Rabu, 02 Mei 2012
Guru Ngajiku Ganteng
“Besok jalan yuk?” ajak Rio, pacarku.
“Kemana?” tanyaku.
“Ketemu sama temenku di Pool Station,” jawab Rio. Pool Station?
“Itu bukannya tempat main billiard ya?”
Rio mengangguk. Aku terdiam, berpikir. Aku belum pernah ke tempat yang seperti itu. Yang aku tahu, tempat seperti itu kan tempat ngumpulnya anak nakal. Aduh, gimana ya?
“Nggak ikut deh. Aku di rumah aja, ada yang harus aku kerjakan,” aku beralasan.
Rio kelihatan kecewa, “Ya udah, nggak apa. Aku juga nggak bisa maksa kamu kok. Kita cari makan yuk sekarang?”
Aku mengikutinya. Kami menuju rumah makan di dekat sekolahku. Setelah memesan makanan, kami bercerita kecil.
“Gimana sekolah hari ini?” tanyanya.
“Lumayan asyik. Oh iya, tadi ada kejadian lucu. Mira kepeleset di kelas waktu mau keluar kelas, padahal nggak ada apa-apa, tahu-tahu kepeleset gitu. Hihi... Kamu sendiri? Gimana kuliahnya hari ini?”
“Gitu-gitu aja. Cuma waktu mata kuliah kedua aku nggak masuk. Diajak temenku ngurus beasiswanya.”
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Apa sudah kebiasaannya bolos kuliah gini ya? Rasanya, walau hanya sedikit, aku ilfeel deh. Aku maunya kan dia rajin kuliah, biar cepet-cepet lulus, cari kerja, terus ngelamar aku. Waduh, apa kejauhan ya mimpiku?
Setelah makanan datang dan kami segera melahapnya, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah ngobrol sebentar di rumah, Rio segera pulang karena ada jadwal basket di kampusnya. Aku kembali ke kamarku dan merebahkan diri di tempat tidurku.
Rio. Sudah 2 minggu ini aku jadian sama dia. Rasanya senaaaang sekali. Walau ada beberapa sifat dan sikapnya yang aku nggak suka gitu, yah contohnya ya soal dia bolos tadi. Tapi nggak apalah, kan buat nolongin temennya juga.
Malam ini aku hanya berdiam diri di kamar sampai Papa memanggilku. Aku menuju asal suara tersebut dan mendapati beliau di depan tv. Dari perkataannya yang bertele-tele itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa besok akan ada guru ngaji khusus untukku.
“Apa? Guru ngaji? Buat apa? Aku kan nggak ngadat-ngadat juga kalo ngaji. Lancar aja tuh,” tolakku.
Tapi yang namanya Papa itu sifatnya keras. Jadi seperti apapun caraku untuk menolaknya, beliau akan tetap mencarikanku guru ngaji. Euhm, ralat, bukan mencarikanku guru ngaji, beliau sudah mendapatkannya. Mimpi apa aku semalam. Well, aku memang belum khatam Al-Quran tetapi harus juga kah menggunakan jasa guru ngaji? Adikku saja tidak. Oh, dan Papa bilang, guru ngajinya adalah Mas Bintang. Yeah, Mas Bintang!!!
Mas Bintang adalah teman kerja Papa di kantor. Umurnya hanya terpaut 4 tahun dariku, dan orangnya juga ganteng. Dulu aku sempat menyukainya, tapi hanya sebatas melihat luarnya. Tapi kenapa harus dia yang jadi guru ngajiku? Kenapa Papa nggak carikan aja sekalian seorang ustadz atau kiai gitu? Kan sekalian lebih afdol. Papa memang susah ditebak! Well, dan aku akan memulai ngaji ekslusifku besok. Eww, malam minggu???
Aku ngerasa ini akan jadi masalah hubunganku dengan Rio. Maksudku, hellooo, malam minggu gitu kan, malamnya pasangan untuk pergi berjalan-jalan sekadar menghabiskan waktu bersama dan Papa menjawab dengan alas an, “Daripada menghabiskan malam minggu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik belajar mengaji, kegiatan itu bermanfaat serta berpahala.”
Seharian ini aku hanya berdiam di kamar. Uring-uringan. Pasalnya nanti malam kegiatan “bermanfaat serta berpahala” itu sudah berjalan. Kenapa juga sih mas Bintang mau aja nerima tawaran Papa? Emangnya dia dibayar berapa sama Papa sampai-sampai mau saja mengajariku mengaji? Aku nggak habis pikir deh.
“… Kok gitu sih? Padahal aku mau ngajak kamu jalan nonton malam ini.”
Tuh kan, Rio pasti protes deh. Mau nggak mau aku harus memberikan jawaban seadanya. Rio pasti kecewa deh, tapi aku lebih dari itu! Masih mending kalau malam ini tidak bermalam mingguan dengan Rio, aku masih bisa menonton televisi atau chatting di jejaring sosial. Kalau sekarang? Boro-boro chatting, televisi saja dijauhkan dari jangkauanku. Yap! Aku akan belajar mengaji di kamarku. Kamarku! Apa yang Papa pikirkan hingga mengizinkan mas Bintang masuk kamarku? Apa Papa nggak khawatir kalo tiba-tiba mas Bintang malah macam-macam sama aku?
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Papa, kami memulai ritual kami. Huh!
“Apa kabar?” sapa mas Bintang.
Mau tak mau aku harus tersenyum, padahal nggak ikhlas banget, “Baik.”
“Mas kok mau aja sih disuruh Papa buat ngajarin aku ngaji? Malam minggu pula,” tanyaku langsung.
Mas bintang tersenyum menanggapinya. Wuah, bahkan kalau dilihat dari dekat begini lebih ganteng. Hush!
“Kenapa harus nggak mau?” tanya mas Bintang balik.
“Ng… yah kan mas jadi nggak bisa malam mingguan,” jawabku.
“Semua malam sama aja kok, De. Lagian, kalau saya bisa menyebarkan ilmu yang saya miliki kan termasuk pahala,” jawabnya.
“Tapi memangnya pacarnya mas nggak ngambek kalau mas nggak ngapel atau ngajak jalan?” tanyaku. Duh, kok aku jadi blak-blakan gini sih? Kesannya kayak aku mau nanya dia udah punya pacar atau belum. Jangan sampe deh dia ngira kalo aku memohon gitu buat jadi pacarnya.
“Saya nggak pacaran, De. Hehe… Udah yuk, sholat isya dulu. Sudah adzan,” ajaknya.
Aku menurut. Setelah mengambil air wudhu kami segera sholat isya berjamaah. Papa dan Mama juga ikut. Mas Bintang yang jadi imamnya. Awalnya ia segan, namun karena Papa memintanya akhirnya ia menurut juga. Suara mas Bintang saat menjadi imam rasanya merdu sekali. Hatiku rasanya nyaman sekali mendengar suaranya.
Setelah sholat isya, kami memulai pengajian pertama. Dan aku disuruh mengulang dari juz 1! Padahal kan aku sudah juz 18! Aku memprotesnya, namun ia berkata bahwa akan lebih baik jika mengulang dari awal. Karena ia belum tahu bagaimana caraku mengaji dari awal. Ih, kok lama-lama jadi nyebelin ya. Padahal aku mengira belajar ngaji sama mas Bintang bakalan lebih asyik, abisnya dia ganteng gitu.
Aku mengaji 3 lembar setiap pertemuan. Mas Bintang kelihatannya enjoy aja tuh ya dengerin orang ngaji selama aku. Walaupun matanya tertutup, seakan ia menikmati lantunan bacaan Al-Qur’an, tetap saja ia menegurku bila aku salah mengucap bacaan. Jangan-jangan ia sudah menghapal luar dalam nih. Wow, keren!
Sudah jam 9. Mas Bintang pamit kepada Papa dan Mama. Hoaahm, aku udah nggak ada tenaga lagi buat telponan apalagi sms-an sama Rio. Jadi aku mengiriminya sms yang mengatakan bahwa aku terlalu lelah hari ini dan ingin segera tidur.
***
“…stop stop baby I don’t wanna come between your love, you and her…” ringtone handphoneku berbunyi tepat pada saat Pak Suryo menerangkan statistika di depan kelas. Seluruh mata di kelas tertuju pada tasku. Gimana bisa aku lupa mengganti profilku? Ya ampun! Pak Suryo memandangku tajam dengan satu kalimat perintah, terusirlah aku dari ruang kelas. Aku mengemas barangku dan membawa tasku keluar kelas. Pak Suryo yang killer itu mana mungkin mendengarkan penjelasanku.
Siapa sih yang nelpon di tengah-tengah pelajaran gini? Aku membuka list miss call handphoneku. Pacarku. Rio ngapain nelpon aku jam segini? Dia kan tahu kalo aku lagi sekolah.
Nggak lama, hapeku berdering lagi menandakan sms masuk. Dari Rio.
“Pulang sekolah aku tunggu di kampusku ya. Pulang jam 2 kan, Sayang?”
Ya ampun, cuma mau sms gini aja kan bisa, nggak perlu nelpon segala. Entah kenapa rasanya aku kesal deh sama Rio. Entah? Nggak. Aku bener-bener kesal sama Rio. Dia udah bikin aku dikeluarkan dari ruang kelas dan bertepatan dengan pelajaran Pak Suryo! Aku mau ngambek ah. Aku nanti nggak akan datang ke kampusnya.
Aku membalas smsnya yang mengatakan bahwa aku tidak bisa datang. Terkirim. Tapi kalau aku nggak datang, bisa-bisa hubunganku dengan Rio berantakan. Aku nggak mau itu terjadi.
Aku menghela napas panjang. Baiklah, aku akan kesana. Biar aja sms tadi. Aku akan datang diam-diam. Memberi kejutan untuknya. Hihi…
Sepulang sekolah, aku menstarter motor maticku ke kampus Rio. Untungnya aku selalu bawa celana jeans dan jaket di dalam tasku, jadi bisa jalan sepulang sekolah. Berat sih, tapi daripada pulang dulu dan minta izin yang susah lebih baik seperti ini kan.
Aku mencari-carinya di kantin. Biasanya dia selalu di sini jika tak ada dosen. Setelah celingukan mencarinya akhirnya aku menemukan sosoknya. Ia sedang bercerita dengan teman-temannya sambil merangkul gadis lain! Perasaanku tiba-tiba sakit. Siapa gadis itu? Adiknya? Nggak mungkin, adiknya itu cowok semua. Teman? Tapi kenapa sampai rangkulan segala, tertawa lepas sepeti itu pula? Aku kemudian beranjak menuju tempatnya berada.
Rio kelihatan kaget akan kehadiranku dan melepaskan rangkulannya ke cewek itu.
“Kok kamu disini?” tanyanya.
“Aku kesini mau bikin kejutan buat kamu, tapi ternyata malah aku yang kaget, ya. Hehe…” ucapku dengan mata sudah berkaca-kaca.
“Kamu salah sangka, ini nggak seperti yang kamu lihat. Dia ini cuma temenku, Sayang,” belanya.
“Maaf, aku mengganggu kamu. Kita putus aja,” kataku lirih. Aku segera bergegas meninggalkan tempat itu. Rio menarik lenganku dan memohon aku untuk mendengarkan penjelasannya. Tapi aku terlalu sakit. Aku menghapus air mata yang perlahan turun di pipiku. Aku cemburuan, dia sudah tahu itu. Tapi kenapa dia tetap saja seperti itu. Kejadian seperti ini sudah terulang berapa kali? Rasanya sering dan aku selalu memaafkannya. Kali ini aku tidak bisa mentolerirnya lagi. Aku dan Rio berpisah hari ini.
***
Seharian ini aku uring-uringan. Rasanya malas sekali mengerjakan sesuatu. Aku masih mengingat kejadian tadi siang. Sakit sekali rasanya hatiku. Selama ini aku berusaha untuk sabar dengan kelakuannya yang seperti itu, namun rasanya aku sudah nggak sanggup lagi.
Malam ini jadwalku mengaji bersama mas Bintang, tapi rasanya aku malas sekali. Sholat isyaku malam ini saja tidak bisa khusyuk. Aku terus saja memikirkan Rio. Mas Bintang menyadari perubahanku. Ia bertanya kenapa namun aku sedang malas menjawab. Papa dan Mama sedang tidak berada di rumah karena ada acara makan malam dengan rekan bisnisnya. Andai saja aku nggak harus mengaji pasti aku sudah pergi ke mall atau ke tempat yang bisa menbuat perasaanku lebih baik.
Mas Bintang mengambil Al-Qur’an dari tanganku dan membacanya. Subhanallah, merdu sekali. Ia membacakanya dengan sangat fasih. Pengucapannya sangat jelas. Aku memperhatikannya membaca. Rasanya ada sesuatu di dalam diri mas Bintang yang bisa menenangkan hatiku hanya dengan membaca Al-Qur’an. Membuat perasaanku kembali adem ayem. Membuat masalahku terasa lebih ringan.
Tanpa terasa air mataku jatuh. Aku menangis tanpa suara. Mas Bintang menghentikan ngajinya.
“Kok nangis, De?” tanyanya.
Aku kemudian menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Mulai dari aku dikeluarkan dari mata pelajaran Pak Suryo sampai putusnya hubunganku dengan Rio. Entah kenapa rasanya aku nggak sungkan untuk menceritakan masalahku dengan Mas Bintang. Aku merasa ia bisa dipercaya dan nggak akan mengecewakanku.
“Perasaan sakit hati itu wajar karena rasa cinta juga wajar. Yang penting bagaimana kita menyikapinya dengan cara yang wajar juga. Jangan sampai sakit hati lantas merugikan diri sendiri dan orang lain. Boleh saja mencintai seseorang namun jangan berlebihan. Karena hal-hal yang berlebihan itu tidak disukai oleh Allah. Dan apabila seseorang yang kamu cintai itu pergi, cobalah relakan. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang benar-benar milik kita. Semua itu cepat atau lambat pasti akan pergi,” jelas Mas Bintang.
“Kalaupun memang dia berselingkuh dengan cewek lain dan akhirnya kalian berdua memutuskan untuk mengakhiri hubungan, ambillah hikmah dari semua ini. Siapa tahu bukan dia orang yang terbaik untuk kamu. Siapa tahu Allah masih berbaik hati untuk menyediakan lelaki yang lebih baik dari dia,” tambahnya.
Aku mencermati kata-kata Mas Bintang dengan perasaan bimbang. Perkataan Mas Bintang ada benarnya tapi di satu sisi aku masih nggak bisa menerima kalau akhirnya hubunganku dengan Rio jadi putus dan menganggap Mas Bintang terlalu ikut campur dan terlalu dewasa.
“Udah, jangan nangis lagi. Untuk siapa kamu nangis? Orang yang kamu tangisin emangnya tahu kalo kamu nangis gara-gara dia? Simpan air matamu untuk sesuatu yang berguna,” ucapnya lembut. Aah, Mas Bintang. Rasanya nyaman sekali berada di dekatnya.
***
Selama 3 bulan ini aku mengaji dengan rutin. Bacaanku makin lancar dan fasih. Finalnya, hari ini aku mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah karena telah selesai menamatkan baca Al-Qur’an. Yang diundang tetangga dekat dan keluargaku, juga mas Bintang sebagai guru ngajiku.
Syukurannya berjalan dengan lancar. Aku senang sekali akhirnya bisa tamat baca Al-Qur’an. Walau kadang terbersit perasaan malu karena sudah SMA dan sama sekali belum menamatkan Al-Qur’an. Tapi Mas Bintang selalu di sampingku, memberikan motivasi untukku agar merasa bangga dengan apa yang telah aku peroleh sekarang.
Soal Rio, dia sempat mengirimiku pesan yang intinya dia minta maaf. Tapi tak mengajakku kembali menjalin hubungan. Aku kecewa. Walau sedikit, rasanya ingin sekali aku mengulang kisahku dengan Rio. Tapi kalau mengingat kejadian yang lalu, aku masih sakit.
Setelah acara syukuran selesai, para tamu segera pulang. Aku mengantarnya dengan senyuman. Sebenarnya aku selalu senyum hari ini. Mungkin karena motivasi Mas Bintang, aku merasa bangga. Hatiku terasa berbunga-bunga, seakan melambung tinggi.
“De, bisa ngomong sebentar?” tanya Mas Bintang.
Aku mengangguk dan mengikutinya. Mas Bintang mengajakku ke teras. Mas Bintang mengucapkan selamat kepadaku. Ia memberiku boneka penguin yang memegang Al-Qur’an. Waah, bagus sekali!
Mas Bintang mengatakan setelah ini aku masih harus terus membaca Al-Qur’an. Walaupun sudah khatam, jika dibaca lagi akan lebih bagus, apalagi jika membaca artinya dan mengamalkannya. Aku menyetujuinya. Setelah ini aku juga akan membaca Al-Qur’an kok. Karena saat membaca Al-Qur’an aku merasa tenang. Hidupku jauh lebih ringan. Dan masalah yang aku hadapi juga dapat aku selesaikan dengan baik.
Kemudian kami berdiam diri untuk sesaat. Perasaanku saja atau Mas Bintang sedang gugup? Habisnya dari tadi aku perhatikan, tangan Mas Bintang bergerak nggak jelas gitu. Ngomongnya juga jadi gagu. Apa memang sudah nggak ada yang ingin dibicarakan lagi, ya? Aku merasa grogi juga jika kami sedang tidak mengaji. Aku merasa ada sebuah perasaan yang aneh. Mungkin lebih baik aku masuk ke dalam.
“Aku masuk dulu, Mas,” pamitku. Namun Mas Bintang meraih tanganku lembut.
“Aku mau ngenalin kamu sama orang tuaku, De,” ucapnya mantap.
Aku menoleh, “Maksudnya?”
Kenalan sama orang tuanya Mas Bintang?
“Selama aku ngajarin kamu ngaji, aku ngerasa ada sesuatu yang aneh sama perasaanku dan sekarang aku yakin aku menemukan pilihan yang tepat. Insyaallah aku akan menjadikanmu pendamping hidupku kelak, saat kamu sudah siap. Aku cinta sama kamu… karena Allah,” tegasnya.
Aku terdiam beberapa saat dan memandang wajah Mas Bintang. Sorot matanya menandakan ketegasan dan kejujuran. Aku tak menemukan kebohongan di sana. Apakah Mas Bintang adalah pasangan hidupku kelak? Ya Allah, aku minta petunjukMu.
Aku memejamkan mata sesaat dan memandang lagi wajah Mas Bintang. Sorot matanya masih sama. Dan aku tiba-tiba merasa yakin padanya.
Aku mengangguk. Alhamdulillah, semoga Mas Bintang dapat menjadi imamku, panutan hidupku. Selamanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Masya Allah. indahnya ya :)
BalasHapusTerima kasih :)
BalasHapus