Rabu, 30 Januari 2013

He Cheats She Cheats



            “Tanganmu kurang naik! Geser payungnya ke kiri sedikit! Kaki lebih rapat!” Mrs. Hanna mengatur gayaku agar benar. Sudah berkali-kali aku diteriaki seperti ini, namun satu foto pun tidak jadi. Apa yang kurang sih?
            Mrs. Hanna kembali membenarkan tanganku dan memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki—mencari sesuatu yang tidak pantas.
            “Wardrobe! Ganti gaun!” pekiknya. Seorang wanita datang dan menuntunku ke ruang ganti.
            “Susah, ya jadi model?” tanya Lila, salah satu asisten wardrobe, sekaligus temanku.
            “Lumayan sih… Hehehe,” tawaku pelan.
            Lila membenarkan make up-ku yang hampir luntur karena berkeringat. Maklum lah, dari tadi aku hanya berganti gaya dan tidak satu pun fotoku yang sukses. Lila orang yang sabar. Aku kenal dengannya bahkan sebelum aku menjadi model seperti saat ini. Saat itu aku mengunjungi sebuah kafe dan kulihat semua meja terisi penuh. Seseorang menepuk pundakku dan menawarkanku tempat duduk—Lila. Ia berkata bosan kalau hanya sendiri. Aku pun menerimanya dan saat itulah kami berteman. Hingga pada suatu hari,
agency tempat ia bekerja—yeah, di sini—memerlukan seorang model untuk sebuah poster. Lila meminta bantuanku dan aku bersedia. Aku memang memiliki postur tubuh cukup tinggi dengan 168 cm dan Lila adalah temanku. Jadi aku pikir tak ada salahnya membantunya.
            Awalnya, aku pikir dengan membantunya saat itu saja. Tapi ternyata, Mrs. Hanna tertarik akan wajahku dan postur tubuhku. Ia lalu memintaku untuk menandatangani kontrak menjadi model di agencynya untuk periode satu tahun. Karena aku sedang tidak ada kerjaan di rumah, aku langsung saja menerimanya, dan jadilah aku sekarang.
            “Maaf, ya gara-gara aku waktu itu.”
            “Tak apa, Lil. Aku juga senang kok,” jawabku.
            Setelah beberapa take dan satu foto berhasil, aku diizinkan pulang. Honorku diterima saat itu juga. Tak terlalu banyak sih, namun lumayan lah untuk shopping. Aku menuju van yang diparkir di halaman studio. Van berwarna merah hati itu milik pacarku, Revand.
            Aku sudah hampir 2 tahun ini berpacaran dengannya. Ia sangat baik, walaupun tidak terlalu tampan. Setiap aku ada pemotretan, ia selalu mengantar jemput aku. Kami memang tidak selalu berdua, karena aku selalu minta ditemani oleh Lila. Entah kenapa, rasanya aneh jika aku hanya berdua dengan Revand. Lila dan Revand tak keberatan dengan itu. Di jalan, kami banyak bercerita tentang apa saja. Setiap aku ada masalah dengan Revand, Lila selalu menengahi karena ialah tempatku curhat.
            Dua minggu berlalu, aku dan Revand janjian bertemu di sebuah kafe. Ia ingin berkencan, katanya. Hari sebelumnya aku bingun ingin mengenakan baju apa. Bingung bagaimana harusnya rambutku dan make up wajahku. Entah kenapa aku bisa segugup ini. Aku tidak ingin mengajak Lila, karena ini adalah kencan pertamaku selama hampir dua tahun ini. Yah, memang aku tidak pernah datang saat Revand mengajakku kencan. Berkali-kali ajakannya ku tolak karena aku sibuk, entah dengan tugas sekolah sampai kerja sampinganku sebagai model.
            Dan hari ini aku janji pada diriku sendiri. Aku harus tampil maksimal di hadapannya. Aku bergegas menuju kafe yang sudah dijanjikan. Terlambat 15 menit sih, aku harap Revand masih menunggu.
            Tercengang aku melihat yang ada di hadapanku. Di sebuah meja pojokan, Revand dan Lila sedang duduk berdua, bercerita sambil sesekali tertawa kecil. Lila tampak malu-malu. Sebenarnya bukan itu yang membuatku terpana. Tapi tangan mereka! Revand merangkulkan tangannya di pundak Lila dan satu tangannya lagi memegang genggaman tangan Lila. Aku benar-benar shock.
            Aku menuju tempat mereka berada. Revand dan Lila terkejut dengan kedatanganku dan buru-buru melepaskan tangannya. Mataku langsung panas. Revand ingin memberikan penjelasan kepadaku namun aku langsung menamparnya. Sekeliling kafe menatap ke arah kami. Aku membentak Revand, juga Lila. Teganya ia berselingkuh di belakangku. Lila, ia benar-benar tega berselingkuh dengan pacarku, padahal ialah satu-satunya orang yang paling aku percaya. Revand yang tulus aku cinta, ternyata penipu.
            Beberapa hari lalu memang ada seseorang yang mengirimkan beberapa foto yang berisi Revand dan Lila sedang berpelukan dan berpegangan tangan. Namun, aku tidak mau ambil pusing dengan itu. Karena aku percya penuh pada Revand. Tapi ternyata semuanya kini telah terbongkar.
            Aku berlari meninggalkan kafe itu. Entah ke mana kaki itu akan membawaku. Mataku panas dan beberapa butir air mata jatuh ke jalanan. Aku sakit hati. Dikhianati pacar dan temanku. Lelah aku berlari, akhirnya aku memutuskan duduk di sebuah taman. Aku memilih jauh dari keramaian. Di bawah pohon oak yang rindang. Entah kenapa, jarang ada yang ke sini, padahal di sini sangat rindang.
            “PLUK!” sebuah buah oak jatuh ke kepalaku.
            “Aw!” pekikku.
            Aku mengadahkan kepalaku. Ada seorang cowok di bersandar di dahan pohon. Ia memakai topi yang menutupi wajahnya.
            “Di sini bukan tempat untuk menangis, Elie,” ucapnya. Hei, bagaimana ia bisa tahu namaku?
            Sesaat kemudian ia turun dan membuka topinya. Mengambil tisu dari kantongnya dan mengusap air mataku.
            “Kamu nangis kenapa?” tanyanya. Aku mengalihkan pandanganku.
            “Kamu ngikutin aku?” tanyaku balik.
            Ia kaget dengan pertanyaanku sesaat, “Untuk apa? Aku hanya ingin tiduran di sini dan tiba-tiba aku mendengar sesenggukanmu.”
            Aku tak berkomentar lagi. Nico merangkulku, “Menangislah selagi bisa. Aku akan menunggumu.”
            Aku terduduk dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Nico adalah sahabatku sejak kecil. Ia sangat usil, itulah sebabnya aku tidak pernah cerita perasaanku padanya. Aku hanya berbagi hal umum. Namun ia selalu ada saat aku ada masalah dan bersedia meminjamkan bahunya untukku menangis tanpa banyak bertanya apa yang sedang terjadi. Yeah, saat ini aku memang hanya ingin menangis tanpa bercerita lebih banyak.
            Dan untuk pertama kalinya, aku bercerita pada Nico malamnya di rumah. Sesekali ia memberiku candaan garing dan mengusiliku, namun di balik itu semua, ia menasihatiku. Nasihat yang paling menyentuh yang pernah aku dengar. Kata-katanya sangat dewasa. Well, aku lupa jika ia sudah berumur 20 tahun. Sejak itu, perasaanku lambat laun mulai tenang.
            Tiga bulan setelah peristiwa menyakitkan antara aku dan Revand. Kami sudah resmi putus sehari setelah insiden kafe itu. Hubunganku dan Lila juga tidak sebaik dulu. Hari ini tepat setahun masa kontrakku. Hari ini hari terakhir. Aku harus melakukan yang terbaik. Dan benar saja, hanya 5 kali take foto, aku sudah selesai. Leganya! Aku bisa pulang cepat hari ini.
            Aku melangkahkan kaki keluar studio. Lila tiba-tiba menarik lenganku dan ingin bicara padaku. Ia minta maaf atas kejadian itu. Ia mengatakan, sebenarnya ia dan Revand memang sudah backstreet saat satu minggu aku bekerja sebagai model di agencynya. Lila sangat menyesal karena telah membohongi dan mengkhianatiku. Ia melakukannya karena ia merasa aku telah merebut posisinya untuk menjadi model. Ia sadar, harusnya bukan begitu caranya menraih impiannya itu.
            Dari ucapannya aku merasa ia benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Lila menambahkan, Revand juga sama menyesalnya. Ia bahkan kesal dengan sikap Lila yang menjebakknya saat itu. Yeah, semuanya Lila yang mengatur. Hanya karena aku seakan mengambil posisinya sebagai model.
            Aku terkejut mendengar semua penuturan Lila. Namun, aku mencoba untuk berbesar hati dengan memaafkannya. Ia berterima kasih, sangat. Ia memelukku dan berjanji, kejadian itu adalah pertama, dan terakhir untuknya. Setelah ini, ia akan pergi ke luar kota dan menetap di sana sebagai salah satu penata rias di sana. Tak lupa, ia mendoakan yang terbaik untukku.
*                       *                       *
            Aku berjalan tergesa menuju sebuah apartemen bernomor kamar 201. Aku mengetuk pintunya dan langsung masuk, seperti biasa—dulu. Aku menuju sebuah kamar. Kamar revand. Sesaat sebelum Lila pergi, ia mengatakan bahwa Revand sedang sakit. Aku kemari untuk menjenguknya bersama Nico.
            Ku lihat, Revand sedang berbaring di tempat tidurnya. Matanya terbuka saat aku membuka pintu. Lirih ku dengar suaranya. Ia langsung menjelaskan kejadian yang lalu, yang membuatku mengambil keputusan untuk berpisah darinya. Keputusanku membuatnya depresi dan kehilangan nafsu untuk makan. Awalnya memang tak bereaksi, namun kelamaan, ia merasakan perih di lambungnya dan jatuh sakit. Aku iba melihatnya seperti itu.
            Aku lalu mengatakan bahwa aku telah memaafkannya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Beberapa kalimat yang diucpkannya terdengar jelas olehku. Revand masih sangat menyayangiku. Ia menanyakan bila aku akan kembali bersamanya. Aku terdiam. Sungguh, aku memang masih menyayanginya. Masih ada secuil hatiku untuknya. Tapi aku tidak bisa bila mengingat kejadian yang telah lalu. Sungguh aku merasa sakit hati.
            “Maaf, Vand. Aku memang masih sayang, tapi aku tak bisa jika kembali seperti dulu. Aku tak ingin kembali  kepada masa lalu yang akan selalu mengingatkanku pada kegagalan dan sakit hati. Aku telah memaafkanmu tapi bukan berarti aku mau kembali padamu lagi. Saat ini, aku telah mempunyai seseorang yang akan selalu setia di sampingku. Yang akan selalu ada  saat aku sedang sedih—Nico. Aku harap, kita masih bisa berteman.”
*                       *                       *
            Aku keluar dari apartemen Revand. Berjalan kaki di trotoar dengan Nico. Ia terlihat cemberut mendengar kalimatku tadi, saat berada di kamar Revand. Aku tahu mengapa ia bersikap begitu. Aku mengatakan pada Revand bahwa aku jadian dengan Nico. Padahal, sama sekali tidak benar.
            “Memang kapan kita jadian?” tanya Nico akhirnya.
            “Sejak kecil. Jadi teman,” jawabku santai.
            “Hei, maksudku bukan itu. Kamu tahu, kan?”
            “Iya Nicolas. Aku tahu. Maaf, ya aku menggunakan dirimu. Aku hanya tak mau jika kembali pada Revand. Aku belum menyusun kalimat untuk menolaknya. Terpaksa aku menggunakan kamu,” jawabku.
            Nico terdiam. Berpikir sesaat.
            “Okay, aku traktir kamu juice di sana,” ucapku sembari menunjuk sebuah kedai.
            “Aku tidak mau,” jawabnya.
            “Makan ramen?” Nico menggeleng.
            “Jadi? Aku harus apa untuk membuat wajahmu agar tidak jelek seperti itu?” tanyaku.
            “Memang kamu akan melakukannya untukku?” tanyanya.
            Aku mengangkat sebelah alisku, “Memang apa?”
            “Jadi pacarku.”
            “HAH?!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar