Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen: Tak Selamanya Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


            Selalu menatapnya dari kejauhan. Aku tahu ini terdengar gila, tapi inilah kenyataannya. Aku menyukai mas Andre, pria yang terpaut 4 tahun di atasku. Ia adalah rekan kerja ayahku. Awalnya kami berteman di Facebook, namun aku tak pernah tahu bahwa ia bekerja satu kantor dengan ayahku.
            Awalnya aku biasa saja. Namun, setelah mendengar dari ayah tentang dia, aku jadi penasaran. Segala tentangnya ingin aku ketahui. Tapi hanya sebatas menjadi stalker di dunia maya. Menurutku, dia sosok calon suami yang sempurna.
            “Ra, ayo masuk!” ajak Ayah. Lucky me! Ayah mengajakku ke kantornya untuk menghadiri gathering yang diadakan di ballroom perusahaan, yang artinya ada kemungkinan untukku bertemu mas Andre. Eum, ralat, ‘melihat’ mas Andre. Karena dalam
hal ini hanya aku yang memandang dan berharap ia bisa menyukaiku, atau sekedar mengobrol, atau hanya bertemu.
            Saat memasuki ballroom yang terlihat megah itu, mataku langsung terpaut pada sesosok pria yang berdiri di salah satu sudut ruangan bersama teman-teman kantornya yang lain. Dia terlihat sempurna dengan mengenakan atasan berkerah warna putih dan celana jeans berwarna gelap. Matanya yang mempesona, hidungnya yang mancung, dan … he’s perfect!
            Aku mengambil tempat yang strategis untuk tetap dapat melihatnya tanpa ketahuan.
            “Ayah ngambil makan dulu, Ra. Kamu terserah aja mau ke mana,” ucap Ayah. Aku mengangguk. Selepas Ayah pergi, aku kembali meluruskan pandanganku untuk menatap mas Andre, namun aku tak menemukannya. Aku mendesah pelan. Sudahlah. Kemudian aku beranjak keluar untuk mencari toilet.
            Selepas dari toilet, aku segera kembali ke ruangan, tapi … BRUK! Ups, aku tersandung kakiku sendiri. Hal yang sangat memalukan! Untung saja disini tidak ada orang. Kalau tidak, pasti akan sangat malu sekali aku! Aku mencoba untuk bangun. Sepertinya perih sekali bagian sikuku.
            “Rara? Kenapa? Jatuh?” tanya mas Andre yang tiba-tiba muncul dari toilet pria. Aku hanya tersenyum kecut. Antara grogi, kaget, senang, sakit, dan tahu harus berkata apa.
            “Ada yang luka?” tanyanya lagi. Sambil merintih pelan, aku menggulung lengan bajuku dan kudapati luka disana.
            “Tunggu di sini, ya? Aku ambil kotak p3k dulu,” ucapnya seraya berdiri.
            “Nggak usah, Mas. Nggak apa-apa kok,” cegahku.
            “Jangan dibiarin. Nanti malah infeksi. Udah, tunggu di sini, ya? Duduk aja di sini,” ucapnya sambil menyerahkan kursi plastik.
            Ia kemudian menjauh. Ya Tuhan, jika dia memang bukan untukku, kenapa aku masih saja menyukainya? Aku bahkan tak mengetahui perasaannya. Aku takut jika terus seperti ini, aku akan sakit bila tak memilikinya.
            Tanpa sadar, butir demi butir air mataku jatuh.
            “Ra, kok nangis? Perih banget, ya?” tanya mas Andre yang tiba-tiba berada di depanku. Aku kaget dan segera menyeka air mataku. Melow banget deh gue! Malu!
            “Iya, lumayan perihnya,” jawabku.
            Ia kemudian mengoleskan revanol untuk membersihkan lukaku. Nyess! Perih! Aku mengerang pelan.
            “Ndre! Good luck ya buat lamarannya nanti!” salah seorang teman kantor mas Andre lewat di depan kami. Lamaran? Mas Andre sudah mau nikah? Memang sih umurnya sudah mencukupi. Tapi aku tak pernah mendengar bahwa ia sedang dekat dengan seorang gadis. Sumber di dunia maya juga tak memberiku informasi yang mengarah kesana. Semua terlihat biasa. Tapi, ya Tuhan, inilah yang aku maksud.
            “Makasih, doain aja,” jawab mas Andre. Teman kantornya kembali berjalan melewati kami.
            “Mas mau nikah?” tanyaku gugup. Mas Andre tersenyum.
            “Belum. Baru mau nanya sama ceweknya aja. Mau atau nggak sama aku. Hm.. jadi grogi nih,” ujarnya.
            “Tenang aja. Siapa sih yang nggak mau sama mas Andre,” kilahku berusaha untuk tetap memasang wajah tenang. Apakah seperih ini rasanya patah hati? Bahkan aku tidak menangis. Rasanya hanya sesak untuk bernapas.
            “Iya, tapi cewek satu ini beda.”
            “Oh ya? Memang siapa?” tanyaku.
            Mas Andre diam sejenak, “Yang pasti dia cewek yang baik, ramah, sopan, dan lembut.”
            “Oh ya? Tipe yang berlawanan sama aku,” jawabku dengan nada tak suka. Kenapa aku harus tak suka? Semoga saja mas Andre tidak menyadari nada bicaraku tadi.
            “Yah, yang aku lihat seperti itu. Tapi entahlah jika ada hal yang tak aku ketahui tentangnya,” jawab mas Andre.
            “Kapan ngelamarnya, Mas?”
            “Secepatnya. Mungkin minggu depan. Aku sudah bicara sama orang tuanya, dan mereka setuju saja jika aku bersamanya. Asalkan cewek itu bahagia.”
            Aku mencoba ternyum tulus mendengar penuturan mas Andre. Sepertinya ia sangat serius dengan gadis yang akan dilamarnya itu.
            “Oh, ya, kamu mau bantu aku?”
~          ~          ~
            “Yakin mau ke Jawa?” tanya Ayah. Aku mengangguk. Entah sudah berapa kali Ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama. Sejak 5 hari yang lalu, sejak aku memutuskan untuk pergi mengunjungi keluarga yang ada di sana, Ayah tak henti-hentinya bertanya kepadaku.
            Aku menjawab bahwa aku ingin menunjungi keluarga yang ada di sana karena aku merindukan mereka, namun sebenarnya lebih dari itu. Aku ingin menghindar. Aku ingin menghindari mas Andre. Menghindari kenyataan bahwa mas Andre akan melamar gadis lain. Aku memang bukan siapa-siapa bagi mas Andre. Aku hanya gadis yang kebetulan bertemu dan menyukainya. Kalaupun mas Andre akhirnya memilih gadis lain, aku bisa apa?
            Sesaat kemudian, handphoneku berbunyi. Mas Andre meneleponku. Ada apa? Bukannya hari ini ia akan melamar gadis yang dia suka itu?
            Aku meminta izin pada Ayah untuk ke toilet, juga mencari tempat yang lebih sepi untuk mengangkat telepon. Karena sangat tidak lucu, kau berteriak di telepon dan pengunjung bandara menatap heran padamu.
            “Ra, kamu dimana? Aku grogi, aku mau ketemu kamu bisa nggak?”
            “Aku lagi nggak bisa, Mas. Aku di jalan,” aku beralasan.
            “Oh, gitu, ya? Yaudah. Aku tunggu kamu aja deh.”
            Bagaimana mungkin aku sanggup bertemu dengannya dalam detik-detik ia akan melamar gadis lain? Biarlah, mas Andre nggak mungkin akan menungguku terlalu lama. Pasti ia akan pulang juga. Mungkin ia hanya perlu menenangkan diri.
~          ~          ~
            Setelah aku menyalakan handphone pasca turun dari pesawat tadi, sms yang kemungkinan pending, bertubi-tubi masuk di hapeku. Ada 15 sms. Dan semuanya dari mas Andre.
            ‘Ra, belum pulang?’
            ‘Pergi kemana Ra?’
            ‘Kok hapenya dimatikan? Aku ganggu, ya?’
            ‘Aku nungguin kamu di depan rumah’
            ‘Kamu ke Jawa Ra? Tadi ibu yang kasih tau aku. Kok nggak bilang?’
            Dan sms lain yang berisi tak jauh berbeda dari yang tadi. Mas Andre ini aneh deh. Umurnya sudah matang dan tidak seharusnya grogi. Dan kalaupun grogi karena ingin melamar, kenapa harus dating padaku? Walaupun memang akulah yang menjadi salah satu penasihatnya. Sudahlah, aku tak ingin memikirkan mas Andre selama berada di Jawa.
            Setibanya di rumah sanak keluarga setelah turun dar pesawat dan naik bus selama 2 jam, aku langsung disambut meriah oleh keluargaku. Maklum, aku jarang sekali pergi ke Jawa. Apalagi hanya sendiri dengan alas an ingin mengunjungi keluarga.
            Setelah sesi bersalam-salaman dengan oenghuni rumah, aku menuju kamar yang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatanganku. Dengan semangat, aku merebahkan badanku di kasur empuk itu. Lelah.
            Tak lama, pintu diketuk, “Dik Rara? Mau mandi sekarang?” tanya mbak Indah, sepupuku.
            “Iya, Mbak. Sebentar lagi,” jawabku. Aku berbalik kanan dan menghela napas panjang. Apa yang sekarang dilakukan mas Andre? Sudahkah ia melamar gadis idamannya? Aku pun enggan membalas smsnya. Takut jika akan semakin sesak dadaku. Mungkin lebih baik seperti ini dulu. Mungkin.
            Esoknya, entah udara memang sangat dingin atau apa, aku terbangun. Rasa dinginnya terasa menusuk. Aku tidur hanya dengan mengenakan kaus tipis lengan pendek dan tak berselimut. Pantas saja!
            Aku beranjak menuju lemari dan mengambil jaket tebal. Karena sudah terlanjur berdiri, aku keluar untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ternyata mbak Indah sudah bangun dan sedang memasak sarapan di dapur. Ibunya mbak Indah juga sedang menyapu halaman depan. Wah, harusnya aku juga ikut bantu-bantu di sini. Bukannya enak-enakan tidur. Tetapi saat baru saja akan membantu mbak Indah memasak, Bude Mawar, ibunya mbak Indah menghampiriku dan mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu.
            Heran. Karena aku tak begitu kenal orang disini dan jika Bude Mawar tidak mengatakan namana, pastilah itu orang asing. Tapi bagaimana mungkin mengetahui keberadaanku di sini? Aku hanya mengatakan pada keluargaku tentang kepergianku ini. Dengan segera aku keluar dan mendapati seseorang yang tak pernah aku duga.
            “Mas Andre? Kok …?” hanya itu yang bisa aku ucapkan melihat kehadiran mas Andre. Begitu banyak pertanyaan yang tak dapat aku lontarkan.
            “Aku sudah pernah mengatakan, aku harus bertemu denganmu sebelum aku melamar gadis yang telah memikat hatiku, Ra,” jawab mas Andre.
            “Kenapa…?”
            “Karena aku perlu kamu untuk benar-benar memantapkan hatiku. Dan aku perlu kamu untuk member saran. Juga aku perlu ucapanmu langsung dari bibirmu kalau kamu menerima lamaranku,” jawabnya mantap.
            Aku melongo sejadi-jadinya. Apa maksud mas Andre? Ia melamarku? Bagaimana mungkin? Aku speechless, think less, dan mungkin bisa jadi stand less, karena aku merasa kakiku bergetar mendengar penuturan mas Andre. Senang karena ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, tapi juga kaget, akan secepat ini, dan malu, karena saat ku sadari, ternyata seluruh keluarga di rumah ini menyaksikan ini, entah sejak kapan mereka berdiri di depan pintu.
            Kemudian mas Andre mengeluarkan kotak beludru berwarna putih, sesuai saranku saat ia meminta bantuanku tentang apa yang harus dibawa dan dilakukannya. Tapi sama sekali aku tak pernah mengira jika gadis itu adalah aku!
            Saat mas Andre membuka kotak berbentuk hati itu, terlihat olehku cincin perak yang juga aku pilihkan. Cantik. Kemudian ia maju selangkah dan berlutut.
            “Ra, will you marry me? Be my wife as long as we can breath,” tanyanya. Aku tergagap.
            “A…Aku…”
~          ~          ~
            Rina, adikku, dan Satria pacarnya, bertugas mengantarkan undangan berwarna putih berhiaskan pita abu-abu, sesuai dengan warna favoritku. Aku menyukai desainnya, ornamennya, warnanya. Terlebih menyukai apa yang tertulis di sana.
            Pernikahan “Yuliandre & Zephyra Setyawati”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar