Jumat, 30 November 2012

My Boy's Too Popular

              
 Aku menangis tersedu di kamar. Di atas sebuah bantal berbentuk hati berwarna pink lembut pemberian Jonathan, pacar.. eum… mantan pacarku. Ia memberinya saat ulang tahunku yang ke 15. Dan sekarang aku menangis karenanya. Yeah, aku menangis karena seorang cowok yang sudah 2 tahun ini menjadi kekasihku.
                Aku putus dengannya. Sebenarnya terpaksa sekali aku ingin berpisah darinya, karena aku masih sangat mencintainya. Jonathan, atau simplenya Jo, adalah seorang artis muda yang namanya sedang naik daun. Ia banyak mendapat tawaran iklan dan film layar lebar, bahkan ku dengar saat ini ia ditawari untuk bermain dalam sinetron stripping.
                Aku merasa ia berubah. Well, bukan sepenuhnya salahnya. Aku memutuskannya karena para fans fanatiknya itu. Aku tidak sanggup lagi jika harus mendapat telepon misterius, atau kejadian janggal lagi, bahkan surat botol berantai yang berisi ancaman dan hinaan untukku. Sudah cukup.
                Tiga tahun yang lalu, aku kenal dengan Jo di perpustakaan kota. Saat itu aku sedang menekuni novel remaja ketika Jo menghampiriku dan bertanya letak buku sains yang memang terletak berlawanan arah dengan tempatku berada. Buku sains ada di lantai dua, sedangkan lantai tiga ini hanya berisi buku-buku fiksi. Saat itu dia polos sekali sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia kemudian beralih menuju lantai dua dan kembali ke lantai tiga sambil membawa beberapa buku sains. Jo meletakkan buku-buku itu ke mejaku dan tersenyum. Aku memandang heran wajahnya dengan tatapan maksudnya-apa-ini-?.
                Jo menjulurkan tangannya, “Hai, aku Jo. Namamu siapa?”
                Aku membalas uluran tangannya dan memperkenalkan namaku. Ia meminta aku mempersilakannya untuk duduk di sampingku. Aku mengangguk. Setelah selesai membaca novel, aku menuruni tangga dan bersiap pergi. Jo menawariku untuk mengantarku pulang. Sesaat aku ragu apakah harus menerimanya, karena  aku dan dia baru saja berkenalan. Dia berkata cepat dan berjanji tidak akan berbuat macam-macam kepadaku.
                Aku tersenyum mendengar penuturannya itu. Aku mengikutinya. Ia menwarkan untuk pergi ke kafe dekat perpustakaan dan aku membolehkannya. Kami duduk di dekat jendela. Jo orang yang menyenangkan. Ia pandai membuat orang merasa nyaman ketika berada di sampingnya. Kami pun saling bertukar cerita. Di penghujung waktu, aku harus pamit karena harus mengikuti les bahasa asing. Sebelumnya kami bertukar nomor telepon dan email.
                Setelah pertemuan pertama kami itu, kami sering janjian bertemu di perpustakaan atau di kafe biasa. Hampir satu tahun kami kenal, Jo mengajakku pergi ke sebuah restoran. Aku bertanya mengapa ia mengajakku ke restoran, bukan kafe tempat biasa. Jujur, saat itu aku sangat kaget dan senang sekali. Yeah, aku memang mulai menyukai sosok Jo. Dan syukurlah, perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Di restoran itu dia menyatakan cintanya padaku. Dengan sebuket bunga dan sebuah boneka beruang mini, ia benar-benar mencuri hatiku. Sejak saat itu kami jadian.
                Selang satu setengah tahun, ia memberitahuku akan mengikuti sebuah casting yang mencari bintang iklan laki-laki. Aku membolehkannya. Saat ia diterima casting, Jo langsung mengajakku untuk pergi ke Disneyland. Aku senang sekali. Kami mencoa beberapa permainan dan membeli gula-gula di sana.
                Sebulan berikutnya, ia ditawari untuk bermain film layar lebar sebagai peran pembantu. Aku pun membolehkannya. Aku juga datang ke studio untuk memberinya kue dan segelas teh, untuk menyemangatinya. Rupanya di sana telah berkumpul fans Jo yang ternyata sudah banyak dan… uhm.. kebanyakan dari mereka perempuan. Ada yang memintanya berpoto bersama, minta tanda tangan, dan … WHAT! Mencubit dan mengecup pipi Jo dengan gampangnya. Aku melotot meliha hal itu.
                Aku langsung pamit ingin pulang, padahal Jo baru saja ingin memintaku untuk melihat aksinya. Aku minta maaf padanya dan mengatakan aku sedang tidak enak badan. Jo panik namun aku meyakinkannya jika aku akan selamat sampai rumah. Di luar, aku bertemu dengan seorang gadis cantik, langsing dan tinggi. Sepertinya salah satu pemeran film juga. Dari wajahnya, ia terlihat jutek. Ia bertanya padaku ada hubungan apa aku dengan Jo. Dan dengan lancarnya aku bilang aku adalah kekasih Jo. Ia tertawa, mengejek. Ia malah mengataiku kalau aku tidak pantas sama sekali untuk Jo. Seorang kutu buku mempunyai kekasih seorang bintang yang tampan. Aku kesal. Aku langsung berlari pulang.
                Malamnya, Jo tidak sekaipun menghubungiku. Tidak menelepon ataupun mengirim SMS. Aku makin kesal. Esoknya ia berada di depan rumahku. Hari itu hujan dan Jo terlihat benar-benar basah. Aku mempersilakannya masuk dan memberinya pakaian hangat milik Edward, kakakku. Ia meminta maaf karena kemarin tidak mengantarku pulang, juga tidak memberi kabar sama sekali malamnya. Sangat sibuk, katanya. Aku memakluminya.
                Aku mengajaknya pergi ke perpustakaan besok, namun ia harus menyelesaikan filmnya. Aku kecewa, namun ia mengatakan aku boleh melihatnya. Aku juga bercerita bagaimana kesal dan cemburunya aku melihatnya dengan para fansnya. Ia tertawa kecil dan meminta maaf. Jo mengatakan jika para fans memang kadang terlalu over. Selama belum ada yang mencium bibir, tidak masalah kan, ucapnya. Aku tertunduk. Jo mulau berubah, pikirku.
                Melihat gelagatku yang aneh, ia mengecup pipiku dan memelukku. Ia mengatakan kalau ia tidak akan pernah berpaling ke gadis manapun. Hatinya telah terpaut padaku. Wajahku bersemu. Detik selanjutnya, aku merasakan bibirnya menempel di bibirku. Tidak lama, karena setelahnya telepon genggamnya berdering dan mengatakan ia harus segera tiba ke lokasi syuting. Aku melepasnya. Ia berganti pakaian dan langsung pergi setelah pamit denganku.
                Malamnya, aku mendapat telepon misterius. Suaranya serak sehingga aku tidak mengenal suara milik perempuan atau laki-laki. Yang jelas, ia berkata bahwa aku harus menjauhi Jo. Jika tidak, maka aku akan menyesal karena Jo mempunyai rahasia yang pasti akan membuatku menderita. Aku langsung membanting gagang telepon itu.
                Esoknya aku pergi ke studio untuk melihat peran akting Jo. Ia tak mengetahui aku akan datang. Rencananya aku akan memberinya surprise. Tapi ternyata, dialah yang sebenarnya memberiku surprise lewat adegannya di film. Tampak jelas di mataku, bibir Jo menempel di bibir seorang gadisyang kutemui kemarin! Jo tampak sangat menikmatinya. Aku shock. Tak lama, sang sutradara berseru”CUT!”. Ia sepertinya senang dengan adegan tadi. Aku berdiri mematung di balik kamera di sudut ruangan. Tasku jatuh dan menimbulkan suara yang lumayan berisik. Seluruh ruangan menatapku, include Jo. Dari air mukanya terlihat ia sangat kaget. Ia mendatangiku dan berusaha memberikan penjelasan, namun ku tepis dengan kasar.
                Aku memakinya dan pergi meninggalkannya. Ia berteriak ke arahku, aku mengabaikannya. Aku sakit, sakit hati. Sesampainya di rumah, aku mendapati sebuah botol minuman kosong. Di dalamnya terdapat sepucuk surat. Aku mengeluarkannya. Tercekat aku membacanya.
"KAU SAMA SEKALI BUKAN ORANG YANG PANTAS MENDAMPINGI JO!"
                Keesokan harinya, beberapa perempuan berada di depan pagar rumahku saat aku baru saja keluar dari rumah dan ingin pergi ke perpustakaan kota. Beberapa dari mereka membicarakan sesuatu, ada yang menatapku sinis. Sekilas aku dengar mereka membicarakan Jo. Kemudian salah satu dari mereka menghampiriku. Ia mengatakan bahwa aku sama sekali tidak serasi dengan Jo. Jo sangat sempurna tidak mungkin mau denganku yang hanya kutu buku.
                Aku bergegas pergi ke perpustakaan. Tidak tahan dengan semua hinaan mereka. Aku sedih. Di perpustakaan aku memilih duduk di pojok ruangan dan menghadap dinding. Aku menangis di sana. Bacaan yang aku pegang juga tak satu kata pun masuk di otakku. Aku kembali membuka surat botol yang memang ku bawa di dalam tasku. Semuanya karena Jo. Aku tidak sangup lagi bila aku harus menghadapi semua cobaan ini. Mungkin yang mereka katakana benar. AkuRegina Athalya, tidak pantas mendapat seorang kekasih seperti Jonathan. Ia terlalu sempurna. Seorang artis tidak akan pernah cocok dengan seorang kutu buku.
                Seseorang dari belakang mengambil kertas yang aku pegang. Jo.
                “Rupanya kamu di sini? Aku tadi mencarimu di rumah. Katanya kau pergi ke perpustakaan,” ucapnya. Ia membaca surat itu. Raut wajahnya tegang. Aku mengambilnya kembali. Dan mengatakan pada Jo, ku akhiri hubungan kami dengan alasan yang cukup kuat. Setelah itu aku berlari meninggalkan Jo yang berdiri mematung.
                Seharian ini aku menangis di kamar. Mengingat semua kenangan bersama Jo. Sarapan yang berada di hadapanku puntak kuhabiskan, padahal itu adalah makanan favoritku. Aku beranjak menuju layar televisi dan menyetel sebuah acara reality show. Mataku terpaut pada seseorang di sana. Jonathan Earst.
                “… Aku bukan orang yang sempurna. Karena tanpa kehadiranmu, jiwaku tak akan pernah utuh. Maaf kalau selama ini aku membuatmu sedih dan sakit hati. Aku pikir, dengan aku menjadi seperti aku yang sekarang ini, kau akan selalu melihatku saat aku tak bisa menemanimu. Semuanya sudah aku ketahui dan aku sudah memberitahu mereka bahwa kau akan tetap selalu menjadi kekasihku. Aku tidak peduli apakah kau seorang kutu buku sekali pun. Bagiku, kau tetap menjadi Regina Athalya, Regina yang aku cintai sampai kapan pun. Kalau kau mendengar dan melihat tayangan ini, aku ingin kamu keluar dari rumahmu dan sambutlah aku di luar…”
                Jo menyatakan cintanya di televisi!!! Dan.. hei! Latar belakang itu seperti aku kenal. That’s my home! Aku segera membuka pintu dan ku dapati Jo berada di saa memegang sebuah mikropon sedang disorot oleh beberapa kamera. Aku tercengang. Ku lirik lagi di tivi, siaran langsung! Jadi rumahku sedang ditonton oleh khalayak ramai?
                “Regina Athalya, aku tidak sanggup berpisah terlalu lama darimu. Aku tidak mau  kehilangan dirimu lagi. Jadi untuk detik ini juga, maukah kau kembali ke dalam pelukanku? Aku janji aku akan selalu membahagiakanmu,” tutup Jo.
                Aku terharu. Kemudian berlari menuju ke tempat Jo berada. Memeluknya seerat mungkin. Seorang narator kemudian bercuap-cuap di mikropon untuk menutup acara. Samar ku dengar ia menyebutkan ‘happy ending’. Aku bahagia sekali. Jo memang sempurna di mataku. Ia sangat romantis.
                Aku menyadari sesuatu. Cinta akan selalu ada. Sebanyak apapun rintangan, jika kita mau berusaha untuk menghadapinya maka ia akan berakhir dengan indah. Selanjutnya, jo semakin terkenal dengan tayangan realty show ini. Namun ia sangat meminta maaf karena ia harus meninggalkan perannyaseluruh perannya di dunia akting dan menjadi Jo yang biasa saja. Aku menangis saat itu. Ia melakukannya untukku?
                Satu bulan kemudian, Jo kembali menjalani rutinitasnya yang lama. Ia melanjutkan studinya di universitas. Fans fanatik Jo memang masih ada, walaupun ia bukan sebagai artis lagi. Aku tidak keberatan jika mereka belum rela sosok Jo hilang dari layar kaca. Karena nanti pasti ada saatnya semua itu berakhir. Dan tebak! Setiap hari, kami menghabiskan waku di perpustakaan dan kafe biasa. Aku senang, Jo sekarang kembali menjadi Jo-ku yang dulu. Karena ia akan selalu ada untukku.
                I love you, Jo…

Minggu, 23 September 2012

#Curhat 1

Dulu, aku suka cowok, tapi sekarang suka cewek .. Loh? BUKAN !!

Aku pernah suka sama seorang cowok dengan inisial S. Aku suka mulai bulan Oktober 2011. Alasan kenapa aku suka sama dia ya karena dia hampir sempurna sebagai calon suami. Tipe-tipe yang diinginkan sama orang tua. Tapi, karena dia hampir sempurna itu, sepertinya dia juga mau pasangan yang hampir sempurna. Aku pernah mikir juga. Kalo aku terus suka dia dan akhirnya dia ga suka, pasti bakalan sakit hati. Jadi aku mau berhenti suka sama dia di usiaku yang genap 19 tahun.

Tapi kemudian, aku kembali suka sama dia. Susah rasanya ngelupain perasaan ini. Kembali lagi suka sama dia, yah bearti kembali lagi mikir kalo nerusin perasaan ini tanpa dia tahu. Ketemu aja jarang banget, dan kalaupun ketemu, pasti ga ada kesempatan untuk mengobrol. Dan selama aku tahu dan kenal sama dia, kami sama sekali nggak pernah ngobrol. Menyakitkan banget -_-

Aku nggak ambil pusing. Biar aja. Toh aku juga masih dalam proses memperbaiki diri supaya bisa menjadi seseorang yang dia mau. Tapi setelah dipikir lagi, mungkin aku salah. Harusnya keputusanku waktu umur 19 tahunku dimulai, aku harus konsisten. Aku harus ngelupain dia. Harus.

Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen: Tak Selamanya Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


            Selalu menatapnya dari kejauhan. Aku tahu ini terdengar gila, tapi inilah kenyataannya. Aku menyukai mas Andre, pria yang terpaut 4 tahun di atasku. Ia adalah rekan kerja ayahku. Awalnya kami berteman di Facebook, namun aku tak pernah tahu bahwa ia bekerja satu kantor dengan ayahku.
            Awalnya aku biasa saja. Namun, setelah mendengar dari ayah tentang dia, aku jadi penasaran. Segala tentangnya ingin aku ketahui. Tapi hanya sebatas menjadi stalker di dunia maya. Menurutku, dia sosok calon suami yang sempurna.
            “Ra, ayo masuk!” ajak Ayah. Lucky me! Ayah mengajakku ke kantornya untuk menghadiri gathering yang diadakan di ballroom perusahaan, yang artinya ada kemungkinan untukku bertemu mas Andre. Eum, ralat, ‘melihat’ mas Andre. Karena dalam

Kamis, 03 Mei 2012

Post Semangat #1


Tetap semangat walau kadang terhimpit dan dihempas oleh badai kendala dan hambatan hidup
Tetap ceria walau kadang keinginan tak sesuai harapan
Tetap senyum walau kadang hati terasa sesak
Tetap sabar walau ujian datang bertingkat-tingkat
Tetap ikhlas menjalani fenomena hidup ini karena tak satupun manusia yang hidupnya selalu dipenuhi oleh keindahan dan kemulusan
Tetap berdoa memohon keringanan dari semuanya dan tak lupa ikhtiar untuk belajar dari apapun karena Allah tak pernah lupa mencatat dan mengawasi semua kebajikan yang kita lakukan
:)

Semangkuk Bakso-Renungan


Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.
"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.
"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.
"Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."
"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."
Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."
"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

Rabu, 02 Mei 2012

Lonely Girl


    Sepi.
    Hari ini hari ke 3 musim dingin. Meskipun tidak terlalu dingin cuaca di luar, namun hatiku telah membeku. Hari ini tepat 3 bulan sudah aku di rumah sendiri. Papa dan Mama sedang ada tugas di luar negeri. Dan sayangnya, aku adalah anak tunggal. Jadi harus benar-benar sendiri saat ini. Papa dan Mama memang hanya berniat mempunyai satu anak, dan itu aku, Elisabeth Handrique. Di rumah memang telah tersedia semua barang yang ku perlukan. Rumahku memang bisa dibilang sangat besar. Setidaknya termewah di blok perumahan kami yang memang terkenal elit. Mulai dari plate washer, swimming pool, home theatre, sampai fitness room semua tersedia.
    Rumahku yang memiliki 2 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah memang dipandang orang benar-benar megah. Bahkan ada yang mengira kami adalah salah satu jajaran orang terkaya di Eropa. Pfuh! Bullshit. Kalaupun iya, rasanya aku lebih memilih menjadi keluarga biasa-biasa saja dengan orang tua yang selalu ada di sampingku. Aku selalu iri dengan teman-temanku di sekolah.
    Saat liburan, mereka banyak menghabiskan waktu dengan orang tua mereka. Pergi ke  Hawaii atau pantai tropis lainnya atau hanya sekedar membakar barbeque di halaman belakang rumah. Dulu, duluu sekali, saat Papa dan Mama belum mendapat tawaran bekerja seperti saat ini, kami sering bermain di belakang rumah. Tentunya rumah kami yang lama di pinggir kota. Kami membeli sebuah kolam karet dan berendam bertiga saat hari panas dan memasukkan beberapa potong es batu ke dalamnya. Mama membawakan lemon juice yang segar dari rumah dan langsung melompat hingga air dalam kolam buatan itu habis setengah volumenya. Yah, mama dulu memang mempunyai tubuh yang berisi. Dengan tingginya yang 170 cm itu, ia mempunyai berat 80 kg dan Papa yang 180 cm dengan berat 75.
    Mereka saling mencintai dan memutuskan menikah muda saat itu. Papa berusia 24 dan Mama 19. Mereka selalu bersama. Papa adalah pengacara biasa dan Mama yang lulusan sarjana menjadi ibu rumah tangga. Keadaan mulai berubah saat Papa ditawari seorang untuk menjadi salah satu pengacara pribadi pengusaha besar di Eropa Timur, dan Mama ditawari menjadi penasehat keuangan bank Negara. Mama pun sibuk berdiet hingga pipinya menjadi terlihat tirus. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai rapat di luar negeri. Dan aku, Izzy, hanya diam di rumah untuk liburan musim dinginku.
    Aku selalu menyibukkan diri dengan berbagai les musik dan olah raga. Semata hanya untuk menghilangkan rasa kesepian yang perlahan menyelimuti seluruh hatiku. Terkadang, aku menulis cerpen dan ku kirimkan ke beberapa majalah teenagers. Mereka menyukai tulisanku dan menerbitkannya. Tentunya aku mendapatkan royalty. Saat itu aku bahagia, karena aku merasa dihargai. Uang royalty itupun aku tabung di rekening sendiri. Sengaja ku sisihkan karena aku tidak mau hasil kerjaku dicampur dengan rekeningku dengan semua uang berlimpah pemberian orang tuaku.
    Dan saat mengambil royalty itu ke majalan Teeneasy, aku bertemu dengan seorang cowok, Jack. Ia menjadi pemenang kedua dalam mengarang cerpen, setelahku. Ia menjulurkan tangannya dan mengucapkan selamat padaku.
    “Izzy, ya? Congrats the winner!” ia tersenyum padaku dan menyalamiku.
    Aku membalasnya.
    Kami pun bertukar email dan sering jalan bareng. Setelah melalui tahap pendekatan denganku, kami berpacaran. Saat itu aku merasa kesepian di hatiku telah sirna. Jack sangat baik, perhatian padaku, dan sering menghiburku saat aku sedang sedih. Kami banyak menghabiskan waktu berdua di rumahku. Kadang kami berenang bersama saat hari panas atau menonton film romantis. Kami juga saling bertukar kado saat Valentine Day. Aku memberinya jam tangan G-Shock limited edition yang ku pesan di internet. Mahal sih, tapi tak seberapa dibanding dengan perhatiannya padaku selama ini.
Dan dia memberiku sebuah boneka beruang mengenakan mantel berwarna abu-abu membawa hati di depan dadanya bertuliskan ‘only you’.
    Saat musim gugur, aku pergi ke rumahnya. Orang tuanya menyambutku dengan hangat dan memberiku segelas hot chocolate, favoritku. Orang tua Jack menceritakan masa kecil Jack yang selalu mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya. Pernah, Jack sakit gara-gara mengamati sebuah kepompong saat hari hujan. Ia sangat penasaran, mengapa ulat bisa menjadi sebuah benda berbulu halus dan meggantung di dahan pohon. Juga saat Jack melintasi pinggir sungai untuk mencari di mana ujung dan pangkal sungai tersebut. Orang tua Jack sangat kewalahan mencarinya saat itu.
    Jack mempunyai seorang adik perempuan yang manis, Magdalena. Lena berambut ikal berwarna coklat terang panjang sepinggang. Ia sangat lucu dan menggemaskan. Kadang ia bertingkah konyol dengan mengenakan terusan ibunya dan membuatnya tampak seperti pengantin lalu menari hula-hula di depan kami.
    Malam tahun baru, aku dan Jack janjian untuk bertemu di depan kafe Allosia. Kami berniat menghabiskan akhir tahun bersama. Jam 8 kurang 15 menit aku sampai di tempat yang telah dijanjikan. Lebih cepat 15 menit, pikirku. Sambil menunggu Jack, aku membeli segelas Vanilla Latte. Berjaga-jaga bila saja mataku terserang kantuk. Aku memakai pakaian terbaikku. Topi baret rajut, terusan berwarna biru dan berbahan kain hangat dan tebal kulapisi dengan mantel merah dan scraft dengan warna serupa. Ku pakai sepatu boot hitam dengan hak yang lumayan tinggi, siapa tahu salju turun. Dengan parfum buatan Itali dengan wangi lembut—Jack bilang, ia suka baunya—yang menyelimuti tubuhku.
    Sudah lewat hampir setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Namun Jack belum terlihat juga batang hidungnya. Aku menatap ke toko sebelah, toko elektronik. Banyak televisi yang dipajang di etalasenya. TV itu menyala dengan acara berita langsung.
    Reporter di dalamnya terlihat manis dengan pakaian kerjanya. Blus panjang berwarna abu-abu. Yeah, grey is warm. Ia melaporkan berita di depan sebuah toko kue di dekat Park Avenue. Kecelakaan. Katanya, seorang mahasiswa tertabrak mobil yang dikendarai oleh pengemudi yang mabuk. Ia tewas di tempat. Saat keluar dari toko kue dan mendekati tempat penyebrangan, tiba-tiba mobil off road melaju dan hilang kendali saat berbelok dan menyerang beberapa pejalan kaki. Diduga pengemudi sedang mabuk. Mahasiswa tadi langsung diangkut dengan trolley rumah sakit dan… oh God!
    “That’s Jack!” pekikku langsung.
    Aku segera berlari ke tempat kejadian perkara dan mendapati Jack terlelap di tidur panjangnya dengan bersimbah darah. Air mataku terjatuh. Seorang wanita paruh baya menepuk pelan pundakku dan memberikan sebuah kotak kue.
    “I think this is for you,” ujarnya.
    Aku membukanya. Sebuah cake mini dengan bertuliskan selai bluberry ‘Happy New Year My Dear’. Aku menangis sejadi-jadinya. Menatap Jack terakhir kalinya sebelum wajah hangatnya ditutup oleh kain putih. Jackku. Jack yang aku sayang. Jack yang aku cinta. Jack yang selalu menemani hariku, menghangatkan hatiku saat aku kesepian. Jack yang selalu menghiburku saat aku sedih. Jack yang wajahnya selalu dihiasi senyum hangatnya. Jack yang menyayangiku… telah tiada. Aku terduduk lemas. Dengan tangis yang tak henti.
    2 bulan setelah Jack pergi, pergi selamanya. Aku menjalani hariku dengan tatapan kosong. Kali ini aku merasa sepi lagi. Kesepian ini sepertinya akan selalu menghatuiku. Kadang aku mengingat masa-masa Jack di sampingku. Ia mengatakan, “Kau harus selalu tersenyum!” Aku tersenyum tipis saat mengingat itu. Namun setelahnya, aku menangis. Aku takkan bisa tersenyum tanpa Jack. Ialah yang selama ini membuatku tersenyum. Membuatku mengenal arti kata bahagia. Aku takkan bisa tersenyum tanpanya lagi.
    Mungkin takdirku adalah menjadi seorang yang kesepian, tanpa Jack.

Love Between Debt

     Selamat pagi dunia! Hari cerah ini harus diawali dengan senyuman.
    Hai, aku Arabella Wilhelm. Call me Ara. Aku berusia 16 tahun. Saat ini sekolah di Senior High grade kedua. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepedaku, hadiah dari ayah saat ulang tahun ke 15ku. Bukan karena ayahku tidak mampu membelikanku sepeda motor ataupun mobil, tapi lebih karena mengendarai sepeda lebih sehat dan jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Lagipula ayah yakin aku tidak akan pergi terlalu jauh dengan sepeda. Yah, terdegar seperti dipingit sih, tapi aku yakin ayah melakukan itu karena ia sayang padaku.
    “Pagi, Ara,” sapa ibuku dari dapur saat melihatku menuruni anak tangga.
    Aku membalas sapaannya dengan senyuman. Hmm, aroma teh daun dari dapur membuatku bersemangat. Aku menoleh ke dapur. Waah, ibu memanggang daging untuk sarapan. Slrp!
    “Untuk yang melepas masa sendirinya,” goda ibu padaku. Aku menunduk. Wajahku pasti merah.
    Yeah, ibu tahu hubunganku dengan Erick, Frederick Miquelon. Aku jadian dengannya kemarin malam. Aku memang suka padanya, tapi aku baru tahu kalau dia juga memendam perasaan yang sama. Maka, jadilah kemarin malam ia menyatakan cinta padaku, di hadapan orang tuaku! Hal teromantis yang pernah ku dapat.
    Sebelumnya, aku memang mengenal Erick. Dulu aku sering bermain ke rumahnya, menemani ayah yang mempunyai sebuah bisnis dengan ayah Erick. Namun, setelah hampir satu tahun, ayah tidak pernah mengajakku lagi ke rumah Erick. Namun kami tetap tidak putus kontak. Favorit kami sama, bersepeda keliling komplek. Aku dan Erick biasanya mengelilingi komplek perumahannya. Aku menggunakan sepeda adik laki-lakinya yang satu tahun di atasku. Namun, sejak kami tidak pernah bertemu, kami bersepeda di komplek masing-masing.
    Usiaku dan Erick memang sedikit terpaut jauh. Aku berumur 16 tahun dan Erick 23 tahun. Namun perbedaan itu bukan penghalang bagi kami untuk tetap berteman. Makin lama kami bersama, aku merasakan hal yang beda di hatiku. Perlahan aku mulai mengagumi sosok Erick yang kelihatan gentle di mataku. Entah kenapa, perasaan kagum itu berubah menjadi rasa suka padanya. Aku mulai salah tingkah bila ia menatap wajahku. Menundukkan kepala, berpura-pura mencari sesuatu, and so on… Kadang Erick malah tertawa melihat tingkah konyolku itu. Aku merasa senang melihatnya tertawa dan hatiku berbunga-bunga bila menatap mata coklatnya itu. Matanya tajam tapi penuh kasih sayang.
    Dan bagaimana aku bisa jadian dengannya?
    Sore itu aku janjian untuk bersepeda dengannya di komplekku. Ia dengan senang hati menyanggupi. Pukul 3 sore ia datang dan segera mengeluarkan sepedanya dari mobil. Kami 3 kali mengelilingi komplek dan berhenti di taman untuk istirahat. Sesaat kami mengeluarkan candaan. Erick menatap mataku, lagi. Aku mengalihkan pandangan ke air mancur di tengah taman. Erick tertawa ringan dan mengacak rambutku. Ia bertanya apakah aku punya kekasih. Saat itu aku kaget dan langsung berpikir Erick akan memintaku jadi kekasihnya saat itu juga. Namun melihat ekspresi kagetku, ia malah tertawa da berkata, “Aku lupa. Ara kan selalu sama aku. Mana mungkin ada waktu untuk pria lain.”
    Aku tertawa melihat kesombongannya itu. Lelucon sombong. Hihihi…
    Jam 6 kurang aku sampai di rumah dan segera mandi. Erick sudah meminta izin untuk pulang sebelumnya. Rasanya kakiku lumayan pegal. Tapi hari itu bersama Erick sepegal apapun tidak akan berarti untukku. Malamnya, sebelum kami makan malam, pintu rumah diketuk. Ayah segera membukanya dan mempersilakan orang itu untuk masuk ke ruang tamu. Aku mengintip sekilas. Erick! Mau apa dia ke sini, pikirku.
    Detik selanjutnya, ayah memanggilku dan ibu untuk bergabung di ruang tamu. Dan di situlah Erick menyatakan perasaannya padaku. Aku senang sekali. Sekilas, aku menatap wajah ayah dan ibu. Mereka tampaknya menyerahkan sepenuhnya jawaban ke padaku. Dan aku menjawab dengan yakin, “Yeah, I will.”
    Hari ini aku berniat pergi ke rumah Erick. Ia mengatakan akan menunjukkan something amazing padaku. Dengan mengendarai sepedaku, aku pergi ke rumahnya. Sebenarnya ayah menawarkan akan mengantarku, tapi aku menolaknya. Ayah kan sedang sibuk di kantor, apa iya aku akan memintanya pulang hanya untuk mengantarkan aku ke rumah Erick yang berlawanan arah itu.
    Begitu sampai di rumahnya aku disambut ramah oleh ibu Erick, tante Alena. Ia menyuruhku untuk langsung naik ke lantai 2, kamar Erick. Erick berpesan jika aku datang, aku langsung ke kamarnya saja. Aku mengetuk pintuk kamar dan membukanya. Erick tersenyum di meja kerjanya.
    Kamar Erick sama besarnya dengan kamarku. Hanya saja, kamar Erick ini digabung dengan ruang kerjanya. Single bed terletak di tepi kamar dan disampingnya lemari pakaian. Di sisi yang berlawanan ada sebuah rak besar yang diisi oleh buku-buku mekanik dan beberapa peralatannya. Di sebelah rak, terdapat meja kerja Erick. Terdapat printer dan sebuah laptop terbuka di sana. Dan di sebelahnya lagi sebuah meja berukuran sedikit lebih besar dari sebelumnya. Di atasnya terdapat berbagai macam peralatan besi. Entah itu baut, sekrup putar, atau obeng, dan sebuah kotak besi yang berisi alat-alat elekronik yang aku tidak mengerti untuk apa.
    Aku memandang sekitar. Kamarnya lumayan berantakan dengan barang-barang yang berserakan di lantai. Tapi nuansa kamar ini cerah dengan cat dinding berwarna putih gading. Awalnya Erick ingin mengecat kamarnya dengan warna kuning agar lebih atraktif, tapi karena ayahnya, om Julio melarang, diurungkanlah niatnya itu.
    “Untuk apa kau menyuruhku kemari?” tanyaku seraya menuju single bed miliknya dan mendudukinya, berhubung kursi yang ada di ruangan ini didudukinya. Erick berputar menghadapku dan menghampiriku, duduk di atas single bed.
    Ia memegang tanganku, “Aku mencintaimu.”
    Serentak aku tertunduk malu. Selalu, Erick selalu membuatku tersipu malu. Tangannya menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya. Aku menyadari wajahya terlalu dekat dengan wajahku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mataku terpejam dan… CUP! Seperti menekan stempel. Bibirku dan bibirnya menempel. Yeah, aku merasakan detak jantungku berhenti saat itu juga. Ciuman pertamaku, dengan Erick, kekasih sekaligus satu-satunya orang yang aku sayang.
    Tak lama aku merasakan kebahagiaan itu, pintu kamar Erick dibuka dengan tiba-tiba. Aku langsung menjauh dari Erick yang entah bagaimana aku tidak merasakan bahwa tangannya telah memelukku tadi. Ayah Erick muncul di pintu. Aku makin salah tingkah dan memilih ke toilet yang ada di lantai bawah. Bodohnya aku, mau apa aku di toilet? Aku sama sekali tidak ingin buang air.
    Jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar Erick setelah mengambil napas panjang. Sesaat sebelum aku masuk, aku mendengar om Julio berkata pada Erick. Awalnya aku tidak mengerti yang dibicarakan, tapi akhirnya aku mengambil kesimpulan setelah om Julio mengakhiri pembicaraannya. Erick memintaku untuk menjadi kekasihnya tak lain adalah untuk melunasi hutang ayahnya kepada ayahku. Katanya jika Erick membuatku bahagia, ayahku mungkin akan meringankan beban hutang.
    Aku merasa seperti tertimpa batu besar. Aku sangat terpukul. Ternyata Erick memintaku jadi kekasihnya agar hutang ayahnya diringankan oleh ayahku! Tega sekali. Om Julio keluar dari kamar Erick dan kaget mendapatiku di sana. Aku tetap bersikap wajar seolah aku baru saja berada di sana. Om Julio tersenyum ramah padaku. Aku masuk ke kamar Erick dengan tatapan datar dan kosong. Erick bertanya padaku apa yang telah terjadi. Dan harusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku menepis tangannya dengan kasar. Ia terlihat sangat kaget.
    Aku langsung berlari meninggalkan kamarnya. Setelah meminta izin sekilas dengan tante Alena, aku menggapai sepedaku dan mengayunnya cepat. Aku menangis di jalan. Erick berusaha mengejarku di belakang. Aku tidak peduli. Entah bagaimana, hujan turun. Aku bersyukur, karena dengan begitu air mataku tak akan terlihat jelas oleh orang-orang.
    Kelopak mataku penuh dengan air mata, menghalangiku untuk melihat jalanan yang benar. Aku tak melihat ada sebuah batu dan WUSH! Aku limbung dan jatuh. Lutut dan siku tanganku perih tergores aspal. Aku meringis kesakitan. Dari belakang, Erick membantuku berdiri. Ia memelukku, aku mengelak namun Erick semakin memperkuat pelukannya. Aku memukul dada Erick dengan kedua genggaman tanganku. Erick pasrah menerimanya. Aku mengatakan apa yang aku dengar tadi.
    Erick sempat terdiam. Namun ia berusaha menenangkanku. Ia berusaha menjelaskan semuanya. Yeah, memang benar ia selama ini mendekatiku dan ingin menjadikanku sebagai kekasih agar hutang ayahnya bisa diringankan. Namun itu semua hanya pada awalnya. Setelah ia bersamaku, ia merasa benar-benar tulus menyayangiku. Terlepas dari semua urusan ayah kami atau apapun juga. Ia menerangkan, hanya aku yang ada di dalam hatinya.
    Saat di kamar tadi, ayahnya membentak karena ia mengatakan menyayangiku dengan tulus. Ia terdiam dan hanya mendengarkan ocehan ayahnya sampai habis. Dan bagian itulah yang ku dengar. Aku berhenti memukul dan mengadahkan wajahku ke wajahnya. Aku menatap matanya, tidak ada kebohongan di sana.
    “Trust me. You are the one and only in my heart. Never change by money or anything else,” katanya. Aku menyerah. Aku balik memeluknya.
    Keesokan harinya, aku flu. Pasti karena kemarin berhujan-hujan ria. Erick datang ke rumah dan menyuapiku sup. Ia yang menjagaku hari ini. Seharian penuh. Mulai pagi tadi sampai saat ini ia selalu setia di sampingku. Ia meminta izin kepada kantornya untuk cuti hari ini.
    “Apa kamu tidak merasa malu mempunyai kekasih yang umurnya jauh di bawahmu?” tanyaku
    “Aku belum pernah bilang, ya? Cinta tidak akan pernah terhalang apapun, entah umur, latar belakang, RAS, ataupun…”
    Omongan Erick menggantung. Ia seakan bingung mencari kata.
    “Hutang,” sambungku.
    Ia tertawa dan mengacak rambutku.
    Tangannya memegang daguku dan siap untuk melancarkan ‘serangan’ kedua. Wajah kami semakin mendekat dan…
    “HATSYIII!” aku bersin, di wajahnya!!!
    “Maaf!”