“Ran, aku udah jadian sama Radit”. Kalimat itulah yang aku tulis dan aku
kirim ke Ran. Dan otomatis, Ran menuju ke rumahku secepat kilat!
Ha...ha...ha...
“Beneran, Rin?” tanya
Radit nggak percaya.
“Ya iyalah. Masa’ seorang
Rin bohong? Seorang Rin gitu lho!” lagakku. Tak berapa lama, Hpku berdering.
Hah?! Radit?!
“Halo”.
“Lagi apa Rin?” tanya
Radit.
“Lagi ngobrol sama Ran di
rumah” jawabku.
“Aku ke sana, ya? Aku
bawain kamu
es krim Choco Hug. Gimana?” tawar Radit.
“Nggak ah. Tambahin Luv
You Berry Much, ya? He...he..”.
“Ya, nanti aku bawain.
Tapi kamu nggak amandel ‘kan?” tanya Radit.
“Nggak, tenang aja. Aku
sudah dibuktikan tidak terkena penyakit apapun, alias bebas penyakit!” tegasku.
“Oh, ya... ya... udah. Aku
ke sana” ucap Radit agak lesu. Ia langsung mematikan Hpnya. Aneh, Radit kok
tumben-tumbennya gini? Biasanya ‘kan dia baik. Apa dia tersindir sama
pernyataanku? Masa’ dia ada penyakit? Sariawan? Pilek? Batuk? Mungkin kali, ya?
Tapi... kalo misalnya gitu ‘kan bilang aja “aku tersindir nih. Aku ‘kan lagi
pilek”. Gitu ‘kan bisa. Ah~ buat apa dipeduliin! Yang penting sekarang aku udah
jadian sama Radit. Dan itu lebih baik dari pada aku terus-terusan suka sama mas
Dio yang nggak pernah memperdulikan aku. Ya ‘kan?
“Rin, boleh nggak aku ajak
Dhani ke sini? Abis, ntar aku dianggap obat nyamuk lagi” Ran merajuk.
“Aduh, aduh. Mami Ran,
sampe segitunya. Iya, iya, kamu boleh bawa Dhani ke sini. Atau, kita jalan aja.
Yah... double date gitu” saranku.
“Nggak ah. Aku nggak bawa
uang. Lagian, niatku tadi bukan itu. Nggak papa, ya?” ucap Ran. Aku
mamkluminya. Di menit lain, bel rumahku berbunyi. Terdengar mas Dio membukakan
pintu. Malas ah aku yang buka. Lagi bad mood. 2 menit berjalan dengan suara Ran
yang sedang menelpon Dhani. Di bawah itu tamunya mas Dio kali, ya? Abis, mas
Dio nggak panggil aku. Biarin aja deh.
“....ya... Cepet, ya Dhan?
Dadah...” ucap Ran. Akhirnya selesai juga nih cewek.
“Kamu kok lama banget
nelponnya? Lagi banyak pulsa nih, ye” godaku.
“Namanya juga orang
pacaran. Emangnya kamu nggak?” tanya Ran.
Aku menggeleng, “’Kan aku
baru 13 jam pacaran”.
“Oh, iya,ya” Ran berlagak
linglung.
“Rin!” panggil mas Dio
dari bawah. Ada apaan, ya? Apa aku disuruh bikinin minum buat tamunya? Kenapa
nggak mas Dio sendiri aja?
“Iya, sebentar!” sahutku.
Aku segera ke bawah dan melihat siapa yang datang.
“Radit?!” aku kaget.
“Sejak kapan di sini? Ayo masuk! Es krimku leleh deh tuh” aku lesu.
Radit terseyum, “Maaf,
ya?”.
“Nggak papa kok. Yuk, di
atas aja?” ajakku. Aku dan Radit segera ke lantai 2.
“Radit kok nggak langsung
masuk? Malah berdiri di depan pintu terus” komentarku.
“Ya... tadi aku ngobrol
sebentar sama Dio” jawab Radit.
“Mas Dio bilang apa ke
kamu?” tanyaku.
“Nggak bilang apa-apa.
Cuma basa-basi doang” sahut Radit.
“Oh... eh, iya. Es krimku?
He..he..” cengirku. Radit memberikan tas plastik yang dari tadi dipegangnya.
“Wah, ada 2! Aku masukin
di kulkas dulu aja, ya? Kayaknya udah mau leleh” ucapku. Radit mengangguk. Aku
memasukkan es krim tadi ke kulkas yang ada di kamarku.
“Radit, masih kenal nggak
sama temenku yang ini?” tanyaku.
“Ng... Ran, ya?” tebak
Radit.
“Iya! Wah, ingatannya
Radit masih baik, ya?” pujiku.
“Oh, ya. Radit mau minum
apa? Biar aku ambilin” tanyaku.
“Nggak usah. Aku di sini
sebentar aja kok” jawab Radit.
“Apa? Radit memangnya mau
ke mana?” tanyaku.
“Rumah sakit. Mau check...
eh... nemeni mama check up” sahut Radit.
“Memang mamanya Radit
sakit apa? Parah, ya? Sampe check up rutin?” tanyaku.
“Ya... lumayanlah...”
sahut Radit.
“Ya udah deh. Kalo nggak
mau minum yang ngerepotin, aku bawain air putih aja, ya?” saranku.
“Iya. Tapi jangan air
dingin, ya?” pesan Radit. Aku segera mengambilkan Radit air putih. Selang
beberapa waktu, HP Ran berbunyi. Ran segera mengangkatnya.
“Radit, makasih, ya, kamu
udah bawain es krim. Aku seneeeng banget!” ucapku.
“Aku juga seneng bisa
ngeliat kamu tersenyum hari ini” sahut Radit.
“Ng... Dit, aku boleh
protes nggak?” tanyaku ragu.
“Apa?” sahut Radit.
“Kamu kok minumnya air
putih aja? Yang nggak dingin lagi. ‘Kan hari ini cuacanya panas” kritikku.
“Soalnya ‘kan air putih
sehat. Belum dicampur apapun” jawab Radit. Aku mengangguk-angguk tanda
mengerti.
“Rin, aku pulang dulu,
ya?” pamit Ran.
“Lho? Katanya Dhani mau ke
sini? Nggak ditungguin?” tanyaku.
“Dhani tadi telpon, dia
nggak jadi ke sini. Jadinya ya... aku pulang aja. Ada tugas dari mama” jawab
Ran.
“Apa?” tanyaku.
“Cuci piring” jawab Ran
ringan.
“Oh, ya udah. Hati-hati di
jalan, ya?” aku memperingatkan. Ran segera pergi. Beberapa saat setelah Ran
pergi, Radit mengutak-atik Hpnya.
“Ngapain, Dit?” tanyaku.
Radit langsung tersigap mendengar pertanyaanku. Apa ada yang disembunyikan
Radit dari aku?
“Oh, nggak papa kok. Cuma
mau ngasih tau mama kalo aku agak terlambat ke rumah sakit” jawab Radit.
“Oh...”. Kami terdiam.
Bingung apa yang mau dibicarakan.
“Kamu hari Selasa main
tenis, nggak?” tanya Radit.
“Ng... gimana, ya?”.
“Rin...”.
“Iya deh, aku main. Tapi,
kamu yang jemput, ya?” pintaku.
“Ya iyalah. Memangnya
siapa?”. Kami tertawa. Tiba-tiba HP Radit berbunyi. Radit segera mengangkatnya.
Setelah beberapa 1 menit, Radit menutup telponnya.
“Rin, aku pergi dulu, ya?
Mama udah nunggu dari tadi. Maaf, ya?” pintanya.
Aku mengangguk, “Iya,
nggak papa kok. Hati-hati di jalan, ya? Jangan ngebut” aku memperingatkan.
“Always” jawabnya.
X X X
“Rin!” panggil Ran. Aku
menoleh.
“Apa?” tanyaku singkat.
“Pulangan nanti bisa
temenin aku nggak?” tanyanya.
“Ke mana?”.
“Rumah sakit” jawab Ran.
“Ngapain?”.
“Dhani masuk rumah sakit!”
Ran khawatir.
“Hah?! Kenapa?” tanyaku.
“Katanya sih maagnya
kumat, gara-gara dia telat makan” jawab Ran.
“Ya udah. Jam berapa?”
tanyaku.
“Ng... pulang sekolah
bisa?” tanyanya.
“Okidoki. Tapi kamu jangan
terlalu khawatir gitu. Belum tentu apa yang kamu khawatirin itu terjadi”.
“Iya deh, tapi kamu
temenin aku nanti, ya?” Ran mengulangi sekali lagi.
“Okidoki” sahutku. Hm...
Ran khawatir banget sama Dhani. Apa kalo’ aku sakit, Radit bakalan ada
disampingku, ya? Kayaknya pasti deh! Dia ‘kan baiiik banget! Kalo’ kita nikah nanti
pasti dia bakalan sayang sama aku terus. Hi...hi... Aku ini mikir apa sih! Baru
juga SMP!
X X X
“Dhan, sebenernya kamu
sakit apa sih, sampe masuk rumah sakit?” tanya Ran begitu tiba sampe di kamar
110, kamar di mana Dhani dirawat inap.
“Nggak parah kok” jawabnya
untuk menenangkan Ran.
“Bukan kanker kan?” tanya
Ran menyelidik.
“Kamu ini. Mau, ya aku
kena kanker?”.
“Nggak! Kamu nggak boleh
kena kanker!” jawab Ran.
“Iya, kalo’ kamu sakit
gini aja, Ran udah kalang kabut, apalagi kalo’ kena penyakit yang parah.
Bisa-bisa dia jadi gila. Ha...ha...” aku menggoda.
“Yang bener? Makasih, ya
cinta” ucap Dhani. Ran tersenyum malu. Kalo’ dipikir-pikir, aku di sini kayak
obat nyamuk nih.
“Ran, aku di depan aja,
ya? Aku nggak mau ganggu orang pacaran” ujarku seraya keluar dari kamar
perawatan Dhani. Aku duduk di depan kamar perawatan Dhani.
Sejenak aku berpikir, Ran
sangat sayang sama Dhani. Sampai-sampai, Dhani kena sakit kecil aja dia
khawatir banget. Apa aku dan Radit bisa seperti itu? Pintu di sebelah kamar
perawatan Dhani terbuka. Ruangan itu adalah ruangan check up.
“Makasih, ya, dok? Jadi
seminggu sekali saya harus check up terus?” tanya seseorang, sepertinya pasien.
“Iya, karena kalau tidak,
penyakitmu akan bertambah parah dan itu bisa mengakibatkan hal yang sangat
fatal. Yaitu...”
“Ya, dok. Saya tau.
Meninggal ‘kan?” tebak cowok itu. Dokter itu mengangguk. Tapi... suara itu
sepertinya aku kenal. Kenal dekaat sekali! Tapi siapa, ya? Perlahan aku melirik
ke arah sang cowok itu. Napasku tercekat. Dia... dia... Aku nggak bisa percaya.
Itu Radit. Itu memang bener-bener Radit. Tapi... bukannya dia nemenin mamanya
check up? Kok malah dia yang check up? Dan yang dibicarakan tadi... Meninggal?
Tadi aku sedikit mendengar kata-kata meniggal. Tapi... siapa? Apa mamanya
Radit? Tapi nggak mungkin! Yang check up dia, Radit! Bukan mamanya. Jadi...
Radit... dia mengidap penyakit apa? Sampe-sampe kata dokter ada kata-kata
meninggalnya! Setelah Radit pergi, aku beranjak menuju di mana dokter yang
memeriksa Radi tadi berada.
“Permisi, dok” panggilku.
“Ya?” dokter itu menoleh.
“Boleh tau, penyakit cowok
itu tadi?” tanyaku.
“Oh, nak Radit. Kamu kenal
sama dia?” tanya dokter. Kalo’ aku jawab iya pasti dokternya nggak mau ngasih
tau. Akhirnya aku menggeleng.
“Dia mengidap penyakit
kanker otak. Umurnya sisa beberapa tahun lagi, dan itu bisa dihitung dengan
jari. Kasihan sekali dia. Padahal dia anaknya pintar, baik, dan sopan” jelas
dokter itu. Kakiku bergetar, serasa akan lumpuh. Radit... mengidap kanker otak?
Nggak mungkin!
“Oh... makasih... dok”
jawabku seraya kembali ke kamar perawatan Dhani. Di sana aku mendapati Dhani
dan Ran sedang tertawa. Apa aku akan mengusik kebahagiaan mereka dengan
ceritaku ini? Nggak! Nggak boleh! Aku nggak boleh merusak kebahagiaan mereka. Aku
harus pulang sekarang. Aku mengirim SMS pada Ran yang intinya nggak bisa nunggu
dia karena ada urusan keluarga.
Setelah itu aku berlari ke
luar rumah sakit dan memberhentikan taxi. Radit? Kena kanker otak? Dan umurnya
bisa dihitung dengan jari? Nggak mungkin! Aku pasti salah dengar! Nggak
mungkin! Aku nggak percaya! Dokter itu pasti bohong!
Sesampainya di rumah, aku
langsung berlari ke kamar. Aku ingin menelpon kakak.
“Halo” sapaku dengan nada
serak, setelah tadi menangis.
“Halo! My honey bunny
sweety baby! Lama nih nggak denger suaramu. Suaramu tambah serak! Pasti di
sekolah kamu sering-teriak-teriak ‘kan?” tebak kakak bernada riang dengan suara
berisik di seberang sana.
“Aku mau ke sana kak”
tegasku.
“What? Why? Tumben! Emang
sama siapa kamu ke sini?” tanya kakak.
“Kakak jemput aku di sini!
Aku ada masalah yang nggak bisa diceritain di telpon! Please, kak?” pintaku.
“Ya udah. Nanti kakak atur
tiketnya. Terus sekolah kamu gimana?” tanya kakak.
“Makanya nanti kalo kakak
di sini sekalian tanda tangan di surat izinku” jeasku.
“Ya udah. Kalo gitu kakak
pesenin segera. Kamu bikin suratnya sekarang, ya? Jadi kakak langsung tanda
tangan” jawab kakak.
“Iya. Makasih, ya kak?”.
Telepon kuputus. Aku harus nyiapin barang untuk di Surabaya nanti. Aku mengambil
koperku dan ku isi dengan beberapa helai baju dan celana, dompet, sisir, ikat
rambut, dan berbagai barang yang aku anggap perlu selama beberapa hari di sana.
Setelah itu aku membawa koperku ke ruang keluarga. Aduh, mas Dio kok belum
pulang, ya?
Aku mengeluarkan secarik
kertas dan menulis surat izin untuk sekolah. Setelah selesai, aku memasukkannya
ke dalam amplop. 1 jam sudah aku menunggu mas Dio. Tapi aku belum melihat
sosoknya. Hpku berdering. SMS dari mas Dio. Isinya “Rin, hari ini aku ada kerja
kelompok di tempet temen. Pulangnya sekitar jam 5. Jangan telat makan, ya?”.
Yah... percuma aku nunggu dia. Tulis surat aja deh.
|
Dear Mas Dio,
Aku ke Surabaya
untuk beberapa hari. Tolong jagain rumah, ya? Aku ke Surabaya nggak bakalan
terlalu lama kok. Mungkin cuma 2-3 hari. Surat izin untuk sekolah udah aku
tulis dan ditanda tanganin sama kak Yoga. Ntar antarin ke sekolah, ya?
RiN
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar