“Maaf,
aku tak bisa,” ucap Karin saat menolak kesekian cowok yang menyatakan perasaan
padanya. Dan kali ini yang ditolaknya adalah Edd, kakak kelasnya yang cukup
populer. Sejak putus dengan Harry empat bulan lalu, Karin belum bisa menerima
seorang cowok lagi untuk dijadikannya kekasih. Karin dan Harry sempat menjalin
hubungan selama hampir satu tahun―yang menurut Karin baginya itu adalah masa
pacaran terlama. Namun karena ketidaksetiaan Harry, Karin mengambil keputusan
untuk berpisah dengan Harry. Awal mereka berpisah, Karin kelimpungan sendiri.
Pasalnya, ia masih sangat mencintai Harry. Tapi ia juga tidak bisa menutupi
bahwa ada sedikit rasa benci dan amarah yang tertanam di hatinya.
Harry, adalah sosok humoris, sifat
itulah yang membuat Karin jatuh hati. Mereka bertemu dua tahun yang lalu. Saat
itu Karin―yang punya hobi nelpon―salah pencet nomor telepon temannya yang
hampir mirip dengan Harry. Dan berawal dari ketidaksengajaan itulah, mereka
saling berkenalan dan janjian bertemu karena mereka tidak satu sekolah. Setelah
lama dekat, akhirnya mereka jadian. Tepat di
tanggal 20 Mei. Saat itu Karin bahagia sekali, entah kenapa dan untuk pertama kalinya Karin merasa sebahagia ini. Karin berharap penuh kepada Harry dan percaya Harry bisa mengerti dirinya.
tanggal 20 Mei. Saat itu Karin bahagia sekali, entah kenapa dan untuk pertama kalinya Karin merasa sebahagia ini. Karin berharap penuh kepada Harry dan percaya Harry bisa mengerti dirinya.
Mereka menjalin hubungan memang
tidak seperti pasangan pada umumnya. Mereka lebih sering saling menelepon
dibandingkan bertemu. Dalam sebulan, mereka hanya 8 atau 9 kali bertemu. Mereka
tak pernah hilang kontak. Memang, kadang Harry biasanya lupa untuk menelepon
Karin, dan Karin lah yang duluan menghubungi Harry.
Saat mereka bertemu, Karin mengajak
Harry nonton atau sekedar jalan tak jelas tujuan. Selama mereka bersama itu
saja cukup, anggapan Karin. Kadang mereka pergi ke festival bersama dan membeli
arumanis. Kadang juga ke kafe jika tak banyak waktu luang. Harry memang sedikit
sibuk. Saat itu ia tercatat sebagai siswa kelas 3 di Senior High. Jadi, hampir
setiap waktunya disibukkannya dengan belajar. Karin selalu setia memberi Harry
semangat. Mengingatkannya apa-apa saja yang ia tahu tentang ujian akhir dan tak
lupa memberi perhatian lebih pada Harry agar ia tak pernah lupa makan.
Saat masa ujian telah tiba, Karin
mencoba bertahan untuk tidak menghubungi Harry agar Harry tetap fokus pada
ujian. Di penghujung ujian, pertahanan Karin runtuh. Paginya, ia tak tahan
untuk tidak menghubungi Harry. Awalnya Karin kaget saat telepon genggam Harry
diangkat oleh seorang perempuan. Perempuan yang akhirnya diketahui bernama Felicia
itu mengatakan bahwa Harry sedang ke kamar kecil dan teleponnya dititipkan
dengannya.
Sebelum ujian, mereka janji akan
kencan di sebuah kafe tengah kota
yang sedang ramai. Harry menyanggupinya. Setelah hari terakhir ujian selesai,
Harry menelepon Karin bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Karin karena ia sudah
ada janji dengan teman-teman sekelasnya untuk merayakan selesainya ujian. Karin
mengizinkannya. Karin tidak ingin mengganggu hubungan Harry dengan
teman-temannya karena ia sadar, sebentar lagi mereka akan berpisah ke lain
jurusan. Akhirnya, Karin pergi ke kafe itu dengan sahabatnya, Diane.
Sesampainya di sana, terkejut bukan kepalang Karin mendapati
Harry merangkul gadis lain. Tak ayal, Karin mendatangi mereka. Rangkulan Harry
serta merta lepas dari gadis berambut panjang itu. Tampang panik Harry terihat
jelas di wajahnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Karin di sini. Ia
langsung menjelaskan bahwa ia dan gadis itu―Felicia hanya teman dan masalah
rangkulannya tadi karena ia berpoto dengan Felicia dan memang dengan pose
merangkul bahunya. Harry menambahkan bahwa dengan yang lain juga. Karin dengan
polosnya menerima alasan itu.
Karin menawarkan untuk pulang
bersama. Harry menyanggupinya namun ia tak bisa mampir sejenak ke rumah karena
ada alasan penting yang tidak dapat ditinggalkan. Mereka berjalan menuju rumah
Karin dan sesekali bercerita.
Sikap Harry terlihat seperti biasa,
pikir Karin.
Esoknya, Harry mengajak Karin pergi
jalan. Dengan senang hati Karin menyanggupinya. Mereka pergi ke bioskop untuk
menonton film. Harry yang memilih filmnya. Film action. Awalnya Karin menolak,
ia sangat tidak suka nonton film action, namun karena Harry setengah memaksa
setengah memohon, Karin bersedia.
Selama film diputar, mereka lebih
banyak diam. Harry sangat menikmati film yang ditontonnya dan Karin enggan
untuk mengganggunya. Selama perjalanan pulang, Harry kurang memperhatikan apa
saja yang dikatakan Karin. Kadang ia sebal dan mencubit mesra lengan Harry.
Selanjutnya, mereka hanya tertawa kecil.
Setelah kelulusan, Harry memutuskan
untuk bekerja. Ia belum ingin menlanjutkan studinya ke universitas. Ia tercatat
sebagai sales promotion di sebuah toko pakaian. Awalnya, Karin merasa sedikit
malu karena ia menganggap bahwa sales promotion adalah pekerjaan yng tidak
terlalu tinggi derajatnya. Namun ia urung mengatakannya karena takut menyakiti
perasaan Harry.
Hari itu ulang tahun Karin. Harry
datang ke rumah Karin tepat jam 6 pagi. Ia membawa sebuah cake berbentuk hati
dengan tulisan “Happy Birthday Sweet Heart” dan sebuah kado berukuran lumayan
besar. Karin sangat bahagia sekali. Harry ingat ulang tahunnya! Setelah
menikmati cake, Karin membuka kado yang diberikan Harry padanya. Sebuah boneka
panda berwarna pink. Karin memeluk Harry sesaat dan berterima kasih kepadanya
karena memberinya surprise. Tak lama, Harry pamit karena harus bekerja. Untuk
Karin, hari itu adalah hari yang paling indah, awalnya.
Beberapa bulan setelah mereka
jadian, Harry mulai sulit dihubungi. Ia lantas mencoba pergi ke tempat Harry
kerja. Namun, atasannya mengatakan hari itu Harry sakit dan Karin langsung
menuju rumahnya. Di rumah Harry, Karin tidak menemukan sosok yang ia cari. Informasi
yang ia dapat dari orang rumahnya adalah Harry sedang bekerja. Karin semakin
bingung. Ia tidak mengerti kenapa Harry berbohong.
Karin mencoba menghubungi ponsel
Harry, namun tak ada jawaban. Berkali-kali ia menelpon namun hasilnya tetap
sama. Karin khawatir jika sesuatu terjadi pada Harry. Ia memutuskan untuk pergi
ke kafe yang biasa didatanginya bersama Harry. Ia bertemu dengan Dylan, salah
satu teman dekat Harry saat di Senior High dulu. Mereka duduk bersama dan Karin
to the point tentang Harry. Ia bertanya di mana Harry. Awalnya Dylan sempat
panik karena pertanyaan Karin. Namun ia mengatakan bahwa Harry mungkin sedang
dalam perjalanan saat Karin tiba di
rumahnya.
Alasan itu diterima oleh Karin.
Namun keganjalan muncul di benaknya. Jika Harry sedang dalam perjalanan menuju
rumah, kenapa saat ia bertanya kepada atasan di tempat Harry bekerja mengatakan
Harry sakit? Prasangka itu langsung ditepis Karin karena ia sangat percaya
dengan Harry.
Bel di atas pintu kafe berdenting
saat pintu dibuka. Terlihat Harry dan Felicia memasuki kafe itu dan duduk di
seberang meja Karin dan Dylan. Awalnya, Dylan yang melihat itu, namun saat
Karin menolehkan wajahnya ke arah yang sama, Dylan langsung mengajak Karin
bercerita dan mengalihkan pembicaraan. Saat mereka kehabisan topik, Karin
membuka ponselnya dan menghubungi Harry. Dan terkejutlah ia mendapati sebuah
meja di seberangnya diduduki oleh seorang laki-laki dan perempuan yang
berpegangan tangan. Well, bukan itu sebenarnya yang membuatnya terkejut,
melainkan orang yang mendudukinya, ia tahu jelas nada dering yang dipakai
Harry, dan jelas itu ponsel Harry. Juga orang yang memegang tangan perempuan
itu adalah Harry!
De javu!
Ia seperti pernah melihat perempuan
itu sebelumnya. Yeah, Karin memang pernah melihat perempuan itu sebelumnya.
Perempuan yang sedang bersama Harry itu adalah Felicia. Gadis yang pernah
mengangkat telepon dari Karin saat ujian sekolah. Felicia yang dirangkul Harry
saat pesta kelulusan, dan Felicia yang sekarang duduk bersama Harry di kafe. Dan
Harry yang memegang tangan Felicia.
Karin benar-benar shock. Jadi selama
ini alasannya kepada Karin, kepada atasannya, juga kepada orang tuanya tak lain
karena Felicia? Felicia yang membuat Harry tega berbohong pada semua orang?
Pada Karin? Bahkan Harry lebih sering bertemu Felicia?
Karin mereject panggilannya dan
menatap Dylan dengan penuh harap, mendengar kejelasan dari Dylan. Dylan
bertampang pasrah.
“Maaf kau harus mengetahuinya,”
ucapnya.
Dylan menjelaskan secara detail.
Yeah, benar. Harry selingkuh. Harry mendua. Harry berkhianat. Dari Karin.
Kejadian ini belum cukup lama. Sekitar sebulan yang lalu, kata Dylan. Saat di
Senior High dulu, mereka berdua memang sering perang mulut, kadang saling
mengejek, hanya sekedar joke. Harry yang lebih sering melempar joke yang
terkadang jayus untuk Felicia. Mereka sering jalan berdua saat Senior High,
entah keperluan sekolah atau hanya untuk have fun.
Saat kelulusan, Harry yang awalnya
mengajak Felicia, namun saat itu Felicia masih menghargai status Harry yang
masih berpacaran dengan Karin. Jadi Felicia mengajak seluruh classmatenya untuk
bergabung. Harry dan Felicia tidak pernah menyangka jika Karin akan datang juga
ke kafe saat itu. Saat Harry mulai sibuk kerja juga ia selalu memberi kabar
kepada Felicia. Kadang bertanya kabar atau hanya say hello. Harry sering pergi
ke rumah Felicia untuk sekedar berkunjung.
Karin ingat, saat peringatan 11
bulan hubungan mereka kemarin, Harry tidak bisa datang karena harus bekerja.
Dylan bilang, saat itu Harry libur kerja dan ia pergi menemui Felicia. Dylan
juga pernah bertanya pada Harry akan memilih Karin atau Felicia, ia hanya
menjawab “waktu yang akan memberitahu”. Dan tepat sebulan yang lalu, Harry
menyatakan cintanya pada Felicia. Ia menambahkan bahwa ia tidak lagi menjalin
hubungan dengan Karin. Felicia menerimanya dan sampai sekarang, mereka masih
jadian. Padahal, status Harry dan Karin belum pernah putus.
Karin panas mendengar hal itu. Lebih
panas lagi saat ia melihat bibir Harry menempel di pipi Felicia. Karin beranjak
berdiri, mendatangi meja Harry. Jika Harry bilang waktu yang akan memberitahu,
itu berarti sekarang, batin Karin. Harry kaget, entah kesekian kali ia
tertangkap basah tengah bersama Felicia. Karin hanya tersenyum dengan air mata
yang berlinang di pipinya.
“Terima kasih atas semuanya. Kita
putus,” ucapnya lirih seraya mengambil gelas berisi ice coffee milik Harry dan
menumpahkannya tepat di kepala Harry. Tentu saja kejadian itu jadi tontonan
seluruh pengunjung kafe. Tak hanya itu, Karin juga memberikan sebuah tamparan
manis di pipi kiri Harry. Lalu ia pergi meninggalkan kafe. Dylan berusaha
mengejarnya, namun tak bisa. Karin lebih dulu menaiki kendaraan umum dan segera
berlalu.
Sampai saat ini, bulan Agustus. Ia
masih belum bisa melupakan Harry. Masih belum bisa melupakan pengkhianatan
Harry, kebohongan Harry, juga rasa sayangnya terhadap Harry. Walaupun sedikit,
ia masih berharap Harry akan datang dan meminta maaf padanya, juga memintanya
kembali menjadi kekasihnya. Namun sepertinya, harapan itu hanya sebuah harapan.
Di tangannya terdapat surat
undangan pernikahan. Harry dan Agnes. Menurut kabar yang beredar, mereka
menikah karena kecelakaan.
Karin menarik napas panjang.
“Life must go on. Hope my future
will be better than before, than Harry. I’m sure there’s a man with his loyalty
waiting for me, waiting for my newest me. Without tears, without lie, without
broken heart, and just happily ever after. Just forget the worst memories…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar