radit.
“Ya... dia mau ngejelasin
semuanya. Termasuk alasan dia mutusin kamu” jawabku.
“Kan karena aku kena
penyakit ini” jawabnya.
“Ah~ Radit sok tau. Dia
punya alasan yang lebih jelas. Radit mau, ya dengerin dia?” pintaku.
“Iya deh. Tapi ini demi
kamu” jawabnya. Aku tersenyum.
“Charel, masuk aja
sekarang” aku mempersilahkan. Ia tampak takut untuk mengangkat wajahnya.
“Kok Charel kayak takut
gitu? ‘Kan tadi aku udah bilang kalo’ Radit nggak gigit? Udah gih, sana jelasin
semuanya” perintahku. Aku segera keluar dari ruangan. Duduk di depan kamar
perawatannya Radit. Hm... kira-kira Radit bakalan mau nerima Charel lagi nggak,
ya? Tapi kalo’ Radit nerima Charel lagi berarti aku sama Radit jadi putus dong?
Nggak mau ah~! Radit boleh aja dengerin Charel, tapi jangan nerima dia jadi
pacarnya lagi! Cukup jadi teman aja! Titik!
“Rin?” sapa seseorang. Aku
menoleh.
“Mas Dio? Ngapain di
sini?” tanyaku.
“Mau jenguk Radit. Aku
masuk, ya?” ucap mas Dio seraya hampir memasuki ruangannya Radit. Aku segera
menarik lengannya.
“Jangan! Radit masih
bicara sama mantannya” cegahku.
“Oh, ya udah. Aku nunggu
di sini sama kamu aja” jawabnya. Aku mengangguk. 15 menit... ngomong apa aja
sih mereka? Lama banget. Aku mengintipnya melalui kaca yang terdapat di pintu.
DEG! Mereka... berpelukan? Apa Radit menerima Charel kembali? Ya... memang sih
itu hak mereka. Dan itu juga karena aku mempertemukan mereka. Sekarang aku
harus terima akibatnya. Aku berlari meninggalkan rumah sakit.
“BRUUK!” aku menabrak
seseorang di pintu masuk rumah sakit.
“Maaf” simpleku. Orang itu
menghentikanku saat aku ingin berlari lagi.
“Kamu Rin, ‘kan?”
tebaknya. Aku melihat orang tersebut.
“Kak Rama? Ngapain kakak
di sini?” tanyaku.
“Tadi sih sebenernya aku
mau ketemu sama kamu di rumah. Tapi ada orang yang tinggal di rumahmu bilang,
kalo’ kamu ke rumah sakit. Jadi aku nyusul kamu” jelas kak Rama. “Kenapa? Kok
lari tanpa lihat-lihat?”.
“Nggak. Nggak papa”
jawabku. “Oh, ya? Kak Yoga juga ke sini?”. Kak Rama menggeleng.
“Rin, makasih, ya kamu
udah mempertemuin aku sama Radit? Aku seneng banget. Kamu bener. Kalaupun Radit
nolak aku, dia nolak secara baik-baik. Sekarang, dia mau ketemu sama kamu” ucap
Charel.
“Oh, ya, aku ke sana
sekarang” jawabku. “Kak Rama, kakak ke rumah aja dulu. Kalo’ urusanku udah
selesai, pasti aku pulang. Ya?”.
“Aku langsung pulang aja. Tadi aku cuma
disuruh Yoga ke sini untuk ngelihat keadaan kamu aja. Ya udah, kamu sana gih”.
Aku segera menuju ke kamar perawatan Radit.
“Kamu nolak.... Charel?”
tanyaku.
“Iya” sahutnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku nggak mau
nyakitin perasaan orang yang kali ini bener-bener aku cinta” jawab Radit.
‘Tapi tadi aku lihat kamu
pelukan sama dia” jawabku mulai ngambek.
“Dia mau aku peluk untuk
terakhir kalinya. Yah... sebagai tanda persahabatan kembali juga” jawab Radit.
“Oh, aku kira kamu sama
dia mau balikan lagi” jawabku.
“Nggak dong” ucap Radit
seraya menarikku untuk jatuh ke dalam dekapannya. 5 menit kami berpelukan,
tiba-tiba Radit mengaduh. Aku segera kalang kabut memanggil dokter. Ia masuk
ruang ICU... lagi. Radit nggak boleh ninggalin aku sekarang! Dia harus selamat.
Harus! Masih banyak yang mau aku lewatkan bersama-sama dia! Aku belum puas jika
dia masih terbaring di rumah sakit. Ya Allah, jangan renggut nyawanya sekarang!
Karena aku masih membutuhkan dia!
“Rin? Kenapa kamu di depan
ruang ICU?” tanya Ran.
“...dit... Radit, Ran”
ucapku.
“Hah?! Radit?! Radit
kenapa?!” tanya Ran.
“Dia sekarang lagi kritis”
jawab Charel.
“Astanghfirullah. Ng...
maaf, kamu siapa, ya?” tanya Ran.
“Dia mantannya Radit”
jawabku.
“Oh... Ya udah, kamu yang
sabar dan tabah, ya? Doain aja biar operasinya berjalan lancar” saran Ran. Aku
mengangguk. Setelah 5 jam aku menunggu operasi Radit, dokter keluar dengan
membawa muka lesu.
“Dokter, gimana keadaan
Radit? Dia nggak papa ‘kan? Operasinya lancar ‘kan? Dan yang pasti, Radit
selamat ‘kan, dok?” tanyaku penuh harap.
“Adik keluarganya?” tanya
dokter itu.
Aku menggeleng, “Bukan.
Tapi keluarganya sebentar lagi bakalan datang. Tadi saya sudah hubungi. Tapi
gimana Radit, dok?”
“Maaf, karena kankernya
sudah menyebar, jadi dia... tidak bisa diselamatkan lagi. Kami sudah berusaha
tapi... tidak berhasil. Sekali lagi saya minta maaf” jelas dokter itu seraya
pergi meninggalkan aku. Air mataku mengalir deras.
“Nggak mungkin... ini
nggak mungkin! Dokter itu pasti salah! Radit nggak mungkin meninggal! Dia nggak
bakalan ninggalin aku!!!” seruku.
“Rin, yang sabar, ya?
Semua ini sudah diatur sama yang di atas. Yang penting, kita harus tabah dan
sabar untuk menghadapinya. Ya?” Ran mencoba menenangkanku.
“Iya, Rin. Radit pasti
juga bakalan ngelakuin yang sama kalo’ kamu sedih gini. Kita sebagai manusia
hanya bisa merencanakan. Kita berbicara seperti ini, tapi kalau Tuhan berbicara
lain, kita hanya bisa menerimanya dengan pasrah” kali ini giliran Charel yang
ikut menenangkanku. Aku tetap menangis. Mereka terus dan terus saja mencoba
menenangkanku.
“Rin, gimana keadaan
Radit?” tanya seorang tante, sepertinya mamanya Radit, wajahnya hampir mirip
sih.
“Radit... dia... sudah...”
aku nggak sanggup untuk melanjutkan kata-kataku. Aku nggak bisa bilang kalo’
Radit sudah meninggal. Rasanya berat bibirku untuk mengatakannya. Mama Radit malah
sama sekali nggak terkejut mendengar jawabanku. Seakan-akan beliau sudah tau
apa yang akan terjadi pada Radit.
“Mbak Rin, ini ada titipan
buat mbak Rin” ujar Riri padaku seraya memberikan sebuah kotak yang kira-kira
berukuran 15 x 10.
“Dari... Radit?” tanyaku.
Riri mengangguk, “Iya, itu
dibungkus waktu ,mbak Rin masih di Surabaya”
“Makasih, ya?” jawabku
tengah berjongkok agar sepadan dengan tinggi badan Riri. Ia mengusap air mataku
seperti apa yang dilakukan Radit kemarin.
“Mbak Rin jangan nangis. Ntar
arwahnya mas Radit nggak bisa pergi dengan tenang kalo’ mbak Rin sedih. Kami
sekeluarga aja nggak nangis” ujar Riri membanggakan diri. Aku hanya tersenyum.
Mamanya Radit memegang pundakku.
“Iya, Rin jangan sedih,
ya? Sebenernya dulu Radit mau cerita tentang penyakitnya sama kamu, tapi karena
dia takut setelah kamu tau, kamu bakalan ninggalin dia, makanya dia nggak jadi
cerita. Selama ini, dia jarang sekali menceritakan kesehariannya. Tapi semenjak
dia pacaran sama kamu, dia selalu cerita sama kami sekeluarga. Waktu makan
malam, nonton TV, ataupun kalo’ kami lagi sama-sama. Dia kayaknya sayang banget
sama kamu, Rin” jelas mamanya Radit.
“Saya juga sayang sama
dia, tante. Walaupun dia mengidap penyakit apapun saya masih sayang. Tapi
kenapa dia malah pergi secepat ini?” protesku.
“Ya... kita hanya bisa
merencanakan. Tapi Allah jugalah yang menentukan. Kita hanya bisa menerimanya
dengan sabar. Kalaupun jodohmu bukan Radit, pasti ada yang lebih baik untuk
gadis secantik kamu” tante memberi nasihat.
“Iya, kamu jangan sedih
lagi, ya?” ucap om Diki, papanya Radit.
Aku mengangguk, “Iya om,
tante, Riri”
X X X
1 Minggu berlalu tanpa
Radit. Hampa. Nggak ada kerjaan yang bisa dilakukan sama Radit. Pangeran
tenisku udah tenang di atas sana. Sekarang apa yang harus kulakukan? Mas Dio
yang dari tadi menyuruhku makan pun jadi kewalahan.
“Rin, ayo makan. Kamu
pikir Radit bakalan seneng kalo’ kamu nggak makan?” tanya mas Dio. Radit?
“Memangnya mas Dio tau apa
tentang Radit?” ketusku.
“Mas Dio tau kalo’ Radit
bakalan meninggal. Waktu kamu sama Ran di atas, mas Dio diajak ngobrol sebentar
sama Radit” jelas mas Dio.
“Dia bilang apa?” tanyaku.
“Dia bilang, mungkin dia
udah nggak bakalan lama lagi di dunia ini. Jadi dia minta mas Dio untuk jagain
kamu. Jangan sampe’ kamu sakit. Katanya, kamu harus selalu ceria, sehat, dan
selalu senang. Tapi kalo’ kamu tetep nggak mau makan, ya udah. Mas Dio cuma mau
ngejalanin amanatnya Radit aja” ucap mas Dio.
“Radit bilang gitu?”
tanyaku sangsi.
“Iya, tapi kamu nggak
percaya ‘kan? Ya udah” ucap mas Dio beranjak pergi.
“Aku.... percaya. Aku
bakalan makan” jawabku. Mas Dio tersenyum.
“Assalamu alaikkum”
seseorang memberi salam di depan rumahku. Mas Dio segera membukakan pintu.
Seorang wanita separuh baya dengan seorang laki-laki yang sepertinya suaminya
datang menghadapku.
“Cherry, sayang” panggil
wanita itu.
“Mama?!” aku kaget dan
segera memeluk wanita itu. Ya, benar. Itu mamaku. Mama yang selama ini aku
rindukan. Mama biasa memanggilku Cherry. Katanya nama itu lucu. Sedangkan kakakku,
kak Yoga dipanggil Bluberry. Hi...hi... aneh, ya? Dan pria yang bersamanya itu,
nggak lain dan nggak bukan adalah papaku. Sosok yang keras namun baik hati. Aku
segera memeluk keduanya.
“Kami sangat kangen sama
kamu, sayang” ucap mama.
“Aku juga, ma. Nenek
gimana?” tanyaku.
“Nenek sudah agak sehat.
Bluberry bilang, kamu ke sana beberap hari. Bener itu?” tanya mama.
Aku mengangguk, “Iya, ma”
“Kok nggak mampir ke rumah
nenek?” tanya papa.
“Habis... aku cuma iseng
aja kok. Mau nemuin kakak. Kangen sih, udah 3 tahun nggak ketemu” jawabku
beralasan.
“Ya udah. Mama sama papa
mau ke kamar dulu. Dio, makasih, ya, udah mau jagain Cherry yang nakal ini?”
mama berterima kasih.
Mas Dio mengangguk,
“Sama-sama tante. Lagian Rin nggak nakal-nakal banget kok”. Setelah
berbasa-basi sedikit lagi, mama dan papa pergi ke kamarnya.
“Tugasku berakhir deh”
keluh mas Dio.
“Ha? Tugas apaan?” tanyaku
heran.
“Aku di sini ‘kan disuruh
jagain kamu. Sekarang orang tuamu udah pulang. Jadinya, mau nggak mau aku harus
pulang ke rumahku sendiri dong” jelasnya.
“Oh... ya udah. Tapi mas
Dio pulangnya abis makan malam aja, ya?” pintaku. Mas Dio mengangguk. Di waktu
yang lain, aku teringat akan kotak yang diberikan Riri kepadaku di rumah sakit
kemarin. Aku segera membukanya. Isinya... foto Radit dan aku yang selesai
bermain tenis dihias dengan bingkai foto berbentuk hati berwarna pink. Cantik.
Dan lagi... Radit masih sehat dan kelihatan ceria. Di pergelangan tangannya
terdapat ban tangan yang aku berikan waktu tangannya keseleo. Aku memajangnya
di meja belajarku. Biar kalo’ aku lagi belajar, aku selalu ingat sama Radit.
Nggak tau kenapa, setiap aku lagi ngerjain soal yang susah, setiap ingat Radit,
aku langsung bisa ngerjain soal itu. Aku juga menemukan sebuah... surat? Ku
buka kertas surat berwarna biru muda itu. Isinya..
Dear Rin tercinta,
Waktu kamu baca surat ini, aku tau
sekarang aku sudah ada di dalam tanah. Pertama, aku mau minta maaf karena aku
nggak ngasih tau penyakitku sama kamu. Aku nggak mau kamu sedih karena tau
penyakitku. Sebenernya sih, waktu kamu di Surabaya, aku mau ngasih tau ini.
Tapi mulutku kayak ada yang ngganjal. Maaf, ya? Walaupun aku tau, seribu maaf
pun percuma kalo’ aku nggak ngomongin ini langsung ke kamu. Tapi mau apa lagi?
Kalo’ aku memang sudah nggak bisa ada di dekat kamu.
Kedua, aku mau bilang makasih,
karena kamu udah mau jadi pacarku. Kamu yang bikin aku semangat untuk olah
raga. Sebenernya waktu pertama kali kita ketemu, aku malas lho, main tenis.
Tapi setelah ada kamu, rasanya aku mau main tenis terus. Aku seakan-akan yakin
kalo’ kamu itu peri cantik yang setiap malam ada di mimpiku. He...he... aku sok
puitis, ya? Apa setelah aku nggak ada, kamu masih mau main tenis? Nggak papa
juga sih, kalo’ kamu nggak mau main tenis lagi. Biar kamu nggak teralu ingat
sama aku. Biar kamu nggak usah sedih kalo’ ngingat aku.
Jodohmu mungkin bukan aku. Aku cuma
bisa nemenin kamu sampe’ saat ini aja. Kamu jangan terlalu sedih. Kalo’ kamu
sedih, aku di akhirat nanti nggak bakalan tenang. Kamu nggak mau ‘kan aku nggak
tenang di sana? Foto yang aku kasih ini, waktu hari ke- 13 kita main tenis.
Terserah mau kamu apain. Kalo’ nggak mau dipajang, dibuang aja. Yang jelas,
kamu harus jadi Rin yang seperti biasanya. Jadilah Rin yang ceria dan selalu
senang.
I’ll always love you,
Raditya
‘Jadilah Rin yang ceria dan selalu senang’.
Kata itu terngiang di telingaku terus menerus. Sampai pada saat makan malam.
Mama yang memperhatikan kelakuanku itu akhirnya angkat suara.
“Cherry, kok makanannya lesu gitu? Kamu nggak
suka sama makanannya?” tanya mama.
“Ha? Nggak kok, ma.
Lagi... mikirin Rad... eh, PR! Susaaah banget ma” aku berbohong.
“Ya udah. Nanti tanya aja
sama Dio. Dio mau ‘kan bantu Cherry?” tanya mama.
“Oh, iya, tante. Insya
Allah saya bisa” jawab mas Dio. Fiuh, untung nggak ketahuan! Setelah makan
malam, aku dan mas Dio duduk di teras depan rumah.
“Katanya ada PR? Kok nggak
dikerjain?” tanya mas Dio.
“PRku... nggak ada...”
jawabku menggantung.
“Tadi katamu...”
“Cuma ngelak aja. Aku
nggak mau mama tau kalo’ aku nggak nafsu makan gara-gara Radit meninggal”
jawabku.
“Terserah kamu deh” ucap
mas Dio.
“Kira-kira... apa aku
bakalan bisa ngelupain Radit, ya?” tanyaku.
“Jangan dilupakan, tapi
juga jangan diingat terus-menerus. Ntar kamu depresi” saran mas Dio.
Aku tersenyum, “Iya, sih.
Makasih, ya, udah nemenin aku selama mama dan papa nggak ada?”. Mas Dio
mengangguk. Di menit lain, mas Dio pamit kepada keluargaku. Aku mengantarnya
sampai depan rumah.
“Hati-hati, ya?” aku
memperingatkan. Mas Dio tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalasnya.
Langit malam ini sangat gelap. Nggak ada bulan. Nggak ada bintang. Nggak ada
awan. Nggak ada Radit... Tapi aku nggak boleh ingat Radit terus menerus! Ntar
depresi. Radit, semoga kamu tenang di sana.
Selamat
tinggal Radit...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar