Rabu, 02 Mei 2012

Love Between Debt

     Selamat pagi dunia! Hari cerah ini harus diawali dengan senyuman.
    Hai, aku Arabella Wilhelm. Call me Ara. Aku berusia 16 tahun. Saat ini sekolah di Senior High grade kedua. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepedaku, hadiah dari ayah saat ulang tahun ke 15ku. Bukan karena ayahku tidak mampu membelikanku sepeda motor ataupun mobil, tapi lebih karena mengendarai sepeda lebih sehat dan jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Lagipula ayah yakin aku tidak akan pergi terlalu jauh dengan sepeda. Yah, terdegar seperti dipingit sih, tapi aku yakin ayah melakukan itu karena ia sayang padaku.
    “Pagi, Ara,” sapa ibuku dari dapur saat melihatku menuruni anak tangga.
    Aku membalas sapaannya dengan senyuman. Hmm, aroma teh daun dari dapur membuatku bersemangat. Aku menoleh ke dapur. Waah, ibu memanggang daging untuk sarapan. Slrp!
    “Untuk yang melepas masa sendirinya,” goda ibu padaku. Aku menunduk. Wajahku pasti merah.
    Yeah, ibu tahu hubunganku dengan Erick, Frederick Miquelon. Aku jadian dengannya kemarin malam. Aku memang suka padanya, tapi aku baru tahu kalau dia juga memendam perasaan yang sama. Maka, jadilah kemarin malam ia menyatakan cinta padaku, di hadapan orang tuaku! Hal teromantis yang pernah ku dapat.
    Sebelumnya, aku memang mengenal Erick. Dulu aku sering bermain ke rumahnya, menemani ayah yang mempunyai sebuah bisnis dengan ayah Erick. Namun, setelah hampir satu tahun, ayah tidak pernah mengajakku lagi ke rumah Erick. Namun kami tetap tidak putus kontak. Favorit kami sama, bersepeda keliling komplek. Aku dan Erick biasanya mengelilingi komplek perumahannya. Aku menggunakan sepeda adik laki-lakinya yang satu tahun di atasku. Namun, sejak kami tidak pernah bertemu, kami bersepeda di komplek masing-masing.
    Usiaku dan Erick memang sedikit terpaut jauh. Aku berumur 16 tahun dan Erick 23 tahun. Namun perbedaan itu bukan penghalang bagi kami untuk tetap berteman. Makin lama kami bersama, aku merasakan hal yang beda di hatiku. Perlahan aku mulai mengagumi sosok Erick yang kelihatan gentle di mataku. Entah kenapa, perasaan kagum itu berubah menjadi rasa suka padanya. Aku mulai salah tingkah bila ia menatap wajahku. Menundukkan kepala, berpura-pura mencari sesuatu, and so on… Kadang Erick malah tertawa melihat tingkah konyolku itu. Aku merasa senang melihatnya tertawa dan hatiku berbunga-bunga bila menatap mata coklatnya itu. Matanya tajam tapi penuh kasih sayang.
    Dan bagaimana aku bisa jadian dengannya?
    Sore itu aku janjian untuk bersepeda dengannya di komplekku. Ia dengan senang hati menyanggupi. Pukul 3 sore ia datang dan segera mengeluarkan sepedanya dari mobil. Kami 3 kali mengelilingi komplek dan berhenti di taman untuk istirahat. Sesaat kami mengeluarkan candaan. Erick menatap mataku, lagi. Aku mengalihkan pandangan ke air mancur di tengah taman. Erick tertawa ringan dan mengacak rambutku. Ia bertanya apakah aku punya kekasih. Saat itu aku kaget dan langsung berpikir Erick akan memintaku jadi kekasihnya saat itu juga. Namun melihat ekspresi kagetku, ia malah tertawa da berkata, “Aku lupa. Ara kan selalu sama aku. Mana mungkin ada waktu untuk pria lain.”
    Aku tertawa melihat kesombongannya itu. Lelucon sombong. Hihihi…
    Jam 6 kurang aku sampai di rumah dan segera mandi. Erick sudah meminta izin untuk pulang sebelumnya. Rasanya kakiku lumayan pegal. Tapi hari itu bersama Erick sepegal apapun tidak akan berarti untukku. Malamnya, sebelum kami makan malam, pintu rumah diketuk. Ayah segera membukanya dan mempersilakan orang itu untuk masuk ke ruang tamu. Aku mengintip sekilas. Erick! Mau apa dia ke sini, pikirku.
    Detik selanjutnya, ayah memanggilku dan ibu untuk bergabung di ruang tamu. Dan di situlah Erick menyatakan perasaannya padaku. Aku senang sekali. Sekilas, aku menatap wajah ayah dan ibu. Mereka tampaknya menyerahkan sepenuhnya jawaban ke padaku. Dan aku menjawab dengan yakin, “Yeah, I will.”
    Hari ini aku berniat pergi ke rumah Erick. Ia mengatakan akan menunjukkan something amazing padaku. Dengan mengendarai sepedaku, aku pergi ke rumahnya. Sebenarnya ayah menawarkan akan mengantarku, tapi aku menolaknya. Ayah kan sedang sibuk di kantor, apa iya aku akan memintanya pulang hanya untuk mengantarkan aku ke rumah Erick yang berlawanan arah itu.
    Begitu sampai di rumahnya aku disambut ramah oleh ibu Erick, tante Alena. Ia menyuruhku untuk langsung naik ke lantai 2, kamar Erick. Erick berpesan jika aku datang, aku langsung ke kamarnya saja. Aku mengetuk pintuk kamar dan membukanya. Erick tersenyum di meja kerjanya.
    Kamar Erick sama besarnya dengan kamarku. Hanya saja, kamar Erick ini digabung dengan ruang kerjanya. Single bed terletak di tepi kamar dan disampingnya lemari pakaian. Di sisi yang berlawanan ada sebuah rak besar yang diisi oleh buku-buku mekanik dan beberapa peralatannya. Di sebelah rak, terdapat meja kerja Erick. Terdapat printer dan sebuah laptop terbuka di sana. Dan di sebelahnya lagi sebuah meja berukuran sedikit lebih besar dari sebelumnya. Di atasnya terdapat berbagai macam peralatan besi. Entah itu baut, sekrup putar, atau obeng, dan sebuah kotak besi yang berisi alat-alat elekronik yang aku tidak mengerti untuk apa.
    Aku memandang sekitar. Kamarnya lumayan berantakan dengan barang-barang yang berserakan di lantai. Tapi nuansa kamar ini cerah dengan cat dinding berwarna putih gading. Awalnya Erick ingin mengecat kamarnya dengan warna kuning agar lebih atraktif, tapi karena ayahnya, om Julio melarang, diurungkanlah niatnya itu.
    “Untuk apa kau menyuruhku kemari?” tanyaku seraya menuju single bed miliknya dan mendudukinya, berhubung kursi yang ada di ruangan ini didudukinya. Erick berputar menghadapku dan menghampiriku, duduk di atas single bed.
    Ia memegang tanganku, “Aku mencintaimu.”
    Serentak aku tertunduk malu. Selalu, Erick selalu membuatku tersipu malu. Tangannya menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya. Aku menyadari wajahya terlalu dekat dengan wajahku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mataku terpejam dan… CUP! Seperti menekan stempel. Bibirku dan bibirnya menempel. Yeah, aku merasakan detak jantungku berhenti saat itu juga. Ciuman pertamaku, dengan Erick, kekasih sekaligus satu-satunya orang yang aku sayang.
    Tak lama aku merasakan kebahagiaan itu, pintu kamar Erick dibuka dengan tiba-tiba. Aku langsung menjauh dari Erick yang entah bagaimana aku tidak merasakan bahwa tangannya telah memelukku tadi. Ayah Erick muncul di pintu. Aku makin salah tingkah dan memilih ke toilet yang ada di lantai bawah. Bodohnya aku, mau apa aku di toilet? Aku sama sekali tidak ingin buang air.
    Jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar Erick setelah mengambil napas panjang. Sesaat sebelum aku masuk, aku mendengar om Julio berkata pada Erick. Awalnya aku tidak mengerti yang dibicarakan, tapi akhirnya aku mengambil kesimpulan setelah om Julio mengakhiri pembicaraannya. Erick memintaku untuk menjadi kekasihnya tak lain adalah untuk melunasi hutang ayahnya kepada ayahku. Katanya jika Erick membuatku bahagia, ayahku mungkin akan meringankan beban hutang.
    Aku merasa seperti tertimpa batu besar. Aku sangat terpukul. Ternyata Erick memintaku jadi kekasihnya agar hutang ayahnya diringankan oleh ayahku! Tega sekali. Om Julio keluar dari kamar Erick dan kaget mendapatiku di sana. Aku tetap bersikap wajar seolah aku baru saja berada di sana. Om Julio tersenyum ramah padaku. Aku masuk ke kamar Erick dengan tatapan datar dan kosong. Erick bertanya padaku apa yang telah terjadi. Dan harusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku menepis tangannya dengan kasar. Ia terlihat sangat kaget.
    Aku langsung berlari meninggalkan kamarnya. Setelah meminta izin sekilas dengan tante Alena, aku menggapai sepedaku dan mengayunnya cepat. Aku menangis di jalan. Erick berusaha mengejarku di belakang. Aku tidak peduli. Entah bagaimana, hujan turun. Aku bersyukur, karena dengan begitu air mataku tak akan terlihat jelas oleh orang-orang.
    Kelopak mataku penuh dengan air mata, menghalangiku untuk melihat jalanan yang benar. Aku tak melihat ada sebuah batu dan WUSH! Aku limbung dan jatuh. Lutut dan siku tanganku perih tergores aspal. Aku meringis kesakitan. Dari belakang, Erick membantuku berdiri. Ia memelukku, aku mengelak namun Erick semakin memperkuat pelukannya. Aku memukul dada Erick dengan kedua genggaman tanganku. Erick pasrah menerimanya. Aku mengatakan apa yang aku dengar tadi.
    Erick sempat terdiam. Namun ia berusaha menenangkanku. Ia berusaha menjelaskan semuanya. Yeah, memang benar ia selama ini mendekatiku dan ingin menjadikanku sebagai kekasih agar hutang ayahnya bisa diringankan. Namun itu semua hanya pada awalnya. Setelah ia bersamaku, ia merasa benar-benar tulus menyayangiku. Terlepas dari semua urusan ayah kami atau apapun juga. Ia menerangkan, hanya aku yang ada di dalam hatinya.
    Saat di kamar tadi, ayahnya membentak karena ia mengatakan menyayangiku dengan tulus. Ia terdiam dan hanya mendengarkan ocehan ayahnya sampai habis. Dan bagian itulah yang ku dengar. Aku berhenti memukul dan mengadahkan wajahku ke wajahnya. Aku menatap matanya, tidak ada kebohongan di sana.
    “Trust me. You are the one and only in my heart. Never change by money or anything else,” katanya. Aku menyerah. Aku balik memeluknya.
    Keesokan harinya, aku flu. Pasti karena kemarin berhujan-hujan ria. Erick datang ke rumah dan menyuapiku sup. Ia yang menjagaku hari ini. Seharian penuh. Mulai pagi tadi sampai saat ini ia selalu setia di sampingku. Ia meminta izin kepada kantornya untuk cuti hari ini.
    “Apa kamu tidak merasa malu mempunyai kekasih yang umurnya jauh di bawahmu?” tanyaku
    “Aku belum pernah bilang, ya? Cinta tidak akan pernah terhalang apapun, entah umur, latar belakang, RAS, ataupun…”
    Omongan Erick menggantung. Ia seakan bingung mencari kata.
    “Hutang,” sambungku.
    Ia tertawa dan mengacak rambutku.
    Tangannya memegang daguku dan siap untuk melancarkan ‘serangan’ kedua. Wajah kami semakin mendekat dan…
    “HATSYIII!” aku bersin, di wajahnya!!!
    “Maaf!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar