Rabu, 30 Januari 2013

Worst Memories



                “Maaf, aku tak bisa,” ucap Karin saat menolak kesekian cowok yang menyatakan perasaan padanya. Dan kali ini yang ditolaknya adalah Edd, kakak kelasnya yang cukup populer. Sejak putus dengan Harry empat bulan lalu, Karin belum bisa menerima seorang cowok lagi untuk dijadikannya kekasih. Karin dan Harry sempat menjalin hubungan selama hampir satu tahun―yang menurut Karin baginya itu adalah masa pacaran terlama. Namun karena ketidaksetiaan Harry, Karin mengambil keputusan untuk berpisah dengan Harry. Awal mereka berpisah, Karin kelimpungan sendiri. Pasalnya, ia masih sangat mencintai Harry. Tapi ia juga tidak bisa menutupi bahwa ada sedikit rasa benci dan amarah yang tertanam di hatinya.
            Harry, adalah sosok humoris, sifat itulah yang membuat Karin jatuh hati. Mereka bertemu dua tahun yang lalu. Saat itu Karin―yang punya hobi nelpon―salah pencet nomor telepon temannya yang hampir mirip dengan Harry. Dan berawal dari ketidaksengajaan itulah, mereka saling berkenalan dan janjian bertemu karena mereka tidak satu sekolah. Setelah lama dekat, akhirnya mereka jadian. Tepat di
tanggal 20 Mei. Saat itu Karin bahagia sekali, entah kenapa dan untuk pertama kalinya Karin merasa sebahagia ini. Karin berharap penuh kepada Harry dan percaya Harry bisa mengerti dirinya.
            Mereka menjalin hubungan memang tidak seperti pasangan pada umumnya. Mereka lebih sering saling menelepon dibandingkan bertemu. Dalam sebulan, mereka hanya 8 atau 9 kali bertemu. Mereka tak pernah hilang kontak. Memang, kadang Harry biasanya lupa untuk menelepon Karin, dan Karin lah yang duluan menghubungi Harry.
            Saat mereka bertemu, Karin mengajak Harry nonton atau sekedar jalan tak jelas tujuan. Selama mereka bersama itu saja cukup, anggapan Karin. Kadang mereka pergi ke festival bersama dan membeli arumanis. Kadang juga ke kafe jika tak banyak waktu luang. Harry memang sedikit sibuk. Saat itu ia tercatat sebagai siswa kelas 3 di Senior High. Jadi, hampir setiap waktunya disibukkannya dengan belajar. Karin selalu setia memberi Harry semangat. Mengingatkannya apa-apa saja yang ia tahu tentang ujian akhir dan tak lupa memberi perhatian lebih pada Harry agar ia tak pernah lupa makan.
            Saat masa ujian telah tiba, Karin mencoba bertahan untuk tidak menghubungi Harry agar Harry tetap fokus pada ujian. Di penghujung ujian, pertahanan Karin runtuh. Paginya, ia tak tahan untuk tidak menghubungi Harry. Awalnya Karin kaget saat telepon genggam Harry diangkat oleh seorang perempuan. Perempuan yang akhirnya diketahui bernama Felicia itu mengatakan bahwa Harry sedang ke kamar kecil dan teleponnya dititipkan dengannya.
            Sebelum ujian, mereka janji akan kencan di sebuah kafe tengah kota yang sedang ramai. Harry menyanggupinya. Setelah hari terakhir ujian selesai, Harry menelepon Karin bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Karin karena ia sudah ada janji dengan teman-teman sekelasnya untuk merayakan selesainya ujian. Karin mengizinkannya. Karin tidak ingin mengganggu hubungan Harry dengan teman-temannya karena ia sadar, sebentar lagi mereka akan berpisah ke lain jurusan. Akhirnya, Karin pergi ke kafe itu dengan sahabatnya, Diane.
            Sesampainya di sana, terkejut bukan kepalang Karin mendapati Harry merangkul gadis lain. Tak ayal, Karin mendatangi mereka. Rangkulan Harry serta merta lepas dari gadis berambut panjang itu. Tampang panik Harry terihat jelas di wajahnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Karin di sini. Ia langsung menjelaskan bahwa ia dan gadis itu―Felicia hanya teman dan masalah rangkulannya tadi karena ia berpoto dengan Felicia dan memang dengan pose merangkul bahunya. Harry menambahkan bahwa dengan yang lain juga. Karin dengan polosnya menerima alasan itu.
            Karin menawarkan untuk pulang bersama. Harry menyanggupinya namun ia tak bisa mampir sejenak ke rumah karena ada alasan penting yang tidak dapat ditinggalkan. Mereka berjalan menuju rumah Karin dan sesekali bercerita.
            Sikap Harry terlihat seperti biasa, pikir Karin.
            Esoknya, Harry mengajak Karin pergi jalan. Dengan senang hati Karin menyanggupinya. Mereka pergi ke bioskop untuk menonton film. Harry yang memilih filmnya. Film action. Awalnya Karin menolak, ia sangat tidak suka nonton film action, namun karena Harry setengah memaksa setengah memohon, Karin bersedia.
            Selama film diputar, mereka lebih banyak diam. Harry sangat menikmati film yang ditontonnya dan Karin enggan untuk mengganggunya. Selama perjalanan pulang, Harry kurang memperhatikan apa saja yang dikatakan Karin. Kadang ia sebal dan mencubit mesra lengan Harry. Selanjutnya, mereka hanya tertawa kecil.
            Setelah kelulusan, Harry memutuskan untuk bekerja. Ia belum ingin menlanjutkan studinya ke universitas. Ia tercatat sebagai sales promotion di sebuah toko pakaian. Awalnya, Karin merasa sedikit malu karena ia menganggap bahwa sales promotion adalah pekerjaan yng tidak terlalu tinggi derajatnya. Namun ia urung mengatakannya karena takut menyakiti perasaan Harry.
            Hari itu ulang tahun Karin. Harry datang ke rumah Karin tepat jam 6 pagi. Ia membawa sebuah cake berbentuk hati dengan tulisan “Happy Birthday Sweet Heart” dan sebuah kado berukuran lumayan besar. Karin sangat bahagia sekali. Harry ingat ulang tahunnya! Setelah menikmati cake, Karin membuka kado yang diberikan Harry padanya. Sebuah boneka panda berwarna pink. Karin memeluk Harry sesaat dan berterima kasih kepadanya karena memberinya surprise. Tak lama, Harry pamit karena harus bekerja. Untuk Karin, hari itu adalah hari yang paling indah, awalnya.
            Beberapa bulan setelah mereka jadian, Harry mulai sulit dihubungi. Ia lantas mencoba pergi ke tempat Harry kerja. Namun, atasannya mengatakan hari itu Harry sakit dan Karin langsung menuju rumahnya. Di rumah Harry, Karin tidak menemukan sosok yang ia cari. Informasi yang ia dapat dari orang rumahnya adalah Harry sedang bekerja. Karin semakin bingung. Ia tidak mengerti kenapa Harry berbohong.
            Karin mencoba menghubungi ponsel Harry, namun tak ada jawaban. Berkali-kali ia menelpon namun hasilnya tetap sama. Karin khawatir jika sesuatu terjadi pada Harry. Ia memutuskan untuk pergi ke kafe yang biasa didatanginya bersama Harry. Ia bertemu dengan Dylan, salah satu teman dekat Harry saat di Senior High dulu. Mereka duduk bersama dan Karin to the point tentang Harry. Ia bertanya di mana Harry. Awalnya Dylan sempat panik karena pertanyaan Karin. Namun ia mengatakan bahwa Harry mungkin sedang dalam perjalanan saat  Karin tiba di rumahnya.
            Alasan itu diterima oleh Karin. Namun keganjalan muncul di benaknya. Jika Harry sedang dalam perjalanan menuju rumah, kenapa saat ia bertanya kepada atasan di tempat Harry bekerja mengatakan Harry sakit? Prasangka itu langsung ditepis Karin karena ia sangat percaya dengan Harry.
            Bel di atas pintu kafe berdenting saat pintu dibuka. Terlihat Harry dan Felicia memasuki kafe itu dan duduk di seberang meja Karin dan Dylan. Awalnya, Dylan yang melihat itu, namun saat Karin menolehkan wajahnya ke arah yang sama, Dylan langsung mengajak Karin bercerita dan mengalihkan pembicaraan. Saat mereka kehabisan topik, Karin membuka ponselnya dan menghubungi Harry. Dan terkejutlah ia mendapati sebuah meja di seberangnya diduduki oleh seorang laki-laki dan perempuan yang berpegangan tangan. Well, bukan itu sebenarnya yang membuatnya terkejut, melainkan orang yang mendudukinya, ia tahu jelas nada dering yang dipakai Harry, dan jelas itu ponsel Harry. Juga orang yang memegang tangan perempuan itu adalah Harry!
            De javu!
            Ia seperti pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Yeah, Karin memang pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Perempuan yang sedang bersama Harry itu adalah Felicia. Gadis yang pernah mengangkat telepon dari Karin saat ujian sekolah. Felicia yang dirangkul Harry saat pesta kelulusan, dan Felicia yang sekarang duduk bersama Harry di kafe. Dan Harry yang memegang tangan Felicia.
            Karin benar-benar shock. Jadi selama ini alasannya kepada Karin, kepada atasannya, juga kepada orang tuanya tak lain karena Felicia? Felicia yang membuat Harry tega berbohong pada semua orang? Pada Karin? Bahkan Harry lebih sering bertemu Felicia?
            Karin mereject panggilannya dan menatap Dylan dengan penuh harap, mendengar kejelasan dari Dylan. Dylan bertampang pasrah.
            “Maaf kau harus mengetahuinya,” ucapnya.
            Dylan menjelaskan secara detail. Yeah, benar. Harry selingkuh. Harry mendua. Harry berkhianat. Dari Karin. Kejadian ini belum cukup lama. Sekitar sebulan yang lalu, kata Dylan. Saat di Senior High dulu, mereka berdua memang sering perang mulut, kadang saling mengejek, hanya sekedar joke. Harry yang lebih sering melempar joke yang terkadang jayus untuk Felicia. Mereka sering jalan berdua saat Senior High, entah keperluan sekolah atau hanya untuk have fun.
            Saat kelulusan, Harry yang awalnya mengajak Felicia, namun saat itu Felicia masih menghargai status Harry yang masih berpacaran dengan Karin. Jadi Felicia mengajak seluruh classmatenya untuk bergabung. Harry dan Felicia tidak pernah menyangka jika Karin akan datang juga ke kafe saat itu. Saat Harry mulai sibuk kerja juga ia selalu memberi kabar kepada Felicia. Kadang bertanya kabar atau hanya say hello. Harry sering pergi ke rumah Felicia untuk sekedar berkunjung.
            Karin ingat, saat peringatan 11 bulan hubungan mereka kemarin, Harry tidak bisa datang karena harus bekerja. Dylan bilang, saat itu Harry libur kerja dan ia pergi menemui Felicia. Dylan juga pernah bertanya pada Harry akan memilih Karin atau Felicia, ia hanya menjawab “waktu yang akan memberitahu”. Dan tepat sebulan yang lalu, Harry menyatakan cintanya pada Felicia. Ia menambahkan bahwa ia tidak lagi menjalin hubungan dengan Karin. Felicia menerimanya dan sampai sekarang, mereka masih jadian. Padahal, status Harry dan Karin belum pernah putus.
            Karin panas mendengar hal itu. Lebih panas lagi saat ia melihat bibir Harry menempel di pipi Felicia. Karin beranjak berdiri, mendatangi meja Harry. Jika Harry bilang waktu yang akan memberitahu, itu berarti sekarang, batin Karin. Harry kaget, entah kesekian kali ia tertangkap basah tengah bersama Felicia. Karin hanya tersenyum dengan air mata yang berlinang di pipinya.
            “Terima kasih atas semuanya. Kita putus,” ucapnya lirih seraya mengambil gelas berisi ice coffee milik Harry dan menumpahkannya tepat di kepala Harry. Tentu saja kejadian itu jadi tontonan seluruh pengunjung kafe. Tak hanya itu, Karin juga memberikan sebuah tamparan manis di pipi kiri Harry. Lalu ia pergi meninggalkan kafe. Dylan berusaha mengejarnya, namun tak bisa. Karin lebih dulu menaiki kendaraan umum dan segera berlalu.
            Sampai saat ini, bulan Agustus. Ia masih belum bisa melupakan Harry. Masih belum bisa melupakan pengkhianatan Harry, kebohongan Harry, juga rasa sayangnya terhadap Harry. Walaupun sedikit, ia masih berharap Harry akan datang dan meminta maaf padanya, juga memintanya kembali menjadi kekasihnya. Namun sepertinya, harapan itu hanya sebuah harapan. Di tangannya terdapat surat undangan pernikahan. Harry dan Agnes. Menurut kabar yang beredar, mereka menikah karena kecelakaan.
            Karin menarik napas panjang.
            “Life must go on. Hope my future will be better than before, than Harry. I’m sure there’s a man with his loyalty waiting for me, waiting for my newest me. Without tears, without lie, without broken heart, and just happily ever after. Just forget the worst memories…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar