Rabu, 02 Mei 2012
Lonely Girl
Sepi.
Hari ini hari ke 3 musim dingin. Meskipun tidak terlalu dingin cuaca di luar, namun hatiku telah membeku. Hari ini tepat 3 bulan sudah aku di rumah sendiri. Papa dan Mama sedang ada tugas di luar negeri. Dan sayangnya, aku adalah anak tunggal. Jadi harus benar-benar sendiri saat ini. Papa dan Mama memang hanya berniat mempunyai satu anak, dan itu aku, Elisabeth Handrique. Di rumah memang telah tersedia semua barang yang ku perlukan. Rumahku memang bisa dibilang sangat besar. Setidaknya termewah di blok perumahan kami yang memang terkenal elit. Mulai dari plate washer, swimming pool, home theatre, sampai fitness room semua tersedia.
Rumahku yang memiliki 2 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah memang dipandang orang benar-benar megah. Bahkan ada yang mengira kami adalah salah satu jajaran orang terkaya di Eropa. Pfuh! Bullshit. Kalaupun iya, rasanya aku lebih memilih menjadi keluarga biasa-biasa saja dengan orang tua yang selalu ada di sampingku. Aku selalu iri dengan teman-temanku di sekolah.
Saat liburan, mereka banyak menghabiskan waktu dengan orang tua mereka. Pergi ke Hawaii atau pantai tropis lainnya atau hanya sekedar membakar barbeque di halaman belakang rumah. Dulu, duluu sekali, saat Papa dan Mama belum mendapat tawaran bekerja seperti saat ini, kami sering bermain di belakang rumah. Tentunya rumah kami yang lama di pinggir kota. Kami membeli sebuah kolam karet dan berendam bertiga saat hari panas dan memasukkan beberapa potong es batu ke dalamnya. Mama membawakan lemon juice yang segar dari rumah dan langsung melompat hingga air dalam kolam buatan itu habis setengah volumenya. Yah, mama dulu memang mempunyai tubuh yang berisi. Dengan tingginya yang 170 cm itu, ia mempunyai berat 80 kg dan Papa yang 180 cm dengan berat 75.
Mereka saling mencintai dan memutuskan menikah muda saat itu. Papa berusia 24 dan Mama 19. Mereka selalu bersama. Papa adalah pengacara biasa dan Mama yang lulusan sarjana menjadi ibu rumah tangga. Keadaan mulai berubah saat Papa ditawari seorang untuk menjadi salah satu pengacara pribadi pengusaha besar di Eropa Timur, dan Mama ditawari menjadi penasehat keuangan bank Negara. Mama pun sibuk berdiet hingga pipinya menjadi terlihat tirus. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai rapat di luar negeri. Dan aku, Izzy, hanya diam di rumah untuk liburan musim dinginku.
Aku selalu menyibukkan diri dengan berbagai les musik dan olah raga. Semata hanya untuk menghilangkan rasa kesepian yang perlahan menyelimuti seluruh hatiku. Terkadang, aku menulis cerpen dan ku kirimkan ke beberapa majalah teenagers. Mereka menyukai tulisanku dan menerbitkannya. Tentunya aku mendapatkan royalty. Saat itu aku bahagia, karena aku merasa dihargai. Uang royalty itupun aku tabung di rekening sendiri. Sengaja ku sisihkan karena aku tidak mau hasil kerjaku dicampur dengan rekeningku dengan semua uang berlimpah pemberian orang tuaku.
Dan saat mengambil royalty itu ke majalan Teeneasy, aku bertemu dengan seorang cowok, Jack. Ia menjadi pemenang kedua dalam mengarang cerpen, setelahku. Ia menjulurkan tangannya dan mengucapkan selamat padaku.
“Izzy, ya? Congrats the winner!” ia tersenyum padaku dan menyalamiku.
Aku membalasnya.
Kami pun bertukar email dan sering jalan bareng. Setelah melalui tahap pendekatan denganku, kami berpacaran. Saat itu aku merasa kesepian di hatiku telah sirna. Jack sangat baik, perhatian padaku, dan sering menghiburku saat aku sedang sedih. Kami banyak menghabiskan waktu berdua di rumahku. Kadang kami berenang bersama saat hari panas atau menonton film romantis. Kami juga saling bertukar kado saat Valentine Day. Aku memberinya jam tangan G-Shock limited edition yang ku pesan di internet. Mahal sih, tapi tak seberapa dibanding dengan perhatiannya padaku selama ini.
Dan dia memberiku sebuah boneka beruang mengenakan mantel berwarna abu-abu membawa hati di depan dadanya bertuliskan ‘only you’.
Saat musim gugur, aku pergi ke rumahnya. Orang tuanya menyambutku dengan hangat dan memberiku segelas hot chocolate, favoritku. Orang tua Jack menceritakan masa kecil Jack yang selalu mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya. Pernah, Jack sakit gara-gara mengamati sebuah kepompong saat hari hujan. Ia sangat penasaran, mengapa ulat bisa menjadi sebuah benda berbulu halus dan meggantung di dahan pohon. Juga saat Jack melintasi pinggir sungai untuk mencari di mana ujung dan pangkal sungai tersebut. Orang tua Jack sangat kewalahan mencarinya saat itu.
Jack mempunyai seorang adik perempuan yang manis, Magdalena. Lena berambut ikal berwarna coklat terang panjang sepinggang. Ia sangat lucu dan menggemaskan. Kadang ia bertingkah konyol dengan mengenakan terusan ibunya dan membuatnya tampak seperti pengantin lalu menari hula-hula di depan kami.
Malam tahun baru, aku dan Jack janjian untuk bertemu di depan kafe Allosia. Kami berniat menghabiskan akhir tahun bersama. Jam 8 kurang 15 menit aku sampai di tempat yang telah dijanjikan. Lebih cepat 15 menit, pikirku. Sambil menunggu Jack, aku membeli segelas Vanilla Latte. Berjaga-jaga bila saja mataku terserang kantuk. Aku memakai pakaian terbaikku. Topi baret rajut, terusan berwarna biru dan berbahan kain hangat dan tebal kulapisi dengan mantel merah dan scraft dengan warna serupa. Ku pakai sepatu boot hitam dengan hak yang lumayan tinggi, siapa tahu salju turun. Dengan parfum buatan Itali dengan wangi lembut—Jack bilang, ia suka baunya—yang menyelimuti tubuhku.
Sudah lewat hampir setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Namun Jack belum terlihat juga batang hidungnya. Aku menatap ke toko sebelah, toko elektronik. Banyak televisi yang dipajang di etalasenya. TV itu menyala dengan acara berita langsung.
Reporter di dalamnya terlihat manis dengan pakaian kerjanya. Blus panjang berwarna abu-abu. Yeah, grey is warm. Ia melaporkan berita di depan sebuah toko kue di dekat Park Avenue. Kecelakaan. Katanya, seorang mahasiswa tertabrak mobil yang dikendarai oleh pengemudi yang mabuk. Ia tewas di tempat. Saat keluar dari toko kue dan mendekati tempat penyebrangan, tiba-tiba mobil off road melaju dan hilang kendali saat berbelok dan menyerang beberapa pejalan kaki. Diduga pengemudi sedang mabuk. Mahasiswa tadi langsung diangkut dengan trolley rumah sakit dan… oh God!
“That’s Jack!” pekikku langsung.
Aku segera berlari ke tempat kejadian perkara dan mendapati Jack terlelap di tidur panjangnya dengan bersimbah darah. Air mataku terjatuh. Seorang wanita paruh baya menepuk pelan pundakku dan memberikan sebuah kotak kue.
“I think this is for you,” ujarnya.
Aku membukanya. Sebuah cake mini dengan bertuliskan selai bluberry ‘Happy New Year My Dear’. Aku menangis sejadi-jadinya. Menatap Jack terakhir kalinya sebelum wajah hangatnya ditutup oleh kain putih. Jackku. Jack yang aku sayang. Jack yang aku cinta. Jack yang selalu menemani hariku, menghangatkan hatiku saat aku kesepian. Jack yang selalu menghiburku saat aku sedih. Jack yang wajahnya selalu dihiasi senyum hangatnya. Jack yang menyayangiku… telah tiada. Aku terduduk lemas. Dengan tangis yang tak henti.
2 bulan setelah Jack pergi, pergi selamanya. Aku menjalani hariku dengan tatapan kosong. Kali ini aku merasa sepi lagi. Kesepian ini sepertinya akan selalu menghatuiku. Kadang aku mengingat masa-masa Jack di sampingku. Ia mengatakan, “Kau harus selalu tersenyum!” Aku tersenyum tipis saat mengingat itu. Namun setelahnya, aku menangis. Aku takkan bisa tersenyum tanpa Jack. Ialah yang selama ini membuatku tersenyum. Membuatku mengenal arti kata bahagia. Aku takkan bisa tersenyum tanpanya lagi.
Mungkin takdirku adalah menjadi seorang yang kesepian, tanpa Jack.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar