Selalu
menatapnya dari kejauhan. Aku tahu ini terdengar gila, tapi inilah
kenyataannya. Aku menyukai mas Andre, pria yang terpaut 4 tahun di atasku. Ia
adalah rekan kerja ayahku. Awalnya kami berteman di Facebook, namun aku tak
pernah tahu bahwa ia bekerja satu kantor dengan ayahku.
Awalnya
aku biasa saja. Namun, setelah mendengar dari ayah tentang dia, aku jadi
penasaran. Segala tentangnya ingin aku ketahui. Tapi hanya sebatas menjadi
stalker di dunia maya. Menurutku, dia sosok calon suami yang sempurna.
“Ra,
ayo masuk!” ajak Ayah. Lucky me! Ayah mengajakku ke kantornya untuk menghadiri
gathering yang diadakan di ballroom perusahaan, yang artinya ada kemungkinan
untukku bertemu mas Andre. Eum, ralat, ‘melihat’ mas Andre. Karena dalam
hal ini hanya aku yang memandang dan berharap ia bisa menyukaiku, atau sekedar mengobrol, atau hanya bertemu.
hal ini hanya aku yang memandang dan berharap ia bisa menyukaiku, atau sekedar mengobrol, atau hanya bertemu.
Saat
memasuki ballroom yang terlihat megah itu, mataku langsung terpaut pada sesosok
pria yang berdiri di salah satu sudut ruangan bersama teman-teman kantornya
yang lain. Dia terlihat sempurna dengan mengenakan atasan berkerah warna putih
dan celana jeans berwarna gelap. Matanya yang mempesona, hidungnya yang
mancung, dan … he’s perfect!
Aku
mengambil tempat yang strategis untuk tetap dapat melihatnya tanpa ketahuan.
“Ayah
ngambil makan dulu, Ra. Kamu terserah aja mau ke mana,” ucap Ayah. Aku
mengangguk. Selepas Ayah pergi, aku kembali meluruskan pandanganku untuk
menatap mas Andre, namun aku tak menemukannya. Aku mendesah pelan. Sudahlah.
Kemudian aku beranjak keluar untuk mencari toilet.
Selepas
dari toilet, aku segera kembali ke ruangan, tapi … BRUK! Ups, aku tersandung
kakiku sendiri. Hal yang sangat memalukan! Untung saja disini tidak ada orang.
Kalau tidak, pasti akan sangat malu sekali aku! Aku mencoba untuk bangun.
Sepertinya perih sekali bagian sikuku.
“Rara?
Kenapa? Jatuh?” tanya mas Andre yang tiba-tiba muncul dari toilet pria. Aku
hanya tersenyum kecut. Antara grogi, kaget, senang, sakit, dan tahu harus
berkata apa.
“Ada
yang luka?” tanyanya lagi. Sambil merintih pelan, aku menggulung lengan bajuku
dan kudapati luka disana.
“Tunggu
di sini, ya? Aku ambil kotak p3k dulu,” ucapnya seraya berdiri.
“Nggak
usah, Mas. Nggak apa-apa kok,” cegahku.
“Jangan
dibiarin. Nanti malah infeksi. Udah, tunggu di sini, ya? Duduk aja di sini,”
ucapnya sambil menyerahkan kursi plastik.
Ia
kemudian menjauh. Ya Tuhan, jika dia memang bukan untukku, kenapa aku masih
saja menyukainya? Aku bahkan tak mengetahui perasaannya. Aku takut jika terus
seperti ini, aku akan sakit bila tak memilikinya.
Tanpa
sadar, butir demi butir air mataku jatuh.
“Ra,
kok nangis? Perih banget, ya?” tanya mas Andre yang tiba-tiba berada di
depanku. Aku kaget dan segera menyeka air mataku. Melow banget deh gue! Malu!
“Iya,
lumayan perihnya,” jawabku.
Ia
kemudian mengoleskan revanol untuk membersihkan lukaku. Nyess! Perih! Aku
mengerang pelan.
“Ndre!
Good luck ya buat lamarannya nanti!” salah seorang teman kantor mas Andre lewat
di depan kami. Lamaran? Mas Andre sudah mau nikah? Memang sih umurnya sudah
mencukupi. Tapi aku tak pernah mendengar bahwa ia sedang dekat dengan seorang
gadis. Sumber di dunia maya juga tak memberiku informasi yang mengarah kesana.
Semua terlihat biasa. Tapi, ya Tuhan, inilah yang aku maksud.
“Makasih,
doain aja,” jawab mas Andre. Teman kantornya kembali berjalan melewati kami.
“Mas
mau nikah?” tanyaku gugup. Mas Andre tersenyum.
“Belum.
Baru mau nanya sama ceweknya aja. Mau atau nggak sama aku. Hm.. jadi grogi
nih,” ujarnya.
“Tenang
aja. Siapa sih yang nggak mau sama mas Andre,” kilahku berusaha untuk tetap
memasang wajah tenang. Apakah seperih ini rasanya patah hati? Bahkan aku tidak
menangis. Rasanya hanya sesak untuk bernapas.
“Iya,
tapi cewek satu ini beda.”
“Oh
ya? Memang siapa?” tanyaku.
Mas
Andre diam sejenak, “Yang pasti dia cewek yang baik, ramah, sopan, dan lembut.”
“Oh
ya? Tipe yang berlawanan sama aku,” jawabku dengan nada tak suka. Kenapa aku
harus tak suka? Semoga saja mas Andre tidak menyadari nada bicaraku tadi.
“Yah,
yang aku lihat seperti itu. Tapi entahlah jika ada hal yang tak aku ketahui
tentangnya,” jawab mas Andre.
“Kapan
ngelamarnya, Mas?”
“Secepatnya.
Mungkin minggu depan. Aku sudah bicara sama orang tuanya, dan mereka setuju
saja jika aku bersamanya. Asalkan cewek itu bahagia.”
Aku
mencoba ternyum tulus mendengar penuturan mas Andre. Sepertinya ia sangat
serius dengan gadis yang akan dilamarnya itu.
“Oh,
ya, kamu mau bantu aku?”
~ ~ ~
“Yakin
mau ke Jawa?” tanya Ayah. Aku mengangguk. Entah sudah berapa kali Ayah bertanya
dengan pertanyaan yang sama. Sejak 5 hari yang lalu, sejak aku memutuskan untuk
pergi mengunjungi keluarga yang ada di sana, Ayah tak henti-hentinya bertanya
kepadaku.
Aku
menjawab bahwa aku ingin menunjungi keluarga yang ada di sana karena aku
merindukan mereka, namun sebenarnya lebih dari itu. Aku ingin menghindar. Aku
ingin menghindari mas Andre. Menghindari kenyataan bahwa mas Andre akan melamar
gadis lain. Aku memang bukan siapa-siapa bagi mas Andre. Aku hanya gadis yang
kebetulan bertemu dan menyukainya. Kalaupun mas Andre akhirnya memilih gadis
lain, aku bisa apa?
Sesaat
kemudian, handphoneku berbunyi. Mas Andre meneleponku. Ada apa? Bukannya hari
ini ia akan melamar gadis yang dia suka itu?
Aku
meminta izin pada Ayah untuk ke toilet, juga mencari tempat yang lebih sepi
untuk mengangkat telepon. Karena sangat tidak lucu, kau berteriak di telepon
dan pengunjung bandara menatap heran padamu.
“Ra,
kamu dimana? Aku grogi, aku mau ketemu kamu bisa nggak?”
“Aku
lagi nggak bisa, Mas. Aku di jalan,” aku beralasan.
“Oh,
gitu, ya? Yaudah. Aku tunggu kamu aja deh.”
Bagaimana
mungkin aku sanggup bertemu dengannya dalam detik-detik ia akan melamar gadis
lain? Biarlah, mas Andre nggak mungkin akan menungguku terlalu lama. Pasti ia
akan pulang juga. Mungkin ia hanya perlu menenangkan diri.
~ ~ ~
Setelah
aku menyalakan handphone pasca turun dari pesawat tadi, sms yang kemungkinan
pending, bertubi-tubi masuk di hapeku. Ada 15 sms. Dan semuanya dari mas Andre.
‘Ra,
belum pulang?’
‘Pergi
kemana Ra?’
‘Kok
hapenya dimatikan? Aku ganggu, ya?’
‘Aku
nungguin kamu di depan rumah’
‘Kamu
ke Jawa Ra? Tadi ibu yang kasih tau aku. Kok nggak bilang?’
Dan
sms lain yang berisi tak jauh berbeda dari yang tadi. Mas Andre ini aneh deh.
Umurnya sudah matang dan tidak seharusnya grogi. Dan kalaupun grogi karena
ingin melamar, kenapa harus dating padaku? Walaupun memang akulah yang menjadi
salah satu penasihatnya. Sudahlah, aku tak ingin memikirkan mas Andre selama
berada di Jawa.
Setibanya
di rumah sanak keluarga setelah turun dar pesawat dan naik bus selama 2 jam,
aku langsung disambut meriah oleh keluargaku. Maklum, aku jarang sekali pergi
ke Jawa. Apalagi hanya sendiri dengan alas an ingin mengunjungi keluarga.
Setelah
sesi bersalam-salaman dengan oenghuni rumah, aku menuju kamar yang telah dipersiapkan
untuk menyambut kedatanganku. Dengan semangat, aku merebahkan badanku di kasur
empuk itu. Lelah.
Tak
lama, pintu diketuk, “Dik Rara? Mau mandi sekarang?” tanya mbak Indah,
sepupuku.
“Iya,
Mbak. Sebentar lagi,” jawabku. Aku berbalik kanan dan menghela napas panjang.
Apa yang sekarang dilakukan mas Andre? Sudahkah ia melamar gadis idamannya? Aku
pun enggan membalas smsnya. Takut jika akan semakin sesak dadaku. Mungkin lebih
baik seperti ini dulu. Mungkin.
Esoknya,
entah udara memang sangat dingin atau apa, aku terbangun. Rasa dinginnya terasa
menusuk. Aku tidur hanya dengan mengenakan kaus tipis lengan pendek dan tak
berselimut. Pantas saja!
Aku
beranjak menuju lemari dan mengambil jaket tebal. Karena sudah terlanjur
berdiri, aku keluar untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ternyata mbak Indah
sudah bangun dan sedang memasak sarapan di dapur. Ibunya mbak Indah juga sedang
menyapu halaman depan. Wah, harusnya aku juga ikut bantu-bantu di sini.
Bukannya enak-enakan tidur. Tetapi saat baru saja akan membantu mbak Indah
memasak, Bude Mawar, ibunya mbak Indah menghampiriku dan mengatakan ada
seseorang yang ingin bertemu.
Heran.
Karena aku tak begitu kenal orang disini dan jika Bude Mawar tidak mengatakan
namana, pastilah itu orang asing. Tapi bagaimana mungkin mengetahui
keberadaanku di sini? Aku hanya mengatakan pada keluargaku tentang kepergianku
ini. Dengan segera aku keluar dan mendapati seseorang yang tak pernah aku duga.
“Mas
Andre? Kok …?” hanya itu yang bisa aku ucapkan melihat kehadiran mas Andre.
Begitu banyak pertanyaan yang tak dapat aku lontarkan.
“Aku
sudah pernah mengatakan, aku harus bertemu denganmu sebelum aku melamar gadis
yang telah memikat hatiku, Ra,” jawab mas Andre.
“Kenapa…?”
“Karena
aku perlu kamu untuk benar-benar memantapkan hatiku. Dan aku perlu kamu untuk
member saran. Juga aku perlu ucapanmu langsung dari bibirmu kalau kamu menerima
lamaranku,” jawabnya mantap.
Aku
melongo sejadi-jadinya. Apa maksud mas Andre? Ia melamarku? Bagaimana mungkin?
Aku speechless, think less, dan mungkin bisa jadi stand less, karena aku merasa
kakiku bergetar mendengar penuturan mas Andre. Senang karena ternyata cintaku
tak bertepuk sebelah tangan, tapi juga kaget, akan secepat ini, dan malu,
karena saat ku sadari, ternyata seluruh keluarga di rumah ini menyaksikan ini,
entah sejak kapan mereka berdiri di depan pintu.
Kemudian
mas Andre mengeluarkan kotak beludru berwarna putih, sesuai saranku saat ia
meminta bantuanku tentang apa yang harus dibawa dan dilakukannya. Tapi sama
sekali aku tak pernah mengira jika gadis itu adalah aku!
Saat
mas Andre membuka kotak berbentuk hati itu, terlihat olehku cincin perak yang
juga aku pilihkan. Cantik. Kemudian ia maju selangkah dan berlutut.
“Ra,
will you marry me? Be my wife as long as we can breath,” tanyanya. Aku
tergagap.
“A…Aku…”
~ ~ ~
Rina,
adikku, dan Satria pacarnya, bertugas mengantarkan undangan berwarna putih
berhiaskan pita abu-abu, sesuai dengan warna favoritku. Aku menyukai desainnya,
ornamennya, warnanya. Terlebih menyukai apa yang tertulis di sana.
Pernikahan
“Yuliandre & Zephyra Setyawati”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar