Dimas memandang sebuah nisan
bertuliskan nama perempuan yang dicintainya, hingga saat ia harus pergi
meninggalkannya. “Nayla Widjaya”, begitu
yang tertera di papan nisan. Bulir demi bulir air mata Dimas perlahan jatuh
dari balik kacamata hitamnya. Namun segera ia hapus dengan tisu yang diberikan
Siska, sepupunya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah amplop manis berwarna
abu-abu, warna kesukaan yang ia ingat disukai oleh Nayla. Amplop itu terlihat
agak basah oleh keringat karena sedari tadi Dimas menahan rasa sedihnya, rasa
pilunya, rasa marahnya, juga rasa sayangnya terhadap Nayla.
Setelah pemakaman, Dimas langsung
terkapar di tempat tidur dan terlelap. Ia berharap, semua kejadian hari ini
adalah mimpi. Dan saat ia bangun, ia masih bisa melihat wajah Nayla, senyum
Nayla.
Ada sebuah perasaan yang menyesakkan dadanya. Sebuah rasa penyesalan. Ia masih ingin berada di samping Nayla, walau tak pernah menegur Nayla, mantan kekasih yang masih sangat ia cinta. Ia menyesal karena belum sempat mengutarakan cintanya kembali kepada Nayla. Ia belum mengatakan bahwa ia masih ingin bersama dengannya, ia ingin mengerti keseluruhan Nayla, dan kalau pun Tuhan mengizinkan, ia ingin sampai menikah dengan Nayla.
Ada sebuah perasaan yang menyesakkan dadanya. Sebuah rasa penyesalan. Ia masih ingin berada di samping Nayla, walau tak pernah menegur Nayla, mantan kekasih yang masih sangat ia cinta. Ia menyesal karena belum sempat mengutarakan cintanya kembali kepada Nayla. Ia belum mengatakan bahwa ia masih ingin bersama dengannya, ia ingin mengerti keseluruhan Nayla, dan kalau pun Tuhan mengizinkan, ia ingin sampai menikah dengan Nayla.
Tepat tengah malam, Dimas terbangun
dan matanya tertumbuk pada sebuah amplop yang diberikan oleh Nasha, adik Nayla.
Nasha berkata, amplop itu harus ia berikan pada Dimas saat pemakaman Nayla.
Dimas ragu untuk membukanya atau tidak. Ia masih sangat terguncang dengan
kematian Nayla. Dengan perlahan ia membuka amplop itu dan menemukan sebuah
surat berwarna senada dengan amplopnya dan ditulis dengan tinta warna hitam.
“Khas tulisan Nayla,” gumam Dimas
saat melihat sekilas keseluruhan surat itu.
“2 Desember…” Dimas membaca tanggal
ditulisnya surat itu. Tepat pada tanggal pemakaman. “Seperti sudah diniatkan
saja,” ucapnya sinis.
Dimas,
apa kabar?
“Kau pikir setelah kau meninggal aku
akan langsung baik-baik saja?” komentar Dimas.
Aku
pake bahasa resmi aja ya? Biar seru dan dramatis! Hehe…
“Sok artis!” komentar Dimas lagi.
Waktu
kamu baca surat ini, pasti aku sudah tak ada lagi di matamu, di duniamu…
“Kamu bakalan selalu ada di hatiku,”
ucapnya serak. Dimas menghentikan membaca surat itu. Air matanya kembali
mengalir.
“Bodoh! Cowok macam apa aku? Gampang
banget nangis!” makinya. Ia kembali membuka surat itu dan berusaha menahan
perasaannya yang mungkin akan meluap.
…lebay
banget yah? Ahahaha.. Kayaknya lebih baik pake bahasa campuran aja
deh!
“Hei, dia ini sebenernya mau nulis
surat atau apa sih?” Dimas perlahan tersenyum membaca surat itu.
Di
surat ini, aku mau jujur sama kamu. Tentang perasaanku, tentang kamu, juga
tentang kita. Aku bingung harus mulai dari mana. Mulai saat kita pertama
bertemu saja, ya? Waktu itu kenaikan kelas sebelas. Aku melihatmu saat memasuki
ruangan. Perasaanku rada nggak enak sih, habisnya kakakmu kan pernah nyatain
perasaannya ke aku, tapi aku nggak mau. Dia bukan tipeku! (sampaikan maafku
padanya).
“Hah? Satria pernah suka sama
Nayla?” Dimas terperanjat.
Tapi karena aku teringat kakakmu,
aku jadi lebih sering memperhatikanmu. Entahlah, aku juga nggak ngerti kenapa
aku merhatiin kamu. Ada sesuatu yang beda di mataku. Kamu beda dengan Satria.
Dan saat pertama kali kamu mengirimiku sms untuk menanyakan PR, entah kenapa aku
merasa senang. Seperti aku menunggu sesuatu yang aku impikan.
Aku tahu, di kelas kita tak banyak
berbicara. Aku juga terlalu gengsi untuk menegurmu. Aku lebih mengharapmu yang
notabene sebagai cowok untuk menegurku duluan (pikiranku masih seperti jaman
dulu, ya?). Walaupun hampir setiap malam kita sms-an, tapi di sekolah rasanya
jauh, ya? Seperti nggak kenal satu sama lain. Kamu memang sering ke rumah untuk
pinjam catatan atau apa gitu, tapi hanya sebatas itu.
Sampai saat bulan Maret itu, kamu ke
rumah dengan membawa gitar dan bernyanyi untukku. Hal itu sangat romantis
menurutku. Saat itu sepertinya aku mulai menyukaimu, tidak mungkin lebih dulu
lagi perasaan itu ada, atau… entahlah. Aku binguuung!!!
Dimas mengangkat sebelah alis
matanya. Heran.
Aku senang sekali saat kau
menyatakan perasaanmu padaku. Jujur, aku senang, tapi mungkin waktu itu tidak
pas.
Aku baru saja putus dengan mantanku yang… yah kau tahu siapa dia. Saat itu aku
masih sayang padanya. Aku tak bermaksud mempermainkan hatimu. Hanya saja, saat
itu aku masih memiliki rasa untuk mantanku itu dan sekarang aku rasa ia tak
pantas mendapatkannya! Aku memang menyukaimu, tapi karena waktunya tidak tepat,
maaf, aku harus mengambil jalan tengah. Putus denganmu. Saat itu aku memang
egois, tidak memikirkan perasaanmu. Aku pikir saat itu hanyalah perasaan sesaat
saja. Namun akhirnya aku sadar, itu salah.
Setelah putus denganmu, aku juga
tidak bisa balikan dengan mantanku itu. Aku nggak mau kembali dengannya karena
ia pernah selingkuh dariku. Well, aku nggak akan ngebahas ini lebih lanjut deh!
Nanti kamu cemburu. Hahaha…
Dimas manyun.
Setelah putus denganmu, aku merasa
ada yang beda. Karena kamu juga berubah. Aku tak mengerti alasan kamu berubah.
Apa kamu salah paham denganku atau ada alasan lain. Kamu makin jarang mencari
gara-gara di depanku. Kadang kau malah mengalihkan pandangan saat aku mau
menegurmu. Kau seakan menghindar. Iya, aku tahu aku salah. Tapi saat kau
bersikap begitu, aku malah tambah merasa bersalah.
“Maaf,” ucap Dimas pelan.
Do you know something? Saat kenaikan
kelas dua belas, aku senang sekali bisa satu kelas lagi denganmu. Tapi aku juga
merasa makin hampa. Karena walaupun satu kelas, aku hanya bisa menatapmu. Hanya
bisa memperhatikanmu dari jauh. Memperhatikanmu saat kamu bermain bola di
lapangan dengan keringat yang kadang mengucur dari pelipismu. Memperhatikanmu
dari kursi di mana aku duduk, yeah aku sering curi-curi pandang kepadamu!
Hehehe… Atau saat kau berada di depan
kelas untuk membacakan pidatomu yang berjudul “Realita Anak Band Masa Kini”.
Haha… Waktu itu kamu lucu sekali. Berbicara seperti mengguman sampai
dikomentari oleh guru bahasa Indonesia kita, Bu Yuniar, suaramu lebih mirip
dengungan lebah!
“Haha… Kurang ajar!” Dimas cekikikan
sendiri di kamarnya.
…Ada
salah seorang temanku menggodaku karena ia tahu kita sempat berpacaran. Well,
saat itu aku malu dibuatnya. Bukan hanya karena ia menggodaku saja, namun dari
situlah seluruh kelas mengetahui hubungan yang pernah kita jalani. Aku bukannya
malu karena pernah berpacaran denganmu, tapi aku merasa tidak enak denganmu.
Aku tak ingin kamu dipermalukan di kelas karena aku masih sayang kamu.
“I do.”
Kamu tahu nggak? Tanggal 5 November
saat kamu panggil namaku karena saat itu aku disuruh menghadap ke wali kelas
kita, waktu itu aku senang sekali. Akhirnya kamu sedikit meringankan hatiku.
Karena aku sudah rindu sekali mendengar suaramu memanggilku “Nayla”. Kalau aku
punya mesin waktu Doraemon, aku mau kembali ke masa saat kita pacaran.
Memperbaiki kesalahanku padamu dulu. Tapi sayangnya, Doraemon itu tidak nyata.
“Dimas”. Kata itu seperti jimat
untukku. Karena saat aku mengucapkan namamu, ada sebuah ketenangan di hatiku.
Hatiku serasa melayang, melambung tinggi. Tapi terkadang pipiku juga panas saat
menyebut namamu. Hehehe…
Kamu tahu kenapa aku menyukaimu?
Memang kata orang, kalau cinta membutuhkan alasan, saat alasan itu hilang,
cinta bisa ikut hilang bersamanya. Tapi saat bertemu denganmu, ada hal yang
membuatmu nampak beda. Aku tidak tahu itu apa, tapi aku yakin di situlah alasan
aku menyukaimu.
Maaf
ya, jika selama kita kenal, aku pernah menyakiti hatimu. Maaf jika aku terkesan
mempermainkanmu. Maaf jika akhirnya kau salah mengerti perasaannku. Bukan
maksudku untuk mengabaikanmu. Tapi aku akan merasa malu jika orang yang aku suka
mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin gila di dalam cinta, aku
tidak ingin dipermainkan oleh cinta. Makanya sebisa mungkin aku menutupi rasa
ini dengan bersikap acuh padamu. Maaf sekali!
“Forgiveness
accepted! But it wouldn’t make you life again. It wouldn’t make you standing
beside of me.”
Terima
kasih Dimas. Terima kasih karena kamu sudah pernah menjadi seseorang yang
berarti di hatiku. Seseorang yang pernah mengoleskan tintanya di kanvas hatiku…
“Puitis
banget, Sayang,” Dimas tersenyum.
…Terima
kasih kau pernah sempat membalas rasa dan anganku. Terima kasih juga
sebelumnya, jika kau memaklumi segala sikap dan sifatku padamu. Mungkin kaulah
yang paling berkesan dalam hatiku. Karena kamu mengajarkanku arti cinta. (Boleh
aku memanggilmu “Sayang”?)
Terima kasih untuk semuanya, Sayang.
Sekarang aku pergi.
Life must go on and makes ur dream
comes true! Aku ingin melihatmu bahagia. Bahagia dengan orang yang memang telah
ditakdirkan bersamamu. Aku akan selalu memandangmu, di tempatku sekarang.
Aku masih mencintaimu hingga akhir
hayatku, Dimas Sayang <3
Salam
Sayang,
Nayla
P.S.:
Doakan dan ikhlaskan aku, ya!
Dimas melipat kembali surat itu dan
memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia beranjak menuju lemari dan menaruh
surat itu di sebuah kotak kecil. Isinya adalah foto-foto Nayla yang diam-diam
ia ambil dari situs jejaring Nayla. Hampir tiap malam sebelum tidur, Dimas
selalu memandangi foto itu. Ia paling suka dengan foto Nayla saat ia tersenyum
di depan Monas. Senyumnya lepas terlihat gembira sekali.
“Ah, Nayla. Seandainya saja kau juga
tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu,” desah Dimas.
“Aku tahu,” jawab sebuah suara.
Dimas berbalik mendengar suara itu. Bukan karena ia takut bertemu hantu atau
semacamnya. Tapi suara itu persis dengan milik Nayla. Oh, bukan! Itu memang
Nayla! Nayla’s spirit!
“Nay…” Dimas tercekat. Roh Nayla
mendekat. Ia memeluk tubuh Dimas. Tapi yang Dimas rasa adalah kehampaan. Nayla
tembus pandang!
“Aku ingin benar-benar melihatmu,”
ucap Nayla. Setitik air mata terlihat di ekor mata Dimas. Nayla tertawa.
“Kamu kan cowok! Masa’ nangis?”
Nayla mengusap pipi Dimas. Dimas tak dapat berkata-kata. Ia senang sekali
melihat Nayla berdiri di hadapannya. Mereka saling bertatapan dan saling
mendekat.
Kedua bibir mereka memang saling
menempel. Tapi tetap saja Dimas merasa hampa. ‘Biarlah, yang penting aku bisa
melihatnya tersenyum,’ batin Dimas.
Tak lama, roh Nayla makin memudar
hingga akhirnya menghilang. Dimas tersadar dan pergi menuju jendela. Menatap
bintang, tidak, tujuannya agar Nayla bisa melihatnya dari sana, untuk
menunjukkan bahwa Dimas akan baik-baik saja. Dimas akan melanjutkan hidupnya.
Setelah beberapa lama memandangi
langit, Dimas mematikan lampu dan pergi tidur.
Selamat jalan, Nayla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar