“Jalan aja, yuk?” ajak mas Dio setelah 2 jam kami duduk berdiam diri di
depan TV yang sama sekali nggak nyala.
“Iya, yuk?” jawabku.
“Aku ganti baju dulu,
ya?”. Aku mengangguk. Mas Dio segera ke kamarnya. Begitupun aku, ke dalam
kamarku. Uwaaah... mimpi apa aku tadi malam??? Aku, Ferryn Rizkya Anastasha
bakalan jalan berdua sama mas Dio, Aldio Nugraha yang udah lama aku suka!!!
Seperti kejatuhan bulan, ya?
X X X
Kami pergi ke mall.
Pertama-tama kami memasuki food court, kami memesan makanan.
“Kamu mau pesen apa?”
tanya mas Dio.
“Ng... milk shake vanilla
sama chiken strips” ucapku.
“Ya udah. Tunggu di sini,
ya? Jaga tempatnya. Ntar diambil keong” canda mas Dio. Dasar! Padahal
sendirinya takut sama keong. Hi...hi... Aku masih ingat waktu keluargaku sama
keluarganya mas Dio liburan ke Balikpapan. Kita main di pantai. Waktu itu aku
lagi nyari kerang. Waktu mas Dio nggali pasir, dia ketemu keong! Terus
tangannya dijepit! Hua...ha...ha... Makanya sejak saat itu, mas Dio takut sama
keong. Hi...hi... lucu, ya? Nggak lama kemudian, mas Dio kembali dengan membawa
2 gelas milk shake dan 2 porsi chiken strips. Kami segera melahapnya.
“Mas, masih ingat nggak,
waktu di Balikpapan mas Dio dijepit sama keong?” ucapku menahan tawa.
“Iih... udah ah. Kejadian
itu nggak udah diungkit-ungkit lagi. Malu tau” ucap mas Dio menahan malu. Aiiih...
mukanya imut banget sih! Setelah selesai makan, kami pergi ke toko boneka.
Wuaa!!! Ada boneka bebek yang besar! Aku menatapnya. Waaah... lucu banget!!!
“Suka, ya?” tanya mas Dio
yang dari tadi sepertinya melihatku menatap boneka bebek itu dengan mata
berbinar-binar.
“Hah?! Oh, iya. Lucu sih.
Besar lagi” takjubku.
“Beli aja” saran mas Dio
singkat.
“Nggak ah. Nggak ada uang”
ucapku seraya pergi.
“Rin!” mas Dio menarik
lenganku. Dan tentu saja, aku hampir jatuh. Tapi untungnya nggak. Mas Dio
memegang pipiku!!! Hah?!? Jangan-jangan dia mau nyatain perasaannya ke aku!
Wuah!!! Romantis juga nembak di depan boneka-boneka yang lucu! Ibu jarinya
bergerak perlahan ke arah tepi bibirku. Waah, ada adegan kissnya juga! Waduuh,
aku belum siap!!! Perlahan mataku tertutup. Wuah, gimana, ya rasanya?
Hi...hi...
“Ada saos” singkat mas
Dio. Hah?! Saos?! Mataku melotot. Waduuuh, malu banget! Pasti mas Dio ngira aku
makannya nggak bersih dan pasti mas Dio nganggap aku ini anak paling aneh.
“Oh, makasih... Ng... Kita
ke tempat baju-baju itu yuk?” ajakku mengalihkan perhatian.
“Kamu aja ke sana. Nanti
kalo’ udah aku tunggu di mini cafe itu, ya?” tolak mas Dio halus.
“Oh... ya udah” jawabku.
Aku berjalan menuju toko pakaian. Wah, kalo baju ini dipake sama mas Dio pasti
mas Dio kelihatan lebih cool! Dari tadi mataku hanya tertuju pada sebuah kaos
berwarna biru muda. Kelihatannya cocok sama mas Dio. Lagian dia juga suka warna
itu ‘kan? Beli ah~! Gimana, ya kalo’ aku ngasih dia baju itu? Pasti dia bakalan
seneng. Trus dia bilang ‘makasih, ya kamu udah beliin. Kita jadian yuk?’.
Hi..hi.. kayaknya nggak mungkin deh. Atau dia cuma bilang makasih, selebihnya
kita pelukan! Wuah!!! Romance banget!!! Tapi kayaknya nggak mungkin terjadi.
Masa’ mas Dio segitu noraknya? Hi...hi... aku ini pengkhayal tingkat tinggi,
ya? Ha...ha...ha...
“Ada yang mau dibeli?”
tanya pramuniaga yang sepertinya dari tadi melihat tingkahku yang nggak karuan!
“Oh, iya. Ini mbak” ucapku
sambil menyerahkan baju itu. Pramuniaga segera menulisnya di kertas bon.
“Ini bonnya. Ambilnya di
kasih 3, ya?” ucap pramuniaga itu ramah. Aku tersenyum.
“BRUUK!”. Aku tabrakan...
tepatnya ditabarak oleh seseorang.
“Aduuh!” seruku.
“Eh, sorry. Kamu nggak
papa?” tanya orang yang menabrakku itu.
“Iya nggak papa” ucapku
dengan nada sedikit sebal.
“Rin?!” orang itu kaget.
He?! Dari mana dia tau namaku? Apa dia kenal aku? Aku memandang wajah orang
itu.
“Radit?! Sama siapa ke
sini?” tanyaku.
“Sama adekku” jawab Radit.
“Riri?” tanyaku.
“Iya. Kok kamu bisa tau?”
tanya Radit.
“Iya. Kemarin malam aku
nelpon kamu, Riri yang angkat. Katanya kamu nemenin mamamu check up ke dokter.
Padahal aku mau kasih tau kalo mas Dio belum punya pacar” ucapku.
“Check up? Mamaku?” Radit
heran.
“Mas Radit pulang,
yuk?”ajak seorang cewek. Apa ini Riri, ya? Manisnya! Rambutnya yang sebahu
diikat menjadi 2 di atas dengan pita berwarna biru. Bajunya kaos berwarna putih
dengan gambar Blossom Power Puff Girls, serasi dengan celana jean’s pendek di
atas lutut. Nggak lupa, sepatu putihnya yang melengkapinya. Manis banget! Jadi
gemes deh!
“Iya, sebentar lagi, ya?
Oh, ya kamu tahu ini siapa?” tanya Radit. Riri menatapku daru ujung kaki
samapai ujung rambut. Gimana pendapatnya tentang aku, ya? Jangan-jangan dia
bilang aku jelek lagi. Norak, atau apa aja deh kata-kata yang dipake buat
nyindir orang.
“Ng... siapa?” tanyanya.
“Dia Rin” jawab Radit.
Riri terbelalak kaget.
“Hah?! Mbak Rin?! Mas Dio
bo’ong, ya?” tebak Riri.
“Iya, Riri. Ini Rin”
ucapku sambil tersenyum.
“Waah, ternyata lebih
cantik dari yang Riri bayangin! Kayak putri deh. Terus mas Radit jadi
pangerannya. Ya kan mas?” ucap Riri.
“Riri! Nggak boleh gitu!
Rin ini udah punya cowok yang dia suka” ucap Radit.
“Yah... kalo’ gitu mas
Radit cintanya bertepuk sebelah tangan dong” canda Riri, tapi dari nadanya...
ada sedikit keseriusan. Atau... akunya aja yang terlalu sensitif?
“Apa sih Riri! Oh, ya,
kamu ke sini sama siapa?” tanya Radit mengalihkan perhatian.
“Hah? Oh, iya! Mas Dio!
Pasti dia udah lama nunggu aku. Ng... Radit, aku pergi dulu, ya? Dadah Riri”
pamitku buru-buru. Mereka mengangguk. Setelah membayar di kasir, aku segera
berlari ke kafe mini yang ditunjukkan mas Dio tadi. Papan namanya bertuliskan ‘ENJOY MINI CAFE’. Hm... tempatnya bagus juga! Kulihat mas Dio
sedang duduk di meja nomor 2, meminum teh panasnya yang tertuang di cangkir
mungil berwarna biru muda bergambarkan burung yang sedang terbang di langit.
Sesaat, ia melihat ke arah jam tangannya. Waduuh,, pasti dia udah lama nunggu
aku! Aku segera menghampirinya.
“Mas Dio, lama banget, ya
nunggu aku?” tanyaku ragu.
“Nggak kok. Kamu mau di
sini dulu atau lanjutin?” tawar mas Dio.
“Lanjutin aja deh”
jawabku. Kami pergi ke toko buku. Di sana aku membeli beberapa komik dan novel.
Lalu kami ke beberapa tempat lainnya. Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah
tempat aksesoris. Ng... benda apa yang cocok dipake’ buat cowok dan cewek di waktu
yang bersamaan, ya? Aku sibuk memilih-milih benda di toko ‘SMILE’, begitu nama
tokonya. Mataku tertumbuk pada sepasang ban tangan berwarna putih bertuliskan
‘spirit’ berwarna biru muda. Wuuah, keren!
“Mas Dio! Sini deh”panggilku.
“Ada apa?” tanya mas Dio.
Aku menunjukkan ban tangannya.
“Bagus nggak?” tanyaku.
“Bagus” simple mas Dio.
Waah, aku beli ini aja deh!
X X X
Suara yang dihasilkan oleh
piring dan sendok terdengar ke seluruh ruang makan. Tepat, sekarang aku dan mas
Dio sedang makan malam. Kita berdua lho yang buat makan malamnya. Slurp!
Selesai makan, kami duduk di ruang TV. Hm... perasaan di ruang ini ada yang
nambah deh barangnya. Tapi... apa, ya?
“Rin, aku punya sesuatu
buat kamu” ucap mas Dio. Entah kenapa, setelah hal yang memalukan di mall tadi
kesanku ke mas Dio berkurang. Apa rasa sukaku ke mas Dio mulai habis? Pikiranku
malah membayangkan Radit. Bukan mas Dio. Emang sih Radit tadi kelihatan lebih
keren. Tapi... apa mungkin aku suka Radit?
“Ng... apa?” tanyaku. Mas
Dio memberikan sebuah kotak yang besar untukku. Waduh, apaan nih?
“Waah, apa nih?” tanyaku
gembira. Yah... gini deh sifatku kalo dikasih kado ataupun hadiah.
“Buka aja” simple mas Dio.
Aku segera membuka kertas kado yang membungkus kotak besar itu. Kulihat sebuah
benda berwarna kuning. Benda apaan nih? Aku segera mengeluarkannya.
“Waaah, boneka bebek.
Inikan yang yang di mall tadi! Ini buatku?” tanyaku. Mas Dio mengangguk.
“Oh, iya! Aku juga ada
sesuatu buat mas Dio. Tunggu bentar, ya? Aku ambil di kamar dulu” ucapku. Mas
Dio mengangguk. Aku segera menuju kamarku dan langsung mengambil baju yang aku
beli tadi.
“Nih, buat mas Dio. I’m
sorry kalo’ belum dibungkus” ucapku.
“Nggak papa. Bagus lho.
Aku suka warnanya. Makasih, ya Rin” mas Dio tersenyum.
“Iya. Makasih balik udah
ngebeliin aku boneka bebek. Aku sukaaaaaa banget!” ucapku. Mas Dio tersenyum.
Senangnya ngelihat mas Dio senyum. Oh, iya! Ban tangan! Apa aku kasih ke mas
Dio, ya? Tapi perasaanku lebih berpihak pada Radit. Apa aku memang harus ngasih
ban tangannya ke Raodt? Bukan ke mas Dio? Yah... kalo gitu untuk sementara aku
simpan dulu aja. Sampai saat aku bener-bener yakin ban tangan itu mau aku kasih
sama siapa.
X X X
“Mas Dio! Aku berangkat
dulu, ya?” pamitku.
“Mau ke mana?” tanya mas
Dio.
“Main tenis” jawabku.
“Sama siapa?” tanya mas
Dio lagi.
“Radit. Udah, ya?
Da~h...”ucapku seraya seraya pergi. Kulihat Radit sedang duduk di atas jok
motornya.
“Aku lama, ya?” tanyaku.
“Nggak kok”. Radit melihat
jam tangannya. “Tepat waktu”. Aku tersenyum. Radit mengusap rambutku.
“Berangkat sekarang, yuk?”
ajakku. “Ntar kesorean”.
Sesampainya di lapangan
tenis GOR Segiri, aku melakukan pemanasan sebentar. Saat itu, om Roni
mendatangiku.
“Rin jadi sering main
tenis, ya?” pendapat om Roni. Om Roni mengusap rambutku. Beliau melihat ke arah
Radit.
“Pantes rutin. Dijemputin
pacar” ledek om Roni.
“Apa sih? Siapa juga yang
pacaran!” bantahku. Aku dan om Roni memang sering sekali bercanda. Hubungan
kami bukan seperti keluarga, tetapi seperti teman biasa yang diajak bergurau.
Aku tau ini nggak sopan, tapi, om Roni jalaninnya enjoy-enjoy aja. Jadi, ya aku
juga nggak masalah.
“Nggak usah bohong sama
om. Om nggak bakalan bilang sama orang tuamu kok” goda om Roni.
“Iigh, ‘kan udah aku
bilang, siapa juga yang pacaran!”.
“Oh, ya. Orang tuamu sama
Yoga di Surabaya?” tanya om Roni. Aku mengangguk. Yoga adalah nama kakakku. Dia
SMUnya di Surabaya. Katanya mau lebih pintar lagi. Padahal, menurutku dia udah
pintaaar banget! Dulu, aku nggak setuju kalo’ dia jadi kakakku. Aku maunya dia
jadi pacarku. Abis... mukanya cakeeeep banget(jangan diambil, ya!)! Udah gitu
baik, pintar(so pasti), sabar, penyayang, dan sifa-sifat cowok sempurna ada
sama dia. Pokoknya dia harus punya pacar yang bener-bener!
“Kamu nggak...”
“Ah, udah na~! Aku mau main!”
ucapku.
“Ya, sana sudah” ucap om
Roni.
Aku segera bermain tenis.
Tentunya dengan Radit. Waah, sepertinya aku mulai jago. Biasanya ‘kan 5 menitan
main udah capek. Hari ini, 15 menit main belum capek tuh.
“Aduh!” seru Radit. Aku
berhenti bermain dan mendatangi posisi Radit dengan segera.
“Kenapa?” tanyaku
khawatir. Radit tersenyum terpaksa.
“Nggak apa kok. Cuma
keseleo, sebentar juga sembuh” ucapnya untuk menenangkanku.
“Nih, pake aja” ucapku
sambil menyerahkan ban tangan yang aku beli kemarin. Walaupun aku bertekad
untuk memberikannya untuk orang yang tepat, Radit lebih butuh! Aku nggak mau
orang yang sudah baik banget sama aku, jadi sakit.
“Nggak usah. Aku masih
bisa tahan kok” ucapnya sambil meremas rambutnya. He?
“Radit” panggilku
“Ya?” tanyanya dengan nada
menahan sakit.
“Yang keseleo tanganmu
‘kan?” tanyaku ragu.
“Ya iyalah” ucapnya
lembut.
“Ng.. kok kamu malah
megang kepalamu? Emang kena bola, ya tadi?”. Begitu mendengar pertanyaanku,
Radit langsung melepaskan tangannya dari rambutnya.
“Oh, iya,ya. Lupa”
ucapnya. Kami tersenyum, walaupun ada sedikit keganjalan di pikiranku.
“Ya udah. Nih! Ha-rus
di-pa-ke!” perintahku. Radit menurut.
“Rin” panggilnya.
“Ya?” sahutku.
“Malam Minggu nanti kamu
ada acara nggak?” tanya Radit. Aku berpikir sejenak. Malam Minggu nanti mungkin
aku di rumah aja. Sama mas Dio! Tapi... paling nggak ngapa-ngapain juga.
Bengong aja. BT ih!
“Nggak ada. Kenapa?”
tanyaku.
“Jalan, yuk? Aku mau
ngajak kamu ke suatu tempat” Radit memberitahu.
“Boleh. Jam berapa?” tanyaku.
“Nanti aku telpon kamu.
Oke?” Radit menjulurkan jari kelingkingnya. Tanda janji. Aku membalasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar