“Kamu mau cerita apa sih?
Sampe izin dari sekolah?” tanya kak Yoga di pesawat. Aku diam tak menjawab. Kak
Yoga mulai berfirasat buruk.
“Kamu nggak diskors
gara-gara ada masalah di sekolah ‘kan?” tebaknya.
“Ya nggak lah” sergahku.
“So?”.
“Ng... ntar aja deh kalo’
udah sampe di Surabaya” jawabku lemas. Nggak ada semangat. Pikiranku terus saja
mengingat apa yang dikatakan dokter di rumah sakit tadi. Aku nggak pernah
menduga kalo’ ternyata Radit mengidap penyakit yang mengerikan itu. Kenapa
harus Radit? Padahal Radit orangnya baik banget!
Pesawat mendarat di
Surabaya tepat pada jam 7 malam. Aku dan kakak pergi ke rumah sewaan kakak. Di
sana hanya ada cowok. Ih, kok gini sih?
“Perhatian! Perhatian!”
ucap kakak. “Ini adikku. Namanya Rin. Kalian jangan macam-macam sama dia, ya?
Kalo’ nggak, kalian nggak boleh tinggal di sini lagi” ancam kakak. Aku mencoba
untuk tersenyum ramah.
“Wuah, kok kamu nggak
pernah bilang kalo’ punya adik cewek secantik ini? Hai, aku Reza” ucap cowok
itu. Ih, genit banget! Playboy kali, ya?
“Reza memang kayak gitu.
Maklum , ya? Nih aku kenalin yang lain” tawar kakak.
“Yang ini namanya Dito”
ucap kakak sambil menunjuk seorang cowok berbadan gemuk dengan pipi tembem.
Mirip bayi. Pasti banyak makan. Hi...hi...
“Yang ini namanya Ardi” ucap
kakak seraya menunjuk cowok (lagi) berbadan kurus. Dia make’ apa, ya? Hush!
Nggak boleh berprasangka buruk gitu!
“Yang satunya masih ada
lagi. Tapi dia katanya masih ada di rumah temennya. Namanya Rama” ucap kakak.
“Kak, aku ke sini bukan
untuk kenalan sama temen-temennya kakak. Aku ke sini mau cerita sama kakak”
jelasku.
“Iya, iya. Tapi kamu
istirahat dulu. Ntar malam aja ceritanya. Kamu pasti capek ‘kan?” tebak kakak
tepat. Aku mengangguk. Kakak membawaku ke sebuah kamar.
“Nih, kamu tidur di sini,
ya? Kalo’ ada perlu apa-apa, kamar kakak ada di sebelah” ucap kakak. Aku
mengangguk. Aku memasuki kamar itu. Kamarnya terlihat rapi. Nggak kayak kamr
cowok pada umumnya. Pasti sering dibersihkan sama kakak. Kakak dari dulu memang
paling suka sama yang namanya ‘kebersihan’. Dulu, kalo’ ngelihat kamarku kotor,
jorok, sprei sama tirai belum diganti, pasti kakak yang ngeberesin semua itu.
Makanya aku sayang banget sama kakak.
Ngomong-ngomong sayang... teringat
sama Radit lagi. Sedih lagi... Kenapa aku harus tau berita buruk itu pada
saat-saat awal jadian sama Radit? Kenapa nggak terakhiran aja? Aku nggak rela
kalo’ Radit harus pergi secepat ini! Ya Allah, jangan ambil Raditku secepat
ini. Beri dia waktu untuk bersamaku lebih lama lagi. Kabulkanlah permintaanku
ini ya Allah. Hpku tiba-tiba berdering.
“Halo”
“Halo, Rin?”
“Iya, kenapa, Dit?”
“Kamu lagi di mana? Ku
telpon ke rumah kok nggak ada yang ngangkat?”
“Memangnya mas Dio nggak
angkat?”
“Nggak. Kamu di mana? Aku
khawatir nih”
“Aku di Surabaya. Mau
jenguk nenek” aku beralasan.
“Oh... jadi waktu kita ada
yang hilang nih”
“Iya... ng... maksudku...
ya.. gitu. Tapi aku nggak bakalan lama kok. Paling lama 3 hari”
“Ya udah. Kamu baik-baik,
ya di sana?”
“Pasti”
“Ya udah. Aku mau sholat
maghrib dulu. Kamu sholat?” tanyanya.
“He-eh. Makasih, ya? Daa”.
Radit... seandainya umurmu
lebih panjang...
X X X
“... Aku nggak bisa terima
semua ini kak. Aku udah terlanjur sayang sama dia. Dan kakak tau ‘kan? Gimana
kalo’ aku sayang sama sesuatu? Aku nggak bakalan mau pisah sama sesuatu itu.
Dan itu artinya aku...”.
“Iya, kakak tau. Kamu
nggak mau pisah sama Radit. Ya ‘kan? Kakak tau gimana perasaan kamu. Berpisah
itu memang menyakitkan. Tapi... coba deh belajar menerima keadaan, belajar
lebih sabar. Pasti kamu nggak akan terlalu stres menjalaninya. Walau akhirnya
kamu harus berpisah” jelas kakak.
“Tapi bilang selamat
tinggal rasanya berat kak” bantahku.
“Bilang selamat tinggal
itu memang butuh sedikit keberanian. Tapi nggak menakutkan kok. Kakak yakin
kamu pasti bisa jalaninnya” ujar kakak bijak.
“Assalamu alaikum” seru
seseorang.
“Wa alaikum salam” jawabku
dan kakak. Dari pintu muncul sesosok
pria dengan menyandang tas di punggungnya. Ia berkacamata (tapi nggak culun!),
rambutnya dijabrikin, dan mengenakan hem putih dengan celana jean’s lengkap
dengan sepatu sport berwarna putih.
“Aku kemaleman, ya?”
tanyanya. “Sorry, bozz”. Ia melihat kehadiranku di sini.
“Siapa nih? Pacarmu Yog?”
tanyanya.
“Bukan! Kenalin. Ini
adikku, namanya Rin. Rin ini Rama” kakak memperkenalkan aku dengannya. Kami
berjabat tangan. Aku mencoba untuk tersenyum ramah.
Ia tersenyum, “Kalo’ lagi
nggak mood senyum, nggak usah senyum. Ntar moodnya tambah jelek. ‘Kan sayang
kalo’ cantik-cantik aura wajahnya nggak memancar”.
“Kamu dapat bahasa itu
dari mana? Tumben, biasanya nggak bisa berpuisi” ledek kakak.
“Ya... tadi baru belajar
bahasa. Bikin puisi. He...he...” ucapnya.
“Dasar!”.
“Oh, ya!” serunya sambil
menepuk dahinya.
“Apa?” tanya kakak
penasaran.
“Ada makanan nggak? Lapar
nih” ia meringis. Terlihat jelas olehku giginya yang tersusun rapi dan putih
bersih.
“Yah, kirain penting!
Dasar! Aku juga belum makan. Makan sama-sama aja yuk?” ajak kakak. Kami bertiga
segera ke dapur. Kakak membuka tudung makanan. Kosong.
“Yah... nggak ada makanan”
ujar kak Rama kecewa.
“Ada bahan apa aja?”
tanyaku. Otakku mulai bekerja.
“Nasi masih ada, sawi satu
ikat, kol setengah buah, telur ada 1 lusin, kejunya sisa setengah...” kak Rama
menyebutkan satu persatu bahan yang ada.
“Bawang merah, bawang
putih, bumbu dapur lengkap” lanjut kakak.
“Eit! Jangan ketinggalan 2
hal yang penting!”
“Apa?” tanyaku dan kakak.
“Alat masak sama alat
makan” candanya. Kami tertawa.
“Ya udah. Kita bikin nasi
goreng keju aja, yuk?” ajakku. Kakak dan kak Rama saling berpandangan dan tersenyum.
“Okidoki” sahut mereka.
Kami segera bekerja, membuat nasi goreng tentunya.
“Sosisnya dipotong, ya?”
ucapku pada kak Rama yang....
“Ha...ha...ha...” aku
tertawa.
“Kenapa? Di sini nggak ada
gas tertawa ‘kan?” candanya lagi.
“Nggak ada sih. Tapi baru
pertama kali aku ngelihat cowok pake topi masak” ucapku.
“Iya, tumben kamu pake
topi masak?” tanya kakak ikut tertawa juga.
“Ya dong. Kebersihan
makanan itu ‘kan penting. Kalo kotoran yang ada di rambut jatuh di makanan
gimana?” tanyanya.
“Iya, deh. Ya udah
lanjutin lagi masaknya” perintah kakak. Tepat pukul 21.30, makanan siap
disantap.
“Wuah, lezat banget! Kamu
pintar masak, ya, Rin” puji kak Rama.
“Makasih” sahutku. Selesai
makan, kami mencuci piring. Di luar dugaanku selama ini. Kukira dunia cowok―kecuali
kakak―itu kotor, jorok, segala hal yang urakan, de-el-el. Ternyata yang tinggal
di sini pada baik, rajin, dan rapi. Yah, walaupun ada sedikit yang sifatnya ‘gitu’...
He...he...
X X X
“Tok! Tok!” pintu kamarku
diketuk. Siapa., ya pagi-pagi gini? Jam dinding masih menunjukkan jam 5 pagi.
“Siapa?” tanyaku.
“Kakak, sayang” jawabnya.
“Oh, iya, kak. Sebentar”
aku segera mencuci muka dan menggosok gigi.
“Ada apaan sih kak?
Pagi-pagi gini dibangunin?” tanyaku lesu.
“Udah waktunya sholat
subuh. Sholat jama’ah, yuk?” ajaknya. Aku mengangguk. Kami segera sholat
berjama’ah. Lalu, jogging mengelilingi sekitar perumahan. Selasai itu, kami
berenam mandi di kamar mandi masing-masing. Tepat pukul 06.30, aku, kakak, dan
kak Rama memasak makanan untuk breakfast! Tiba-tiba kak Dito muncul.
“Wuah, kelihatannya enak
nih” pujinya yang tengah mencomot potongan sosis yang sudah digoreng.
“Ah~ kamu. Apa aja juga
enak” ledek kak Rama.
“Huuu! Dasar!” sahut kak
Dito sebal. Kami tertawa. Entah kenapa, aku sudah mulai melupakan sedikit
kesedihanku. Ternyata dunia cowok itu segini menyenangkannya! Hari ini kami
menyajikan nasi goreng, mie goreng, sosis, nugget, dan air putih (-_-‘). Jam 7
kami selesai makan. Kakak membagi-bagi tugas. Kak Dito memangkas rumput. Kak Reza
membersihkan potongan rumput dengan menggunakan sapu lidi. Kakak menyapu
lantai. Kak Ardi membersihkan WC. Kak Rama mengepel. Dan aku, Rin membersihkan
lemari dengan menggunakan kemoceng. Tiba-tiba aku bersin. Ukh! Aku alergi
debu!!!
“Kok bersin?” tanya kak
Rama.
“Oh, aku agak alergi sama
debu” jawabku.
“Ya udah. Kamu ngepel aja.
Biar aku aja yang bersihkan lemari. Abis, udah 3 tahun lemari itu nggak
dibersihkan” jelas kak Rama.
“Pantesan banyak debunya”
kritikku. Kak Rama hanya tertawa kecil mendengarnya. Pekerjaan rumah selesai
jam 9. Yang lainnya ke kamar masing-masing dan keluar dengan memakai seragam.
Yah... pada mau sekolah.
“Sayang, kakak pergi ke
sekolah dulu, ya? Jaga rumah baik-baik. Kalo’ mau jalan isis note di papan
keterangan kita. Berangkat jam berapa, mau ke mana, dan pulang jam berapa. Ok,
sayang?” pesan kakak. Aku mengangguk. Kakak mencium dahiku.
“Jagain rumah, ya?” ujar
kak Rama sambil mengusap rambutku.
“Iya, tenang aja” jawabku.
Mereka segera menghilang di depan pintu. Aku terdiam di ruang tengah. Menatap
dalam televisi yang sama sekali tidak menyala. Pikiranku kosong. Apa yang
harusnya aku lakukan sekarang? 2 menit berlalu. Entah kenapa, aku baru tersadar
bahwa aku sendirian di rumah. Enaknya ngapain, ya? Jalan aja ah~! Aku segera
beranjak ke kamar untuk mengganti pakaianku dengan hem lengan pendek berwarna
pink cerah dan celana jean’s setengah tiang berwarna putih. Lalu, berangkat
deh! Sebelumnya tak lupa aku menulis note. Biar kak Yoga nggak cemas nyariin
aku. Pernah kejadian sih. Aku cuma jalan-jalan sebentar ke luar tanpa pamit
sama dia, kak Yoga nyari aku dengan rasa khawatir dan sangat cemas. Makanya aku
nggak mau dia ngalamin itu untuk kedua kalinya. Aku memang adik yang baik
sekaligus nakal. Aku tulis apa, ya? Aha! Gini aja!
Dear kak Yoga,
Aku
jalan-jalan sebentar ke luar. Berangkat jam 09.45. Pulangnya agak siang dikit.
Nggak papa ‘kan?
Rin
Enaknya ke mana, ya? Ke
mall aja ah~! Sesampainya di mall, aku membeli beberapa kue untuk orang di
rumah. Kue keju 6 dan kue isi sosis 6. Aku melihat sekilas ke arah departement
baju. Wah, kelihatannya bagus-bagus tuh. Lihat ah~!
Aku membeli hem cowok
warna hitam dan warna putih masing-masing 3 lembar. Yang double sih kakak.
He...he... aku memang adik yang baik! Dan untuk aku sendiri, hem warna putih,
pink, dan biru muda masing-masing 1 lembar. Setelah itu aku berjalan menuju
toko aksesoris. Hm... beli apa, ya? Di sini ada barang yang bagus-bagus!
Setelah melihat barang-barang yang menggiurkan, aku segera membeli tas jalan
yang kebetulan lagi obral gede-gedean! Tentu saja warna putih. Lalu, setelah
lelah membeli barang, aku segera menuju
KFC dan membeli ice cream cone, soft drink, dan french fries! Slurp!
Udah lama nggak makan yang kayak begini. Selamat makan! Hm... kentangnya kresss
banget! Soft drinknya... rasanya menggigit, belum lagi ice cream conenya
yang... akh... lezat deh... Hush! Aku ini promosi ya! Hehe... Nggak terasa
waktu berjalan begitu cepatnya. Sekarang sudah jam 2. Aku segera bergegas
pulang dengan semangat ’45. Dan tepat di depan rumah, semangat ‘45ku hilang.
Ternyata belum ada yang pulang. Pintunya nggak dubuka sih... Yah... percuma aku
cepet-cepet pulang. Dengan langkah gontai aku membuka pintu.
“Eh, Rin udah pulang”
terlihat kak Rama keluar dari dapur membawa botol air dingin dan gelas
belimbing.
“Iya, kakak sama yang
lainnya ke mana?” tanyaku tengah melihat sekeliling.
“Oh, mereka masih di
warnet. Biasa, chatting” jawabnya dengan ringan.
“Ng...” aku menanggapi.
“Oh, ya, aku ada sesuatu buat kakak”.
“Apa?” tanyanya. Aku
mengeluarkan baju yang kubeli tadi di mall.
“Waw, ini semua buat aku?”
tanyanya gembira.
“Ya nggak semua. Pilih aja
satu” jawabku. Kak Rama terlihat lesu. Kasihan juga. Jatahnya kakak buat kak
Rama aja deh. Aku nggak jadi adik yang baik sekali-sekali nggak papa ‘kan?
“Ya udah. Ambil 2” kataku.
“Makasih. Aku ambil warna
putih sama hitam, ya?” pintanya. Aku mengangguk.
“Kita pulaaaang!!!” seru
yang lain tiba-tiba di depan pintu.
“Hai! Dari warnet, ya?”
tebakku.
“He-eh... pasti tau dari
Rama” ujar kak Reza. Aku mengangguk. Setelah aku membagikan hem yang kubeli di
mall tadi, kami segera memakan kue. Kalian pasti bisa nebak, kalo’ kak Dito
sangat cepat dalam hal yang satu ini. Hanya dalam waktu 2 menit, kue yang ada
di tangannya habis. Padahal kami semua makan lebih kurang 5 menit. Belum lagi,
minta punya kak Ardi. Ha...ha... Orang yang tinggal di sini memang
bermacam-macam.
“Kak, aku besok pulang
aja, ya?” pamitku.
“HAAAAH?!?!?!?” seru
mereka berempat, kecuali kakak. Kakak hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Pulang? Kok cepet banget?
Kita ‘kan belum kenal deket. Kapan-kapan aja deh pulangnya” bujuk kak Reza
dengan lagak genitnya.
“Nggak bisa gitu dong.
Sekolahku gimana?” tanyaku.
“Pindah sekolah aja ke
sini” saran kak Ardi. Yang lainnya mengiyakan.
“Nggak ah. Aku masih betah
di Samarinda. Ntar deh kalo’ liburan sekolah, pasti aku bakalan datang ke sini.
I promise”
“Beneran? Kalo’ kamu ke
sini ‘kan aku jadi ngerasa senang” canda kak Dito.
“Iya, seneng dibeliin kue”
canda kakak. Kami semua tertawa.
“Enak aja! Yah... walaupun
itu ada sedikit benernya. He...he...” kak Dito meringis.
“Rin, bisa ikut aku
sebentar?” tanya kak Rama. Aku mengangguk. “Aku pinjam sebentar, ya?” ucapnya
pada kakak. Kami menuju sebuah kamar. Kayaknya sih kamarnya kak Rama. Kamarnya
bersih. Terlihat luas. Karena isinya hanya tempat tidur single, lemari pakaian,
dan meja belajar yang nggak terlalu besar. Dindingnya berwarna biru muda
bermotif kotak-kotak.
“Sebelum kamu pulang,a ku
mau kasih sesuatu untuk kamu” ucapnya.
“Apa?” tanyaku. Kak Rama
mengeluarkan sesuatu dari lemarinya. Ia mengambil sebuah kotak dan diberikan
padaku.
“Untuk aku?” tanyaku. Kak
Rama mengangguk. Aku membuka kotak tersebut. Terlihat sebuah kotak musik
berbentuk bola kristalnya penyihir. Di dalamnya terdapat rumah yang dikelilingi
gabus putih. Aku menyalakannya. Bersamaan dengan lagu Spring I, gabus-gabus
putih itu terbang.
“Waah, bagus banget!
Makasih, ya?” kataku. Kak Rama tersenyum Kami segera berkumpul dengan yang
lainnya.
Ada yang membuatku betah
di Surabaya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar